
...Happy Reading ...
...❤...
“Sayang,” Ezra mengelus lengan Ayu yang berada di genggamannya, dia tahu kalau istrinya itu sedang melamun.
Ayu mengerjapkan matanya, menoleh pada sang suami yang kini sedang melihatnya, dengan tatapan penuh cinta.
“Ada apa, Mas?” tanya Ayu.
“Kita sudah sampai, kamu gak mau turun?” tanya Ezra.
Ayu mengedarkan pandangannya pada sekitar, ia baru sadar kalau sekarang mereka sudah berada di tempat parkir kantor Ezra.
“Maaf, Mas. Aku gak fokus tadi,” ujar Ayu dengan wajah penuh sesal.
Ezra tersenyum, kemudian mengusap pelan puncak kepala Ayu yang tertutup kerudung. “Tidak perlu minta maaf, aku tak apa. Tapi, ke depannya jangan begitu lagi ya,” ujar Ezra lembut.
Ayu mengangguk, dia memang mengaku salah, dirinya terlalu larut di dalam pikirannya pada Mala.
Ezra kemudian membantu Ayu melepaskan sabuk pengaman.
“Tunggu, biar aku bantu buka,” ujar Ezra, sambil menegakkan lagi tubuhnya lalu membuka pintu. Ayu duduk diam sambil melihat suaminya berjalan memutar, untuk sampai pada pintu mobil di sampingnya.
Dia sudah cukup tahu kebiasaan Ezra yang selalu membukakan pintu mobil untuknya.
Ezra kemudian mengulurkan tangan untuk membantu Ayu keluar. Tentu saja, Ayu langsung menyambut tangan suaminya itu, dengan senyuman manis di wajahnya.
“Terima kasih, Mas,” ujarnya, begitu sudah berdiri tegak di samping mobil.
Setiap perlakuan Ezra pada Ayu, tak luput dari perhatian para pegawai di kantor itu. Mereka selalu mencuri pandang, bila melihat Ezra berlaku lembut pada Ayu. Karena memang itu sesuatu yang sangat langka bagi mereka.
Ezra terkenal dengan sosok pemimpin yang dingin juga tegas, dia tidak bisa menerima suatu kesalahan, tanpa alasan yang jelas juga masuk akal. Hingga lelaki itu begitu dihormati dan dihargai, oleh para karyawannya.
“Eh, Kak Nindi ikut datang ke kantor?” Keenan yang kebetulan baru saja sampai di lantai bawah, langsung menyapa kakak iparnya itu.
“Iya, aku lagi mau ke luar rumah,” jawab Ayu.
“Kamu mau ke mana, Keen?” kini giliran Ezra yang bertanya.
“Aku sedang menunggu Gio, katanya dia akan datang, untuk mengganti beberapa desain interior mobilnya,” jelas Keenan.
“Oh, apa dia sudah kembali ke Indonesia?” tanya Ezra.
“Ya, kalau belum ... mana mungkin dia mau datang kemari, Kak,” angguk Keenan.
Ezra mengangguk, membenarkan. “Baiklah, kamu urus saja dia, aku ke atas dulu,” ujar Ezra, kemudian.
Merangkul pundak istrinya sambil meneruskan langkah keduanya, setelah mendapat anggukkan dari sang adik.
__ADS_1
“Gio itu siapa, Mas?” tanya Ayu, saat mereka sudah sampai di ruangan Ezra. Dia tak pernah mendengar nama itu sebelumnya.
“Dia salah satu temanku, kami pernah berbisnis bareng, saat masih kuliah dulu. Sudah lama dia tinggal di luar negeri. Biasanya dia hanya pulang saat ada hal penting saja,” jelas Ezra.
“Kamu hati-hati kalau nanti bertemu dengannya, jangan anggap semua perkataannya benar, oke?” peringat Ezra, dia mengingat kelakuan buruk temannya itu.
Ayu mengerutkan keningnya, belum mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Ezra barusan.
“Maksudnya apa, Mas?” tanya Ayu.
“Dia suka sedikit berlebihan kalau bertemu dengan perempuan. Kamu hanya tinggal diam saja, biarkan aku yang mengurusnya nanti,” ujar Ezra lagi.
Ayu hanya mengaguk, dia bahkan masih merasa bingung dengan semua yang suaminya itu katakan.
“Kamu mau makan atau minum apa? Biar nanti aku suruh orang untuk menyiapkannya,” ujar Ezra, setelah mereka duduk di sofa ruang kerja Ezra.
“Tidak, aku sedang tidak mau apa-apa,” geleng Ayu.
