Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.40 Danau


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Sore menyapa dengan indahnya senja, berwarna jingga di upuk Timur.


Ayu duduk di pinggir sebuah danau buatan.


Sesekali ia tampak tersenyum, melihat betapa senangnya wajah anak kecil di depannya.


"Aunty, Rara mau itu?" suara nyaring itu membuat senyum Ayu mengembang.


Naura menunjuk pedagang balon yang berjualan, tidak jauh dari tempatnya duduk.


"Cantiknya Aunty, mau balon?" tanya Ayu memastikan.


Naura mengangguk dengan mata berbinar.


Ayu terkekeh pelan.


"Ayo, kita beli" ajak Ayu berdiri dengan menggandeng lengan mungil milik bocah kecil itu.


Setelah Mala meninggalkan butik dengan hati yang masih panas, karena kalah berdebat dengan Ayu.


Ayu memutuskan untuk membawa Naura jalan-jalan, sekaligus untuk menenangkan hatinya yang masih saja resah dengan permasalahan yang sampai sekarang membelenggu hatinya.


Hingga di sinilah sekarang mereka berada, di sebuah danau buatan di pinggiran kota.


Dulu, waktu ibunya masih ada, dia sering di ajak bermain ke tempat ini, untuk sekedar melepaskan penat, atau menghibur dirinya yang tidak pernah mempunyai teman.


"Aku mau yang itu," tunjuk Naura pada balon dengan karakter helo kitty kesukaannya.


Abang tukang dagang, langsung mengambilkan balon yang di tunjuk oleh Naura, setelah mendapat anggukan dari Ayu.


Bocah kecil itu langsung berjingkrak senang, setelah mendapat bola yang ia inginkan.


" Wah, senang banget kayaknya putri Papa?" suara seseorang dari belakangnya membuat Ayu langsung menoleh penuh kepada seseorang yang sudah berdiri dengan lengan yang di masukan ke dalam saku.


"Terima kasih.." ucapnya lagi dengan suara pelan, melirik sambil tersenyum tipis pada Ayu.


Sangat tipis, sampai, tak ada yang menyadari senyum itu, selain Ayu sendiri.


"Papa...!" Naura berlari dan langsung menghambur pada pelukan sang ayah tercinta.


Ezra...


Dia baru saja datang ketika Ayu sedang memberikan balon untuk anak perempuannya.


Berdiri, memperhatikan semua perlakuan lembut dari wanita yang mulai masuk ke dalam hatinya.


Lelaki berumur tiga puluh tahun itu, melihat semua perlakuan Ayu pada anaknya, tidak heran Naura dan Bian langsung dekat dengan sosok perempuan lembut dan terlihat periang bila di hadapan anak-anak.

__ADS_1


Bila di lihat sekilas, orang tidak akan tau, kalau wanita itu menyimpan begitu banyak rasa sakit di dalam dirinya.


Tetapi, jika di lihat lebih dalam, semua itu bisa terlihat jelas dari sorot manik indahnya yang sendu dan menyimpan banyak luka.


"Putri Papa, gimana mainnya sama Aunty?" tanya Ezra masih dengan menggendong bocah yang baru saja berumur enam tahun itu.


"Seneng Papa, Rara suka main sama Aunty" celoteh anak itu, mengadu pada sang papa.


"Benarkah?" Ezra bertanya dengan wajah yang di buat seperti orang yang sedang penasaran.


"Iya, Papa. Rara sayang sama Aunty," jelas Naura, dengan wajah yang sangat serius, hingga membuat dia terlihat semakin lucu.


Ayu terkekeh kecil, melihat interaksi antara anak dan ayah di depannya.


Tanpa di sadari, dia juga merindukan masa-masa bermanja dengan sang ayah.


Ezra terpaku, melihat wajah Ayu yang terlihat semakin cantik dengan senyum tulus yang mengembang di bibir merah mudanya.


Walau, mata itu masih saja terlihat sendu.


"Sudah sore, lebih baik kita pulang" suara lembut itu mengalun indah di telinga Ezra.


"Rara, mau nginep di rumah Aunty, Pah" Rara merengek pada sang ayah.


Ezra melihat wajah Ayu, bingung.


Kalau sampai dia menolak kembali permintaan anaknya, Naura akan memusuhi dirinya kembali.


Sedangkan, jika dia mengijinkannya, itu akan sangat tidak enak untuk dirinya dan Ayu.


