
...Happy Reading ...
......................
Akhir pekan telah berlalu, kini semuanya kembali pada pekerjaannya masing-masing.
Riska dan Keenan yang memutuskan untuk menginap di rumah besar keluarga Darmendra pun, baru saja turun untuk menuju meja makan.
Ya, setelah membantu para pelayan menyiapkan sarapan, seperti biasa, Riska akan kembali ke kamar untuk menyiapkan suaminya berangkat ke kantor.
“Pagi, Pah, Mah,” ujar Keenan, begitu mereka sampai di meja makan.
Di sana ternyata kedua orang tuanya sudah duduk, menunggu kedatangannya dan sang istri.
“Pagi, Ken, Riska. Ayo duduk, kita sarapan bersama,” jawab Garry.
Setelah semua anggota keluarga lengkap berada di meja makan, Nawang dan Riska pun mulai menyiapkan sarapan untuk suaminya masing-masing.
“Apa kamu dan Riska gak berniat untuk pindah ke rumah ini, Ken?” tanya Nawang, di sela sarapan mereka.
Keenan dan Riska menghentikan makan mereka, matanya saling melirik, bingung dengan jawaban yang akan diberikan pada ibunya itu.
Setelah menjalani rumah tangga lebih dari dua bulan, mereka merasa lebih nyaman bila tinggal sendiri seperti sekarang.
Walaupun di apartemen tak seluas dan semewah di rumah besar keluarga Darmendra ini. Akan tetapi, maupun Keenan atau Riska, merasakan kenyamanan yang berbeda.
“Mah, sepertinya kita masih ingin tinggal berdua saja. Lagi pula apartemen lebih dekat dengan butik, jadi aku gak terlalu khawatir kalau Riska harus pulang sendiri,” jawab Keenan kemudian.
Nawang pun mengangguk lemas, dia sebenarnya merasa kesepian. Mengingat kedua anaknya memilih tinggal sendiri. Walau tidak terlalu jauh, akan tetapi, terasa begitu berbeda, saat mereka memilih menginap di rumah seperti ini.
Setidaknya rumah besar itu, tidak terasa kosong dan sepi. Saat salah satu anaknya ada yang sedang menginap.
Namun, untuk saat ini sepertinya Nawang harus lebih menekan keinginannya, apalagi setelah Naura memiliki adik, cucunya itu juga tidak pernah mau bila diajak menginap di rumahnya.
Menghembuskan napas lemas, Nawang pun akhirnya mengangguk.
“Ya, baiklah. Tapi, bisa gak kalian sering-sering menginap di sini?” ujar Nawang.
Keenan tampak melihat Riska, dia pun tak bisa memutuskan itu semua sendiri, apa lagi keluarga dari pihak Riska masih ada. Dia takut bila nanti ada sebuah rasa iri atau membuat Riska tidak enak hati pada ibu dan juga adiknya.
“Baiklah, nanti kalau ada waktu kita menginap lagi di sini ya, Mah,” jawab Keenan setelah melihat persetujuan istrinya.
__ADS_1
Nawang pun tersenyum semangat, dia memang tidak bisa memaksakan keinginan anak dan menantunya, di dalam memilih tempat tinggal. Akan tetapi, setidaknya meminta mereka untuk menginap di rumah, sepertinya bukan sesuatu yang buruk.
Walaupun tidak setiap hari, setidaknya mereka tak akan sungkan untuk datang dan menginap di rumahnya.
Setelah sarapan bersama, Keenan dan Riska pun pamit untuk pergi pada kedua orang tuanya.
“Sayang, kamu gak keberatan kan kalau kita sering menginap di rumah mama? Setidaknya selama mama gak ikut papa ke luar kota,” tanya Keenan, sambil terus menyetir mobilnya, menembus jalanan kota yang terasa sedikit tersendat.
Riska menoleh, menatap wajah sang suami yang sedang fokus mengendari mobil, kemudian menggeleng pelan.
“Tidak, Bang. Aku malah senang bisa menginap di rumah mama dan papa,” jawab Riska, dengan senyum tipis menghiasi wajahnya.
Keenan melirik pada istrinya, dia pun membalas senyum Riska. Tangannya mengusap puncak kepala istrinya dengan gerakan halus.
“Terima kasih, sayang,” ujarnya kemudian.
.
