
...Happy Reading...
...❤...
Malam yang semakin larut, membuat suasana taman semakin gelap dan terasa sunyi.
Ayu duduk seorang diri di sebuah taman, tak jauh dari tempatnya makan malam, bersama orang yang selama ini ia rindukan, secara tidak di sengaja.
Matanya memandang lurus dengan tatapan kosong berhias kaca yang hampir saja pecah.
Dinginnya angin malam yang terus menerpa seluruh tubuhnya, seakan tak membuatnya untuk segera beranjak dari sana.
Ingatannya kembali pada masa lalu bersama sang Ibu. Di saat Ayu masih kecil dan terus saja menanyakan keberadaan sang ayah dan kakak kesayangan nya yang tiba-tiba menghilang.
" Ayah sedang kerja di luar kota sama Kakak " itulah jawaban dari sang Ibu. yang dengan bodoh nya selalu membuatnya percaya begitu saja. Saat Ayu kecil menanyakan keberadaan dua orang pahlawan yang sangat ia sayangi.
Hingga bertahun-tahun berlalu Ayu masih tetap menerima alasan sang Ibu, yang masih saja sama.
Dirinya selalu memilih percaya kepada Ibunya, di bandingkan dengan omongan tetangga dan para temannya yang selalu mengucapkan kalau dia sudah di tinggalkan oleh kedua orang itu.
Hingga ketika umurnya baru menginjak sepuluh tahun, ia menemukan surat perceraian antara Ibu dan juga Ayahnya.
Marah, kecewa dan sedih bercampur menjadi satu dalam hatinya saat itu.
Tapi ia juga tak bisa melampiaskan nya pada sang ibu yang selama ini berjuang dengan sangat keras, untuk menghidupi nya seorang diri.
" Kamu akan mengerti situasi kami, bila kamu sudah besar, Ndi. Untuk sekarang Ibu hanya minta, jangan pernah benci Ayah dan Kakamu ya sayang " perkataan sang ibu yang selalu terngiang dalam ingatannya sampai saat ini.
Tes...
Satu bulir air mata jatuh membasahi Pipinya.
" Ibu, aku bertemu dengannya Bu. Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa melihatnya kembali Bu " lirih Ayu dengan air mata yang semakin deras berlinang.
" Kenapa aku harus bertemu dengannya Bu ? Di saat dia bahkan tak mengenali aku lagi "
Dadanya terasa sesak seperti sedang tertimpa batu besar, hingga membuat dirinya susah untuk bernafas.
" Heuks... Heuks... Bu, ternyata aku masih merindukan nya... Heuks... Heuks... "
Akhirnya suara isakan tertahan itu terdengar dari mulut bergetar milik Ayu.
Ayu memukul dadanya berulang, mencoba meredamkan rasa sesak yang kian menjadi.
Tubuh bergetarnya menjadi pertanda, betapa keras ia berusaha untuk menahan rasa sakit yang kini menghujam jantungnya.
Menutup wajah dengan kedua tangannya, Ayu menangis terisak berteman gelap nya malam.
Rintik hujan yang perlahan jatuh menerpa tubuhnya, seakan menambah luka yang kini Ayu rasakan.
Ayu membiarkan tangis dan air matanya bercampur dengan guyuran hujan yang semakin lama semakin lebat.
Berharap rasa sakit itu akan hanyut bersama aliran air yang membasahi seluruh tubuhnya.
Lelah, sungguh Ayu saat ini merasa sangat lelah, dengan semua ujian yang seakan tak ada habisnya ia terima.
Baru saja ia berusaha untuk bangkit dan menjalani hidup tanpa ada suami di sisinya lagi.
__ADS_1
Sekarang, masa lalu yang perlahan mulai dia lupakan, datang kembali dengan sejuta luka lama di dalam hatinya.
Ayu memeluk tubuhnya yang mulai mengigil, beranjak berjalan menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempat dirinya saat ini.
Hujan sudah mulai berhenti dan kini Ayu baru saja merasakan dingin yang lumayan menyiksa nya.
" Hai cantik, mau ke mana malam-malam begini ?" suara jenaka sedikit menggoda itu mengusik pendengar Ayu.
Ia melihat keberadaan mobilnya yang terparkir sekitar lima belas meter lagi di hadapan nya.
Kemudian matanya teralihkan pada tiga orang lelaki dengan pakaian yang berantakan dan berbau alkohol.
Saat ini posisinya sedang di kelilingi oleh ketiga orang lelaki itu.
Mata Ayu menajam, hujan yang hanya menyisakan gerimis kecil, membuat suasana semakin mencekam.
Ayu baru menyadari kalau di taman itu, sekarang sudah tak ada orang selain dirinya dan ketiga lelaki itu.
Gara-gara terlalu hanyut dalam pikirannya sendiri, Ayu sampai tak menyadari lingkungan di sekitarnya.
Menyunggingkan sedikit sebelah ujung bibirnya.
" Kebetulan sekali, aku sedang membutuhkan pelampiasan " gumam Ayu dalam hati.
" Mau apa kalian ?" tanya Ayu datar. Matanya menatap selidik satu per satu lelaki di dekatnya.
" Hahaha... ternyata berani juga dia "
Tawa meremehkan terdengar dari ketiga lelaki mabuk itu.
