
...Happy Reading...
...❤...
Hari sudah beranjak malam, saat Ayu keluar dari kamar tamu, matanya mengedar ke seluruh sudut rumah.
"Mba" suara seseorang mengagetkan Ayu yang sedang berjalan menuju ke dapur.
Di sana, tepatnya dari arah luar Riska datang dengan membawa kantong plastik berwarna putih susu.
"Mba kira kamu udah pulang, Ris?" Ayu melanjutkan langkahnya menuju dapur, di ikuti Riska di belakangnya.
"Aku abis beli makan malam buat kita, kebetulan di ujung gang ada tukang sate" Riska menaruh kantong plastiknya di atas meja makan.
Ayu mengambil air putih botol di dalam kardus, lalu meminumnya sambil duduk di kursi.
Terlalu lama menangis, sampai tertidur di lantai kamar, membuatnya merasa haus, dan seluruh badannya juga terasa sakit.
Wajah sembab sedikit pucat dengan mata bengkak itu menjadi pemandangan yang sudah biasa di wajah Ayu beberapa bulan ini.
Tapi bagi Riska, semua itu adalah hal asing yang tidak pernah ia lihat dari orang yang sudah menjadi bosnya selama beberapa tahun belakangan.
Ya, semua itu karena Ayu begitu rapih, dalam membalut semua luka dalam hatinya, hingga orang di dekatnya pun tak pernah tau tentang perasaannya.
Apa lagi kalau bukan semua Alat rias andalan yang bisa menyamarkan semua jejak rasa sakit di wajahnya.
Mungkin hanya wajah yang dapat Ayu tutupi dan bisa membohongi semua orang, namun hatinya, dia juga tak tau cara menyembuhkan segala luka itu.
Luka yang kembali menganga setelah sekian lama ia berusaha untuk menyembuhkannya.
"Makan dulu Mba" Riska menaruh piring berisi sate dan juga ketupat di depan Ayu.
"Terima kasih" angguk Ayu menatap tak berselera, makanan di hadapannya.
"Mba, ayo di makan, Mba dari siang belum makan sama sekali" ucap Riska lagi.
Dia sudah hampir menghabiskan setengah dari makanan di piringnya, tapi wanita yang sudah dia anggap kakak sendiri itu sama sekali belum menyentuh makanan yang sudah dia siapkan.
"Atau, Mba mau yang lain ya? Mau apa Mba, biar nanti aku beliin? Atau pesan atar aja, gimana?" tanya Riska beruntun, dengan berbagai ekspresi wajah yang menyertai nya.
Ayu hanya tersenyum hambar, kemudian mengeleng lemah, kepalanya merasa sedikit pusing, mungkin masuk angin karena terlalu lama tertidur di lantai tanpa alas apapun.
Mulutnya terasa pahit, hingga tak membuat dirinya mau untuk sekedar mencicipi makanan itu saja.
"Mba gak selera Ris, kamu taruh aja ya, atau kamu habiskan juga boleh, Mba mau ke kamar dulu" Ayu mendorong piringnya ke depan Riska, beranjak berdiri lalu berjalan menaiki tangga, menuju kamar pribadinya.
Riska menatap nanar punggung wanita penolongnya itu, langkahnya terlihat sangat lemas dan tak bertenaga, sangat berbeda dengan Ayu yang dia kenal.
Ayu yang tangguh, tidak pernah menyerah dan penuh dengan semangat dalam menjalani hidupnya.
__ADS_1
Kali ini, Riska seperti melihat sisi lain dari diri bosnya itu. Sosok rapuh, lemah dan butuh sandaran hidup.
Pandangannya terus mengikuti langkah Ayu, hingga tak terasa, air matanya menetes seakan ikut merasakan kesedihan yang Ayu rasakan saat ini.
Tidak ada rasa kasihan, Ayu bukanlah orang yang pantas untuk di kasihani, Riska hanya merasa miris dan sedih dengan keadaan Ayu saat ini.
Dia juga tidak bisa membantu banyak dalam masalah Ayu, maka dari itu saat Ezra menyuruh Riska untuk tinggal, dia langsung menyetujuinya.
Ya, tadi sebelum pulang, Ezra menyuruhnya untuk menemani Ayu, dan memperhatikan kondisinya.
Hufth....
Riska menghembuskan nafas lelah.
Meraih ponsel di atas meja lalu mengetik sesuatu di sana.
"Semoga yang aku lakukan ini memang benar" gumamnya berjalan menuju wastafel dengan membawa piring bekas dia makan.
