Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.176 Bubur


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Plak!


"Awshh! Sakit tau, Bang!" Riksa memang keningnya yang di tepuk menggunakan telapak tangan Keenan, begitu dia berbalik sambil membawa piring.


"Enak, ya ... ngedumelin suami sendiri," ujar Keenan, dengan tatapan tajamnya.


'Ish, kenapa juga harus ketahuan sih?'


"Siapa suruh Abang nyebelin?" ujar Riska acuh. Dia menatap kesal Keenan yang berada tepat di hadapannya.


Keenan menggeleng geli, istrinya memang selalu begitu, tidak mau kalah kalau sedang berdebat. Hidup berdua bersama Riska membuat Keenan sudah mulai tahu kebiasaan istrinya itu. Apa lagi Riska bukan tipe wanita yang berpura-pura lembut di depan pria.


"Buat apa kamu bawa piring?" tanya Keenan, dia berjalan menuju rak tempat penyimpanan mangkuk, mengambil dua buah dan berjalan kembali ke depan Riska. Mengambil piring di tangan istrinya lalu menggantinya dengan mangkuk.


"Aku beli bubur, gak enak kalau makan pake piring," ujarnya tepat di depan wajah Riska.


"Aku 'kan gak tau kalau Abang beli bubur," sungut Riska sambil melanjutkan langkahnya menuju meja makan.


Keenan tak menjaawab lagi, dia duduk di kursi miliknya, meminum air putih yang tadi sudah disiapkan oleh istrinya, sambil menunggu Riska selesai menyiapkan bubur.


Riska mulai menuang bubur dan menyiapkan semua pelengkapnya pada mangkuk yaang tadi ia bawa.


Riska lebih dulu menyiapkan untuk suaminya sebelum miliknya, dia menaruh mangkuk bubur itu di depan Keenan.


Menarik kursi di sampingnya untuk Riska duduk, saat ia melihat istrinya itu sudah selesai menyiapkan buburnya dan membuang bekas bungkusnya ke dalam tempat sampah di dapur.


Mereka makan dengan cara mereka maasing-masing, Keenan yang suka makan bubur tanpa di aduk dan Riska yang mengaduk semua pelengkap bubur, termasuk kerupuk sebelum memakannya.


"Kamu bisa makan bubur di aduk begitu, Ris?" tanya Keenan, sambil melihat Riska yang sedang meremas kerupuk dan menaburkannya di atas bubur, lalu memberikan sambal, terakhir mengaduk semuanya menjadi satu.


"Iya, biar semuanya masuk dan teras hanya dalam satu sendok," jawab Riska, sambil terus mengaduk buburnya.


Keenan bergidik geli, melihat bubur yang ada di mangkuk Riska, rasanya seperti melihat m*ntahan seseoang.


Riska tersenyum, melihat Keenan adalah tipe yang tidak mengaduk buburnya, dengan sengaja dia mangangakat sendok berisi buburnya lalu memakannya dengan perlahan, agar Keenan bisa melihat dengan jelas.

__ADS_1


Keenan langsung memalingkan wajahnya, menghindari kejahilan Riska yang pastinyaakan menurunkan napsu makannya.


"Emh, ini enak banget," ujar Riska dengan gaya yang sedikit berlebihan.


"Riska, stop! Kamu sengaja 'kan mau membuat aku tidak napsu makan?" ujar Keenan, dia sudah tidak tahan lagi melihat cara makan bubur Riska.


"Siapa suruh, Abang, ngeliatin aku makan?" acuh Riska sambil kembali menyuapkan satu sendok bubur lagi.


'Satu sama' Riskaa tersenyum dalam hati, karena berhasil membuat Keenan kesal.


.


Beberapa saat kemudian Riska kini sedang berkutat di depan kompor, memasak untuk sang suami yang tidak mau lagi makan bubur karena ulahnya sendiri.


Keenan memaksa Riska untuk memasak dan mengancam akan memakannya kembali bila dia menolak.


'Dasar nyebelin! Kenapa dia jadiin mesumbegini sih?' gertu Riska yang sedang memasak omlet untuk suaminya.


Keenan duduk di meja makan sambil menunggu istrinya selesai masak, dia tersenyum penuh kemenangan, saat mengingat kembali kejadian beberapa saat yang lalu.


Flash back


Keenan menaruh sendoknya di samping mangkuk, lalu menyandarkan tubuhnya di kursi sambil melihat Riska yang masih asik memakan bubur.


