Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.239 Sibuk


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤️...


Siang hari, Ezra sudah mendapatkan berkas yang dia inginkan, dari kepala sekolah. Setelah tau pasti data diri mereka, dia pun langsung mencari tau kembali, hubungan antara beberapa orang tersebut.


Lumayan lama, Ezra dan Alvin bekerja sama untuk menyelidiki semua itu, hingga akhirnya dia bisa menemukan apa yang diinginkannya.


Semua orang itu ternyata saling berkaitan, mereka aterhubung oleh seseorang yang sekarang tengah dicurigai oleh Ezra dan juga Alvin.


"Lalu bagaimana selanjutnya, Pak?" tanya Alvin, begitu mereka berdiskusi tentang orang-orang itu.


"Biarkan saja, untuk saat ini awasi saja mereka. Jangan sampai mereka beruat lebih kepada anakku," jawab Ezra.


Alvin menatap Ezra sekilas, lalu mengangguk patuh. "Baik, Pak."


Setelah semua itu, Alvin pun pamit untuk mengerjakan pekerjaan yang lainnya.


.


.


Di rumah, kini Ayu sudah bersiap untuk menjemput Naura ke sekolah.


Ya, mulai saat ini, dia kembali aktif untuk menjemput anak sambungnya itu.


Awalnya Nawang melarang Ayu untuk melakukan aktivitas di luar rumah, setidaknya selama empat puluh hari.


Akan tetepi, sepertinya itu tidak bisa lagi diturutinya, setelah ada kejadian itu.


Dia tidak mau, kalau sampai Naura meragukan kasih sayangnya, apa lagi semua itu akan memengaruhi kasih sayang Naura kepada Zain.


Sebagai orang tua tentu Ayu tidak mau, ada kesalahpahaman atau iri di antara kedua anaknya. Tak perduli walaupun mereka hanyalah saudara berbeda ibu.


Baginya, Naura dan Zain sama-sama anaknya, tak perduli mereka dilahirkan olehnya ataupun tidak.


"Bi, aku titip Zain dulu ya," ujarnya setelah mematikan anak laki-lakinya sudah kenyang.


"Iya, Bu. Ibu, hati-hati di jalan," jawab Bi Yati, sambil mengambil alih Zain dari pangkuan Ayu.


Ayu tersenyum, dia memberikan ciuman kecil untuk Zain sebelum meninggalkannya di rumah.


Beberapa saat kemudian, Ayu sudah sampai di depan sekolah Naura, dia memutuskan untuk menunggu di mobil sebelum bel sekolah berbunyi.


"Masih lima menit lagi," gumam Ayu, melihat jam di pergelangan tangannya.


Gino yang tau kalau Ayu tidak terlalu nyaman bila berdua di dalam mobil, memilih untuk ke luar dan berdiri di samping.

__ADS_1


Satu per satu ibu-ibu yang akan menjemput anaknya pun berdatangan, mereka berkumpul menjadi beberapa kelompok kecildi sekitar sekolah.


Ayu memperhatikan mereka, hingga orang yang tertangkap di CCTV yang diperlihatkan Ezra padanya terlihat.


"Itu bukannya, ibu-ibu yang sudah menggoda Naura?" gumamnya sambil terus memperhatikannya.


Sekitar dua menit lagi bel berbunyi, Ayu memutuskan untuk ke luar dari dalam mobil dan menghampiri seseorang yang ia kenal.


"Kak Elena," sapa Ayu, pada istri dari Ansel yang baru saja datang.


"Eh, Nindi ... kok kamu sudah jemput Naura lagi saja. Ini bahkan belum satu bulan, kamu melahirkan," ujar Elena panjang lebar.


"Iya, Kak. Kakak juga tumben jemput Bian sendiri?" tanya Ayu.


Bian memang jarang diantar jemput oleh Elena. Karena kesibukan Elena dalam mengurus beberapa cabang apotek miliknya.


Namun, Bian tampak biasa saja. Mungkin karena dia seorang anak laki-laki, jadi dia tidak ambil pusing untuk semua itu.


Apalagi di rumahnya Bian akan selalu disambut oleh sang kakek, yang akan menemaninya bermain dan belajar.


Ayu tiba-tiba terlintas, untuk menyatukan kelas Bian dan Naura, agar keduanya bisa saling menjaga.


'Sepertinya, nanti saja aku bicarakan ini sama Mas Ezra' gumam hati Ayu.


"Kebetulan aku sedang santai hari ini. Jadi, aku sendiri yang jemput Bian," ujar Elena.