“Baiklah, kamu duduk di sini ya, biar aku selesaikan pekerjaanku dulu.” Ezra mencium kening istrinya sebelum dia beranjak pada kursi kerjanya.
Ayu mengangguk, dia menyandarkan punggungnya di sofa, pandangannya mengedar melihat setiap sudut ruangan itu, hingga akhirnya berhenti di mana Ezra sedang duduk dan fokus pada pekerjaannya.
‘Kenapa dia terlihat begitu tampan saat sedang fokus bekerja?’ Ayu sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, dagunya dia topang menggunakan salah satu tangan.
Tanpa sadar Ayu terpesona dengan suaminya sendiri, selama ini Ayu jarang sekali memperhatikan Ezra begitu lama, dia bahkan belum menyadari di mana letak pesona seorang Ezra, yang katanya banyak disukai wanita.
Namun, kini sepertinya dia sudah tahu sekarang. Ayu baru saja menyadari dan mengakui kalau suaminya begitu istimewa, apalagi bila dia mengingat kembali perlakuan istimewa dari Ezra untuknya selama ini.
Ya, tidak salah memang bila orang menganggapnya beruntung, karena sudah mendapatkan Ezra sebagai pendamping hidup.
Ayu tersenyum begitu manis, saat Ezra memandangnya sesaat, kali ini dia masih bisa membagi antara dunia nyata dan pikirannya.
Ayu menggeleng, dia berjalan menghampiri suaminya, entah kenapa rasanya dia ingin sekali bermanja dengan Ezra saat ini.
“Boleh aku duduk di sini,” tanya Ayu dengan menunjuk pangkuan Ezra, pipinya pun telah bersemu merah, karena malu. Tetapi, apalah daya bila dorongan di dalam diri terasa begitu kuat.
Ezra tersenyum, lalu memundurkan sedikit kursinya. “Tentu saja,” ucapnya kemudian.
Ayu tersenyum senang lalu duduk di pangkuan Ezra, dia menyandarkan tubuhnya pada pindah bagian depan suaminya, Ezra kembali fokus pada pekerjaannya, yang tak bisa ia tinggalkan.
Sesekali ia daratkan ciuman di kening sang istri, perasaannya begitu terasa hangat saat mendapati sikap manja yang ditunjukkan oleh Ayu akhir-akhir ini. Tak ada rasa terganggu sama sekali, dia bahkan menikmati semua itu.
Ayu melingkarkan tangannya di pinggang sang suami, wajahnya ia hadapkan pada ceruk leher suaminya, menghirup aroma parfum yang bercampur dengan wangi tubuh alami suaminya. Ia menyukainya semenjak awal mereka menikah, hingga sekarang terasa semakin menjadi saat dirinya hamil. Aroma tubuh sang suami selalu membuat dirinya tenang dan nyaman, dia merasa selalu dilindungi, bila sedang berada di dekat suaminya.
Keduanya larut dalam perasaan mereka masing-masing, yang membuat hatinya berbunga. Ezra tersenyum saat menyadari kalau istrinya sudah terlelap di dalam pangkuannya, ia membiarkannya sebentar, untuk menyelesaikan pekerjaannya yang sudah setengah jalan.
Mereka masih dalam posisi yang sama, saat ketukan di pintu mengalihkan perhatian Ezra. “Masuk,” ucapnya kemudian.
Terlihat Keenan masuk dengan seseorang di belakangnya. Ezra mengerutkan kening, walau itu hanya sebentar. Ayu yang merasa terganggu oleh suara kehadiran Keenan, mengeratkan pelukannya.
Ezra yang baru sadar kalau Ayu tengah tidur, memberikan kode kepada Keenan untuk tidak berbicara dulu, dia memilih bangkit dan membawa Ayu ke dalam ruang pribadinya.
Keenan yang sudah bersiap membuka mulutnya, akhirnya menutup kembali, saat melihat kakak iparnya tertidur. Sedangkan satu lelaki di samping Keenan tampak terkejut dengan apa yang dilihatnya sekarang.
“Wah, itu beneran Ezra yang aku kenal?” tanyanya entah pada siapa.
__ADS_1
Keenan menoleh ke arah lelaki itu, dia hanya mengangguk sebagai jawaban.
“Sungguh mengejutkan, aku hampir saja terkena serangan jantung di sini,” ucapnya sedikit berlebihan, dia bahkan menggelengkan kepala sambil memegang sebelah dadanya.
“Seorang Ezra yang terkenal dingin, kini bisa berlaku begitu lembut kepada seorang wanita? Suatu kemajuan yang mengejutkan,” imbuhnya lagi.