Riska menaruh gelas di atas meja lalu mengalihkan pandangannya pada Keenan, dia mengernyit saat melihat bubur di mangkuk suaminya masih utuh.


"Abang, gak makan?" tanya Riska, dia sejak tadi tidak memperhatikan Keenan karena asyik dengan makanannya, perutnya yaang sudah menagih untuk diisi sejak tadi, membuat dia terlalu bersemangat.


"Aku sudah tidak mau makan bubur lagi, aku mau makan yang lain saja," jawab Keenan santai.


"Atau mungkin lebih baik aku makan kamu saja lagi, bagaimana?" sambungnya sambil mengerlingkan salah satu matanya.


Deg.


Tubuh Riska langsung menengaang, begitu mendengar perkataan Keenan. 'Apa maskdunya, tubuhku saja baru merasa lebih baik dan sekarang dia sudah mau melakukannya lagi? Tidak-tidak, aku tidak mau!'


"Gak bisa, aku gak mau!" geleng Riska.


"Lalu bagaimana? Aku masih lapar, ini semua 'kan karena kamu yang buat napsu makan aku hilang. Sekarang kamu harus tanggung jawab," ujar Keenan, dia menaruh slah satu tangannya di bawah dagu dengan ibu jari berada di samping bibir bawahnya dan memainkannya. Tatapannya menelusuri seluruh tubuh sang istri penuh minat.


Riska bergidik ngeri melihat gaya suaminya yang hampir sama seperti para lelaki nakal yang sering ia lihat di televisi. 'Kenapa dia jadi nyeremin gitu sih?'

__ADS_1


"Aku masakin aja ya, buat gantinya. Gimana?" usul Riska.


Keenan tersenyum tipis, dia menikmati setiap ekspresi gugup dan takut dari istrinya itu, padahal dia tidak benar-benar mau melakukannya lagi. Dia hanya senang menjahili Riska yang menurutnya begitu polos dan mudah percaya dengan orang lain.


"Bagaimana, ya? Sepertinya kamu lebih menggiurkan dari pada makanan," ujar Keenan masih setia menjahili Riska.


"Enggak, aku gak mau! Aku masakin aja, gk ada yang lain!" Riska berkata sambil mengambil mangkuk dan berjalan cepat menuju dapur, menghindari Keenan.


Keenan menghalangi bibirnya dengan kepalan tangan agar tawanya tak meledak, begitu melihat Riska menjauh.


"Astaga, Riska-Riska ... kamu selalu bisa membuat aku bahagia bahkan tanpa perlu melawak," ujar Keenan pelan.


Flash back off


"Nih, udah 'kan? Aku mau siap-siap ke butik," ujar Riska sambil menaruh omlet di depan Keenan.


"Gak usah, Kak Nindi sudah memberi kamu libur untuk hari ini." Keenan menahan tangan Riska dan menyuruhnya untuk duduk.


Riska melihat Keenan dengan tatapan bingung. "Kapan Mba bilang begitu?"


Riska baru sadar kalau dia belum melihat ponselnya sejak semalm.


"Tadi, waktu Kak Ezra menelepon," jawab Keenan.


Tadi pagi Ezra memang sempat menelepon untuk menanyakan kondisi adiknya itu, dia bahkan baru bisa tidur setelah menjelang pagi hari, karena memikirkan nasib Keenan yang ia gantungkan pada keputusan Riska.


Suami dari Ayu itu, baru bisa bernapas lega, begitu Keenan mengatakan apa yang terjadi semlam, walau tidak smeuanya, akan tetapi, Ezra sudah mengerti apa yang dimaksud oleh adiknya itu.


Riska mengangguk dan kemudian duduk dengan tenang sambil menunggu suaminya makan.


Keenan makan dengan perlahan sambil menikmati wajah cantik di depannya, dia sudah terpesona dengan makanan yang dibuat Riska, sejak pertama kali merasakannya.


Semuaarcikan bumbu yang dipilih oleh Riska terasa begitu pas di lidahnya. Hingga dia tidak bisa menemukan rasa yang sm di luar sana.


Kalau saja tadi pagi dia tidak kasihan melihat Riska yaang kesakitan karena ulahnya semalam, mungkin dia tidak akan mau memesan makan di luar, dia akan lebih senang bila istrinya yang memasak.


Namun ternyata, akibat Riska yaang berulah, dia bisa memakan masakan istrinya walau dengan sedikit ancaman. Juga hukuman sebagai alasan permintaan terselubungnya.


...🌿...


...🌿...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2