
... Happy Reading ...
...❤...
Ayu sudah berada di rumah, dia memilih untuk beristirahat, setelah membantu Naura mengerjakan tugas sekolahnya.
Duduk termenung di dalam sofa, dengan pikiran kembali pada saat dirinya berbicara dengan Radit.
Ya, Tadi siang, Radit akhirnya meminta waktunya sebentar untuk berbicara dengannya, walau dalam hati ia merasa takut, tetapi akhirnya dia mengizinkannya dengan syarat, Naura dan Gino tidak berada jauh darinya.
Flash back
“Maaf, bisa kita bicara sebentar ... ada sesuatu yang mau aku sampaikan,” ujar Radit, saat Ayu sudah selesai dengan makannya.
Ayu melirik Gino dan Naura sekilas, dia sempat terdiam dengan berbagai pikiran yang berkecamuk, menerka apa yang akan dibicarakan mantan suaminya itu.
Setelah ia terdiam cukup lama, akhirnya Ayu mengangguk. “Baiklah, kita bicara di sana saja,” ujar Ayu menunjuk tempat di dekat pembatas lantai tengah.
Radit tak menolak, dia langsung menyetujuinya, lalu berjalan terlebih dahulu. Sedangkan Ayu beralih lebih dulu pada Naura.
“Sayang, kamu tunggu di sini sama Pak Gino dulu ya, Mama mau bicara sebentar dengan om yang tadi,” ujar Ayu, dengan begitu lembut.
Naura menatap Ayu dengan begitu intens, dia tidak suka ibunya berbicara berdua dengan seorang lelaki lain selain keluarganya. Akan tetapi, akhirnya dia menganggukkan kepala, walau wajahnya masih terlihat ditekuk.
Ayu tersenyum lalu mengusap pelan puncak kepala Naura berulang. “Terima kasih, sayang. Mama janji tidak akan terjadi apa-apa,” ujar Ayu.
Dia menatap sekilas Gino yang berdiri di belakang Naura, lalu mengangguk samar, seperti memberi sebuah kode untun meyakinkan sopir pribadinya itu, sebelum menyusul Radit yang sudah menunggunya.
“Ada apa, Bang?” tanya Ayu, begitu ia sudah sampai di samping Radit, dengan masih memberikan jarak di antara keduanya.
Radit tersenyum kecut saat melihat sikap Ayu yang seakan memperjelas jarak di antara mereka yang kini memang terasa sangat jauh, semenjak kesalahannya dua tahun lalu.
“Kamu tidak berubah, masih tetap lembut seperti dulu,” ujar Radit. Sejak melihat mantan istrinya itu masuk ke dalam restoran tempatnya bekerja, dia sudah memperhatikannya.
Ayu yang begitu tenang dan lembut, mengingatkannya akan masa lalu. Walau tak dipungkiri, perut besarnya menjadi pertanda kalau kini wanita itu sudah menjadi milik orang lain, juga mematahkan semua pikiran sang ibu selama ini.
Ayu menatap Radit sekilas, lalu kembali mengalihkan pandangannya, pada suasana di dalam pusat perbelanjaan itu yang terasa semakin ramai. “Terima kasih.” Hanya kata itu, yang keluar dari mulut Ayu, sebagai tanggapan.
__ADS_1
Radit kembali tersenyum, tatapannya beralih pada perut Ayu yang sudah membesar. “Sudah berapa bulan, usianya?” tanya Radit.
Ayu yang sadar tatapan Radit, mengelus perutnya sambil tersenyum tipis. “Menginjak tiga puluh dua minggu.”
Menganggukkan kepala, lalu menjatuhkan pandangannya pada lantai yang berada di bawah, Radit berjalan menuju sisi pagar, menyandarkan tubuhnya di sana.
“Selamat ya, semoga kalian selalu diberi kesehatan dan melahirkan dengan lancar nanti. Aku ikut senang melihatmu yang sekarang,” ujar Radit, melihat wajah Ayu sekilas.
Ayu aju dua langkah, untuk lebih mendekat pada Radit, walau jarak di antara keduanya tak terkikis.
“Bagaimana kabar Abang dan ibu sekarang?” tanya Ayu. Melihat sikap Radit yang tenang, membuat Ayu sedikit membuka diri.
“Ibu, baik. Dia masih menjalani terapi untuk mengembalikan syarat yang terkena stroke. Sedangkan aku, seperti yang kamu lihat ... aku baik dengan hidupku yang sekarang,” jawab Radit.
“Maafkan aku, atas semua kesalahanku dahulu, aku menyesal bahkan sampai sekarang. Hidupku terasa tidak tenang setelah kepergianmu, rasa bersalah seperti menghantuiku setiap malam,” ujar Radit, penuh sesal. Raut wajahnya kini berubah sendu dengan mata memohon.
Ayu terdiam, dia sedikit menegang, saat mengingat kembali rasa sakit yang telah dibolehkan oleh sosok lelaki di depannya. Bukan sebuah dendam, hanya saja itu masih bis ia rasakan sampai sekarang.
“Aku sudah memaafkan Abang sejak lama, tak perlu dipikirkan lagi, Bang. Sekarang kita sudah menjalani hidup kita masing-masing, maka jangan lagi terikat dengan masa lalu, agar langkah kita terasa ringan.”
Ayu menatap penuh wajah mantan suaminya, bahkan senyum lembut dan ramah itu telah kembali. Mata keduanya terpaut untuk beberapa saat, hingga akhirnya Ayu memutuskannya.
