
...Happy Reading...
...❤...
Pagi hari menyambut dengan pijar matahari yang bersinar begitu terang, memberikan kehangatan pada setiap makhluk bumi.
Keenan baru saja keluar dari dalam kamar, dia berjalan menuju dapur, tempat istrinya itu berada. Senyumnya mengembang, saat dia melihat Riska yang sedang sibuk dengan kegiatan rutinnya setiap pagi. Apa lagi kalau bukan memasak sarapan.
Keenan berjalan menghampiri Riska yang sedang berdiri membelakanginya, lengannnya menyelusup melewati pinggang ramping itu, lalu menyatu di depan perut istrinya.
"Selamat pagi, sayang," ujar Keenan, mendaratkan bibirnya id kening sang istri.
Riska terperanjat, dia hampir saja melepaskan spatula yang ada di tangannya, karena terkejut oleh keberadaan Keenan.
"P--pagi," jawab Riska, sedikit gugup.
Keenan tersenyum, mendengar jawaban Riska yang sedikit guup, ditambah dia juga merasakan tubuh istrinya itu menengang.
Dia semakin mengeratkan pelukannya, menaruh dagu di pundak Riska, menghirup wangi aroma tubuh istrinya di pagi hari yang cerah itu.
"Bang, awas dulu, aku lagi masak," Riska menggeliatkan badannya, saat merasakan wajah suaminya yang terus menempel di lehernya.
"Gak, aku suka seperti ini," jawab Keenan.
'Tapi, aku lagi masak, Bang. Sebentar lagi selesai ini," ujar Riska.
"Abang tunggu di meja makan aja, ya. Aku siapin sarapan dulu," sambung Riska lagi.
Keenan menghembuskan napas lalu memberikan kecupan di sebelah pipi istrinya sebelum berdiri tegak kembali, lalu melepaskan pelukannya.
Dia akhirnya mengalah dan memilih duduk di meja makan, menunggu kegiatan istrinya selsai.
Beberapa saat kemudian, Riska datang dengan dua piring nasi goreng di tangannya, duduk berdua dan bersiap untuk sarapan bersama.
"Abang, setelah dari butik aku minta izin untuk ke super market, ya," ujar Riska di tengah acara makan mereka.
"Kita bareng aja, nanti aku jemput kamu di butik. Memang mau beli apa sih? Bukannya belum waktunya belanja, ya? Aku lihat kulkas juga masih penuh," tanya Keenan sebelum memasukkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya.
"Aku mau beli sabun mandi."
Uhuk! Uhuk!
__ADS_1
Keenan hampir saja menyemburkan nasi goreng di mulutnya, karena terkejut dengan ucapan polos Riska.
"Pelan-pelan makannya, Bang. Nih minum dulu," ujar Riska begitu santai, sambil menyodorkan air minum pada suaminya.
"Khm." Keenan berdehem untuk meredakan rasa gatal dan sedikit perih di tenggorokannya.
"I--iya, nasi goreng buatan kamu enak banget sih, aku jadi ak sadar makan cepet-cepet," alasan Keenan.
Riska mengangguk, dia kembali melanjutkan makan paginya, begitu juga keenan.
Ya udah, nanti aku tunggu, Abang, di butik saja," ujar Riska, kembali membahas maslaah pergi ke super market nanti sore.
"Aku heran deh, kenapa sabun mandi aku bisa habis, ya? Padahal perasaan kemarin sore masih banyak. Abang tumpahin ya semalam?" ujar Riska lagi, dengan raut wajah tak berdosa.
"Hk," Keenan hampir saja, tersedak lagi, oleh perkataan Riska.
"Padahal biasanya satu botol itu bisa buat aku mandi satu bulan, ini belum sampai satu bulan udah habis aja," keluh Riska, yang membuat Keenan ketar-ketir sendiri.
'Astaga, istriku ini memang polos atau dia sengaja mau membuat aku malu sih?' guamam Keenan dalam hati.
Keenan menatap Riska dengan raut wajah tak terbaca.