"Sayang, malam ini Aunty punya banyak pekerjaan, gimana kalau minggu besok kita jalan-jalan saja" tawar Ayu, mengelus sayang rambut Naura.


"Aunty janji?" gadis kecil itu mengacungkan jari kelingkingnya di depan Ayu.


"Iya, Aunty janji," Ayu langsung menautkan kelingkingnya pada jari mungil milik Naura.


Akhirnya Ezra dan Naura mengantar Ayu sampai ke butik, dengan mengikuti mobil Ayu dari belakang.


...❤...


Waktu terus berganti, tak terasa sudah tiga hari berlalu setelah kejadian perdebatan Ayu dengan Ansel tempo hari.


Ansel belum pernah menemui Ayu lagi. Dia terlalu takut untuk sekedar menyapa sang adik.


Rasa rindunya ia telan dengan rasa penyesalan yang sangat mendalam.


Seperti sore ini, Ansel hanya berani memperhatikan Ayu dari kejauhan.


Ya, setiap hari Ansel selalu menyempatkan diri untuk melihat sang adik di sela kesibukan kesibukannya.


Melihat dari kejauhan, tanpa berani untuk sekedar mendekatinya. Dia terlalu takut jika kembali di tolak oleh Ayu.


Sore ini, Asel kembali datang ke Clarissa boutique, dia memarkirkan mobilnya di sebrang jalan.

__ADS_1


Menunggu Ayu keluar, agar bisa melihat wajah sang adik, walau hanya sekilas.


Mata Ansel memicing, dengan kening mengerut dalam, ketika melihat Ayu keluar dari butik bersama seorang lelaki yang terlihat sangat akrab.


"Siapa dia?" tanyanya lebih kepada dirinya sendiri.


Melihat semua itu, tiba-tiba Ansel merasa sedikit cemburu dengan kedekatan Ayu.


Ayu terlihat berbincang ria dengan sesekali tertawa oleh perkataan lelaki yang ada di sampingnya.


Perasaan panas tiba-tiba saja menjalar di dalam hatinya.


Iri...?


Ya, mungkin itu yang sekarang dia rasakan oleh Ansel.


Mengapa dirinya tak bisa sedekah itu dengan adik kandungnha sendiri?...


Padahal waktu kecil, keduanya tidak bisa di pisahkan satu sama lain.


Begitu menyakitkan, melihat Ayu, bisa sedekat itu dengan lelaki yang tidak di kenalnya.


"Sampai kapan kamu akan seperti ini, Mas?" suara sang istri, membuat Ansel langsung mengalihkan pandangannya pada sosok wanita yang duduk di sampingnya.


"Sampai kapan kamu mau bersembunyi di balik rasa penyesalan dirimu sendiri, Mas?" Elena kembali bertanya.


Ansel kembali melihat kepada Ayu yang sedang mengantarkan lelaki itu sampai ke mobil.


"Aku takut,El," ucapnya sendu.


"Dia hanya kecewa, Mas. Aku yakin kalau kamu mau menjelaskan semuanya, dia pasti akan menerima kamu kembali," Elena menatap wajah sang suami yang selama tiga hari ini, terlihat tidak semangat.


"Aku bisa merasakannya saat aku memeluknya,Mas. sebenarnya dia juga merindukanmu, merindukan sosok seorang kakak yang telah lama menghilang dari kehidupannya." Elena mencoba membangun kembali rasa percaya diri dari sang suami.


"Dia begini karena aku memang salah, El. Aku terlambat menemukan dia, hingga aku tidak tau kalau dirinya harus berjuang sendiri selama ini," ucap Ansel dengan penuh penyesalan.


"Aku tak tau, kalau selama ini dia harus hidup dengan kekurangan bersama Ibu! Sedangkan Aku? Aku hidup dengan harta berlimpah dari mereka." mata lelaki itu sudah memerah, menahan rasa sakit yang kembali menghujam jantungnya.


Mengingat pertemuannya dengan Ezra dan Keenan siang tadi.


Ya, selama beberapa hari ini, Ezra menyuruh sang adik untuk mencari tau tentang kehidupan Ayu selama ini.


Akhirnya malam tadi Keenan berhasil mengetahui kehidupan Ayu, yang teramat menyakitkan.


Itu semua menambah rasa bersalah di diri Ansel.


Dia merasa seperti seorang kakak yang tak berguna.


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...

__ADS_1


...🙏😊🥰...


__ADS_2