Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.46 perdebatan


__ADS_3


...Happy Reading ...


...❤...


"Sekarang Anda sudah bisa pergi dari sini, karena aku ... suaminya sudah ada di sini," tekan Radit menatap tajam Ezra.


"Oh, maaf Tuan Suami, aku tidak bisa meninggalkan ruangan ini, sebelum sahabatku datang,"


Senyum mengejek itu, sangat menjengkelkan di mata Radit.


"Aku suaminya, aku yang lebih berhak menjaga istriku!" sarkas Radit dengan suara yang meninggi.


"Aunty," terdengar rengekan dari mulut mungil Naura, karna merasa terganggu oleh perdebatan orang dewasa di sekitarnya.


"Ssshh ... Aunty ada di sini, sayang," Ayu langsung mengusap punggung gadis kecil itu, agar kembali tenang.


"Kalau kalian ingin berdebat, sebaiknya keluar dari ruangan ini, ingat ... ini adalah rumah sakit," ucap Ayu menatap bergantian kedua lelaki dewasa di depannya.


"Ada apa ini?" Ansel yang baru saja sampai dengan membaw paper bag berisi baju ganti untuk sang adik, langsung menerobos masuk saat terdengar suara ribut dari kamar rawat, Ayu.


Ezra hanya menghembuskan napas kasar, sambil melirik Radit sekilas, lalu duduk di sofa, tanpa menghiraukan yang lainnya.


Ansel menghampiri Ayu, mengusap lembut puncak kepala sang adik.


Tatapannya tak pernah lepas dari Radit yang masih saja berdiri di samping brangkar Ayu.


"Kak," ujar Ayu, mengulas senyum yang sangat tulus.


Ansel memantung, mendengar apa yang baru saja di ucapkan oleh sang adik.


'Apa gue gak salah dengar? Barusan Nindi panggil gue Kakak?' batin Ansel tak percaya dengan apa yang dia dengar.


Ayu mengangguk samar, sebagai penegasan, bahwa yang di dengar Ansel tidak salah.


"Dek," Ansel mengenggam tangan Ayu, dengan sangat lembut, tersenyum hangat penuh kebahagiaan.


"Siapa kamu?" tanya Ansel mengangkat dagunya pada Radit, nada suaranya berubah tajam penuh dengan intimidasi.


"Dia suami aku, Kak," Ayu menjawab pertanyaan Ansel.


"Ooh, jadi ini, suami egois, yang hanya mementingkan istri barunya itu?" sindir Ansel, menatap tajam lelaki di hadapnnya.


Radit menunduk, tak bisa lagi berkata-kata. Menghadapi lelaki yang ternyata adalah kakak iparnya sendiri.


"Untuk apa kamu kemari, heh? Ayu sudah tak membutuhkan suami breng*ek seperti kamu!" sarkas Ansel.


"A-aku ... Aku hanya ingin melihat keadaan istriku, Kak," jawab Radit.


"Istri? Kamu tidak ingat, telah mengusir adikku beberapa hari lalu?" Ansel ternyata belum juga puas untuk memojokan suami sang adik.


Dia tak mau melewatkan kesempatan langka untuk memberikan pelajaran, bagi lelaki yang telah membuat sang adik sakit hati.

__ADS_1


"Aku tidak pernah mengusir Ayu!" jawab Radit, tak terima dengan perkataan Ansel.


"Lalu apa namanya, seorang suami yang membiarkan istrinya keluar dari rumah? Hei! ... Seharusnya kamu malu! Rumah itu di beli dari harta bersama, tetapi sekarang kamu mau menguasinya? ... Dasar lelaki serakah!"


"Lebih baik kamu pergi dari sini sekarang, sebelum aku kehilangan kendali dan membuat dirimu babak belur di tanganku," ancam Ansel tajam.


"Baik, aku akan pergi dari sini. Tapi ingat, aku tidak akan pernah melepaskan kamu, Ay," ucap Radit sebelum melangkah pergi, keluar dari ruang rawat Ayu.


Ayu menghembuskan napas kasar, melihat pintu yang tertutup lumayan keras oleh suaminya.


Hatinya selalu saja bertambah sakit, jika bertemu dengan lelaki itu. Kilasan semua penghiananatan yang di lakukan kepada dirinya, selalu teringat kembali.


"Tenang, Dik. Sekarang ada Kakak yang akan selalu melindungi kamu," Ansel menggenggam lembut tangan sang adik yang terasa dingin.


"Maafkan Kakak, karena datang terlambat," sambungnya lagi.


Ayu menggeleng cepat, ia sudah sadar sekarang, kalau di sini bukan cuma dirinya yang menjadi korban. Namun sang kakak juga menjadi korban akibat perpisahan ayah dan ibu mereka.


Hanya saja, mungkin nasibnya saja yang lebih buruk, sehingga kembali mendapatkan lelaki yang tidak bisa menjaga kepercayaannya.


"Terima kasih, Kak," Ayu menatap penuh wajah sang kakak.


