Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.303 Kelahiran


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Keenan tampak duduk di belakang Riska, dia memeluk tubuh istrinya, memberikan kehangatan di malam yang terasa semakin dingin.


"Apa kamu bahgia, sayang?" tanya Keenan, sambil mengelus lembut perut Riska yang sudah terasa sedikit keras di bagian bawahnya.


Riska mengangguk, tangannya menangkup tangan Keenan. Senyum bahagia pun terukir di wajahnya.


"Sangat bahagia," jawab Riska kemudian.


Keenan ikut tersenyum, keduanya kini asik menikmati pertunjukan kembang api, yang sudah diracang oleh Ezra, untuk memeriahkan acara malam ini.


.


.


Beberapa bulan berlalu, kini kehamilan Riska sudah mencapai usia sembilan bulan. Hari ini, pasangan yang sedang menanti kelahiran anak pertamanya itu, tengah berjjalan-jalan di pusat perbelanjaan.


Ya, sejak kehamilan Riska semakin besar, dia sering berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, ataupun di taman, untuk mempermudah proses persalinan.


Keenan sebagai seorang calon ayah yang baik, tentu tidak akan melewatkan kesempatan ini untuk menemani istrinya.


Untung saja, sekarang dia sudah mempunyai asisten pribadi, hingga pekerjaannya tidak menumpuk seperti sebelumnya.


Keenan pun akan lebih leluasa menemani masa-masa kehamilan pertama Riska.


"Sayang, sudah sore, kita pulang yuk," ajak Keenan, begitu melihat waktu yang mulai senja.


Riska melihat jam yang melingkar di tangan suaminya, kemudian mengangguk.


Semenjak kehamilannya semakin besar, bobot tubuh Riska juga naik cukup banyak, hingga sekarang dia tidak nyaman untuk memakai barang-barang, seperti perhiasan ataupun jam tangan.


Keenan pun membantu Riska untuk berjalan ke luar dari pusat perbelanjaan. Akan tetapi, saat mereka baru saja turun dari eskalator, Riska menghentikan langkah Keenan.


"Ada apa, sayang?" tanya Keenan, menatap bingung istrinya.


"Tunggu sebenatar, Bang. Perut aku kencang," ujar Riska, sambil mengelus perut bagian bawahnya yang sedikit terasa sakit seperti mau mendapatkan tamu bulanan.


"Perut kamu sakit, sayang?" tanya Keenan memastikan, dia berusaha untuk tidak panik, walau raut wajahnya tidak bisa berbohong sama sekali.


Riska mengangguk, sambil terus mengatur napasnya.


"Ya udah, kita ke rumah sakit sekarang." Keenan hendak menggendong Riska.


Namun, Riska mencegahnya, dia kemudian menggeleng saat merasakan sakitnya sudah hilang.


"Kenapa?" tanya Keenan.


"Udah gak sakit lagi," jawab Riska, sambil menarik Keenan untik berjalan kembali.


"Benaran, udah gak sakit lagi?" Keenan tampak memastikan.


"Iya, yuk jalan lagi," ajak Riska.


Keenan pun mengikuti keinginan istrinya, walau di dalam hati masih ada rasa khawatir.


Sampai di parkiran, Keenan lebih dulu membuka pintu untuk istrinya.

__ADS_1


"Kita ke rumah sakit dulu aja, ya," ujar Keenan, merasa khawatir pada istrinya.


Riska hanya mengangguk, saat rasa sakit di bagian bawah perutnya kembali terasa, dan kini bahkan menjalar ke bagian pinggang.


Keenan yang melihat raut wajah istrinya, lansung mengendarai mobilnya ke luar dari area parkir. Tangannya pun sibuk melakukan panggilan kepada dokter kandungan yang menangani kehamilan istrinya.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, Keenan sudah memarkirkan mobilnya di depan rumah sakit, dia langsung menggendong Riska ke dalam.


Sedangkan dokter yang menanganai Riska sudah bersiap di depan, hingga Keenan bisa membaringkan istrinya di atas barankar rumah sakit.


"Bagaimana keadaan istri aku, Dok?" tanya Keenan.


"Sudah pembukaan lima, kemungkinan masih lima sampai tujuh jam lagi, sebelum pembukaan sempurna. Selama itu, Bu Riska, bisa berbaring miring ke kiri atau berjalan pelan di sekitar ruang rawat, jika masih merasa kuat," jelas Dokter itu.


"Tapi istriku sudah sangat kesakitan, Dok," protes Keenan merasa khawatir pada istrinya.


"Itu memang biasa dialami oleh ibu yang mau melahirkan. Semua itu bagian dari kontraksi untuk mempersipakan jalan lahir bagi si bayi."


Setelah menjalani prosedur pemeriksaan pra persalinan, Riska kini dipindahkan ke ruang rawat.


"Gimana ini, Bang, aku takut?" keluh Riska, saat mereka hanya tinggal berdua di ruang perawatan.


"Tenang, sayang. Aku yakin, semuanya akn baik-baik saja," jawab Keenan, sambil terus menggenggam tangan istrinya.


Tangan satunya lagi, terus mengelus perut Riska yang terasa keras dan kencang, bila sedang mengalami kontraksi.


Keenan berusaha terus terlihat tenang di depan istrinya, walau sebenarnya dirinya sendiri merasakan kekhawatiran yang sangat dalam.


