Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.145 Terjebak


__ADS_3


...Happy Reading ...


...❤...


"Ini semua karena, Bang Ke. Motor aku jadi hilang kan!" Riska terus saja menyalahkan Keenan karena kehilangan motornya.


Keduanya kini sudah berada di dalam mobil, Keenan bersandar di kursi kemudi, sedangkan Riska ada di sampingnya.


Riska sudah lebih tenang, tangisnya sudah reda sejak beberapa saat yang lalu, sekarang yang tersisa hanya tinggal sesegukannya saja, ditambah dengan mulut yang terus bergumam menyalahkan Keenan.


Huffhh!


Keenan menghembuskan napas kasar, mendengar panggilan Riska yang terdengar menyebalkan, apa lagi dengan perkataan selanjutnya yang terus menyalahkan dirinya.


"Siapa juga yang menyuruhmu berhenti dan menolongku?" bantah Keenan pelan, walau masih bisa terdengar oleh Riska.


Riska menatap wajah Keenan yang tengah menutup mata, bibirnya mengerucut kesal dengan tangan mengepal yang diangkat seperti ingin memukul Keenan, walau hanya di udara. Dia mana berani memukul adik ipar bosnya itu, kalau Keenan sampai melapor dia mau bilang apa pada Ayu.


"Aku berhenti karena aku masih peduli dan punya hati! Mana mungkin aku meneruskan perjalanan sedangkan aku tau ini adalah mobil, Bang Ke!" kesal Riska.


Wajahnya yang memang sudah berantakan oleh bekas air mata, menjadi lebih menyedihkan lagi saat bibirnya kini maju dengan pipi yang menggembung, sudah seperti ikan buntal yang sedang dalam bahaya.


Ffftt.


Keenan berusaha menahan tawanya, melihat wajah Riska yang menurutnya sangat lucu, niatnya untuk mendebat perkataan Riska lagi, kini hilang sudah karena dia sibuk menahan tawanya.


Riska melirik sedikit wajah merah Keenan yang mengatakan mulut dengan rapat begitu rapat. Dia tahu kalau Keenan sedang menahan tawanya.


"Seneng, udah bikin motor aku hilang, hah! Malah ngetawain lagi, dasar nyebelin!" gerutu Riska.


"Hahahaha!" Keenan akhirnya tak bisa lagi menahan tawanya, hingga sekarang meledak sudah. Keenan tergelak dengan tangan memegang perutnya.


Riska mendengus kasar, menyandarkan punggungnya lalu berbalik menatap ke luar jendela, dari pada harus melihat tawa puas dari lelaki di sampingnya itu.


"Maaf-maaf, aku kelepasan. Sudahlah gak usah dipikirin itu motor, nanti setelah kita pulang dari sini aku antar kamu beli lagi yang baru," ujar Keenan saat sudah bisa meredam tawanya.


"Beli baru? Enak banget ya kalau orang kaya ngomong! Kamu kira aku punya duit sebanyak itu buat beli motor lagi!" debat Riska, yang masih tetap memunggungi Keenan.

__ADS_1


"Siapa bilang kamu suruh beli sendiri?" tanya Keenan lagi, dia duduk sedikit miring agar bisa melihat sisi wajah Riska.


"Bang Ke, tadi bilang mau antar aku beli motor baru, trus itu apa maksudnya?" tanya Riska.


Keenan mendengus kesal saat panggilan itu belum juga diganti oleh gadis di depannya.


"Maksud aku itu, biar aku yang beliin buat kamu. Sebagai tanda terima kasih karena kamu sudah nemenin aku di sini," jelas Keenan. Dia mencondongkan tubuhnya hendak membalikkan tubuh Riska. Tidak enak juga mengobrol dengan menatap punggungnya saja.


"Hk," napas Riska tercekat, saat dia berbalik dengan sedikit menegakkan tubuhnya, karena kini wajah Keenan begitu dekat dengan wajahnya. Mungkin bila dia maju sedikit lagi, hidung keduanya akan menempel.


Keenan terdiam, tubuhnya terasa kaku saat matanya dan mata Riska bertemu, jantungnya bertalu dengan napas yang terhenti. Selama beberapa saat, keduanya bertahan dengan posisi masing-masing yang terlihat begitu ambigu bila dari luar mobil.


Treeeng teng teng teng!


Suara motor RK King yang melintas dan terdengar begitu nyaring itu mengagetkan Riska dan Keenan, hingga mereka tersadar dari posisinya sekarang.


"Khem!" Keenan berdehem, untuk menghilangkan rasa canggung yang kini dirasakannya. Tubuhnya refleks langsung duduk kembali dengan gerakan kaku.


'Akh, sial! Kenapa juga dia berbalik gak bilang-bilang?' umpat Keenan dalam hati, saat merasakan debaran tak menentu di dalam dadanya.


