
...Happy Reading ...
...❤...
Malam hari setelah acara pesta selesai, Ezra mengantarkan Ayu pulang setelah wanita itu menidurkan Naura.
Gadis kecil itu, terus merengek ingin tidur bersama dengan Ayu. Nawang sudah menyuruh Ayu untuk menginap saja, tetapi karena suatu alasan ia tidak bisa memenuhi keinginan Naura.
“Sepertinya ada Om Larry sama Ansel?” tanya Ezra ketika ia baru saja menghentikan mobilnya di depan rumah Ayu.
Karena pelataran rumah yang tidak terlalu besar, mobil miliknya tidak bisa masuk. Terhalang oleh dua mobil lainnya.
“Iya ... kemarin waktu aku ke rumah kamu, Bibi bilang Papah sama Kak Ansel ke sini,” jelas Ayu.
“Oh, tapi tadi dia gak bilang apa-apa?” Ezra tampak mengerutkan keningnya.
“Tadi Kak Ansel sempet bilang mau ke sini sekarang, karena kemarin sore ada urusan,” jelas Ayu sambil membuka sabuk pengaman.
“Sebentar, biar aku bukakan pintu buat kamu.” Ezra langsung kelua dan berlari mengelilingi mobil untuk membukakan pintu.
“Terima kasih,”
Ezra tersenyum melihat pipi Ayu yang kembali merona, padahal ini bukan pertama kalinya dia membukakan pintu untuk wanita itu.
“Mau aku temani?” tanya Ezra.
“Dih, bilang aja kalau mau mampir!” cebik Ayu, memajukan bibirnya.
“Memang gak boleh aku mampir ke rumah kamu? Lagi pula di rumah juga ada Papa sama Kakak kamu,” Ezra selalu saja tak bisa menahan diri untuk tidak menggoda kekasih hatinya itu.
“Iya-iya, boleh kok. Siapa juga yang bilang gak boleh.”
Ayu berjalan lebih dulu untuk masuk ke dalam rumah.
Ezra terkekeh melihat wanitanya itu merejuk, sedikit berlari untuk mengejar langkah kaki Ayu.
“Eh, masa gitu aja marah sih, jangan gitu dong nanti aku gak bisa tidur gimana?” tanya Ezra setelah berhasil menyamakan langkah mereka.
“Apa hubungannya aku sama kamu yang gak bisa tidur?” Ayu tampak mengerutkan kening.
“Ada dong, soalnya aku kan keinget wajah ngegemesin kamu ini!” tawa terdengar mengiringi perkataan lelaki itu.
“Apa sih, kamu!” gerutu wanita itu, dengan wajah yang sudah merah padam.
Masuk ke dalam rumah terlebih dulu, meninggalkan Ezra yang masih terkekeh akibat ulahnya sendiri.
“Assalamualaikum ...” Ayu dan Ezra mengucap salam bersamaan.
Ternyata lelaki itu sudah berada di belakang Ayu.
__ADS_1
Dua orang lelaki yang tengah duduk di ruang keluarga, tampak mengalihkan arah pandangannya.
“Papah sama Kakak kapan datang?” tanya Ayu sambil mencium tangan kedua lelaki itu, di susul oleh Ezra di belakangnya.
“Belum lama kok, kamu pulang malam sekali?” Larry tampak mengerutkan keningnya.
Iya, tadi Naura ingin di temani tidur dulu,” jawab Ayu sambil duduk di depan kedua orang tamu, sekaligus keluarganya itu.
Di ikut oleh Ezra yang duduk di sebelahnya.
“Aku gak nyangka seorang Ezra yang terkenal dingin dan anti dengan perempuan bisa sebucin ini kepada adikku,’’ ejek Ansel melihat kesal pada sahabatnya itu.
“Memang kenapa, toh aku bucin sama calon istriku sendiri,” acuh lelaki itu, menyandarkan tubuhnya, seakan dia adalah tuan rumahnya di sini.
Ansel mendengus kesal, melihat sikap berlebihan Ezra.
“Nindi, malam ini Papah mau minta maaf kepada kamu karna selama ini kamu hidup tanpa kasih sayang dari Papah,” Larry mulai berbicara. Setelah beberapa saat mereka terdiam.
“Ada apa ini, Pah? Kenapa Papah bilang gitu? Maafkan aku karena kemarin belum bisa menerima kenyataan, Tapi, sekarang aku sudah mengerti dan bisa memahami perasaan Papah dan Kak Ansel.’’ Ayu berbicara panjang lebar.
Ezra memperhatikan interaksi yang di lakukan oleh keluarga itu.
Lelaki itu bisa melihat Kalau saat ini Larry tengah gusar. Namun, ia tidak bisa tahu apa yang membuat lelaki paruh baya itu sampai seperti itu.
Pikirannya, menerka kira-kira apa lagi yang akan di katakan kedua lelaki itu pada kekasihnya.
“Terima kasih, Nak.
Melihat wajah anak perempuannya yang lebih bercahaya dan tampak bahagia, membuat ia ikut merasakan kebahagiaan itu.
Walau di dalam hati ia bingung, bagaimana cara memberi pengertian kepada anak bungsunya.
Lelaki paruh baya itu, hanya berharap semoga kedepannya tidak akan ada halangan untuk hubungan Ayu dan Melati bisa mengalah pada kakaknya.