Radit menurunkan pandangannya dengan rasa bersalah dan juga kagum yang bercampur dalam dirinya. Tak dipungkiri kalau sikap lembut dan ramah juga senyum itu, yang menjadi pesona seorang Ayu di matanya sejak pertama kali dia misalnya dulu.
“Terima kasih, kamu sudah mau memaafkan aku. Semua perkataanmu memang benar, seharusnya aku sudah tak mengingat masa itu,” ujar Radit.
Ada sedikit rasa lega di drama hatinya, seperti sebuah beban di sana menghilang walau belum semuanya.
“Sekali lagi terima kasih. Sekarang aku bisa menjalani hidupku dengan tenang,” sambung Radit kembali.
Ayu tersenyum, dia mengangguk sebagai jawaban dari perkataan Radit. Pikirannya kini teraih pada kondisi Mala.
“Abang, tau kabar tentang Mala?” tanya Ayu.
Radit mengangguk, dia memang sudah dihubungi oleh kedua mantan mertuanya itu beberapa bulan lalu, sebelum mereka membawa wanita itu berobat ke luar negeri.
“Ya, aku sudah tahu semuanya,” jawab Radit.
“Dia sekarang sudah lebih baik, aku mendapat kabar kalau pengobatannya di sana menimbulkan reaksi dan pengurangan sel kanker.” Ayu menerawang pada beberapa hari lalu, saat dirinya mendapat sebuah email dari Mala.
“Benarkah? Kamu masih berhubungan dengannya?” tanya Radit setengah tidak percaya.
Ayu mengangguk sebagai jawaban. “Aku sudah berdamai dengan masa lalu, Bang. Aku harap ke depannya Abang juga bisa sepertiku,” ujar Ayu.
__ADS_1
“Untuk apa kita mengingat semua itu, kalau hanya menjadikan batu sandungan yang menghalangi langkah kita? Bukankah lebih baik, kita jadikan semua itu sebuah pelajaran, untuk memacu kita agar bisa bersikap lebih baik lagi?” tanya Ayu kemudian.
“Melupakan memang sulit, Bang. Tapi berdamai dan memaafkan segala sesuatu yang telah berlalu, akan lebih baik dari pada terus memikirkannya, atau menyesalinya ... apa lagi bila menyalahkan orang lain. Itu hanya akan menimbulkan penyakit untuk kita, mulai dari penyakit hati sampai penyakit fisik, yang tanpa sadar berasal dari diri kita sendiri.”
Radit mengangguk, dia sekaan tengah ditampar dan disadarkan oleh setiap perkataan Ayu yang begitu lembut, tetapi, menusuk tepat di jantungnya.
Selama ini dirinya dan Sari memang belum bisa berdamai dengan masa lalu, terutama emosi yang masih mengganjal di hati.
Ayu menghirup napas panjang kemudian menghembuskannya sekaligus, dengan senyum cerah di wajahnya. “Baiklah, kalau sudah tidak ada lagi yang mau dibicarakan lagi, aku pamit pulang dulu. Kasihan anakku sudah menunggu lama sejak tadi,” ujar Ayu, memutuskan perbincangan singkat antara dirinya dan Radit.
Radit menatap wajah Ayu yang tengah tersenyum pada seorang gadis kecil yang sedang menunggu keduanya tidak jauh dari keberadaan mereka. Dia mengikuti arah pandangan itu sebentar, lalu mengangguk dengan perasaan hati berat. “Terima kasih, sudah mau berbicara denganku. Aku harap ke depannya kita masih bisa berteman seperti dulu ... hanya sebatas teman,” ujar Radit.
Ayu tersenyum, tetapi kemudian dia menggeleng. “Sudah tidak pantas aku mempunyai teman seorang lelaki, Bang. Tapi, bila memang mau, Abang bisa berteman baik dengan suamiku. Aku akan menerima pertemanan yang dibuka langsung olehnya, karena dialah imamku sekarang,” ujar Ayu, dia menolak secara halus.
“Kita masih bisa berhubungan dengan baik, walau tidak dengan status teman, hanya saja itu melalui suamiku. Aku tidak mau dia berpikir yang tidak-tidak tentang hubungan kita. Walau bagaimanapun kita terikat oleh hubungan mantan, yang akan selaku memercikan api curiga, bila mereka melihat kedekatan di antara kita,” jelas Ayu.
Radit mengangguk, dia sadar dengan situasi yang kini sudah sangat berbeda.
“Aku pamit ya, Bang. Assalamualaikum,” ujar Ayu, menganggukkan kepalanya sekilas, dengan kedua tangan menangkup di depan dada.
“Waalikumsalam,” jawab Radit lirih.
Menatap kepergian Ayu, yang berjalan semakin menjauh dengan kedua orang di samping dan belakangnya.
“Mama lama banget sih,” gerutu Naura, sambil menggandeng posesif lengan Ayu, lalu mengajaknya keluar dari pusat perbelanjaan itu.
“Maaf, sayang. Naura sudah lelah ya? Kita langsung pulang saja ya,” ujar Ayu, sambil terus berjalan.
“Hem, aku mau mengerjakan tugas sekolah dulu, baru nanti istirahat,” angguk Naura.
“Ya sudah, kalau gitu nanti Mama bantu bikin ya,” tawar Ayu.
“Boleh, tapi hanya mengarahkan aja ya, soalnya Rara mau ngerjain semuanya sendiri.”
Ayu langsung mengangguk menyetujui.
Flash Black off
...🌿...
...Terima kasih atas semua dukungannya🙏🥰 lope-lope buat kalian semua❤❤...
...🌿...
__ADS_1
...Bersambung...