
...Happy Reading...
...❤...
atu hari menjelang ulang tahun Naura, Ayu terlihat ikut sibuk di kediaman keluarga Darmendra sejak tadi pagi.
Dia di jemput langsung oleh Ezra dan Naura, untuk membantu persiapan perayaan hari lahir gadis kecil itu.
Padahal semua itu tidak lah benar, rumahnya tidak ada satu orang pun yang bekerja untuk persiapan acara.
Semuanya baru akan datang malam nanti. Karena acara akan di langsungkan besok siang.
Akhirnya Ayu hanya menemani Nawang mengobrol dan Naura bermain.
Baiklah kali ini, dia mengaku telah tertipu oleh perkataan dua orang ayah dan anak itu.
Apa lagi dengan tidak berdosa, Ezra langsung pergi ke kantornya setelah mengantar dia dan Naura ke rumahnya.
Meninggalkan dia yang kebingungan, harus melakukan apa, di tempat baru yang belum pernah sama sekalipun ia datangi.
"Mulai sekarang panggil aku Mama, sama seperti Ezra dan Keenan."
Ayu hanya bisa mengangguk samar, dengan senyum canggung yang sangat terlihat.
Perkataan Nawang saat itu, semakin membuatnya merasa tidak enak kepada orang-orang baik hati seperti mereka.
Ezra yang mendengar semua itu hanya bisa tersenyum dengan kerlingan kecil di matanya, sesaat sebelum naik ke mobil.
Di tambah lagi Naura yang terus mengajaknya ke sana ke mari untuk bermain bersama dan menunjukan rumahnya. Itu membuatnya merasa canggung.
Walaupun ia sudah akrab dengan Nawang. Namun tetap saja, ini terasa berbeda di bandingkan sebelumnya.
Seperti saat ini ia dan ibu dari Ezra itu, sedang memasak bersama untuk makan siang.
"Naura sering banget cerita, katanya masakan kamu enak banget. Mama jadi penasaran pengen nyobain." ucap Nawang, di sela mereka sibuk memasak.
Ayu tampak sedang menggoreng ayam, sedangkan Nawang sedang mencuci sayuran.
"Syukurlah kalau Naura suka. Tapi, aku hanya bisa masak menu sederhana," jawab Ayu, tangannya tampak sibuk mengangkat ayam yang sudah matang.
"Ah, kamu ini suka merendah! Naura itu anaknya pemilih kalau soal makanan, dia sama kayak Papahnya. Makannya Mama yakin kalau masakan kamu pasti enak banget!" Nawang masih saja kekeh memuji masakan wanita yang menjadi calon menantunya.
Berbeda dengan kedua orang dewasa itu, Naura malah sudah tertidur sejak tiga puluh menit yang lalu, karena tadi anak kecil itu bangun dari pagi buta.
Dia terlalu semangat karena di beri tahu akan menjemput Ayu untuk main ke rumah.
Maka dari itu, sejak pagi tadi ia terus merengek mengajak ayahnya untuk segera pergi ke rumah Aunty kesayangannya.
Kegiatan memasak bersama itu, ternyata cukup ampuh untuk membuat Ayu melupakan rasa canggung.
Wanita itu terlihat semakin santai dan nyaman berada di sana.
Dalam hati Nawang tersenyum bangga, karena telah berhasil membuat Ayu lebih nyaman di rumah itu.
Wanita paruh baya itu, berharap semoga saja besok Ayu bisa menerima cinta dari anak dan juga cucunya.
"Nindi, bisa tolong antarkan bekal untuk Ezra dan Keenan. Sekalian dengan supir yang akan mengantar bekal ke perusahaan Papah." ucap Nawang, setelah mereka selesai menyiapkan makanan di dalam kotak bekal.
"Tapi, nanti Bagaimana adengan Naura, Mah?" Ayu takut nanti anak itu mencarinya ketika bangun.
"Gak papa, nanti Naura biar Mama yang urus. Sekarang kamu lebih baik bersiap saja."
Ayu akhirnya mengangguk pasrah, walau dalam hati ia merasa resah.
‘’Hati-hati di jalan ya,’’ ucap Nawang sebelum Ayu masuk ke dalam mobil.
