Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.244 Kompor


__ADS_3

...Happy Reading...


...❤️...


Setelah mengambil baju yang tadi dibeli oleh Keenan, kini keduanya sudah berada di dalam mobil kembali. Keenan memutuskan untuk keluar dari pusat perbelanjaan itu, demi menghindari sesuatu yang bisa saja membahayakan istrinya kembali.


"Kamu mau makan malam di mana, sayang?" tanya Keenan, sambil menjalankan mobil keluar dari area pusat perbelanjaan.


"Terserah, Abang, aja deh," jawab Riska.


Keenan menoleh sekilas pada sang istri, pikirannya benar-benar sedang Tidak bisa diajak kompromi, karena kejadian beberapa saat yang lalu.


"Ya udah, kita cari sambil jalan pulang saja ya. Aku juga bingung nih," usul Keenan, yang langsung diberi anggukkan oleh istrinya.


Beberapa saat kemudian, Keenan sudah menghentikan mobil miliknya di depan sebuah warung soto sederhana yang mereka lewati.


"Gak apa-apa kan, kita makan di sini?" tanya Keenan, sebelum keluar dari mobil.


Riska tersenyum sambil menggelengkan kepala samar.


"Gak apa-apa, Bang," jawabnya.


Malah aku lebih seneng kalau, Abang, ajak makan di tempat seperti ini. Daripada di restoran mahal-mahal itu.


Riska melanjutkan perkataannya di dalam hati.


Keenan mengusap pelan puncak kepala istrinya, sambil berlalu turun dari mobil, di ikuti oleh Riska yang juga ikut turun.


Keenan dan Riska masuk ke dalam, mereka memesan dua porsi soto dengan nasi, dan minuman hangat.


"Di sana?" tunjuk Keenan, pada kursi yang berada di samping sebuah dinding kaca yang lumayan besar.


Riska mengangguk, dan mengikuti langkah suaminya yang seakan tak mau melepaskan tangannya dari genggaman.


Riska mengedarkan pandangannya, melihat suasana warung soto sederhana yang tampak masih ramai di saat malam hari seperti saat ini.


Ya, saat ini waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam. Akan tetapi, warung soto yang mereka datangi masih terlihat ramai pembeli.


Arsitektur yang terlihat klasik, dengan bangku kayu khas warung soto jaman dulu, membuat suasana hangat terasa semakin kental.


Apalagi dengan adanya tempat lesehan yang mampu menampung beberapa orang, hingga nyaman bila ada yang mau mengajak keluarganya makan di tempat itu.


"Abang, udah pernah makan di sini?" tanya Riska, beralih menatap suaminya yang tampak sedang mengetik sesuatu di ponselnya.


"Ya, kenapa, sayang?" tanya Keenan, sambil menaruh lagi ponselnya dan melihat Riska. Dia tak mendengar pertanyaan istrinya dengan jelas, karena sedang fokus mengetik sesuatu.


"Abang, udah pernah makan di sini?" Riska mengulangi pertanyaannya.

__ADS_1


"Oh, belum sih. Tapi, katanya soto di sini enak. Tak apa kan, kalau kita coba?" tanya Keenan kemudian.


Riska mengangguk.


"Iya, gak apa-apa kok. Aku juga penasaran sih, soalnya sepertinya kedai soto di sini rame banget ya," ujar Riska.


Beberapa saat menunggu, makanan pesanan keduanya kini sudah berada di atas meja.


"Eh, kok ini nasinya banyak banget ya, bukannya tadi aku pesan setengah?" tanya Riska, saat melihat nasi miliknya sama dengan sang suami.


"Gak apa-apa lah, nanti kita tinggal bilang pas kita bayar. Udah makan aja, aku udah lapar nih," ujar Keenan, sambil mulai mencicipi makanannya.


"Tapi, ini gak bakalan habis, kalau aku sendiri yang makan," ujar Riska.


Dia pun tersenyum, sambil memindahkan sebagian nasi miliknya pada piring Keenan.


"Eh, kok kamu taruh di piring aku sih, sayang?" tanya Keenan, yang baru sadar dengan apa yang dilakukan oleh istrinya itu.


"Daripada mubazir, lebih baik, Abang, makan saja. Iya, kan?" ujar Riska.


Keenan menghembuskan napas kasar, dia pun akhirnya pasrah dan mulai makan.


Untung aja enak, jadi aku bisa ngabisin semuanya.


Keenan bergumam di dalam hati, setelah menghabiskan makanan miliknya.


......................


Kini, mereka semua sedang menikmati sarapan bersama, di meja makan.


"Kalian gak mau ngadain acara pesta pernikahan kalian berdua?" tanya Garry, setelah dia selesai dengan sarapannya.


Riska dan keenan, menghentikan sejenak aktivitas makan mereka, keduanya tampak saling pandang, seakan tak tahu mau menjawab apa.