"Ya sudahlah, hanya sabun mandi kok jadi masalah. Aku masih bisa membelikan kamu sabun mandi sebanyak yang kamu mau, bahkan semua stok sabun mandi kamu di super market bisa kau borong buat kamu," ujar Keenan dengan nada lirih namun terdengar penuh sindiran.
"Issh, kenapa abang jadi sewot gitu? Aku kan cuman naya, tadi malam itu sabun mandi aku, Abang, tumpahin, sampe habis begitu?" Riska melihat wajah suaminya.
"Eh, kok malah marah? Bukan gitu, sayang. Aduh, gimana ini?" Keenan melahap cepat nasi goreng yang masih tersisa, lalu menyusul Riska yang sedang mencuci piring.
'Astaga ternyata ini yang dinamakan wanita PMS? Gak bisa kesenggol dikit, langsung urung-uringan gak jelas'
"Sayang, maafin aku, aku gak bermaksud marah, beneran," Keenan memeluk istrinya itu dari belakang.
"Awas, ih. Lepas," ketus Riska.
"Maafin aku dulu, baru aku lepasin." Keenan tak mau mengalah.
"Siapa juga yang marah?" ujar Riska, masih dengan nada ketusnya.
"Kalau gak marah, kenapa kamu gomongnya gitu?" tnaya Keenan, semakin mengeratkan pelukannya.
"Ya, aku lagi kesel aja," jawab Riska dengan begitu polosnya, membuat Keenan gemas sendiri.
'Astaga, istriku ini, kenapa menggemaskan sekali sih? Kalau aja gak lagi dapet tamu bulanan, udah aku kurung kamu di kamar' gemas Keenan.
__ADS_1
Mengelap tangannya, setelah selesai mencuci piring, lalu berusaha melepaskan tangan Keenan yang masih berada di perutnya.
"Abang, lepas ih! Aku mau beresin meja makan."
"Iya-iya, ini aku lepasin. Tapi kamu kasih cium dulu," ujar Keenan memajukan sedikit wajahnya.
"Ih, gak mau, nanti keterusan lagi," tolak Riska, menggelengkan kepalanya.
"Ya udah, kalau gitu aku gak mau lepas," ujar Keenan.
"Emuah, tuh udah kan? sekarang lepasin aku," ujar Riska, memberikan ciuman kilas di pipi Keenan.
"Bukan di situ, tapi, di sini," Keenan menunjuk bibirnya.
"Ih, aku gak mau!" Riska menjauhkan kepalanya.
"Ya, udah kita bakalan tetap seperti ini," acuh Keenan.
"Ikh, Abang, bener-bener nyebelin! Awas!" Riska menginjak kaki Keenan, hingga membuat pelukan suaminya terlepas.
"Akkhh! Sayang, kok kamu injek kaki aku sih? Sakit tau, sshhh." Keenan berdesis menahan rasa sakit di kakinya.
"Siapa suruh abang ngeselin," ujar acuh Riska, sambil mulai membereskan meja makan.
Dia menyembunyikan wajahnya yang memerah karena rasa malu juga kesal secara bersamaan dari suaminya.
'Dasar gak peka, masa dia minta cium sama aku, aku kan malu, ini malah minta lebih!' gerutu Riska dalam hati.
'Aku kira dia udah gak marah, eh tenyata sekarang malah tambah marah, mana galaknya pake kambuh. Astaga, gini amat ngadepin cewek PMS'
Keenan memelas dalam hati, pagi ini benar-benar tak sesuai dengan bayangannya.
Dia mengira, karena mereka berdua sudah saling mengungkapkan perasaan, pagi ini akan dilewati dengan begitu indah dan penuh kemesraan.
Namun ternyata, semua pemikirannya tak benar sama sekali. Pagi ini terasa kacau karena hormon PMS yang membuat emosi istrinya itu naik turun tak bisa ditebak.
'Sabar Keenan, jangan sampai kamu malah membuat istrimu ini tambah kesal dan marah sama kamu' gumam hati Keenan.
Dia pun akhirnya memilih mengalah dan menuruti semua permintaan Riska. menjaga suasana hati istrinya itu menjadi poin penting di dalam pagi pertama setelah menyatakan cintanya.
...🌿...
...🌿...
__ADS_1
...Bersambung...