
...Happy Reading ...
...❤...
Sebuah mobil mewah baru saja berhenti di halaman rumah Ezra dan Ayu, dua orang paruh baya keluar dengan sedikit tergesa-gesa. Rencana mereka bersama para teman arisan sang Nawang dan kolega Garry, bahkan belum selesai karena awalnya mereka akan menghabiskan akhir pekan bersama.
Namun, berita kemarin dan tadi pagi, membuat sepasang suami istri itu memilih untuk segera pulang, walau merasa tidak enak kepada para teman-teman yang lain. Akan tetapi, sekarang ini kondisi anak bungsunya itu lebih penting.
Naura yang sedang bermain di ruang keluarga, langsung berlari ke arah pintu masuk utama, karena sudah tahu siapa yang datang.
"Sayang, jangan lari-lari, nanti kamu jatuh!" Ayu langsung bangun dan berjalan sedikit cepat demi menyusul anak sambungnya itu.
Namun, teriakan Ayu seakan tak didengar oleh Naura, gadis kecil itu terus berlari tanpa menghiraukan peringatan ibu sambungnya.
"Kakek! Nenek!" teriak Naura begitu sudah bisa melihat wajah kedua orang tua sang ayah itu.
"Uh, cucu Kakek kenapa sekarang semakin berat saja?" ujar Garry sambil menggendong Naura di pangkuannya.
"Astaga anak ini, kenapa suka sekali lari-larian, hem?" gemas Nawang, sambil mencubit kecil pipi cucu pertamanya itu.
Naura tertawa senang mendapatkan kasih sayang dari kedua Kakek dan neneknya.
Ayu berhenti berjalan cepat, saat melihat Naura sudah berada di dalam gendongan kekeknya. Dia tersenyum sambil menghampiri kedua mertuanya yang baru saja turun dari mobil.
"Astaga, ini juga, kenapa harus menyusul Naura sendiri? Kamu kan sedang hamil besar, jangan terlalu sering mengejar anak ini. Suruh saja para pelayan atau penjaga rumah yang bermain dengan Naura, jangan memaksakan sampai kamu kelelahan," cerocos Nawang, setelah Ayu sampai di depannya.
"Iya, Bu," jawab Ayu sambil mencium tangan kedua mertuanya.
"Aku refleks tadi, Bu. karena liat Naura lari, jadi tanpa sadar ikutan ngejar," sambungnya lagi.
"Ya sudah, ayo masuk. Di mana suami dan adikmu?" tanya Garry mencegah omelan istrinya lagi.
"Mas Ezra dan Keenan ada di ruang kerja, Pah," jawab Ayu, dia merangkul lengan Nawang manja.
Bersama mertuanya, dia serasa mendapatkan keluarga yang utuh kembali, apa lagi dengan kasih sayang Nawang yang terasa sama dengan seorang ibu, membuatnya semakin nyaman berada di antara keluarga Ezra.
"Bagaimana keadaan si kecil, apa dia tidak menyusahkan kamu?" tanya Nawang, sambil mengelus lembut perut buncit Ayu.
__ADS_1
"Tidak, Mah. Hanya saja kalau menjelang tidur pinggang sama kaki suka terasa pegal sedikit," jawab Ayu.
"Itu hal yang biasa, namanya juga kamu membawa beban tambahan di dalam tubuh kamu," jawab Nawang.
"Eh, bukannya mantu baru mama juga sudah ada di sini? Kemana dia, kok gak keliatan?" tanya Nawang begitu tak minat Riska di lantai satu.
"Di kamarnya, Mah. Tadi katanya mau membereskan bajunya dulu, sebentar lagi juga pasti dia turun. Tadi aku sudah bilang, kalau Papah sama Mamah mau datang," jawab Ayu, kini mereka sudah sampai di ruang keluarga.
Nawang mengangguk-anggukkan kepalanya samar, mendengar penjelasan Ayu.
"Papah, ke atas dulu," ujar Garry setelah menurunkan Naura.
"Iya, Pah," jawab Nawang dan Ayu serempak.
Kedua wanita berbeda usia itu melihat kepergian Garry menuju ke lantai dua, tempat ruang kerja Ezra berada.
.
Di dalam kamar, Riska baru saja selesai membereskan bajunya di lemari yang masih terlihat kosong. Dia segera beranjak untuk pergi keluar kamar, sudah cukup dia berpikir tentang pantas dan tidak pantas, sekarang yang dia hanya bisa pasrah dengan keadaan kedepannya, walau dalam hati tetap saja dia merasa tidak pantas berada di posisi ini.
Baru saja keluar dia bisa melihat sosok kepala keluarga Darmendra baru saja sampai di lantai dua. Rasa gugup kini mulai menyelimuti dirinya.