‘’Pak, tolong jaga calon mantuku, jangan sampai dia lecet sedikit pun,’’ peringatnya lagi, beralih pada sopir yang sudah duduk di belakang kemudi.
Ayu meringis resah, mendengar apa yang ibu dari Ezra itu katakan.
Di tempat lain, lebih tepatnya di kantor Ezan Designs, Ezra baru saja masuk ke dalam ruangan kerjanya, setelah tadi dia harus menemani klien VIP yang merupakan salah satu orang terkaya di negara itu, yang ingin mendekorasi mobil untuk hadiah ulang tahun sang istri yang baru saja melahirkan anak ke dua mereka.
Duduk di kursi kerjanya dengan pandangan lurus ke depan. Ingatannya kembali pada beberapa hari yang lalu, di mana Ayu meminta saran kepada dirinya, tentang maslah Arumu.
Wanita itu masih saja resah dan tidak bisa memberikan keputusan setelah beberapa hari ini ia bahkan kurang tidur karena terus memikirkan maslah itu.
‘’Memberikan kesempatan kedua, mungkin bisa di lakukan. Tapi, untuk mengeluarkannya ... aku rasa itu terlalu gegabah. Jika melihat apa saja yang bisa dia lakukan selama ini.’’
‘’Ini bukan hanya kasus biasa, seperti pelampiasan kebencian atau hanya sekedar pembelaan diri, untuk mempertahankan kebahagiaannya.’’
‘’Ini lebih rumit dan berbahaya, dari yang kamu bayangkan?’’ Ezra mencoba memberi pengertian dan penjelasan, tentang perkiraannya kepada wanita baik hati yang terlalu polos itu.
‘’Coba kamu renungkan ... mendapatkan obat yang tidak bisa beredar bebas dengan sangat mudah, melakukan teror dan menyewa seorang pembunuh bayaran, untuk melakukan penganiayaan padamu. Itu bukanlah hal yang mudah di lalukan oleh orang biasa. Butuh koneksi yang luas untuk bisa melakukan semua itu.’’
__ADS_1
‘’Lalu bagaimana?’’ tanya Ayu, menatap serius lelaki di depannya,
‘’Aku sedikit mencurigai, kalau mungkin saja dia mempunyai orang yang lebih kuat di belakangnya selama ini, terlalu berat bila dia tidak mempunyai rekan untuk melakukan semua ini sendiri. Apa lagi dengan semua orang berpengalaman, yang menjadi anak buahnya.’’
Ayu terus memperhatikan setiap kata yang di katakan oleh orang di depannya.
‘’Sebenarnya aku mempunyai rencana, sehingga kita bisa menemukan orang yang membantu wanita itu selama ini.’’
"Apa itu?"
Ayu menegakkan tubuhnya, bersiap mendengar rencana dari lelaki pelindungnya.
‘’Kamu bisa bersikap biasa saja, seolah sudah memaafkan dan mau untuk mencabut semua laporan yang di layangkan sebelumnya. Tapi, tanpa sepengetahuan mereka Keenan akan berbicara pada salah satu teman Papah di pengadilan yang berprofesi sebagai jakasa, bersama pengacara keluarga, agar dia mau membantu kita, untuk segera meloloskan berkas perkara milik wanita itu. Dengan begitu, otomatis dia tidak bisa di bebaskan bersyarat dan laporan kita tidak bisa di batalkan.’’
‘’Aku yakin, jika kita tidak bisa membebaskannya .... akan ada seseorang yang bergerak untuk menolong wanita itu, di belakang kita semua.’’
Ezra menjelaskan semua rencananya yang telah di bicarakan dengan Keenan dan juga ayahnya malam tadi.
Ayu mengangguk, ia setuju dengan apa yang di bicarakan oleh lelaki itu.
Setelah menyepakati semua rencana Ayu terlebih dulu memasak makan siang untuk wanita paruh baya itu, sebelum mereka pergi mengunjunginya.
Flash back off
Di depan perusahaan Ezan Designs mobil yang di tumpangi oleh Ayu baru saja berhenti.
‘’Terima kasih ya, Pak,’’ ucap Ayu sebelum keluar dari mobil.
