Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.168 Pesta


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Pintu besar itu terbuka lebar, Riska menarik nafas dan menghembuskannya kembali, sebelum melangkah mendampingi suaminya menuju pesta pertemuan bisnis ini. Pesta yang baru pertama kali ia datangi sebagai seorang istri dari Keenan Darmendra.


Semua orang tampak mengalihkan perhatiannya, pada sepasang suami istri yang baru saja datang. Mereka tampak terpukau, melihat pasangan baru yang sangat serasi. Keenan yang begitu tampan, dengan balutan jas berwarna senada dengan gaun yang dipakai oleh perempuan di sampingnya.


Banyak bisik-bisik yang mulai terdengar, melihat Keenan yang datang dengan menggandeng seorang gadis tak dikenal disampingnya.


Riska mengeratkan pegangan tangannya pada Keenan, saat dia menyadari bahwa perhatian semua orang di dalam ruangan itu, kini teralih padanya. Jantungnya berdetak semakin kencang dengan rasa yang tak menentu.


Keenan mengusap pelan tangan Riska, dia tersenyum hangat, memberi kekuatan bagi gadis disampingnya. Para tamu undangan mulai ada yang menghampiri mereka, menyapa dan berbasa-basi soal pekerjaan.


Riska tetap terlihat tenang, menyembunyikan rasa gugupnya, dengan sikap yang begitu anggun.


Sesekali dia menyunggingkan senyum tipis, pada orang yang menyapanya. Di dalam hati dia merasa gusar, takut mempermalukan suaminya.


"Selamat malam, Tuan Satriyo," sapa Keenan pada pemilik acara ini.


"Selamat malam, Keenan. Wah, setelah sekian lama akhirnya kamu ke pesta dengan menggandeng seorang perempuan," canda Satriyo. Lelaki paruh baya itu memang cukup dekat dengan Garry, hingga tidak sungkan lagi memanggil Keenan dengan nama saja.


Keenan tersenyum tipis. "Perkenalkan, Riska ... istri saya."


Satriyo tampak melebarkan matanya, dia terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Keenan. "Istri?" tanyanya memastikan.


"Benar, Tuan. Ini istri saya, kami baru saja menikah satu bulan yang lalu," jelas Keenan dengan tutur kata yang sopan.


"Wah, benarkah? Jadi kalian ini termasuk pengantin baru?" tanya Satriyo.


Keenan tampak terkekeh pelan, melirik Riska sekilas yang sedang tersenyum tipis. "Bisa dibilang begitu."


"Sayang sekali, padahal aku baru saja mau memintamu untuk menjadi suami anakku yang baru saja selesai pendidikan di luar negeri. Eh, ternyata aku terlambat ya, kamu sudah ada yang punya," ujar Satriyo, sambil melirik Riska.


"Begitu rupanya ... sayang sekali saat ini saya sudah menikah dengan orang yang sangat saya cintai," ujar Keenan, dengan tangan yang merangkul pinggang Riska posesif.


Riska terkejut, dia menatap Keenan dengan perasaan tak menentu, juga berbagai pertanyaan di benaknya.


'Apa yang dia katakan barusan? Kenapa dia berkata seperti itu?' gumamnya dalam hati.


Keenan tak melihat Riska, dia hanya terus menimpali perkataan Satriyo dan beberapa orang yang kini ikut bergabung bersama mereka.


Di tengah perbincangan para lelaki itu, terlihat dua orang perempuan dengan pakaian minim dan bentuk tubuh sempurna menghampiri.

__ADS_1


"Hai, Keen! Apa kabar?" tanya salah satu di antara keduanya yang terlihat mungkin seumuran dengan Keenan.


Semua orang di sana terlihat mengalihkan perhatiannya termasuk Keenan dan Riska.


"Kalian sudah saling kenal ternyata?" tanya Satriyo.


"Iya, Pah. Kami pernah satu sekolah waktu di SMA," jawab gadis itu.


Keenan tampak mengernyit dalam, dia berusaha mengingat, siapa perempuan yang ada di depannya.


"Kamu masih ingat sama aku 'kan, Keen?" tanya perempuan itu lagi, beralih pada Keenan.


"Siapa ya, maaf saya lupa," ujar Keenan. Dia benar-benar tak mengingat pernah berteman dengan perempuan itu.


"Aku Nella, kita memang gak sekelas, tapi aku cukup terkenal di sekolah. Masa kamu gak inget sih? Kita juga pernah bertemu beberapa kali," jelas perempuan yang ternyata bernama Nella itu. Dengan gerakan menggoda dan suara yang sengaja dilembutkan.


Keenan hanya mengangguk-anggukan kepala samar, dia sama sekali tak ingat dengan wajah Nella.


"Keen, ini dia anakku yang tadi aku bilang, baru saja menyelesaikan pendidikan di luar negeri. Nella juga sukses sebagai model di sana." Satriyo menjelaskan kembali tentang niatnya untuk menjodohkan Keenan dan Nella.


Riska merasakan rasa yang berbeda di dalam hatinya,saat melihat seseorang yang sedang berusaha mendekati suaminya. Dadanya terasa sesak dengan rasa panas membakar, ingin dia menyela obrolan mereka dan berbicara kalau dia di sini, istri dari orang yang kalian dekati ada di tempat yang sama.


'Ini orang gak tau malu apa ya, udah pake baju kurang bahan begitu, gayanya juga udah kayak cabe-cabean yang suka dibonceng tiga kalau lagi naek motor. Gak tau apa kalau Bang Ken udah nikah? Woy, nih istrinya ada di sini!' geram Riska.


