
...Happy Reading...
......................
Keenan tertidur dengan posisi duduk di samping brankar perawatan istrinya, dia menenlungkupkan wajahnya di atas lengan Riska.
Rasa lelah setelah hampir dua malam tidak memiliki waktu untuk tidur, akhirnya dia menyerah, saat menjelang dinihari.
Sedangkan Ezra memilih untuk tidur di mobil miliknya, yang masih terparkir di parkiran klinik tersebut.
Riska mulai mengerjapkan matanya, menata kesadarannya yang baru saja mulai kembali. Pening di kepala masih terasa jelas, hingga membuatnya sedikit sulit untuk membuka mata.
Mau menghalangi cahaya, dengan bantuan tangan pun, rasanya tidak bisa. Rasanya ada sesuatu yang sedang menindihnya, hingga dia tidak bisa bergerak.
Sedangkan salah satu tangannya lagi, terasa tidak nyaman karena terpasang infus di sana.
Tanpa sadar, dia menarik tangan yang ada jarum infusnya, untuk menghalangi cahaya, hingga dirinya bisa membuka mata secara perlahan.
Bias cahaya lampu penerangan kamar itu yang memang sengaja tidak dimatikan, seakan langsung menembak ke arah matanya, membuat dia harus sedikit memicing.
Tanpa sadar karena terlalu lama di angkat, cairan infus itu sudah berbalik, terdorong oleh darah yang mengalir menuju selang.
Riska melihat ke arah sebelah kanan, di mana sang suami berada. Dia menatap sendu kepala Keenan yang tertidur di atas tangannya.
Ada sedikit rasa tidak nyaman di dalam hatinya, saat mengingat semua kejadian yang sudah terjadi padanya.
Namun, dibalik semua itu, dia juga merasa senang. Bertemu lagi dengan suaminya adalah satu hal yang paling dia nantikan, setelah beberapa hari mereka terpisahkan.
Abang, gumamnya di salam hati.
Satu tetes air mata berhasil lolos begitu saja, walau senyum tipis pun terlihat di bibirnya.
Perlahan Riska mengulurkan tangannya, hendak mengusap kepala sang suami. Akan tetapi, belum sampai tangan itu menyentuh kepala, Keenan sudah terbangun, dia mengangkat kepalanya, sambil mengerjapkan mata.
Senyum di bibir Riska semakin lebar, saat melihat wajah baru bangun sang suami, yang masih saja terlihat tampan di matanya, meski, lelah itu pun tampak jelas di sana.
Keenan, meregangkan tubuhnya yang terasa tidak nyaman, dia memijat tengkuknya yang terasa kaku, karena tertidur dengan posisi duduk.
Mengusap wajah dengan salah satu tangan, sambil membuka mata. Dia langsung melebarkan matanya dengan ekspresi wajah sumringah, saat melihat Riska yang tengah tersenyum ke arahnya.
Kesadarannya pun langsung pulih seketika, dia langsung menegakkan tubuhnya dengan wajah yang berbinar.
"Sayang?" Keenan menyentuh pipi sang istri, begitu lembut.
__ADS_1
Rasanya dia tidak percaya, bisa melihat kembali senyum di wajah istrinya, di saat dia terbnagun. Dia butuh sentuhan untuk meyakinkan dirinya.
"Bang," lirih Riska.
Keenan langsung berdiri dan menghambur pada pelukan istrinya, dia tersenyum begitu senang.
"Iya, sayang. Ini aku, aku ada di sini! Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah, akhirnya kamu sadar juga, sayang," ujar Keenan sambil memeluk erat istrinya.
Riska melebarkan mata, saat tubuh Keenan kini berada di atasnya. Bayangan perlakuan kasar dan pelecehan yang dilakukan oleh Aryo, mulai kembali berputar di dalam ingatannya.
Tanpa sadar, Riska meremas alas tidurnya begitu kencang, dengan mata yang kembali memerah, bibirnya pun bergetar, seiring kilasan itu yang terus berputar bagaikan sebuah video.
"Jangan, aku tidak mau," lirih Riska, dengan pandangan yang berubah kososng.
Keenan mengerutkan keningnya, dia mengangkat kepalanya untuk melihat wajah istrinya.
"Sayang, kamu kenapa?" Keenan menagkup wajah sang istri yang sudah sangat berbeda dari sebelumnya.