Pasangan baru itu, bahkan sudah lupa dan tidak pernah memikirkan sebuah pesta perayaan, untuk pernikahan mereka berdua.


"Jangan bilang, kalian tidak mau mengadakan pesta!" ujar Nawang, menebak gelagat anak dan menantunya itu.


"Ya ampun, Keenan. Dulu mama pernah tanya sama kalian, katanya nunggu sampai kalian bisa terbiasa dengan satu sama lain. Sekarang Mama liat, kalian sudah cukup dekat. Kenapa kalian malah bingung begini?"


Nawang mencerca anak dan menantunya. Bagaimana mungkin, dia menemukan dua orang menantu yang sama-sama tidak suka dengan sebuah pesta.


Keenan dan Riska menundukkan kepala, mendengar ucapan panjang lebar dari Nawang.


"Maaf, Mah. Kami lupa dengan semua itu hehe." Keenan tersenyum caggung, kepada kedua orang tuanya.


"Astaga, Pah. Anakmu ini, kenapa semuanya melupakan acara penting seperti itu? Padahal uang kita tidak akan kurang bila hanya untuk mengadakan pesta pernikahan saja. Sedangkan di luar sana, banyak orang-orang yang bahkan mengumpulkan uang terlebih dahulu, hanya untuk menggelar acara pernikahan yang istimewa," oceh Nawang.

__ADS_1


Dulu sewaktu Ezra dan Ayu menikah, dia harus merayunya agar keduanya mau melaksanakan acara pesta pernikahan, walau akhirnya acaranya tergolong sederhana.


Sekarang Keenan dan Riska malah melupakan pesta pernikahan mereka, karena sudah menikah terlebih dahulu.


Pasangan muda itu hanya saling pandang sambil meringis, mendengar ocehan wanita paruh baya itu.


Garry yang melihat semua itu, menggeleng pelan sambil melihat anak dan menantunya itu bergantian. Senyum tipis pun terlihat menghiasi wajahnya.


"Kamu ini, Ken. Ck ... ck ... ck ...." Garry menatap anaknya dengan senyum tipis, sedikit mengejek.


"Kenapa, Pah?" bingung Keenan, menatap Garry dengan kening berkerut.


"Sekarang papa tanya, di kantor sudah ada berapa orang yang tau, kalau kamu sudah menikah?"


Keenan tampak berpikir sejenak. Sedangkan Riska menatap wajah sang suami dengan mata memicing tajam.


Tanpa memberikan jawaban, Keenan hanya meringis sambil mengusap bagian tengkuknya. Merasa ada ancaman yang nyata di sampingnya.


Uh, astaga. Kenapa aku terasa seperti yang sedang dihakini seperti ini?


Keenan bergumam dalam hati.


Ya, tatapan tajam dengan tangan Riska yang sudah berada di pahanya membuat dia tak bisa menjawab pertanyaan sederhana dari Garry.


Di kantornya yang baru, memang belum ada yang tahu kalau dia sudah menikah.


"Jangan bilang, kamu mau menebar pesona di kantor baru ya, Ken? Ingat, kamu sudah punya istri." Nawang semakin membuat hati Riska panas.


Tangan di atas paha Keenan, kini bahkan sudah memberikan cubitan mautnya, hingga membuat Keenan sedikit meringis karena rasa sakitnya.


"Enggak, Mah. Mama jangan bicara seperti itu, aku gak pernah berniat tebar pesona sama siapa pun. Di hatiku sudah ada nama istriku, gak ada yang lain," sangkal Keenan langsung.Tangannya menggenggam tangan Riska di atas pahanya mencoba melepaskan cucbitan yang sudah terasa panas.


"Jangan bohong kamu, Ken? Mama tau, laki-laki seperti kamu. Di depan istri saja kamu bucin, giliran di luar, kamu terbar pesona sama wanita lain," ujar Nawang, semakin membuat hati Riska panas.


Dalam hati, Nawang merasa senang, saat melihat wajah kesal Riska, dan memohon Keenan.


"Ya ampun, Mah. Tega banget sih ngomong anaknya begitu. Aku bukan laki-laki kayak gitu, sayang. Jangan dengerin mama," Keenan memelas pada kedua wanita yang ia cintai itu.


"Kalau gitu buktiin dong. Umumkan pernikahan kalian, biar gak ada perempuan yang bisa deketin kamu lagi." Nawang sudah seperti seorang penghasut, agar Riska mau mengikuti keinginannya.


"Eh?" Riska terkejut saat mendengar perkataan Nawang, tentang mengumumkan pernikahan.


Kompor, kompor. Kalau Riska gak tau maksud dari perkataan mama terus meledak jadi slah paham sama aku, gimana ini?


Keenan bergumam prustasi, saat mendengar ibunya terus menyudutkannya.


...🌿...

__ADS_1


...🌿...


...Bersambung...


__ADS_2