
...Happy Reading...
...❤...
"Aku bersedia, Bang. Lakukan padaku, aku rela menyerahkan semuanya malam ini," gumam Riska di iringi isak tangisnya.
Keenan terkejut dengan apa yang ia dengar dari mulut Riska, walau akhirnya dia tidak bisa menahan ujung bibirnya yang berkedut tak bisa menahan seringainya.
"Terima kasih, aku janji akan melakukannya dengan perlhan." Keenan langsung meraup wajah Riska, setelah mengatakan itu, menyatukan bibirnya dengan bibir Riska, dia berusaha menahan diri dan tak berbuat kasar pada istrinya.
Riska menutup matanya, menikmati sentuhan yang diberikan Keenan, tanganya meremas erat gaun di sampingnya.
Lelaki itu, melepaskan tautan bibir keduanya, saat merasakan Riska mulai kehabisan napas. Dia menempelkan keningnya di kening Riska, napas keduanya terengaah, berlomba meraih oksigen untuk memenuhi paru-paru masing-masing.
"Balas aku," ujar Keenan sebelum kembali menyatukan bibir mereka.
Keenan semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Riska, dia menggigit kecil bibir bagian bawah Riska hingga gadis itu memekik dan membuka mulutnya, memberikan akses untuk lidah Keenan menjelajah lebih dalam.
Keduanya kini mulai terlanjur dengan hasrat yang hampir menguasai tubuhnya, di bawah guyuran air dingin yang menerpa tubuh mereka. Menambah hasrat yang semakin mendesak ingin di lepaskan.
Riska merasakan ada gelanyar aneh di dalam tubuhnya, dia menggeliat saat merasakan tangan Keenan yang mulai merambat menjalar mencari sisi sensitif di tubuhnya.
Keenan beralih pada leher mulus milik Riska, dia menghisap dan mengingit kecil, memberikan tanda kepemilikan di sana.
Tidak menggigit bibir bagian bawahnya, menahan suara yang serasa ingin ia keluarkan, saat rasa asing itu semakin membuatnya tak tertahan.
Tangan Riska, merengkuh memeluk tubuh suaminya itu, mencari pegangan, saat merasakan tubuhnya semakin melemah, kakinya lemas seakan tak bisa lagi menahan tubuhnya sendiri.
Keenan semakin mengeratkan pelukannya, saat dia merasakan tubuh Riska yang semakin merosot, hampir terjatuh. Dia kembali menyatukan bibir mereka.
Grep!
Dengan sekali gerakan, Riska sudah berada di dalam gendongan Keenan, tanpa melepaskan tautan bibir mereka.
Eunggh!
Riska memekik tertahan di antara ciuman mereka. Refleks, dia mengagungkan kedua tangannya di tengkuk suaminya itu. Bibir Keenan bahkan masih aktif memberikan sentuhan di sana.
Berjalan dengan langkah lebar, keluar dari kamar mandi dan merebahkan tubuh Riska di atas ranjang, dengan begitu lembut.
__ADS_1
Dia naik merayap di atas tubuh Riska, mengungkung tubuh kecil itu. Mata mereka beradu kembali, saling menatap dengan berbagai rasa di dalam dada.
Jantung keduanya bertalu, saling bersahutan mengalirkan darah semakin deras ke seluruh tubuh.
Keenan mulai menurunkan tubuhnya, memberikan sentuhan kembali di setiap jengkal tubuh istrinya, dia memuja dengan gerakan halus, membuat Riska menggeram menahan suara des*h*n yang tak dapat lagi ditahan.
Srrrakkh!
Akh!
Riska memekik saat Keenan merobek gaun yang ia pakai dengan sekali gerakan dan membuangnya ke sembarang arah. Hingga kini tubuhnya hanya tertutup oleh dua buah kain kecil di bagian intinya saja.
Lelaki itu menyeringai, dan menurunkan kembali wajahnya, menyentuh leher hingga bagian atas dada. Dia terus turun hingga kini sampai pada aset berharga milik tiska yang masih tertutup oleh kain dengan warna coklat muda.
Tangannya terulur, dia membuka kain penutup itu, dan melemparnya kembali.
Salah satu tangan Keenan kini sudah bertengger di puncak gunung kenikmatan, meremasnya perlahan. Sedangkan bibirnya pun ikut bermain, hingga Riska tak dapat lagi menahan suara itu.
Hasrat Keenan seakan terpacu, mendengar suara pertanda kenikmatan itu keluar dari mulut Riska.
"Keluarkan, Riska. Sebut namaku," ujar Keenan, dia menghentikan sebentar aktivitasnya, menatap wajah merah Riska dengan napas terengah, sebelum kembali menenggelamkan wajahnya di pada tubuh Riska.
Tangannya kini beralih pada aset paling berharga milik gadis itu, dia memberikan sedikit gerakan halus di sana hingga suara itu kembali keluar. Kepalanya semakin turun menyusuri setiap kulit halus itu, tanpa ada yang terlihat sedikit pun,
Keenan kembali mengangkat kepalanya, menatap Riska yang kini juga sedang menatapnya. Dia melihat ada kekhawatiran di sorot mata sayu itu.
"Aku janji akan melakukannya dengan sangat pelan," ujar Keenan, dia kembali menyatukan bibir mereka, mencoba memberikan ketenangan bagi gadis di bawah kendalinya itu.