Hari pun terus berjalan, tanpa terasa sudah lima hari ini, Keenan pergi ke luar kota, demi menghadiri pertemuan bisnis dari berbagai pengusaha dalam dan luar negeri.
Keadaan Garry yang sedang kurang sehat, membuat Keenan terpaksa pergi sendiri, untuk mewakili perusahaannya.
Riska yang tak bisa meninggalkan butik pun akhirnya memilih tak ikut pergi menemani suaminya. Dia pun tidak ingin mengganggu pekerjaan suaminya di sana.
Ya, saat ini dia baru saja keluar dari sebuah rumah besar, pelanggan barunya yang ingin memesan sebuah gaun pertunangan.
Ternyata pelanggaran itu, hujan hanya ingin memesan satu baju. Akan tetapi, mereka ingin memesan baju seragam untuk keluarga calon mempelai wanita. Maka dari itu, kini Riska harus pulang terlambat.
Dia menatap jam tangan yang menunjuk pada angka delapan.
Awalnya keluarga itu menawarkan diri untuk mengantarkan Riska pulang menggunakan sopir pribadi mereka.
Namun, karena tidak enak, Riska pun menolaknya. Apalagi ini masih sore, hingga jalanan pun masih ramai.
Nanti malam, rencananya Keenan sudah pulang kembali. Makanya Riska mau menyiapkan masakan spesial untuk suaminya itu.
Riska pamit dari rumah itu, setelah taksi online pesananya sudah sampai di luar gerbang.
“Sesuai aplikasi ya, Kak?” tanya sopir taksi online itu, saat Riska barusan saja masuk ke dalam mobil.
“Iya, Pak,” jawab Riska, tanpa memperhatikan wajah dari pengemudi tersebut.
__ADS_1
Dia masih sibuk untuk mengirimkan rincian keinginan gaun yang dipesan oleh pelanggan barunya itu, melalui chat pribadi pada Ayu.
Di luar, gerimis mulai turun membuat jalanan yang dilewati menjadi basah, Riska pun sedikit mendongakkan kepala setelah sekitar lima belas menit dia sibuk sendiri dengan ponselnya.
Ya, mulai dari mengirim pesan pada Ayu dan juga membalas pesan dari Keenan yang ternyata sudah berderet panjang, mengingat selama berdiskusi dengan pelanggan beberapa saat yang lalu, dia mengabaikan ponslenya begitu saja.
Dia baru sadar kalau ini bukanlah jalan pulang ke apartemen milik Keenan.
“Pak, sepertinya ini bukan jalan yang menuju alamat yang saya tuju,” ujar Riska, mulai waspada, dia mencoba menghubungi Keenan melalui ponsel ditangannya.
Namun, sepertinya Keenan sedang sibuk, hingga tidak ada jawaban sama sekali dari sang suami.
Riska pun mencoba mengirim pesan pada Ayu dan Keenan, meminta bantuan, bila memang pikiran buruknya saat ini terbukti.
Membagikan posisinya pada kedua orang itu, agar mereka bisa melihat keberadaannya, jika sesuatu terjadi.
“Jalan yang biasa kebanjiran, Kak. Jadi kita lewat jalan alternatif,” jawab sopir taksi online itu, sambil terus melajukan mobilnya, tanpa mau menoleh ke belakang.
Riska mulai memperhatikan jalanan yang dilewatinya, dengan wajah gusar. Dia juga berusaha melihat wajah sopir taksi online yang tertutup oleh topi.
Tanpa Riska sadari, seorang laki-laki lain yang menggunakan masker dan topi, tampak muncul dari kursi paling belakang, dia mengeluarkan sebuah saputangan dari saku dan dengan sekali gerakan langsung membekap mulut dan hidungnya, hingga Riska merasakan sesak dan kesulitan bernapas.
“Eum!”
Dengan sekuat tenaga, Riska berusaha melawan, dia memukul dan memukul tangan dan wajah laki-laki di belakangnya.
Kakinya pun berusaha menendang apa saja yang berada di depannya, mencoba berbagai cara, supaya dia bisa terlepas.
Abang, aku takut, gumamnya di dalam hati.
Dia terus menyebut nama sang suami dengan bayangan wajah Keenan di mata yang mulai berkaca-kaca.
Hingga kegelapan akhirnya merenggut semua ingatan dan kesadarannya.
Riska menutup mata dengan satu tetes air lolos begitu saja, membasahi pipinya.
...🌿...
...🌿...
...Bersambung
__ADS_1
...