Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.171 Antara Rasa


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Riska terdiam saat Ezra menjelaskan apa yang terjadi pada Keenan saat ini. Hatinya bimbang, dengan keputusan yang harus dia ambil secepatnya.


"Ris, aku serahkan Keenan kepadamu, aku tau kamu bisa menjaganya dengan baik," ujar Ezra sebelum menutup sambungan telepon di antara mereka.


Ezra, menatap ponsel yang kini masih berada di tangannya, menghembuskan napas kasar sebelum bergumam dalam hati. 'Semoga aku tidak salah dalam memilih keputusan kali ini.'


Dia menyerahkan semuanya kepada Sang Maha pemilik hati, berharap malam ini hubungan rumah tangga sang adik akan kembali melangkah ke jenjang selanjutnya. Di mana di sana adalah kehidupan rumah tangga yang sesungguhnya, bukan seperti sekarang ini yang seakan selalu berjalan di tempat.


.


Riska melirik Keenan yang terlihat semakin tersiksa, ada rasa iba di dalam hatinya. Akan tetapi dia juga meragu untuk menyerahkan sesuatu yang sangat berharga itu saat ini.


Dia belum yakin dengan perasaannya, ditambah Keenan pun tak pernah mengungkapkan perasaannya. Entah bagaimana kehidupan rumah tangga mereka ke depannya pun masih terlihat abu-abu, tanpa ada titik terang.


Mobil berhenti di basement apartemen yng sudah sebulan ini mereka tinggli, Riska membukakan pintu untuk Keenan, dia memapah tubuh Keenan masuk ke dalam lift.


Keenan menggeram saat merasakan sentuhan lembut tangan Riska pada kulitnya. Darahnya berdesir dengan hasrat yang semakin naik tangannya memeluk erat tubuh Riska dia menyusupkan wajahnya di ceruk leher istrinya itu. Menghirup aroma tubuh Riska yang terasa semakin membuat dia menggila.


"Bang," Riska berusah mnyingkirkan wajah Keenan di lehernya.


"Maaf, Ris. Maafkan aku," gumam Keenan.


Risak tak menjawab, hatinya masih diselimuti ragu. Mulutnya terkunci, dengan tangan yang terus menopang tubuh Keenan.


Ting!


Pintu lift terbuka, Riska kembali berjalan menuju untit mereka berdua yang tidak jauh dari sana.


Cklek.


Pintu terbuka dengan susah payah. "Bawa aku ke kamar mandi saja, aku butuh air," ujar Keenan setelah mereka sudah berada di kamar.


Riska mengernyit, Ezra tak menyebut tentang kamar mandi tadi. "Tapi, Abang 'kan lagi sakit?"

__ADS_1


"Gak usah banyak tanya, bawa saja aku ke sana," ujar Keenan.


Riska membawa Keenan masuk ke dalam kamar mandi. Sampai di sana dia bisa melihat Keenan langsung berdiri di bawah guyuran air dingin dari shower. Bahkan dengan pakaian yang masih melekat di tubuhnya.


Riska langsung kembali ke kamar, dia mengambil ponselnya lagi, untuk menelepon Ezra.


"Bang, Bang Ken, malah mengguyur tubuhnya menggunakan air dingin!" ujar panik Riska.


Ezra menghembuskan napasnya kasar, dia tidak habis pikir dengan pasangan ini.


"Biarkan saja dia, tunggu sampai setengah jam, bila pengaruh obatnya belum juga hilang, kamu atu apa yang harus kamu lakukan," ujar Ezra.


"I–iya, Bang. Terima kasih," jawab Riska.


Riska terdiam, dengan perasaan khawatir yang semakin menjadi. Suara gemercik air masih terdengar dari dalam kamar mandi, dia menatapnya dengan sorot mata rumit. Sesekali pandangannya tampak jatuh dengan hembusan napas lemah. Tanganya saling meremas, menghilangkan rasa takut juga gugup di dalam hatinya.


Seperti seorang gadis pada umumnya, Riska juga merasakan takut akan hubungan suami istri sesungguhnya untuk pertama kali.


Belum lagi rasa khawatir bila nanti hubungan rumah tangga keduanya tidak berjalan lebih jauh.


'Bagaimana jika nanti dia menyerah, setelah aku serahkan semuanya?'