“Kenapa, Om? Sepertinya Om sedang banyak pikiran?” tanya Ezra.
Lelaki itu akhirnya angkat bicara juga, karena sudah tak tahan melihat wajah gusar calon mertuanya itu.
“Ah, tidak apa-apa. Aku hanya sedang ada maslah di kantor saja.” alasan Larry.
“ Sayang, kamu sebaiknya bersih-bersih dulu,” ucap Ezra dengan suara pelan namun terdengar tegas.
Ayu nampak mengerutkan keningnya berapa saat, hingga akhirnya dia menganggukkan kepala.
“Iya, aku pamit ke kamar dulu ya,” ucap wanita itu sambil beranjak.
Ezra menegakkan kembali tubuhnya, saat Ayu sudah tak terlihat lagi.
__ADS_1
“Ada apa sebenarnya, Om? Aku tau bukan maslah kantor yang membuat Om seperti ini?” tanya Ezra.
Matanya menatap bergantian dua orang di hadapannya.
Ansel menghembuskan napas berat, ia tahu kalau sahabatnya itu mempunyai mata dan insting yang sangat tajam.
Mereka berdua tidak akan lepas begitu saja dari kecurigaan lelaki itu. Juga tidak bisa mengelak dan berbohong, karena cepat atau lambat dia pasti tahu yang sebenarnya.
“Melati, kamu tau kan, anak itu sudah lama mencari perhatianmu? Sekarang dia marah besar karena tau kalau kamu bertunangan dengan Nindi.”
Bukan Larry yang menjawab pertanyaan dari Ezra, melainkan Ansel.
Ya, sebelum mereka berdua ke mari, Larry sudah menceritakan semua yang di lakukan oleh anak bungsunya itu.
“Oh, masalah itu. Aku sudah tau kalau itu ... Biarkan saja, itu hanyalah kemarahan remaja biasa. Nanti juga kalau sudah reda, dia baik lagi,” ucap santai Ezra.
“Tapi kita semua tau pasti bagaimana watak anak itu, dia pasti tidak akan tinggal diam dengan semua ini. Apa lagi keadaan sekarang, dirinya sedang bersedih karena Arumi masuk penjara dan kalian akan melakukan acara pernikahan dalam waktu dekat ini. Itu akan sangat melukai dirinya.”
Ezra tampak, mendengarkan dengan saksama apa yang di katakan oleh lelaki paruh baya di depannya.
“Aku hanya takut, kalau anak itu akan membuat masalah pada kalian berdua. Bagaimanapun dia belum sepenuhnya menerima Nindi sebagai kakaknya, karena maslah ibunya kemarin, dan sekarang dia kembali merasa terluka oleh hubungan kalian.” Larry tampak berbicara panjang lebar, mencurahkan rasa gundah di dalam hatinya.
“Lalu kalian berpikir kalau aku akan diam saja, atau bahkan akan berpaling ke lain hati, begitu?” Ezra menaikkan salah satu alisnya dengan tubuh sedikit condong ke depan.
“Sel, kamu sudah tua bagaimana aku, bukan? Aku bukan lelaki yang akan diam saja atau berpaling ke lain hati ketika ada masalah di dalam hubungan kami!” desis Ezra dengan suara tertahan.
“Aku tau kamu tidak akan seperti itu, hanya saja aku khawatir dia bisa melakukan sesuatu yang bisa membahayakan untuk dirinya sendiri.
“Itu tugas kalian berdua untuk menjaga gadis sombong itu!” Ezra berkata lugas.
“Kalian tidak usah khawatir dengan Nindi lagi, aku akan menjaganya semampuku, asalkan kalian mengizinkan pernikahanku dengannya secepatnya. Dengan begitu kalian bisa fokus pada anak itu saja.”
Ezra sedikit bermain kata-kata kepada sahabat juga calon mertuanya itu, ia terlalu tidak sabar melihat mereka yang selalu berada di persimpangan tanpa tahu ke mana harus mengambil langkah.
Pembicaraan di antar ketiga lelaki itu akhirnya berakhir begitu saja, saat Ezra melihat Ayu sudah kembali turun dengan wajah yang terlihat lebih segar dari sebelumnya.
Tak ada lagi jejak make-up ataupun gurat lelah di wajah cantiknya. Semuanya telah hilang, berganti dengan pancaran kebahagiaan yang membuatnya terlihat makin mempesona.
Sekitar jam sepuluh malam, semuanya pamit pulang, karna malam yang sudah mulai larut.
Ezra terlihat semakin bahagia karena besok Larry mau bertemu dengan kedua orang tuanya, untuk membicarakan acara pernikahannya dengan Ayu.
“Aku pulang dulu ya, hati-hati di rumah ... kalau ada apa segera hubungi aku, hem.” Ezra berpamitan kepada Ayu saat kedua mobil Ansel dan Larry sudah meninggalkan rumah wani
.
“Harusnya aku yang bilang kayak gitu. Hati-hati di jalannya, kalau sudah sampe rumah hubungi aku,” balas Ayu selalu dengan pipi yang sudah merona.
Apa lagi sekarang wajah wanita itu tak terhalang apa pun, membuat rona di pipinya semakin terlihat jelas.
...🌿...
...🌿...
__ADS_1
...Bersambung ...
...🙏🥰🥰❤❤...