'Hiiih, katanya baru dari luar negeri, tapi, gayanya kayak orang yang baru pulang dari masa penjajahan Belanda, baju compang camping ngalahin orang gila di jalanan,' gerutu Riska, menghina Nella habis-habisan di dalam hati. Melihat gaya Nella dari atas sampai bawah. Ingin rasanya dia mencabik-cabik wanita yang kini sedang mendekati suaminya.


Keenan mengangguk samar, dengan senyum tipis, menanggapi perkataan Satriyo. Dia tak terlalu memperhatikan gadis di depannya. Kalau saja dia tak merasa tidak enak dengan Satriyo, ingin rasanya dia pergi dari tempat itu.


Apa lagi saat Nella mengatakan kalau dia pernah satu sekolah dengannya, Keenan tidak mau kalau sampai Nella membahas tentang gadis masa lalunya.


"Oh, jadi dia anak teman Papa yang mau dikenalin sama aku?" tanya Nella pada Satriyo. Matanya melirik Keenan dengan penuh minat.


"Iya. Tapi, sayang, ternyata Keenan sudah memiliki seorang istri," lemas Satriyo.


Nella terlihat membolakan matanya, dia melihat ke arah Satriyo dengan tatapan terkejut, lalu beralih pada Keenan.


"Ah, iya. Aku sampai lupa. Kenalkan, ini istriku, Riska," ujar Keenan, mengenalkan Riska yang sejak tadi seperti tak terlihat oleh Nella.


Sejak datang Nella,hanya sibuk dengan Keenan, hingga dia tidak melihat perempuan yang berada di samping Keenan.


Nella terlihat melihat Riska dengan tatapan tak suka, dia tampak menatap Riska dari ujung kaki sampai ujung kepala. Senyum remeh pun terukir di bibirnya.


"Heh, kamu becanda 'kan? Mana mungkin kamu sudah menikah, aku gak percaya?" ujar sinis Nella.


"Memangnya kenapa kalau kami berdua sudah menikah?" akhirnya Riska tak tahan juga untuk terus diam.

__ADS_1


"Eh, aku nanya sama Keenan, bukan sama kamu, ya!" Nella tampak sangat tidak suka pada Riska.


"Aku istrinya, jadi aku punya hak untuk menjawab pertanyaanmu!" geram Riska, dia menatap Nella dengan tajam.


'Astaga, galaknya sudah mulai kambuh.' gumam hati Keenan, melihat Riska sudah mulai menunjukan taringnya.


Dia sudah bersiap untuk menghadapi istri galaknya bila nanti sampai membuat masalah di dalam pesta itu.


"Gak usah ngaku-ngaku, paling kamu dibayar sama Keenan buat jadi pasangannya ke pesta ini, iya 'kan Keen?" Nella masih belum percaya dengan status Keenan dan Riska.


Keenan mulai waspada saat mendengar perkataan Nella yang bisa saja menyulut emosi Riska. Dia mengeratkan pelukannya pada sang istri, agar jangan sampai terlepas kendali.


"Uh, memang ada ya, yang seperti itu? Aku baru tau ... atau jangan-jangan kamu sering jadi orang yang dibayar ya? Ups," Riska menutup mulutnya seakan tak sengaja mengatakan itu.


Keenan menahan tawanya, melihat bagaimana cara Riska melawan Nella. Ternyata istrinya itu mempunyai mulut yang cukup pedas juga.


Wajah Nella berubah merah, mendengar perkataan santai dari Riska, dia menatap sang ayah yang kini sedang menatapnya tajam.


"Tuan Satriyo, sepertinya Nona Nella, tidak suka dengan istri saya, jadi lebih baik kami pamit saja," ujar Keenan, memutus perdebatan dua perempuan itu.


"Eh, tidak begitu, Keenan. Apa yang akan saya katakan pada Garry kalau sampai kamu dan istrimu pulang seperti ini. Tinggallah sebentar lagi ... saya akan memperingatkan anda saya agar tidak lagi mengganggu Riska," jawab Satriyo dengan wajah panik.


Lelaki paruh baya itu, takut kalau sampai Nella menyinggung Keenan, apa lagi jika nanti Keenan sampai berbicara pada Garry, bisa-bisa kerja sama mereka dibatalkan oleh pemimpin dari Darmendra Grup itu.


Riska tersenyum penuh kemenangan saat melihat wajah panik lelaki paruh baya itu.


"Nella, ayo minta maaf pada Keenan dan istrinya!" perintah Satriyo pada anaknya itu.


'Heuh, dasar cabe-cabean, gayanya aja selangit, eh ... taunya digituin aja udah gemeter.' Riska mengejek kembali di dalam hati.


Nella mencebik kesal lalu pergi begitu saja dari sana dengan membawa temannya, tanpa mengucapkan permintaan maaf pada Keenan dan Riska.


Keenan menghela napas panjang, melihat Riska yang kini sedang duduk di sampingnya. Ya, sekarang keduanya sudah berada di salah satu meja setelah melalui kejadian yang mengejutkan. Bergabung dengan para pengusaha yang lain, tanpa ada rasa canggung karena mereka tak tau apa yang terjadi baru saja.


Untung saja nada suara kedua perempuan itu terdengar rendah, hingga hanya orang yang berada di dekat mereka yang bisa mendengar perdebatan keduanya.


Para relasi bisnis yang tadi berada di sana, dengan suka rela memilih menghindar dan pamit untuk menjauh, saat melihat akan ada pertarungan antara dua perempuan.


Hingga yang mengetahui perdebatan itu hanya Keenan, Satriyo dan satu orang perempuan yang merupakan teman dari Nella.


"Maaf, aku tadi keterlaluan, ya?" tanya Riska, saat sadar kalau dari tadi Keenan menatapnya.


Keenan tersenyum kemudian mengelus rambut Riska pelan. "Enggak kok, aku suka."


...🌿...

__ADS_1


...🌿...


...Bersambung...


__ADS_2