'Apa aku harus melaukannya, di saat belum ada kepastian tentang hubungan kita?'


'Tapii, kalau aku tidak melakukannya, apa yang akan terjadi padanya?'


'Apa dia akan terus tersiksa seperti tadi?'


Berbagai pertanyaan kini berputar di dalam hati Riska.


Takut akan kecewa di kemudian hari menjadi rasa yang paling besar, dan tengah memengaruhi hatinya yang merasakan khawatir sama besarnya.


Riska kini seperti sedang bertarung dengan dirinya sendiri. Mencari rasa manakah yang harus dia hilangkan dan pertahankan.


Riska kembali menatap jam yang tergantung di dinding. Baru sepuluh menit berlalu, dia harus menunggu dua puluh menit lagi.


'Bagaiman keadaannya di dalam?' gumamnya dalam hati.


Berjalan mendekati pintu itu, dia terdiam dengan tangan yang hampir menyentuh handle.

__ADS_1


Suaraa geraman dan gemericik air di dalam sana masih terdnegar, Riska menggigit ujung kukunya, mendengar semua itu.


Ada rasa asing di dalam hatinya, yang seakan sedang mendorongnya untuk membuka pintu. Akan tetapi, dia kembali menarik tangannya, dia berbalik dan berjalan menuju ranjang.


Duduk di sisi ranjang kembali, dia terdiam, melihat tempat tidur yang sudah satu bulan ini menjadi tempat tidur mereka berdua.


Bayangan kebersamaannya dengan Keenan selama ini terbayang kembali. Bagaimana suaminya itu, tidak pernah berlaku tidak sopan padanyaa, Keenan selalu memperlakukan dirinya dengan bak.


Walau terkadang dia juga tahu, Keenan sering mencuri ciumannya saat tidur. Akan tetapi, dia tidak pernah meminta lebih, meskipun Keenan tau dia sudah halal dan berhak atas apa yang ada di dalam dirinya, termasuk tubuhnya sendiri.


Keenan pun selalu berbuat baik pada keluarga Riska, suaminya itu selalu bersikap sopan, bahkan kini Rio sangat dekat dengan Keenan.


Riska pun sadar, itu adalah kewajibannya. Dia hanya ingin menerima kepastian atas rumah tangganya, sebelum dia menyerahkan mahkota yang selama ini dia jaga.


Selama ini, Keenan hanya terus berkata 'Kita jalani saja dulu' kata yang terasa tak menjawab apa yang selalu ia tanyakan di dalam hati, tak membuat Riska mau menyerahkan semuanya pada Keenan.


Riska kembali menatap jam dinding itu, ternyata baru setengah dari waktu yang diberikan oleh Keenan, dia kembali berdiri, berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar mandi.


Waktu terasa berjalan sangat lambat, Riska tak bisa menunggu lebih lama, rasa khawatirnya lebih besar dari pada semua rasa yang lain di dalam dirinya.


"Ya Tuhan, jika ini memang yang terbaik untukku dan Bang Keenan juga rumah tangga kami. Aku rela menyerahkan semuanya pada malam ini ... aku mohon kuatkan aku untuk menerima apa pun yang akan terjadi kedeppannya, setelah malam ini," gumamnya, berusaha meminta keyakinan kepada Sang pemilik hati.


Dengan tangan bergetar, dia memutar handle pintu kamar mandi itu bersama tarikan napas panjang. Mencoba mnguatkan dirinya sendiri, untuk menghadapi semua yang akan terjadi,


setelah keputusannya ini.


Riska melihat Keenan yang masih berdiri di bawah guyuran air shower, tubuhnya masih bergetar, kepalanya tertunduk dalam, dengan tubuh bagian atas sudah polos tanpa sehelai benang pun yang menghalanginya.


Tubuh kekar itu, terlihat bergetar, sesekali Keenan tampak memukul diding yang ada di depannya, untuk mengalihkan hasratnya pada rasa sakit yang terciptaa.


Menarik napas kembali dan menghembuskannya, Riska menutup mata sebentar sebelum memantapkan diri untuk menghampiri Keenan.


Perlahan dia berjalan menghampiri Keenan diiringi degup jantung yang semakin bertalu. Tangannya mengepal kuat, menahan rasa gugup dan takut di dalam dirinya.


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2