'Ngapain sih dia deket-deket? Astaga ini kenapa jantung aku dek-dekan gini ya? Jangan-jangan aku sakit jantung lagi, gara-gara dia? Huaaaa ... aku belum mau mati!' jerit Riska dalam hati, dengan tangan memegang dadanya.


Keenan menatap Riska dengan kerutan halus di kening. 'Siapa juga yang mau memberikan hutang padanya?' gumamnya dalam hati.


"Aku mau menggantinya, bukan memberikanmu hutang, dikira aku ini rentenir apa?" sungut Keenan.


"Eh!" Riska terkejut oleh perkataan Keenan.


"Gak mau, apa kata orang nanti, kalau aku dibeliin motor sama kamu? Aku juga gak enak sama Mba Ayu dan Bang Ezra," tolak Riska.


"Lah, bukannya tadi kamu nagisin motor yang hilang, sekarang mau di beliin malah gak mau? Terus maunya apa dong?" tanya Keenan tidak mengerti.


"Aku nangis karena sedih, motor aku hilang. Bukan mau dibeliin sama, Bang Ke," jawab Riska.


"Orang kaya mah bebas ya, duitnya gak berseri jadi gampang banget bilang beli," imbuh Riska.


"Bisa gak sih kamu ganti tuh panggilan ke aku? Jangan kayak gitu lah, gak enak didengarnya, nama aku itu Keenan bukan Kenan." Tak tahan sudah dia mendengar panggilan absurd dari gadis di sampingnya itu. Dia bahkan tak peduli dengan perkataan Riska yang lain, selain panggilannya itu.


"Tapi kan ditulisnya K-E-E-N-A-N jadi gak salah kan aku panggil, Bang Ke?" Riska masih saja ngotot dengan panggilan yang menurutnya gampang untuk diucapkan itu.

__ADS_1


"Salah! Salah banget!" sambar Keenan cepat.


"Tapi, Mba Ayu sama Bang Ezra suka panggil kamu, Ken. Bukan Keen?" Riska masih mau berdebat juga.


"Ya sudah kamu taruh huruf N di belakang jangan cuma Ke doang, biar lebih enak di dengar gimana?"


'Astaga, kenapa jadi kayak lagi negosisasi, padahal cuman nama panggilan doang? Cewek emang riber banget ya,' gumam hati Keenan.


Riska tampak terdiam beberapa saat dengan mata mengarah ke atas samping sebelah kiri, tanda sedang berpikir dan menimbang.


"Bang Ken?"


"Ya, seperti itu. Lebih bagus kan dari pada tadi," jawab Keenan.


Riska melihat wajah Keenan lalu mengangguk samar, menyetujui usulan dari lelaki itu, yang langsung disambut senyum cerah di wajah Keenan.


'Ya ampun nungguin keputusan soal nama panggilan aja udah kaya nungguin orang tanda tangan kontrak!' gerutu Keenan dalam hati.


"Terus gimana, soal ganti motor kamu itu? Kalau kamu setuju besok kita langsung ke tempat temen aku yang punya showroom motor, gimana?" tanya Keenan lagi.


"Gak ah, aku gak mau. Nanti biar aku di antar jemput sama Rio atau naik angkutan umum saja," tolak Riska.


"Tapi, nanti kamu susah kalau ada kerjaan di luar, bukannya kamu suka gantiin Kak Ayu buat nemuin klien di luar butik?" Keenan masih mencoba merayu Riska untuk menerima penawarannya.


Di dalam hati dia juga merasa bersalah, atas hilangnya motor Riska. Kalau saja tadi dirinya tidak marah atau mengajak gadis itu berdebat, pasti motornya tidak akan hilang. Akan tetapi, mau bagai mana lagi, karena sekarang semua itu sudah terjadi. Kini mereka berdua malah terjebak di dalam satu mobil berdua, di tempat yang asing dan cukup menegangkan ini.


"Kalau soal itu, aku bisa pinjam motor karyawan lain di butik, tenang aja," ujar Riska begitu mudah.


Keenan menatap wajah Riska yang sekarang terlihat begitu tenang, seperti tak pernah kehilangan motornya. Padahal tadi dia sampai dibuat kesusahan untuk membujuk Riska agar berhenti menangis.


'Cewek ajaib!' Keenan bergumam dalam hati, sambil menyeringai geli.


Hari beranjak semakin malam, kedua manusia berbeda gender itu akhirnya terlelap di dalam posisi masing-masing. Keenan sengaja merebahkan kursi Riska dan dirinya agar mereka bisa beristirahat dengan lebih nyaman.


Dalam hati, besok pagi mereka bisa mendapatkan bantuan, atau Ayu dan Ezra menyadari kalau keduanya sudah tidak pulang selama semalam ini.


...🌿...


...🌿...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2