
...Happy Reading...
......................
Dari tempatnya, Keenan terus memperhatikan istrinya, yang terlihat menjadi lebih pendiam. Di tengah banyaknya orang-orang di sana, Riska terlihat hanya sesekali menjawab bila sedang ditanya atau diajak bicara oleh orang di sana.
"Halo, semuanya. Maaf aku sedikit terlambat."
Suara seseorang yang baru saja datang dari arah pintu, mengalihkan perhatian orang-orang yang sedang berkumpul di sana.
Seorang wanita paruh baya, dengan gaya pakaian yang sangat menonjol di bandingkan dengan semua orang yang ada di sana, tampak berjalan dengan angkuh dan terlihat sedikit sombong, menghampiri semua orang di sana.
Gaya rambut sebahu yang ditata dengan begitu rapi, dan riasan tebal, bagaikan sebuah topeng, juga tas dan segala pakaian dan aksesori bermerek, yang menempel di tubuhnya, seakan berbicara tentang sebuah kasta dan kedudukan yang ia sandang saat ini.
Di belakangnya tampak seorang wanita muda dengan rambut berwarna ombre rose gold berjalan mengikutinya.
Wajah yang terlihat campuran Indonesia dan luar negeri, dengan tubuh bagaikan seorang model profesional, membuatnya tampak sangat cantik.
Riska tampak terpesona sampai matanya bahkan lupa untuk berkedip.
"Eh, Jeng Laura, sudah datang," sapa Nawang, sambil berdiri dan berpelukan juga cium pipi kanan dan kiri dengan wanita paruh baya tadi.
Riska pun ikut berdiri di samping ibu mertuanya itu, mencoba untuk bersikap ramah dalam menyambut salah satu teman dari Nawang.
"Iya, Jeng. Gara-gara nungguin Galdis, jadi kita terlambat datang," jawab Laura, sambil menatap wajah perempuan di sampingnya itu.
Nawang pun ikut menatap perempuan yang datang bersama Laura itu, dia kemudian tersenyum sambil merengkuh perempuan itu.
"Ini, Gladis? Ya ampun, kamu sudah besar sekarang," ujar Nawang mengalihkan perhatiannya pada perempuan itu.
"Iya, Tante. Aku Gladis ... Tante, apa kabar?" Gladis tampak tersenyum senang saat dirinya disambut baik oleh Nawang.
"Alhamdulillah, Tante baik. Kamu sendiri bagaimana? Kapan pulang?" tanya Nawang kembali.
"Baru kemarin aku datang, Tan. Maaf, belum sempat menemui, Tante dan Om Garry," ujarnya dengan wajah sedikit menunduk memperlihatkan rasa bersalahnya.
:Eh, tidak apa-apa. Tante mengerti ... kamu juga butuh istirahat," jawab Nawang. Dia langsung mengalihkan pandangannya pada Riska dan merangkul bahu menantunya itu.
"Perkenalan ini menantu saya, Riska," sambung Nawang lagi, memperkenalkan Riska pada kedua perempuan itu.
Laura dan Gladis tampak mengernyit bingung dengan perkataan Nawang.
"Jeng, bukannya istrinya Ezra namanya Ayunindia, sepertinya ini berbeda orang," ujar Laura, menatap Riska dari atas sampai bawah.
Nawang tersenyum, dia saling tatap dengan Riska, sebelum kembali mengalihkan pandangannya pada kedua orang di depannya.
__ADS_1
"Ini memang bukan istrinya Ezra, dia baru saja melahirkan, mana mungkin Ezra mengizinkannya untuk keluar dari rumah. Makanya aku meminta istrinya Keenan yang hadir di sini," jelas Nawang.
Terlihat sekali wajah terkejut kedua perempuan itu, apalagi Gladis yang langsung terlihat memucat.
"I–istrinya, Kak Keenan?" tanya Gladis, dengan wajah memucat, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"K–kapan, Kak Keenan, menikah? Kok aku gak tau," sambungnya lagi.
"Mereka sudah menikah hampir tiga bulan, kami memang belum mengadakan pesta pernikahan, makanya belum banyak orang yang tau," jelas Nawang.
Gladis menutup mulutnya dengan mata yang bergetar, menatap wajah Riska dan beralih pada Keenan yang sedang asik mengobrol, bersama Garry dan laki-laki yang lainnya.
Tubuhnya pun goyah, hingga melangkah sedikit mundur dari hadapan Riska dan Nawang.
"Eh, Gladis, kamu kenapa?" Nawang terlihat panik.
"Enggak apa-apa, Tante. Aku hanya terkejut saja, mendengar Kak Keenan sudah menikah," jawab Gladis, sambil berusaha menegakkan kembali tubuhnya.