Beberapa saat kemudian seluruh keluarga tampak berkumpul, untuk memberi semangat dan petuah untuk Riska dan Keenan.


Kedua calon orang tua itu pun tampak sedikit bisa mengendalikan dirinya, setelah mendapatkan berbagai dukungan dari seluruh keluarga yang datang.


"Sayang, kamu pasti bisa melewati semua ini, kamu adalah wanita yang kuat," ujar Keenan, terus membisikkan kata penyemangat untuk istrinya.


Riska meremas tangan Keenan, saat rasa sakit kontraksi itu kembali terasa.


Keenan mengusap rambut Riska yang sudah terlihat berantakan dan lepek, bercampur dengan keringat.


"Bu Riska, ikuti instruksi saya, ya. Kalau saya bilang dorong baru ibu mengejan dengan sekuat tenaga," ujar dokter itu yang sudah bersiap, menangani persalianan Riska.


Riska hanya mengangguk samar, sambil meringis merasakan sakit yang tidak terkira.


"Atur napasnya, hirup dari hidung, keluarkan dari mulut," instruksi dari dokter terdengar.


Riska menggelang, menahan sakit yang semakin menjadi.


"Bang, sakit banget," lirih Riska dengan suara bergetar.


Hati Keenan semakin terasa sakit, melihat istrinya yang sedang berjuang demi melahirkan seorang keturunan untuknya.


"Kamu kuat, sayang ... kamu, pasti bisa," bisik Keenan, terus memberikan semangat.


"Sekarang dorong," ujar dokter itu.


Riska mengerang, mencoba mengejan sekuat tenaga, untuk membantu anaknya lahir ke dunia.


"Ibu, buka matanya, dan usahakan jangan keluar suara," instruksi dokter kembali terdengar, saat percobaan pertama mengejan tidak berhasil.


"Abang, sakit," kembali Riska merintih.

__ADS_1


"Iya, sayang. Aku ada di sini, kamu harus bertahan ya, demi aku, demi anak kita," jawab Keenan.


"Ayo semangat, ibu. Ibu Riska, pasti bisa." Dokter itu pun ikut menyemangati Riska.


Setengah jam sudah berlalu, kini tenaga Riska sudah semakin terkuras, semangatnya pun sudah mulai berkurang seiring lelah pisisknya.


"Dok, kenapa lama sekali ke luarnya?" tanya Keenan, ikut merasa khawatir.


"Tenang, Pak. Ini kepalanya sudah terlihat, sebentar lagi bayinya akan lahir," jawab sang dokter.


"Bang, sakit." Riska mebali merintih, dengan suara yang semakin pelan.


"Ayu, Bu, jangan menyerah, satu kali mengejan lagi, hanya saja ini lebih panjang dari sebelumnya," ujar dokter memberi instruksi kembali.


"Bang, aku gak bisa, aku capek, sakit," keluh Riska, menggelengkan kepala samar.


"Gak boleh begitu, sanyang. Ayo, kamu pasti bisa, kamu pasti bisa." Keenan semakin merasakan gelisah di dalam hati.


"Iya, benar kata suami, ibu. Ibu pasti bisa," ujar dokter itu.


Disaat kontraksi itu kembali, dokter pun memberikan aba-aba.


"Ayo tarik napas yang dalam, lalu mengejan tanpa bersuara."


Riska mengikuti arahan dari dokter itu.


"Terus, jangan sampai terputus," ujar dokter itu, hingga akhirnya suara tangis bayi pergema di ruangan bersalin itu.


Bersamaan dengan itu, tetes air mata Keenan dan juga Riska pun mengalir, menandakan betapa bahagianya mereka atas kelahiran anak pertamanya.


"Terima kasih, sayang. Kamu bisa, kamu hebat," ujar Keenan, sambil menciumi wajah Riska.


"Selamat, Bapak, Ibu, anak kalian laki-laki, lahir dalam keadaan sehat dan lengkap," ujar dokter itu.


Bayi mungil yang masih berlumur darah bercampur lendir, itu pun langsung dibawa oleh salah satu perawat, untuk dibersihkan.


"Bang, anak kita," ujar Riska, dengan tangis haru mengiringi perkataannya.


"Iya, sayang. Anak kita sudah lahir. Kamu bisa, kamu wanita hebat," jawab Keenan.


"Terima kasih, sudah bertahan dan berjuang untuk kelahiran anak kita," sambung Keenan lagi.


Malam itu, kebahagiaan menyelimuti keluarga besar Darmendra, menyambut kelahiran anggota baru keluarga itu.


.


.


"Kamu sudah menyiapkan nama untuk anakmu yang tampan ini, Ken?" tanya Nawang, saat mereka sudah berkumpul kembali di ruang rawat.


"Tentu, Mah. Kami berdua sudah menyiapkan sebuah nama untuk anak kita," jawab Keenan penuh semangat.


"Aksa Farras Darmendra," sambung Keenan.


...🌿...


Yang penasaran sama kisah Alvin, yuk melipir di karya aku yang lainnya🤭


SETIAP ORANG BERHAK BAHGIA ... ITULAH YANG MENJADI SEMANGAT UNTUK ALVIN, DALAM MENCAPAI KEBAHAGIAAN YANG DIIMPIKANNYA.

__ADS_1



__ADS_2