Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.48 Emosi Ansel


__ADS_3


...Happy Reading...


......❤......


Sekarang, kita harus meyakinkan Papah, kalau kamu ada di dunia ini," ujar Ansel, setelah mereka berdua saling bercerita satu sama lain.


Malam sudah mulai larut, namun keduanya masih asik berbincang. Ansel sudah menyuruh Ayu untuk beristirahat sejak tadi. Namun, sang adik menolak dan lebih memilih untuk berbicara berdua dengan sang kakak.


"Tapi, bagaimana caranya, Kak?" tanya Ayu, memandang penuh wajah sang kakak.


"Apa kamu masih punya kenangan keluarga kita, atau apa saja peninggalan ibu?" tanya Ansel.


"Ada! Aku masih ada beberapa kenangan keluarga kita di rumah lama, di tambah dengan kotak peninggalan Ibu," ucap Ayu.


"Ya sudah, besok kita ke rumah lama kamu ya, Dek, sekalian antar Kakak ke makam Ibu," pintar Ansel.


"Eum," angguk Ayu.


"Sekarang kamu istirahat dulu, biar besok lebih segar dan sehat, hem," lembut Ansel, menatap penuh kasih pada sang adik.


"Terima kasih, Kak, udah mau nemenin aku," ucap sendu Ayu, matanya sudah berkaca-kaca.


"Sst ... mulai sekarang, ada Kakak yang selalu ada untuk kamu, jadi jangan pernah merasa sendiri lagi ya, Dek," Ansel menangkup wajah sangat dik dengan kedua telapak tangannya.


Ayu mengangguk dengan satu tetes airmata lolos dari pelupuk.


Dia tidak pernah menyangka, kalau hari ini akan terjadi. Hari dimana dirinya bisa bertemu dan berkumpul kembali dengan sang kakak.


Meski, hatinya masih saja terasa sakit, ketika mengingat kalau sang ayah, bahkan tidak pernah tau dirinya ada di dunia ini.


"Sudah, jangan di pikirkan lagi, hem" ucap Ansel, sambil membetulkan letak selimut.


Ayu mengangguk, lalu perlahan merebahkan tubuhnya.


Ansel mengusap puncak kepala sang adik yang tertutup kerudung terusan.


Perlahan Ayu mulai menutup matanya, rasa tenang dan senang yang menguar di dalam hatinya, membuatnya mulai masuk ke dalam alam mimpi.


Ansel beranjak duduk di kursi sebelah brangkar Ayu, saat merasakan napas sang adik mulai teratur.


Tangannya beralih menggenggam tangan sang adik, yang mulai terlelap.


Perasaan senang kini sedang meliputi hatinya, penerimaan sang adik benar-benar membuatnya sangat bahagia.


Walaupun salah satu sudut hatinya masih ada yang terasa mengganjal, karena tak bisa lagi bertemu dengan sang ibu.

__ADS_1


Belum lagi, sekarang masih ada tugas untuk meyakinkan sang papah untuk mengakui keberadaan Ayu.


Entah bagaimana nanti yang akan terjadi, dia hanya berharap, semua rencananya akan berjalan dengan lancar.


Tok ... tok ... tok ....


Suara ketukan di pintu, mengalihkan perhatian keduanya.


"Siapa yang bertemu malam-malam begini?" gumam Ansel, beranjak dari tempat duduknya.


Ansel berjalan hendak melihat siapa yang datang.


"Asslamualikum ...."


"Loh, sayang. Ada apa? Kenapa ke sini, hem?" Ansel menatap Elena dengan alis bertaut.


Elena tak menjawab, namun matanya melirik ke arah belakang.


Ansel melihat arah pandangan sang istri.


Tubuhnya seketika menegang, melihat dua orang paruh baya yang sedang berdiri di luar ruangan perawatan Ayu.


"Papah, Mamah, ada apa kalian ke sini?" Ansel menghampiri kedua orang tuanya.


Dia berusaha menutupi rasa gugupnya dari kedua orang tuanya itu.


"Maaf," lirih Elena.


Ansel mengangguk, mengerti.


"Tolong temani Nindi dulu ya, sayang," ucap Ansel pada sang istri.


Elena mengangguk patuh, lalu pergi menghampiri Ayu, yang terlihat sudah tertidur.


Ansel berjalan keluar, menghampiri kedua orang tuanya, dan mengajak mereka berbicara di luar.