Gladis berusaha tersenyum sambil mengulurkan tangannya ke hadapan Riska.
"Hai, aku Gladis, temannya Kak Keenan," ujarnya, memperkenalkan diri.
Riska tersenyum sambil menyambut tangan Gladis.
"Riska," jawabnya kemudian.
"Hai, Kak. Apa kabar?" tanya Gladis, begitu sampai di depan Keenan.
Keenan yang tengah asik bercengkerama bersama para laki-laki lainnya, mengalihkan pandangan pada perempuan yang baru saja datang.
Dia sedikit mengernyit begitu melihat Gladis. Akan tetapi, tak lama kemudian senyum tipis pun terlihat di wajahnya.
"Gladis?" tanya Keenan, mencoba menebak.
Wajah perempuan itu langsung terlihat sumringah dengan senyum lebar menghiasinya. Dia pun duduk di samping Keenan dan mengangguk penuh semangat.
"Aku kira, Kakak, udah lupa sama aku," ujarnya, dengan wajah dibuat sedikit merajuk.
Keenan tersenyum.
"Mana mungkin aku lupa sama perempuan manja dan cengeng seperti kamu," jawabnya kemudian.
"Eh, sekarang aku udah gak cengeng lagi ya!" bantah Gladis lagi, yang membuat Keenan terkekeh kecil.
Dari kejauhan Riska tampak memperhatikan interaksi di antara dua orang itu, ada rasa tak nyaman di dalam hati saat melihat kedekatan sang suami, dengan perempuan yang baru pertama kali ini dia lihat.
__ADS_1
Selama ini, baik Keenan maupun Ayu, tidak ada yang pernah menceritakan tentang Gladis. Namun, saat ini dia bisa melihat jelas kedekatan dua orang itu yang terlihat berbeda.
Siapa perempuan itu? Sepertinya dia sudah sangat akrab dengan keluarga Abang, gumam Riska dalam hati.
Sore hari pun datang, sebagian dari tamu sudah pulang. Karena, acara memang sudah selesai. Kini di rumah itu hanya tinggal beberapa orang yang memilih untuk masih berada di sana.
Termasuk Laura dan Gladis yang masih bertahan di sana. Sejak kedatangannya perempuan itu terus menempel pada Keenan, hingga Riska merasakan tidak enak hati.
"Mah, aku mau ke kamar dulu," ujar Riska, saat melihat jam yang sudah menunjukan waktunya untuk shalat magrib.
Nawang pun mengangguk mengizinkan. Baru saja Riska hendak berdiri, Keenan sudah berada di belakang istrinya itu.
"Yuk, bareng. Aku juga mau ke kamar," ujarnya, tanpa ragu, sambil menggenggam tangan istrinya.
Riska tersenyum canggung, apalagi di sana masih cukup banyak orang.
Mereka pun berpamitan dan berjalan bersama menuju ke kamar.
"Abang, kenapa mau ikut ke kamar?" tanya Riska dengan suara lirih, sambil menaiki tangga ke lantai dua.
"Aku bosan di sana, mending kita ke kamar saja. Lagipula udah waktunya shalat magrib," jawabnya.
Riska tersenyum tipis mendengar jawaban suaminya. Awalnya dia mengira Keenan suka berada di sana, apalagi ada Gladis yang sejak tadi terus berusaha menarik perhatiannya.
"Benarkah? Bukannya, Abang, senang bisa dekat-dekat sama Gladis?" tanya Riska, dengan wajah dibuat datar.
Keenan mengernyit, dia menatap wajah Riska, kemudian menarik pinggang istrinya, untuk lebih dekat padanya. Senyum tipis pun tak luput menghiasi wajahnya.
"Kamu cemburu, sayang?" tanya Keenan.
Riska mengalihkan pandangannya, saat dia tak bisa mengelak dari pertanyaan Keenan saat ini.
"E–enggak! Siapa juga yang cemburu?" bantah Riska dengan wajah yang mulai menampilkan semburat merah merona.
"Oh, jadi gak cemburu? Baiklah, berarti aku boleh dong deket-deket sama cewek lain kayak gitu?" goda Keenan, sambil terus menatap wajah istrinya.
"Enak aja, gak bisa dong!" Riska langsung menjawab cepat, tanpa sadar.
Keenan terkekeh kecil dia mengeratkan pelukannya dengan kecupan kilas di kening istrinya.
Semua itu masih terlihat jelas, dari ruangan tengah, tempat orang berkumpul saat ini. Tentu saja mereka semua hanya bisa tersenyum melihat kemersaan antara pasangan baru itu.
...🌿...
Maaf semua, aku lagi ada di kampung, jadi gak janji bisa up setiap hari.
__ADS_1
...🌿...
...Bersambung...