
...Happy Reading...
.......❤.......
Siang hari ini, matahari tampak malu-malu menampakkan dirinya. Terhalang awan kelabu yang mulai menutupi hampir semua langit di kota ini.
Ayunindia ....
Wanita berparas cantik itu, tengah mengendarai mobi menuju salah satu mal besar di kota itu, bersama dengan Naura dan Bian.
Beberapa saat yang lalu, kedua anak itu tiba-tiba datang ke butik bersama supir. Merengek ingin bermain bersama Ayu.
Memang, akhir-akhir ini Ayu sedang sangat sibuk, mengejar keterlambatan beberapa pesanan pelanggan.
"Aunty! Pokoknya hari ini kita mau main sama Aunty!" rengek kedua anak itu.
Hidung keduanya sudah mulai memerah menahan tangis, dengan mata yang berair.
Tampak sangat lucu di mata Ayu. Dia mengulum senyum melihat kedua anak-anak di depannya.
"Iya, baiklah. Sebentar, Aunty beresin ini dulu yah," lembut Ayu.
Menunjuk meja kerjanya yang masih sangat berantakan dengan berbagai alat gambar dan kertas.
Kedua anak itu mengangguk patuh, memilih duduk di sofa sambil bermain bersama.
Di sinilah sekarang mereka berada, di parkiran basement mall yang besar dan banyak permainan anak-ananknya di dalam.
"Hore, sampai!" teriak bahagia Naura dan Bian.
Ayu hanya menggeleng lucu, bersama dengan kedua anak itu, membuat dirinya selalu merasa tertidur oleh tingkah mereka.
"Yuk, kita turun sekarang," ajak Ayu.
Beberapa saat kemudian, Ayu sudah berada di salah satu tempat permainan khusus anak-anak.
Naura dan Bian sudah mulai jelajah area permainan itu, sedangkan Ayu hanya mendampingi mereka berdua.
Satu jam kemudian, kedua anak itu sudah menyerah.
"Sudah mainnya?" tanya Ayu membagi pandangan kepada Naura dan Bian.
Anak berumur enam tahun itu, mengangguk secara bersamaan.
"Biaklah, sekarang kita beres-beres dulu. Baru nanti makan siang, okey?"
Ucapan Ayu, langsung membuat keduanya berjingkrak senang, karena memang perut mereka sudah merasa sangat keroncongan.
Drrrtttt ... drrrttt ....
Suara getar ponsel di tasnya, membuat Ayu menghentikan langkahnya.
"Sebentar, ponsel aunty berbunyi," ucap Ayu.
Ternyata Ansel yang menelepon dirinya.
"Anak-anak ada sama kamu, Dek?" tanya Ansel dari sambungan telepon.
Suaranya terdengar panik, dengan napas memburu seperti orang sedang berlari.
"Iya, Kak." Ayu mengerutkan keninggnya, mendengar suara ribut dari ponselnya.
"Sekarang kamu lagi di mana, Dek? Kakak susul ke sana!" ucap Ansel.
Ayu menyebutkan di mana saat ini sekarang ia berada.
"Baiklah, Kakak ke sana sekarang!" Ansel langsung menutup sambungan telepon mereka.
Ayu membawa Naura dan Bian menuju salah satu restoran yang ramah dengan anak-anak di lantai satu mall.
Sedangkan Ansel kembali berusah menghubungi seseorang.
"Astaga, kenapa harus berada di dalam tempat yang sama?" gumam prustasi Ansel.
__ADS_1
Genggaman di ponsenya semakin kencang, berlari kecil agar cepat mencapai tempat parkir rumah sakit.
Dia sama sekali tidak memperdulikan tatapan heran dari para pengunjung rumah sakit.
"Lama banget sih loe ngangkatnya?! Loe di mana sekarang?" cerocos Ansel setelah mendengar suara seseorang.
"Gue di bengkel, ada apa loe panik gitu?" tanya seseorang itu yang ternyata adalah Ezra.
"Nindi sana anak-anak ada di mall xx," panik Ansel.
"Ya, trus emangnya kenapa, biasanya juga mereka main ke mall bareng?" acuh Ezra.
Saat ini dirinya sedang menunggu klien yang akan membawa mobilnya untuk di modifikasi.
"Masalahnya, bokap gue juga ada di sana! Bisa gawat kalau mereka ketemu," ucap geram Ansel.
Brak...
Suara pintu mobil ditutup secara keras, sampai mengangetkan Ezra.
"Astagfirullah! Kenapa loe gak bilang dari tadi, bego!" Ezra ikut panik, ia langsung menyambar kunci mobil dan berjalan tergesa-gesa.
Sambungan telepon terputus begitu saja, dengan mulut keduanya penuh dengan umpatan.