"Ini sudah menjadi kewajiban Kakak, untuk selalu melindungi bidadarinya Kakak," Ansel tersenyum cerah, melihat sang adik dengan tatapan yang sangat lembut dan penuh dengan kasih sayang.


Tatapan yang sama, seperti dahulu, sewaktu mereka berdua masih kecil.


Ezra memperhatikan interaksi antara adik kakak di depannya. Tanpa sadar bibirnya tertarik hingga membentuk sebuah senyum samar.


Walau, entah mengapa, ada rasa sedikit tidak suka, di sisi lain hatinya, ketika melihat keduanya berinteraksi cukup intim.


Hingga tanpa sadar dirinya mendengus kesal, kala melihat Ansel memeluk Ayu dan memberikan sedikit kecupan di puncak kepalanya.


'Astagfirullah ... sadar Zra, dia masih istri orang!' umpatnya dalam hati.


Sepertinya, berada lama di dekat wanita itu, bukanlah ide yang baik.


Bisa-bisa umurnya semakin pendek, karena harus terus mengontrol detak jantungnya yang selalu berdebar lebih cepat, saat melihat senyum manis yang terukur dari bibir merah muda wanita itu.


Mengapa emosinya selalu tidak bisa stabil, bila sedang berada di dekatnya?


Ezra menghembuskan napas kasar, memikirkan itu semua.


"Kenapa, Zra?" tanya Ansel, mengulum senyumnya.


Sejak tadi dia meperhatikan setiap perubahan raut wajah sang sahabat.


Sungguh, dirinya tau apa yang terjadi.


Hanya saja, dia sedang ingin menggoda sang sahabat.


"Apa?" Ezra menatap tajam Ansel.


"Hahaha ...." Tawa lepas itu akhirnya terdengar dari mulut Ansel.

__ADS_1


"S*alan!" umpat Ezra pelan,saat sadar, kalau sahabatnya itu hanya sedang menggodanya.


Ayu mengulum senyumnya, melihat kebahagiaan dua orang sahabat itu.


Ezra melihat raut wajah bahagia dari wanita yang telah membuat hari-harinya lebih berwarna.


Hatinya ikut senang melihat senyum yang begitu indah dan menambah cantik wajah wanita yang telah menyelinap masuk ke dalam relung hatinya.


'Semoga kamu akan selalu tersenyum dan tidak akan ada lagi tangis yang menghiasi wajah cantik itu, Ayunindia,' batin Ezra, berharap.


Sore itu, ruangan rawat Ayu, di hiasi dengan keakraban antara adik dan kakak yang baru saja bertemu sejak sekian lama.


Di tambah dengan keceriaan Naura, yang menambah warna indah di ingatan setiap orang yang berada di sana.


.


"Mala, kenapa kamu memblokir nomor Ayu di ponselku?!" Radit langsung bertanya pada istri mudanya, saat baru saja masuk ke dalam rumah.


"Kamu ngomong apa sih,Mas? Aku gak ngerti?" Mala mengerutkan keningnya dalam, melihat sang suami penuh tanya.


Dalam hati, ia sudah merasa gugup tak menentu, karena perbuatannya sudah di sadari oleh sang suami.


Otaknya berpikir cepat, mencari alasan agar tak mendapat kemarahan dari Radit.


"Gak usah banyak alasan, kamu 'kan yang blokir nomor Ayu di ponselku?" Tak ada lagi kelembutan di setiap kata yang terucap kepada sang istri.


Radit menatap tajam sang istri dengan tangan yang sudah mengepal erat.


Emosinya sudah tak mampu lagi di tahan, sejak kekalahannya di rumah sakit dari kakak iparnya yang baru saja ia ketahui, dan sekarang ia butuh pelampiasan.


"Aku gak ngelakuin itu, Mas. Tega kamu nuduh aku kayak gitu, hiks ..." isak tangis mulai terdengar, dari bibir merah, Mala.


"Kamu yang keterlaluan! Walau bagaimana pun, Ayu masih istriku. Aku masih mempunyai kewajiban untuk memperhatikan dia. Aku gak nyangka kamu adalah wanita egois." nada suara Radit sudah mulai meninggi.


"Kamu bilang aku egois? Aku atau kamu yang egois, hah?! Apa kamu lupa apa yang sudah kamu janjikan kepadaku, sebelum kita memulai hubungan ini, hah?!" Mala yang memang tak bisa mengalah, berbalik melawan sang suami, dengan mata yang sudah memerah.


Wajah Radit sudah semakin kelam, emosinya sudah memuncak.


"Berani kamu melawanku?" desis Radit, berjalan mendekati sang istri dengan tatapan yang membuat nyali Mala menciut.


Mala mundur, mencoba menghindar dari sang suami yang sedang di kuasai oleh api amarah.


Braak...


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak ya, like, komen, vote, dan hadiahnya akan saya terima dengan senang hati...


Terima kasih semuanya🙏🙏🙏🥰🥰lope lope untuk kalian semua ❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2