Keenan pun melihat tangan yang mencengkeram kuat, dia melebarkan matanya, saat melihat infus d tangan Riska sudah berbalik, dengan darah yang masuk ke dalam selang.
"Sayang," panggilnya lagi, saat Riska seakan tidak mendengar perkataannya.
Raut wajah senang yang baru saja dia tmpilkan, kini berubah lagi menjadi panik, dia sedikit menggoyangkan tubuh istrinya, agar Riska bisa sadar kembali.
"Bang?" Riska memanggil nama Keenan, seakan memastikan bahwa yang ada di depannya kini adalah benar-benar suaminya.
"Ya, sayang. Ini aku, suami kamu!" jawab Keenan, menangkup wajah istrinya.
"Sebentar, aku panggilkan dokter dulu!" ujarnya lagi, hendak berdiri. Akan tetapi, tangan Riska lebih dulu mencekalnya.
"Tapi, Bang. Aku takut," ujar Riska, menatap sendu suaminya.
Keenan pun akhirnya duduk kembali, "Aku di sini, sayang."
Keenan pun lebih memilih untuk menghubungi anak buahnya yang masih berjaga di depan ruangan, dan meminta tolong untuk segera memanggilkan dokter ataupun perawat.
Dalam hati, Keenan merasa janggal dengan sikap Riska yang berbeda dari biasanya. Dia pun dibuat penuh tanya akan apa yang sudah dialami oleh istrinya itu, saat sedang bersama dengan para penculik itu.
Riska beringsut, mencoba untuk duduk, dia tidak mau terus berbaring, hingga mengingatkannya lagi dengan kejadian itu.
Melihat semua itu, Keenan pun dengan sigap membantu istrinya bangun, dan memosisikan bantal di belakang tubuh Riska.
"Terima kasih," lirih Riska.
__ADS_1
Keenan mengangguk samar, dia kembali duduk di kursi. Tangan sang istri kembali dia genggam, seakan tidak ingin lagi terlepas.
Tidak lama kemudian, dokter dan perawat datang ke ruangan, mereka langsung memeriksa keadaan Riska, dan mencabut jarum infus di tangannya.
Namun, ada yang aneh saat Riska mulai diperiksa oleh dokter itu, dia terlihat tertekan, dan menahan sesuatu, yang entah itu apa.
Keenan pun, tampak sedikit memicingkan mata, begitu melihat reaksi dari Riska.
DIa akhirnya meminta izin, untuk membawa Riska menuju rumah sakit di kota saat itu juga, agar bisa diperiksa lebih lengkap lagi.
Kejadian beberapa saat yang lalu membuatnya cukup takut terjadi sesuatu ke pada istrinya. Mengingat luka di tubuh sang istri pun cukup banyak.
"Bang, aku mau pulang aja," ujar riska, saat mendengar percakapan suaminya dengan dokter itu.
Keenan dan dokter itu un mengalihkan perhatiannya pada Riska.
"Tapi, sayang, kamu harus diperiksa lebih lanjut," jawab Keenan, tidak setuju dengan keinginan istrinya.
"Iya, benar kata suami, Anda. Anda, harus segera diperiksa lebih lanjut," imbuh dokter itu, menyetujui perkataan Keenan.
"Sayang, untuk kali ini saja, kamu menurut sama aku, ya." Keenan menatap Riska penuh permohonan.
"Semua ini juga untuk kebaikan, Anda, sendiri." Dokter itu pun kembali ikut berbicara.
Melihat wajah Keenan, Riska pun akhirnya mengangguk, "Tapi, Abang, jangan tinggalin aku, ya?"
Senyum lega di bibir Keenan langsung terbit, begitu mendengar persetujuan istrinya.
" Iya, sayang. Aku gak akan pernah ninggalin kamu," angguk Keenan.
Setelah itu, dia pun menyuruh anak buahnya untuk mengurus segala yang diperlukan di dalam perjalanan.
Dikarenakan Keenan mau membawa Riska langsung ke kotanya, dokter pun menyarankan untuk membawanya setelah siang hari, agar kondisi fisik Riska sudah mulai membaik, mengingat luka dan juga dehidrasi yang diderita sebelumnya.
Keenan pun langsung menyetujuinya, dia juga tidak mau mengambil resiko kepada istrinya sendiri.
Apa yang sebenarnya terjadi padamu, sayang? Kenapa kamu bisa seperti ini? gumam hati Keenan, penuh tanya.
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
__ADS_1