Ayu yang sekarang sibuk mengurus keluarganya sendiri, lebih sering menanyakan keadaan ayahnya itu kepada Ansel dan Elena melewati telepon.


Dia tidak bisa sering menyempatkan diri, untuk pergi ke rumah sang kakak dan menjenguk ayahnya itu.


Bel sekolah akhirnya berbunyi, pertanda anak-anak kelas satu dan dua sudah waktunya pulang. Sedangkan kelas tiga sampai enam istirahat belajar.


Para penjaga pun bersiap siaga untuk memperhatikan para siswa yang keluar. Memastikan tidak ada yang keluar dari sekolah, sebelum ada walinya yang menjemput.


Ayu memperhatikan satu per satu murid yang keluar, hingga matanya menangkap sosok gadis kecil yang berjalan bersama seorang gadis lainnya.


Ayu tersenyum, saat Naura pun melihatnya.


"Kok Mamah yang jemput aku?" tanya Naura begitu sampai di depan Ayu.


"Tante, dedek Zain dibawa gak? Aku mau lihat?" tanya gadis yang berdiri di samping Naura.


"Iya, mulai sekarang Mamah yang akan jemput Kak Rara lagi," jawab Ayu sambil mengusap rambut Naura lembut, di sambut dengan wajah sumringah anak pertamanya itu.


"Dedek Zain gak di bawa, nanti kalau sudah besar baru tante bawa ke sekolah." Ayu beralih pada gadis kecil di samping Naura.


"Yah, gak bisa lihat dedek Zain dong," lemas gadis kecil itu.


"Kalau kamu mau lihat, main aja ke rumahku. Iya kan, Mah?" ujar Naura.

__ADS_1


Ayu mengangguk, membenarkan usul dari Naura.


"Boleh, Tante?" tanya gadis kecil itu lagi.


"Tentu saja boleh. Tapi, harus izin mama dan papa dulu ya," ujar Ayu, yang langsung diangguki oleh gadis kecil itu.


Tak berapa lama, Bian pun ikut bergabung. Ya, berbeda dengan Naura yang tampak senang dijemput oleh ibunya, Bian malah terlihat tidak suka dan malu bila harus dijemput oleh Elena.


"Yah, kok Mami yang jemput sih?" ujarnya lemas, begitu melihat Elena.


"Eh, kok gitu sih? BUkannya senang dijemput Mami, ini malah lemas begitu," gerutu Elena, sambil mengacak kecil puncak rambut Bian.


"Ish, Mami. Berantakan tuh, rambutku," ujar Bian, merasa tidak suka dengan sikap sang ibu.


"Ck, anak ini!" geleng Elena, merasa gemas dan kesal sendiri pada anaknya yang sekarang sudah tidak mau lagi ia perlakukan seperti anak kecil di depan umum.


Ayu terkekeh, dia pun ikut geleng kepala melihat sikap bias saat ini.


Mereka pun akhirnya berpisah dan pulang ke rumah masing-masin, setelah berbincang sambil menunggu kedatangan orang yang menjemput gadis kecil, teman dari Naura itu.


Di perjalanan, Naura menceritakan semua yang dialaminya di sekolah dengan penuh semangat, dia juga asik bermanja dengan Ayu.


.


.


Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, kini sudah empat puluh hari usia Zain. Tepat hari ini juga, Ezra dan Ayu mengadakan acara aqiqah untuk anak laki-lakinya itu.


Acara yang dilangsungkan cukup besar itu, dilakukan di rumah mereka. Tak banyak yang diundang, hanya kerabat dekat dan para kolega bisnis dari Ezra dan Garry tentunya.


Suasana sibuk di kediaman Ayu dan Ezra, sudah terasa dari beberapa hari yang lalu. Mereka yang menyiapkan dekorasi juga pernak-pernik lainnya, tampak terus keluar masuk.


Penjagaan di rumah itu pun diperketat. Ezra memerintahkan semua anak buahnya untuk lebih waspada dari sebelumnya.


Semua anggota keluarga inti pun sudah berada di rumah sejak kemarin, hingga sekarang seluruh kamar di lantai dua terisi semua.


Kini para wanita sedang di rias, di kamar masing-masing, sedangkan para laki-lakinya, berbagi tugas untuk menjaga para anak-anak mereka.


Ya, suasana sibuk menjelang acara yang akan dilangsungkan sore nanti, membuat semua orang saling membantu satu sama lain.


...🌿...


Ini adalah hari terakhir ya, besok In Sya Allah akan diundi untuk mengetahui 5 komentar yang menang.


Jangan lupa pollow IG aku @Warnyiwarnyi. Karena pengumuman pemenang aku share di sana ya.


...🌿...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2