"Aku keluar dulu!" ucapnya pada Keenan.
"Hei?" Keenan mengumpat kesal.
Pasti nanti dirinya lagi yang di jadikan timbal untuk menghadapi pelanggan yang rewelnya minta ampun itu, tetapi sayangnya dia adalah pelanggan VIP.
Di terima, bikin kesel. Gak di terima, sayang.
"Untung sodara," gumamnya miris.
Melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata, kedua lelaki ber anak satu itu, merasakan ketegangan yang sangat.
Membayangkan Ayu yang akan bertemu dengan Lary saja, membuat jantung mereka sudah berdetak tak karuan.
.
"Aunty, liat sini!" ucap Naura, mengarahkan kamera ponsel yang sedang ia mainkan pada Ayu.
Gambar hanya pemanis ya❤
"Wuaah ... Aunty cantik banget!" seru kedua anak itu dengan mata berbinar.
"Eh, kalian ambil gambar Aunty ya?" tanya Ayu.
"Iya. Sekarang kita foto bertiga yuk!" ajak Naura dengan penuh semangat.
Ayu melebarkan senyumnya, kemudian mendekat kepada kedua anak itu.
Beberapa kali mereka mengambil gambar dengan posisi yang berbeda.
Hingga ....
"Bian, sedang apa kamu di sini?!"
Seorang lelaki paruh baya dengan setelah jas formal berdiri di samping meja mereka.
Tubuh Ayu menegang, mendengar suara yang sudah sangat ia kenal walau hanya beberapa kali bertemu.
Jantungnya tiba-tiba berdetqk dengan sangat cepat, hingga mengakibatkan dirinya susah untuk bernapas.
Kedua telapak tangannya pun terasa lembab dan bergetar.
"Kakek, aku lagi maen sama Naura dan Aunty," jawab polos Bian.
Ayu mulai meremas ujung kerudungnya.
"Aunty?" lelaki paruh baya yang tak lain adalah Lary mengerutkan keningnya.
"Iya, Aunty-nya Bian, Kakek," ucap Bian, berusah menjelaskan kepada kakaknya.
__ADS_1
Lary beralih memandang Ayu, yang duduk di depan Bian dan Naura.
Entah kenapa, Naura seperti tidak perduli dengan percakapan teman dan juga kakeknya itu. Dia lebih memilih sibuk dengan kue di hadapnnya.
"Kamu! Sedang apa kamu di sini bersama cucu saya, hah?!" mata Lary melebar, melihat wanita yang sedang bersama dengan cucunya.
Wanita itu mengangkat wajahnya, memandang lelaki yang tak lain adalah ayahnya sendiri.
Matanya sudah berkaca-kaca, tatapannya sendu dengan rasa rindu yang menumpuk di dalam hatinya.
Semua rasa benci dan kecewa seakan hilang begitu saja, saat dia berhadapan langsung dengan lelaki paruh baya itu.
Di dalam hatinya, hanya tertinggal rasa rindu dan harapan untuk di terima kembali oleh lelaki yang sangat di sayanginya.
Cinta pertamanya di dunia ini.
Namun perkataan selanjutnya yang ia dengar dari mulut Lari, membuat harapannya kembali di jatuh.
Jatuh dengan sangat dalam, dan terasa sangat menyakitkan.
"Kemana orang tua kamu, samapai-samapai kamu di titipakan kepada anak haram ini?"
Ayu menahan napasnya saat mendengar perkataan itu.
Dia, Ayahnya sendiri ... menyebutnya seorang anak haram.
Menghela napas kasar, untuk memberi sedikit ruang di dalam paru-parunya yang terasa sesak.
"Siapa yang Anda sebut sebagai anak haram, Tuan?" tanya Ayu, dengan bibir bergetar.
Rasa kecewa itu terlihat jelas dari manik indahnya.
Ayu tak segan memandang langsung mata Lary.
Lary terhenyak dengan perlawanan yang Ayu lakukan.
Menyelamatkan mata yang terasa sangat ia kenali.
Tiba-tiba ada rasa sakit yang merasakan ke dalam hatinya.
'Perasaan apa ini?' batinnya bertanya.
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya kakak-kakak baik hati🥰
Like👍
Komen💞
vote🔥
Rate bintang lima⭐⭐⭐⭐⭐
Atau hadiah
Bunga🌹
Atau
Kopi☕
Buat penyemangat gitu🤭🤭
Terima kasih ya, buat yang masih setia ❤❤❤🥰🥰
Sambil nunggu aku up, boleh baca novel keren punya Author Teh Ijo yang berjudul BUKAN PERNIKAHAN IMPIAN.
Ceritanya gak kalah bagus dan keren kok, malah, jangan-jangan bagusan punya Kak Teh ijo lagi🤭🤭
__ADS_1