
Pukul lima sore, Riska baru saja sampai di apartemen, seperti biasa, ia langsung memasak makan malam untuk dirinya dan sang suami, yang hari ini tiba-tiba tidak ada kabar.
Ya, semenjak Ezra menikah dengan Ayu, butik tutup lebih cepat, Ezra hanya mengizinkan mereka buka sampai jam empat sore.
Ayu yang memilih patuh pada suami pun melaukannya. Tentu saja itu semua menjadi kabar gembira bagi seluruh karyawan.
Awalnya, Riska masih suka lembur, untuk mengerjakan berkas atau rekapan laporan yang akan dia berikan pada Ayu. Hanya saja, setelah dia menikah dengan Keenan, Ayu tak mengizinkan itu lagi.
Riska menghentikan kegiatannya sejenak, hatinya masih saja resah saat bila teringat semua itu. Selama dirinya menikah dengan Keenan, ini adalah kali pertama suaminya bersikap seperti ini.
Beberapa saat kemudian, semua makanan sudah siap di atas meja, dia beranjak menuju kamar untuk membersihkan diri, sambil menunggu suaminya datang.
Riska duduk di ruang tengah, berkali-kali ia menoleh ke pintu masuk, berharap suaminya itu akan segera datang. Akan tetapi, sepertinya lagi-lagi dia harus kecewa, saat melihat pintu masih saja tertutup rapat.
Waktu terus bergulir, kini jarum jam sudah menunjuk pada angka delapan malam, Riska tampak masih menunggu suaminya di depan televisi yang menyala.
Di tangannya, ponsel yang terus mencoba menghubungi nomor telepon sang suami terus menjadi perhatiannya.
Televisi yang menyala, menampilkan sebuah drama, hanya sebagai teman dan penghilang rasa sunyi di dalam kesendiriannya.
"Ke mana sih dia, kenapa gak bisa di telepon sejak tadi siang? buat orang khawatir saja!" gerutu Riska.
"Kalau ada urusan dadakn, atau mau pulang telat, setidaknya memberi tau dulu, biar istri gak khawatir begini!" gumamnya lagi, seperti sedang berbicara dengan ponsel miliknya.
"Apa aku tanya Bang Ezra atau Mba Ayu? Mungkin saja Bang Ken mendapat tugas mendadak dari Bang Ezra." Riska kembali bergumam, mencoba menebak kemana Keenan selama sehari ini.
Hidangan masih tersaji di atas meja, Riska yang sudah merasa lelah menunggu kehadiran sang suami, memilih untuk merebahkan diri di atas sofa, hingga akhirnya terlelap dengan rasa mengganjal dalam dada.
Keenan masuk ke dalam apartemen, dia mengedarkan pandangannya saat melihat semua lampu masih menyala dengan terang benderang. Berjalan menuju dapur, saat rasa haus mendera tenggorokannya.
Langkahnya terhenti di depan meja makan, dia tertegum melihat hidangan makan malam yang masih utuh, bahkan belum tersentuh sama sekali.
"Dasar bodoh!" tanpa menghiraukan niat awal untuk mengambil air minum, dia berjalan tergesa menuju kamar untuk mencari keberadaan istrinya.
Rasa lemas dan tak bertenaga akibat dari penyesalannya, kini tak lagi terasa, saat kepalanya sudah mengingat lagi satu nama yang selama satu bulan ini telah mengisi kehidupannya.
Langkah cepatnya terhenti di depan sofa ruang tengah, dia bisa melihat wajah tenang seorang perempuan yang sedang terlelap dalam mimpinya.
Senyum samar terbit di wajah, ada rasa hangat di dalam hati, melihat bagaimana seseorang menunggunya hingga tertidur seperti sekarang.
Walau, sudut hati yang lain merasakan sesal dan sakit secara bersamaan.
__ADS_1
"Maafkan aku," lirihnya, Keenan berjongkok di depan wajah sang istri, menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah, lalu memberikan kecupan di kening.
"Maafkan aku." Kembali, dia berucap, saat bibir masih menempel di atas kening sang istri.
Riska mengerjap, saat merasakan hembusan napas seseorang di kepalanya.
"Abang?" gumamnya lirih, menjauhkan kepala demi melihat dengan jelas wajah seseorang di depannya.
Keenan menatap wajah istrinya, dengan penuh rasa bersalah.
"Maaf, aku mengganggu tidur kamu," ujar Keenan.