Tangannya kembali merayap ke bawah, tanpa melepaskan tautan bibir mereka, menyelinap masuk, meraba surga dunia yang sebentar lagi akan menjadi miliknya.
Bermain dengan gerakan halus nan membuai, Keenan sama sekali tak membiarkan istrinya itu untuk berhenti merasakan kenikmatan, hingga akhirnya tubuh itu polos, tanpa ada sehelai benang pun yang menghalanginya.
Keenan mengangkat tubuhnya dia membuka celana yang masih melekat, membebaskan sesuatu yang sudah sejak tadi tersiksa di dalam sana, memberontak ingin segera dikeluarkan.
Riska memalingkan wajahnya, ia tak berani menatap Keenan yang kini sedang bersiap untuk melanjutkan ke sesi berikutnya.
Jantungnya semakin bertalu dengan rasa asing yang kini menguasai seluruh tubuhnya, pikirannya menjerit takut, untuk melakukan itu, walau tubuhnya sendiri mendamba untuk melanjutkan kembali aktivitas menyenangkan itu.
Keenan membuka kaki Riska, memosisikan sebaik mungkin, dia kembali mengungkung tubuh kecil itu, bersiap untuk memulai penyatuan.
Tangannya meraih wajah Riska, mengarahkan untuk melihat ke arahnya. "Buka matamu, sayang. Lihat aku."
__ADS_1
Suara lirih dengan sapuan napas hangat di wajahnya, membuat mata Riska perlahan terbuka dengan pipi yang merona.
"Abang, aku ... aku takut," lirih gadis itu, dia menjatuhkan tatapannya, tak sanggup melihat wajah Keenan. Bukan hanya takut untuk melepaskan mahkota miliknya, dia juga takut menghadapi kehidupan mereka kedepannya.
Lelaki itu tersneyum, dia mengecup kening Riska lama, lalu kembali mengangkat wajahnya. Mata Riska memanas, merasakan betapa hangatnya bibir itu ia rasakan. Dia membuka matanya kembali setelah kehangatan itu tak ada lagi.
"Aku akan bertanggung jawab, kita sudah menikah, lalu apa yang kamu khawatirkan, Hem?" tanya Keenan seakan tahu apa yang da di dalam hati istrinya.
Riksa mengapa Keenan, dia mencoba meyakinkan diri kembali. Dia bisa merasakn sesuatu sudah menekan bagian sensitifnya di bawah.
"Aku akan melakukannya dengan pelan, kamu tahan sebentar, ya," sambung Keenan lagi sebelum memulai penyatuannya.
Keenan mulai bergerak menyatukan tubuh keduanya, Riska merasakan sakit saat ada sesuatu yang menerobos dia memaksa untuk masuk ke dalam tubuhnya. Dia menggigit bibir bawahnya, dengan tangan meremas kain sprei dengan kuat hingga terlihat kuat.
"Abang," tangan Riska menekan dada Keenan, memaksa suaminya itu untuk berhenti.
Keenan berhenti, dia menatap wajah merah istrinya. "Berikan rasa sakitmu padaku, Ris."
Keenan bergumam lirih, sebelum menyatukan bibir mereka kembali, dengan hentakkan keras di bagian bawah. Menabrakkan dirinya pada dinding pelapis yang menghalangi jalan masuknya.
"Hk." Riska mencengkram pundak Keenan, saat rasa sakit yang amat sangat terasa di bagian bawahnya.
Keenan menghentikan pergerakannya, membiarkan Riska meredam rasa sakitnya. Begitupun dirinya sendiri, miliknya terasa berdenyut dengan sensasi yang baru saja di dapatkannya.
Ini juga pertama kalinya untuk Keenan, Dia pun merasakan sakit seperti halnya Riska, hingga dia harus menghentikan dahulu permainannya, untuk menghirup napas dan membiarkan miliknya beradaptasi dengan milik Riska.
Keenan menggeram saat rasa sakit itu berubah menjadi rasa nikmat, saat dirinya kembali bergerak, setelah merasakan tubuh istrinya sudah lebih tenang.
Bibir dan tangannya kembali memberikan sentuhan untuk menambah kenikmatan yang dia rasakan, juga istrinya. Hingga beberapa saat kemudian kamar apartemen itu sudah diwarnai dengan berbagai suara khas percintaan juga aroma kuat yang dihadirkan.
Keduanya menikmati malam ini, malam yang begitu bersejarah, malam melepas masa lajang yang selama ini mereka jaga untuk pasangannya masing-masing.
"Terima kasih, sayang. Mulai malam ini kamu adalah milikku, semua yang ada padamu adalah milikku," ujar Keenan begitu dia mengakhiri permainannya dan menjatuhkan dirinya di samping Riska.
Riksa tak menjawab, tubuhnya lelah dan butuh istirahat, dia menutup mata dengan napas yang masih terengah, bulir keringat pun masih membasahi tubuhnya. Terlelap dengan sisa-sisa percintaan yang barusan aja mereka lakukan.
Keenan menarik selimut untuk menitupi tubuh polos mereka, dia memeluk erat istrinya dan ikut tenggelam dalam rasa nyaman dan lega di dalam dada.
...🌿...
...Gimana-gimana udah musim duren belum nih🤭😂❤❤...
__ADS_1
...🌿...
...Bersambung...