Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.175 Mandi Bersama?


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Riska menarik selimut yang menutupi tubuh polosnya, saat kesadaran Keenan hampir saja menghilang. Lelaki itu, terlihat langsung membuka matanya, dia melihat Riska yang mulai bangun dan sedang duduk membelakanginya, dengan selimut menempel di bagian depan tubuhny.


Keenan bahkan melihat saat ini Riska sedang berusaha menutupi tubuh bagian belakangnya.


"Mau ke mana?" tanya Keenan, sambil ikut beranjak dan duduk menyandar di kepala ranjang.


Riska menghentikan pergerakannya, dia melirik Keenan, sebentar lalu menghembuskan napas kasar.


"Aku mau mandi, ini udah siang ... aku harus pergi ke butik," jawab Riska bersiap untuk bangun.


"Sshh," Riska berdesis saat rasa sakit dan juga perih masih terasa di bagian intinya. Dia hampir saja kembali duduk kalau tangannya tak menopang tubuhnya ke nakas.


Keenan langsung bangun, dia meraih handuk yang ada di dekatnya untuk menutupi bagian bawah tubuhnya dan memutari ranjang, dia meraih tubuh Riska dan menggendongnya menuju kamar mandi.


"Hk, Abang!" Riska refleks mengalungkan tangannya di tengkuk Riska, dia terkejut akan perbuatan suaminya yang tiba-tiba itu.


Keenan terkekeh sambil terus melanjutkan langkahnya, wajah Riska selalu terlihat lucu saat merajuk seperti itu.


"Kalau kamu jalan ke kamar mandi, mau kapan sampainya?"ujar Kenan, Riska mencebik kesal dia membuka pintu kamar mandi dari gendongan Keenan.


"Kita mandi bersama, ya?" tanya Keenan, saat sudah menurunkan Riska di atas kloset. Dia menyiapkan air untuk istrinya mandi.


"Jangan ih! kan malu," tolak Riska.


"Apa yang bikin kamu malu, aku sudah melihat semuanya," ujar Keenan.


"Dasar, mesum!" gumam Riska dengan suara lirh, akan tetapi Keenan masih bisa mendengarnya.


"Mesum sama istri sendiri, apa salahnya?" jawab Keenan santai, sambil berdiri kembali dan menghampiri Riksa yang ada di belakangnya.


"Airnya sudah siap, kamu berendam saja dulu, biar rasa sakitnya sedikit berkurang. Mau masuk sendiri atau aku gendong lagi?" tanya Keenan.


"Gak usah, aku bisa sendiri. Abang, keluar dulu saja," ujar Riska.


"Lah, siapa bilang aku mau pergi dari sini." Keenan tersenyum samar melihat mata tajam Riska.


"Abang, keluar ih! Aku mau mandi." Riska mendorong tubuh Keenan.


"Aku mau mandi bareng sama kamu," debat Keenan, dia mencondongkan tubuhnya, mendekat pada Riska.


"Abaaang! Keluar ... cepat keluar! Aku bilang gak mau ya gak mau," ujar Geram Riksa, sambil terus mendorong tubuh Keenan. Wajahnya sudah memerah, dia sangat malu pada suaminya itu.


Keenan terkekeh, dia akhirnya menyerah dan memilih untuk membiarkan Riska mandi sendiri, ketika dirinya sudah puas mengerjai istrinya.


"Baiklah, aku keluar ... okey?" ujar Keenan di sela tawanya.


Riska mencebik kesal, dia mengangkat tangannya memukul angin di belakang suaminya.

__ADS_1


"Dasar suami mesum, nyebelin!" geramnya.


Dia akhirnya berdiri dan melepaskan selimut di tubuhnya sebelum masuk ke dalam bathub dan berendam di air yang sudah disiapkan oleh Keenan.


Badannya terasa lebih nyaman, saat air hangat itu mulai menyentuh kulitnya. Riska memejamkan mata, menikmati aroma busa sabun yang dipilihkan Keenan untuknya.


Beberapa saat, Riska berendam hingga tubuhnya terasa lebih baik. Dia beranjak untuk membersihkan diri di bawah guyuran air shower.


.


Di luar, Keenan memilih mandi di kamar mandi yang lain, hingga sekarang di sudah siap dengan baju santai dan celana rumahan. Berjalan menuju dapur untuk membuat kopi, dia juga membuatkan susu untuk istrinya.


Setelah semuanya selesai, ia membawanya ke meja makan, memilih menunggu Riska selesai sambil memainkan ponselnya. Dia juga memesan makanan untuk mereka.


Hari sudah beranjak siang, dia bahkan tak tau waktu saat menikmati kebersamaan dengan Riska. Keenan tersenyum geli sambil menggelengkan kepala, mengingat semua itu.