"Abang, sudah pulang? Sejak kapan?" bukannya menjawab, Riska malah bertanya kembali. Dia kemudian beranjak duduk sambil mengucek matanya.
Keenan tersenyum, dia bertambah merasa bersalah karena sudah melupakan istrinya satu hari tadi.
"Ke mana aja sih, Bang? Aku telepon, gak aktif, aku datang ke kantor juga gak ada, katanya Abang gak ke sana!"
Seringai di wajah Keenan semakin melebar, mendapati sikap cerewet Riska.
"Maafkan aku, aku bersalah," ujar Keenan dengan rasa sesal.
"Iya, maafkan aku, ya. Aku salah, aku mengaku salah. Tapi, sekarang kamu jangan ngambek lagi, ya?" mohon Keenan.
"Kamu belum makan, ya? Kita makan yuk, aku liat makanan di meja masih utuh," ajak Keenan.
"Gak! Aku gak mau! Aku mau tidur aja, malas liat wajah, Abang!" rajuk Riska, sambil beranjak berdiri.
"Eh, tunggu dulu." Keenan menahan bahu Riska dan menekannya hingga duduk kembali.
"Apa sih, Bang?" ketus Riska.
"Ayo makan, aku lapar. Masa kamu tega ninggalin suami yang kelaparan gini ... udahan marahnya, kan aku udah minta maaf, " melas Keenan
Riska terdiam sebentar seperti sedang memikirkan sesuatu. Lengan Keenan saat ini masih berada di pundaknya, dengan tubuh Keenan yang membungkuk di depannya.
"Awasin tangannya!" judes Riska.
"Tapi, maafin dulu," ujar Keenan, sedikit memaksa.
"Awas, ih! Katanya mau makan?!" Riska masih mempertahankan sikap ketusnya. Dia masih merasa kesal dengan sikap sang suami.
__ADS_1
"Jadi kamu udah maafin aku?!" tanya Keenan, dengan senyum sumringah di wajahnya, dia pun melepaskan tangan di pundak sang istri.
Riska berdiri dan mulai melangkah pergi, meninggalkan Keenan.
"Siapa bilang?" ujar Riska sambil melangkah menuju ke dapur, tanpa menoleh pada Keenan.
"Eh, gimana? Ris, masa kamu gitu sih, aku minta maaf. Ya ... ya?" mohon Keenan. Sambil berjalan cepat mengikuti langkah Riska.
"Gak!" ucap singkat Riska. Dia membawa makanan yang tadi dia hidangkan untuk di hangatkan di dalam microwave.
"Aku kan udah minta maaf, masa kamu gak mau maafin sih? Tega banget," ujar Keenan. Memeluk Riska dari belakang yang baru saja selesai menutup pintu microwave. Bibirnya terus menerus menciumi wajah sang istri dari samping.
"Abang, diem dong! Geli tau." Riska berusaha menjauhkan kepala Keenan dari wajahnya.
"Aku gak akan berhenti kalau kamu belum maafin aku," ujar Keenan di sela ciumannya.
"Minta maaf kok maksa!" gerutu Riska, menggeliat menahan rasa geli, saat bibir Keenan kini malah semakin turun dan kini sedang menjelajahi kelembutan lehernya.
Keenan seakan tak perduli dengan gerutuan Riska dia malah semakin menjadi, bahkan kini lengannya mulai menjalar ke bagian sensitif milik Riska.
Plak!
"Akh, sakit, sayang." Keenan merenggut kesal sambil mengusap pipinya yang terasa sedikit panas, akibat tamparan Riska.
"Siapa suruh, Abang, gak bisa di larang. Aku bilang gak mau, ya gak mau!" geram Riska sambil memindahkan masakan yang sudah selesai di hangatkan. Dia berjalan kembali menuju meja makan lalu mengambilkan makanan untu Keenan.
Keenan berdiri di tempat semula, memperhatikan Riska yang tampak sibuk dengan aktivitasnya.
"Ngapain malah bengong? Katanya, lapar ... kok malah diam aja bukannya makan? " ujar Riska, sambil duduk dia tempat dirinya.
Keenan menggaruk belakang kepalanya, ia kemudian berjalan menghampiri Riska, melihat makanan di meja dengan tak berselera.
Sebenarnya, dia juga tak lapar, walau sejak siang tadi perutnya belum terisis apa pun.
Begitu juga dengan Riska, perempuan itu sudah tak merasakan lapar lagi, setelah dua kali di dalam jam makannya, hanya diisi dengan menunggu sang suami.
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
__ADS_1