...❤...
Di tempat lain, tepatnya di kamar bernuansa serba merah muda, seorang pria sedang berbincang bersama sang anak di temani ibu dan juga adiknya.
Visual kamar Naura
Ya, mereka semua berkumpul di dalam kamar bocah kecil yang sedang merajuk.
Bukan tanpa alasan Ezra membawanya Naura pulang, dia tau kondisi Ayu sekarang. Mana mungkin dirinya mau merepotkan wanita itu di saat tau kalau Ayu sedang tidak baik-baik saja.
Bahkan saat dia pulang pun, wanita itu belum juga keluar dari kamar dan tidak menjawab apapun saat di pamit dari balik pintu.
"Sayang nya Papa, maafin Papa dong, nanti Papa sedih kalau Rara terus marah" melas Ezra, dia sudah bingung, bagaiman membujuk anaknya itu.
"Udah, kamu mandi dulu saja, Rara biar Ibu sama Keenan yang bujuk" Nawang melerai anak sulungnya yang sudah terlihat berantakan.
Naura adalah kelemahan terbesar Ezra, maka dari itu dia akan sangat panik, bila sang anak sedang dalam mode merajuk seperti ini.
"Tolong Ezra ya Bu" mohon Ezra yang langsung mendapat anggukan dari wanita yang telah melahirkannya itu.
"Papa, mandi dulu ya sayang" lelaki dewasa itu mendaratkan satu ciuman di kening sang anak.
Dalam langkahnya dia meraih ponselnya yang bergetar.
Satu pesan terlihat di layar utama.
'Mba Ayu enggak mau makan Pak'
Ezra mengusap wajahnya resah, di sini putrinya merajuk, sedangkan di sana seorang wanita yang dapat membujuk anaknya juga sedang tidak baik-baik saja.
Melemparkan ponsel di tangannya pada tempat tidur, lalu berjalan memasuki kamar mandi, dia butuh menyegarkan dirinya sekarang.
__ADS_1
Ezra menumpu kedua tangannya di atas wastafel matanya menatap pantulan dirinya di dalam cermin.
Mengapa hidupnya jadi terikat dengan seseorang yang tidak ada hubungan dirinya?
Kenapa anaknya, putri kesayangannya jadi bergantung pada seorang wanita yang baru saja mereka kenal?
Kenapa pula dirinya jadi masuk dan terlibat pada masalah rumit kehidupan orang lain sekarang?
Padahal selama ini dia tidak pernah mau tau urusan orang lain, apa lagi ikut mengurusinya.
Ada apa dengan dirinya sekarang, kenapa dengan mudahnya dia tertarik akan kepribadian seorang wanita yang belum terlepas dari masa lalunya.
Ezra mengacak rambutnya kasar, dengan wajah prustasi.
"Akh.." teriaknya, kesal pada diri sendiri.
"Dira, benarkah apa yang sudah aku lakukan ini?" tanyanya seolah ada mendiang sang istri di sana.
Istri dan juga sahabat yang sudah berpulang sejak tiga tahun lalu.
Beranjak menuju ke bawah shower, Ezra menyalakan keran air dingin.
Kepalanya terasa panas, jiwanya ingin menjaga dan memberikan perlindungan pada wanita itu, tapi keterbatasan seakan menghalangi keinginannya.
Di tambah tembok pembatas yang di bangun oleh Ayu, semakin membuat dirinya tak bisa untuk sekedar lebih mendekat lagi.
Ezra membiarkan air dingin itu mengalir membasahi seluruh tubuhnya, merasakan sensasi sejuk yang semakin menusuk tulang.
Raga memang berada di sana, tetapi jiwa dan pikirnya entah sedang berada di mana sekarang.
Dia seakan tertarik pada masa mudanya kembali, di saat sedang prustasi karena menyukai seorang perempuan.
Bahkan rasa itu belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Selama ini dia adalah seseorang yang cuek, sang istri adalah teman dekatnya sejak kecil hingga akhirnya kedua keluarga memutuskan untuk menjodohkan mereka berdua.
Pernikahan itu berlangsung tanpa harus bersusah payah merayu seorang gadis.
Tapi sekarang, dirinya seakan baru menemukan sebuah rasa berbeda.
Rasa ingin memperjuangkan seorang wanita untuk bisa menerimanya dengan segala kekurangan dirinya bersama sang anak.
Sebuah rasa asing yang perlahan membuat dirinya menjadi orang asing bagi dirinya sendiri.
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
...🙏😊🥰...
__ADS_1