"Jadi, selama ini kamu masih mencari mereka? Bukannya aku sudah melarangmu untuk mencari perempuan itu?"


"Buat apa kamu masih mencari wanita itu, hah!?" Lary langsung bertanya dengan nada yang cukup tinggi.


"Pelankan suara papah, ini rumah sakit," peringat Ansel, melihat ke arah belakang, untuk memastikan kalau Ayu masih terlelap dan tidak mendengar suara sang ayah.


"Aku tidak perduli! sudah aku bilang, jangan lagi mencari dia!" tekan Lary, menatap tajam sang anak.


"Sabar, pah," Arumi mengusap tangan Lary, mencoba melerai emosi sang suami.


"Pah, sekarang aku sudah besar, stop mengatur semua kehidupanku, sudah cukup selama ini aku selalu di jadikan boneka kalian semua! Sekarang biarkan aku menjalankan hidup sesuai dengan keinginanku!" tekan Ansel dengan suara tertahan.

__ADS_1


"Aku bukan mencari orang lain, Pah. Yang aku cari ibu dan juga adikku! jangan coba halangi aku lagi," mata Ansel sudah memerah, mengingat dirinya yang terlambat menemukan ibu dan juga adiknya.


"Ibu? Siapa yang kau panggil ibu, hah? Dia tidak pantas di panggil ibu! Wanita yang sudah meninggalkan anak dan suami yang sedang tak berdaya, tidak pantas untuk di ingat lagi!" debat Lary dengan tangan mengepal kuat.


Dia sangat tidak suka, mengingat wanita yang masih saja berada di sudut hatinya, walaupun sudah meninggalkan banyak luka.


"Adik, kamu bilang?! Siapa yang kamu panggil adik hah?! harus aku bilang berapa kali, kalau adik kamu cuma Melati, tidak ada yang lain!" sarkas Lary.


"Dia Ibuku, Pah! Ibuku, tidak seperti itu! Papah tidak tau apa yang terjadi, Papah terlalu mudah percaya pada mereka, sampai papah lupa bagaimana kalian berjuang demi cinta kalian, dulu," sarkas Ansel, mulai terbawa emosi.


"Aku juga punya adik, adik yang telah Papah lupakan, tapi aku tidak akan pernah lupa, dia adalah adikku, dan akan tetap menjadi adik kesayanganku sampai kapan pun!"


Dia tidak suka kalau ada yang menghina ibu dan juga adiknya.


Menurutnya, walaupun sang ayah tak mengingat mereka, tapi bukan berarti itu semua menjadi alasan untuk menghina dan merendahkan sang ibu dan adiknya. Apa lagi memutuskan hubungan darah dia antara dirinya, ibu dan sang adik.


"Kalau Papah kesini hanya untuk membuat keributan, lebih baik kalian segera pergi dari sini," tekan Ansel.


"Aku enggak mau adikku terganggu karena kedatangan ayah yang tak pernah menganggap keberadaannya," sindir Ansel pada sang ayah, berbalik dan berjalan masuk kembali, lalu menutup pintu.


"Ansel, aku belum selesai bicara!"


Ansel tak perduli raungan sang ayah yang mencoba menahan langkahnya.


"Anak kurang ajar," umpat Lary.


"Sudah, Pah. Lebih baik kita pulang dulu, nanti kita bicarakan lagi, masalah ini kalau kalian berdua sudah sama-sama tenang," ucap Arumi, menggandeng lengan sang suami untuk pergi dari depanp kamar rawat Ayu.


Ansel menjatuhkan tubuhnya di sofa, mengusap kasar wajahnya sambil menghembuskan napas kasar.


Selalu saja begini, setiap kali membahas tentangumpatll ibu dan juga Ayu, dirinya dan sang ayah, hanya akan berakhir dengan perdebatan.


"Sabar, Mas. Kita harus sabar menghadapi masalah ini," ujar Elena, menghampiri sang suami.


Tanpa mereka tau, lengan Ayu mencengkram kuat seprei di bawah selimut, mengalihkan semua rasa sesak yang kembali terasa.


Berusaha sekuat tenaga untuk mengatur napasnya agar Ansel dan Elena tak mengetahui kesedihannya.


Dirinya mendengar semua yang di katakan sang ayah. Semua kata kasar yang terlontar bagaikan anak panah, menusuk tepat di jantungnya.


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak...🙏🥰🥰❤❤

__ADS_1


__ADS_2