Keenan hanya mendengarkan ocehan dari teman sang kakak itu, tanpa mau menanggapinya. Mereka akhirnya duduk di sofa, menunggu Ezra keluar dari ruang istirahat.
Di dalam, Ezra membaringkan tubuh Ayu begitu hati-hati, seperti biasa Ayu selalu bergumam dalam keadaan setengah sadar.
“Aku ada tamu, kamu tidur di sini ya, sayang. Nanti aku kembali,” ujarnya. Mengecup sekilas kening dan bibir, sambil memberikan ucapan halus di perut istrinya, sebelum melangkah kembali ke luar ruangan. Dalam hati ia bersyukur karena Ayu tertidur, setidaknya istrinya tak harus bertemu dengan temannya yang ini.
“Hai, Bro! Apa kabar?” sambut lelaki yang berada di samping Keenan.
Ezra duduk di salah satu sofa single. “Aku baik, bagaimana kabarmu? Sepertinya sudah lama sekali kamu gak pulang? Ada angin apa nih?” Ezra langsung memberondong begitu banyak pertanyaan, dia sekaligus memberikan sendirian halus, karena temannya itu tak datang sewaktu pernikahannya.
“Hahaha ... maaf-maaf, aku tidak bisa datang waktu kalian menikah, karena saat itu ada masalah yang harus aku selesaikan,” lelaki itu yang tahu ke mana arah pembicaraan Ezra, langsung meminta maaf.
“Biasa lah, aku sebenarnya sudah lama berada di Indonesia. Tapi, sang ratu langsung mengirimku ke pelosok negeri nan jauh di sana,” acuhnya, Ezra sudah tahu semua tentang dirinya, jadi tidak perlu mengelak.
“Ya, baguslah kalau kamu mau menuruti perkataan ibumu. Setidaknya kamu bisa mengalihkan pikiranmu dari para wanita menjijikan itu, bila berada jauh dari kota. ” Ezra menyandarkan tubuhnya.
“Ah, kalau itu sepertinya aku tidak bisa, mereka adalah hidupku, aku tidak bisa hidup tanpa mereka, Zra.”
Ezra mendengus, mendengar jawaban dari temannya itu, yang selalu menjadikan wanita bahan permainan.
“Kamu sudah tua, Gio. Belum puas juga kamu bersenang-senang dengan wanita murahan, memang kamu tidak mau mempunyai keluarga, hah?”
Ezra sudah lelah rasanya menasehati temannya yang satu ini, dia memang sedikit berbeda. Kesenangannya berada di sekitar perempuan, membuat Ezra risih sendiri.
“Aku akan berhenti saat wanita incaranku mau menerima cintaku,” jawabnya dengan mata menerawang.
Ezra menegakkan tubuhnya. "Kamu sudah menyukai seseorang? Atau ... jangan bilang itu hanya salah satu yang akan menjadi korbanmu?" tanya Ezra dengan memicingkan matanya.
"Tidak lah, kali ini aku benar-benar menyukainya, dia berbeda dari wanita lain," jawab Gio.
"Wah, benarkah? Memangnya apa yang membuatmu tertarik dengannya, sepertinya ini sedikit mencurigakan." Ezra tampak menelaah tubuh temannya itu.
"Dia adalah perempuan pertama yang berani menolakku, dan sampai sekarang, dia masih aku perjuangkan, maka dari itu aku sudah mengurangi wanita di sekelilingku, menyingkirkan satu per satu."
“Ya, baguslah kalau kamu sudah berniat untuk berhenti, setidaknya untuk wanita yang kamu sukai itu. Bagaimana dengan interior mobilmu, katanya kamu mau ganti?” Ezra mengalihkan perbincangan mereka.
Gio mengangguk, dia sudah berbicara dengan Keenan di bawah, sebum menemui Ezra.
“Ya, aku sudah menentukan desain yang sepertinya cocok, untuk aku berkendara dengan jarak lumayan jauh,” jawab Gio.
“Jauh? Memang kamu mau ke mana?” tanya Ezra, tak seperti biasanya temannya itu mau berkendara jarak jauh.
“Aku mau melaksanakan titah ibu ratu, apa lagi. Dia mengirimkan untung memajukan lagi hotel di salah satu pantai,” cerita Gio.
Ezra mengangguk, pembicaraan mereka pun kembali mengalir, selayaknya seorang teman yang sudah lama tidak bertemu.
...🌿...
Gio adalah tokoh utama dalam karya aku selanjutnya, aku perkenalkan sekilas di sini dulu, sebelum rilis, gak tau kapan🤭
__ADS_1
...🌿...
...Bersambung...