"Kamu sudah berhasil mengalihkan duniaku, Ris. Kamu berhasil menarik perhatianku hanya untuk melihatmu, tanpa perduli yang lainnya," gumamnya dengan seringai menghias wajahnya.


Riska keluar dari kamar mandi, dia mengernyit saat tak mendapati suaminya di kamar. "Ke mana dia?"


Mengedarkan pandangan mencari keberadaan lelaki yang semalam sudah memiliki tubuhnya seutuhnya. Akan tetapi, dia tidak menemukan keberadaan Keenan di manapun.


Selesai memakai baju, dia berjalan ke luar kamar, dia melihat ke ruang tengah, ternyata di sana juga kosong.


Hatinya terasa gelisah, ada semacam rasa kecewa dan kekosongan saat dia tak menemukan lelaki itu. Rasa takut ditinggalkan pun mulai merasuk, memengaruhi jiwanya.


Menghembuskan napas kasar dengan sakit yang terasa di dadanya. "Apa dia sudah pergi?"


Namun, semua pemikiran itu ternyata langsung terbantahkan, saat matanya melihat Keenan tengah duduk di meja makan dengan secangkir kopi dan segelas susu di depannya.


"Kamu sudah selesai?" tanya Keenan, dia menaruh kembali ponsel di tangannya lalu beralih menatap Riska.


"Sini, duduk. Aku sudah membuatkan susu untuk kamu ... sebentar lagi makanan kita juga datang," ujar Keenan, menarik kursi di sampingnya.


Tadi dia sudah memesan sarapan untuk mereka berdua di restoran yang tidak jauh dari apartemen tempat tinggal mereka.


Riska tersenyum canggung, dia berusaha berjalan dengan normal, walau tetap saja terlihat berbeda di mata Keenan.


"Terima kasih, Bang," ujar Riska sambil duduk di kursi.


Keenan tersenyum lalu menganggukkan kepala. Dia menatap wajah Riska dengan meringis, merasa beraslah pada Riska karena dirinya yang menyebabkan istrinya itu seperti ini.


Riska meraih susu di atas meja, lalu meminumnya.


"Masih sakit, ya?" tanya Keenan.


Uhuk!


Riska tersedak saat mendengar pertanyaan menyebalkan itu dari mulut suaminya. Dia menatap Keenan tajam.


"Abang pikir saja sendiri!" jawabnya ketus, setelah berhasil meredakan batuknya.


'Dasar gak peka! Ngapain sih harus membahas itu terus? Aku kan malu!' gumam hati Riska.

__ADS_1


"Maafin aku ... aku bener-bener gak bisa mengendalikan diriku tadi," ujar Keenan, merasa bersalah.


"Heem, gak usah dibahas lagi bisa gak?" Riska menatap Keenan dengan wajah kesal.


"Hah? Memang kenapa?" tanya Keenan, dia mulai melancarkan aksi menjahili Riska kembali.


Riska melirik Keenan dengan mata yang memicing. "Masih banyak topik yang bisa di bahas, kenapa harus ngebahas itu?"


"Kalau aku suka gimana?" tanya Keenan sambil terkekeh.


"Jangan mesum!"


"Sama istri sendiri, gak papa dong?"


Riska mengepalkan tangannya, melihat Keenan dengan gigi merapat menahan kesal.


"Tapi, aku gak suka, Abang!"


Ting Nong!


Suara bel, menghentikan perdebatan kedua pasangan suami istri itu.


"Makanan sudah sampai!" Keenan langsung berdiri dan berjalan cepat menuju pintu masuk.


"Eeeuh! Dasar nyebelin!" geram Riska.


Beranjak menuju dapur untuk menyiapkan peralatan makan dan mengambil air. Bibirnya terus bergumam mengumpat Keenan, yang sepanjang pagi ini terus membuat dirinya kesal.


"Bisa-bisa aku darah tinggi kalau terus kayak gini!"


"Dasar suami mesum, jahil, gak peka, rese, tukang curi kesempatan ... nyebelin!"


"Coba kalau bukan suami, pasti udah aku bejek-bejek tuh mulut yang selalu bikin aku kesel!"


"Kalau enggak aku kasih cabe yang udah diulek, biar kepedesan!"


Riska terkekeh sendiri, membayangkan bagaimana kalau Keenan kepedesan gara-gara dia memberi cabai di mulutnya.


"Cabe beneran ya, bukan cabe-cabean," gumamanya lagi, sambil terkekeh geli.


Plak!


"Awshh! Sakit tau, Bang!" Riksa memang keningnya yang di tepuk menggunakan telapak tangan Keenan, begitu dia berbalik sambil membawa piring.


"Enak, ya ... ngedumelin suami sendiri," ujar Keenan, dengan tatapan tajamnya.


"Ish, kenapa juga harus ketahuan sih?"


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2