" Mau menghangatkan kamu dong " jawab salah satu lelaki dengan baju kaos berwarna hitam dan ada tato bergambar ular di tangannya.
Tatapannya terarah pada lekuk tubuh Ayu, yang tampak sedikit terlihat karena bajunya yang basah.
Ayu mendengus kesal, melihat tatapan bernafs* dari para lelaki brengs*k di sekelilingnya.
" Baiklah... Itupun kalau kalian mampu mengalahkan aku " Ayu sedikit memiringkan kepalanya dengan senyum sinis yang sia*lnya terlihat menambah kecantikan Ayu.
" Hahaha.... Ternyata kau suka dengan kekerasan ya nona, baiklah... "
Sebuah tangan terulur ingin menyentuh wajahnya, namun sayang, sebelum tangan itu sampai, Ayu sudah lebih dulu menangkap nya dan memutar ya hingga membuat lelaki berbaju abu-abu dengan gambar tengkorak di depan, meringis kesakitan.
" Bagaiman, masih mau mencoba bermain denganku ?" ucapan jenaka Ayu, dengan tangan masih memegang kuat lengan kekar yang berniat kurang ajar padanya.
Bugh...
Ayu menghempaskan kuat sampai lelaki itu terjatuh duduk di hadapannya.
" Ish, kotor sekali " desis Ayu menepuk-nepuk tangannya pelan dengan ekspresi jijik.
" Brengsek... " umpat lelaki bertato ular di tangannya itu, tidak terima temannya di kalahkan dan bersiap untuk menyerang Ayu.
Dengan sigap Ayu menahan serangan dari para pria mabuk itu, hingga beberapa saat kemudian, ketiga lelaki yang berniat jahat kepada Ayu sudah terkapar dengan berbagai luka di seluruh tubuhnya.
" Lumayan..., aku cukup terhibur dan kalian berhasil menghangatkanku malam ini. Terima kasih.. " ucap Ayu dingin lalu berlalu pergi menuju mobil putih yang sudah menunggunya sejak tadi.
Beberapa saat kemudian setelah kepergian Ayu.
Seorang pria dengan memakai jaket, di ikuti dua orang memakai pakaian serba hitam mendatangi tempat itu.
__ADS_1
" Bawa mereka semua pada pihak yang berwajib, pastikan mereka mendapat hukuman dari apa yang telah di lakukan pada dia " perintahnya kepada kedua orang di belakangnya.
" Baik Pak "
Ketiga lelaki mabuk yang sudah babak belur oleh Ayu, di bawa menuju mobil van hitam yang entah sejak kapan sudah terparkir di dekat sana.
Pria ber jaket itu tampak berjalan cepat menuju mobil mewah nya, sudut bibirnya tertarik ke atas hingga membuat lengkungan samar yang jarang sekali di tampilkan, selain pada keluarganya.
" Ternyata kau penuh dengan kejutan, Ayunindia " gumamnya pelan setelah berada di dalam mobil.
.
Sementara itu, Ayu sudah sampai ke rumahnya, ia duduk di depan cermin rias miliknya, dengan jubah mandi membalut tubuh nya, dan handuk kecil yang melingkar di atas kepala.
Ayu baru saja selesai membersihkan diri.
Mencondongkan sedikit tubuhnya dengan mata memperhatikan wajah cantik di hadapannya.
" Apakah kau sudah melupakan wajah ini sekarang ?" ucapnya memiringkan kepalanya meneliti setiap lekuk indah yang sangat mirip dengan sang Ibu.
Mata indah, hidung kecil dan sedikit mancung, alis tebal dan terbentuk, pipi merah merona, dan...
Ayu beralih pada bibirnya...
Ya, hanya bibirnya saja yang mirip dengan sang Ayah selain rambut yang sudah lama ia tutupi menggunakan hijab.
Bibir tipis dan rambut lurus sedikit bergelombang di ujungnya, semua itu Ayu miliki dari sang Ayah.
Ayu membuka handuk di kepalanya, mengusap rambut yang masih terasa lembab di tangan.
" Tidakkah dirimu ingat, wajah yang selalu merindukanmu, hingga dia selalu menangis sambil memeluk fotomu di setiap malam "
Saat ini Ayu seakan sedang berbicara dengan seseorang, walau kenyataannya ia hanya sendiri.
Tersenyum kecut dengan mata kembali berembun.
" Kau terlalu bahagia dengan keluarga baru mu itu, hingga kau lupa, masih ada darah daging mu yang selalu menahan derita karena merindukanmu "
Terkekeh kecil berselimut rasa kecewa.
" Ayah..." gumamnya dengan tatapan menajam.
Hatinya bergemuruh menahan rasa kecewa, akan harapan pelukan hangat yang sama sekali tak ia dapatkan.
Harapan yang telah ada sejak dirinya berusia tujuh tahun, dan ia pupuk dengan rasa rindu yang kian lama semakin membesar.
Tapi semua itu, terhempas oleh kenyataan yang baru saja ia temui.
Jangankan memeluk, mengenalnya saja tidak.
Ayu mengusap kasar air mata di pipinya.
" Baiklah...., jika ini yang kau inginkan, aku akan mengabulkannya "
" Kita tidak saling mengenal dan tak ada lagi hubungan antara kita " ucap Ayu lirih hampir tak terdengar.
...🌿...
...🌿...
__ADS_1
...Bersambung......
...🙏😊😘...