Memghembuskan napas pelan demi menormalkan kembali detak jantung yang terasa menyesakkan dada.
"Pak?" sapanya sambil mengulurkan tangan di depan lelaki paruh baya itu.
"Jangan panggil Pak lagi dong, panggil Papah saja sama seperti Nindi," jawab Garry sambil menyambut uluran tangan Riska.
Riska tersenyum canggung, dia kemudian mencium punggung tangan mertuanya. "I–iya, P–Pah."
Garry tersenyum melihat sikap gugup Riska, selama ini dia tidak terlalu dekat dengan gadis itu, hanya sesekali dia memperhatikannya karena sering membantu Ayu. Walau begitu dia cukup tahu kalau Riska adalah gadis yang baik dan pekerja keras juga bertanggung jawab.
Itu semua menjadi nilai tambahan di matanya tentang gadis yang masih berumur sangat muda itu. Dia masih merasa bersyukur karena Keenan menikah dengan gadis seperti Riska dari pada dengan mantan kekasihnya dulu, atau mungkin para perempuan murahan di luar sana.
Walau Riska dari keluarga dengan ekonomi yang rendah dan jauh berbeda dengan keluarganya. Akan tetapi, setidaknya dia adalah gadis yang baik, dengan asal usul yang pasti, ditambah keluarganya sudah mengenal Riska cukup lama.
"Papah, mau menemui suami dan kakakmu dulu," ujar Garry sebelum melanjutkan langkahnya pada ruangan kerja Ezra.
Lelaki paruh baya itu, sengaja tak menambahkan kata ipar di belakang, agar mereka bisa saling menyayangi sebagai sebuah keluarga, juga merasa dianggap sebagai anak sendiri olehnya.
__ADS_1
Riska mengangguk, sebagai jawaban. Ternyata keterangannya beberapa saat yang lalu, hanya perasaan tak beralasan. Buktinya, sikap ayah mertuanya begitu baik kepadanya, sama seperti dia memperlakukan Ayu selama ini.
Dia kemudian menuruni tangga, untuk menghampiri Ayu dan Ibu mertuanya yang terlihat sedang mengobrol di ruang keluarga, yang bisa terlihat dari tangga.
"Nah, ini dia mantu baru Mama, baru kelihatan," ujar Nawang begitu melihat Riska menginjakkan kakinya di lantai satu.
Riska tersenyum sambil menghampiri dua orang wanita berbeda usia itu, kemudian mencium punggung tangan Nawang dan bercipika cipiki.
Mereka duduk bertiga di dalam sofa panjang, dengan Nawang berada di tengah, sedangkan Naura sedang asyik bermain dengan para bonekanya di depan mereka bertiga.
"Senangnya, sekarang Mama punya dua anak perempuan," ujar Nawang, memeluk kedua menantunya.
"Kita juga senang Mama jadi mertua kita. Iya kan, Ris?" ujar Ayu melirik Riska sekilas dengan senyum senangnya.
"Iya, Mba," jawab Riska, masih merasa canggung dengan kedekatan yang terasa berbeda seperti sebelumnya.
Ketiga orang dewasa itu asik berbicara dengan topik yang seakan tidak ada habisnya, mulai dari cerita masa lalu sampai rencana mereka bertiga kedepannya menjadi pilihan untuk dibahas.
Tidak ada yang mengungkit tentang pernikahan Keenan dan berita yang kini sedang jadi bahan perbincangan di luar sana, ketiga wanita itu saat ini seperti sedang menghibur satu sama lain dengan cara mereka sendiri.
Memilih untuk melupakan masalah demi menghadirkan ketenangan dan kebahagiaan di dalam rumah. Biarkan saja para lelaki hang sibuk dan memutar otak, sedangkan para wanita asik menghibur diri dan mengalihkan pikiran mereka dari beban yang akan membuat mereka stres.
Ditambah dengan tingkah lucu Naura, membuat mereka hampir saja lupa waktu. Karena terlalu asyik berbicara. Untung saja Bi Yati datang dan mengingatkan mereka tentang makan siang yang sama sekali belum di siapkan.
"Bagaimana kalau kita masak bersama? Sepertinya itu akan menyenangkan?" saran Nawang menatap kedua menantunya bergantian.
"Boleh, ayo kita ke dapur kalau gitu," ajak Ayu.
"Eh, Mama ganti baju duk deh, gak enak masuk dapur peke baju kayak gini," ujar Nawang, dia bahkan belum mengganti baju sejak dari luar kota tadi.
"Kita tunggu di dapur aja ya, Mah." Ayu berbicara sambil menarik Riska untuk berjalan bersamanya.
"Heem." Nawang hanya bergumam sambil berjalan menuju tangga.
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
__ADS_1