Lelaki paruh baya yang merupakan sopir dari keluarga Darmendra itu, mengangguk sambil tersenyum hangat pada Ayu.
Pandangan mata wanita berhijab itu, langsung mengedar menatap keseluruhan ruang depan kantor Ezra.
Ini tidak seperti perusahaan ataupun bengkel pada umumnya, ini lebih seperti sebuah showrum besar, dengan banyak mobil mewah yang terparkir cantik di depannya.
Melangkah masuk ke dalam lobby, di sana terdapat beberapa orang karyawan yang sedang bertugas.
‘’Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?’’ tanya seorang lelaki muda.
‘’Saya mau bertemu dengan Pak Ezra, apa ada?’’ tanya Ayu.
Wanita itu sedikit risih karena sejak dia menginjakan kakinya di tempat itu, dirinya sudah menjadi pusat perhatian para karyawan yang sebagian besar adalah laki-laki.
‘’Oh, Pak Ezra ada di ruangannya, naik aja ke lantai dua,’’ ucap lelaki itu, kemudian menunjukkan arah jalan menuju ruangan kerja Ezra.
‘’Baiklah terima kasih,’’ ucap Ayu setelah merasa sudah jelas dengan penjelasan yang di berikan salah satu karyawan Ezra.
‘’Iya, aku mau mengantarkan makan siang untuk kalian berdua.’’ Ayu mengangkat sebuah papper bag di tangannya.
‘’Kebetulan kita ketemu di sini, jadi aku titip kamu saja ya,’’ ucap riang wanita itu, dengan wajah tersenyum.
‘’Eh tidak bisa Kak, aku harus segera pergi ke bawah, karena sudah di tunggu oleh klien. Kakak bawa sendiri saja ya, lagian tinggal sedikit lagi, sampai di ruangan Kakak!’’ Keenan berbicara sambil segera pergi dari depan Ayu.
Hufth ...
Ayu menghela napas kesal, dengan langkah lunglai wanita itu berjalan menapaki tangga ke lantai dua.
Berdiri sejenak di depan sebuah pintu berwarna hitam, dengan jantung yang berdetak cepat.
Tiba-tiba saja dirinya merasa gugup, saat membayangkan akan bertemu dengan lelaki yang sedang menunggu jawaban cinta darinya.
Tok ... tok ... tok ....
Masuk!
Terdengar suara sahutan dari dalam, yang membuat hatinya semakin tak karuan.
Perlahan tangannya terulur meraih handle pintu dan membukanya.
‘’Assalamualaikum,’’
Ayu bisa melihat dengan jelas seorang lelaki yang tengah duduk di meja kerjanya bersama berkas di tangan.
‘’Nindi? Ada apa, kangen kah?"goda Ezra dengan senyum menghias wajah tampannya.
Beranjak dari kursi, melangkah mendekati wanita itu yang masih berdiri di depan pintu.
‘’Enak saja, mana ada! Aku membawa makan siang dari Mama, untukmu dan Keenan!’’
Ayu berkata sarkas, sampai tak menyadari panggilannya pada Nawang telah berubah.
‘’Waah, terima kasih. Tapi, bagaimana kamu ke sini?’’ tanya Ezra sambil mengajak Ayu duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
‘’Aku ke sini bersama sopir Mama,’’ jawab Ayu.
Ezra mengembangkan senyumnya mendengar perkataan Ayu yang sudah dua kali memanggil ibunya Mama.
__ADS_1
Dalam hati ia memuji rencana konyol ibunya kemarin sore, yang menginginkan dia membawa Ayu ke rumah hari ini.
Awalnya ia menolak, tetapi sekarang dia bersyukur karena anak dan ibunya, dia merasa lebih dekat lagi dengan wanita itu.
Beberapa saat kemudian, seorang pegawai Ezra datang untuk mengantarkan dua piring kosong dan dua gelas air putih.
Ayu mengerinyitkan keningnya melihat apa yang ada di depannya.
‘’Kok dua?’’ tayanya.
‘’Untuk kita berdua makan, memang kamu mau makan sepiring berdua denganku, hem?’’ lelaki itu mulai lagi menggoda Ayu.
‘’Ini untuk kamu dan Keenan, bukan untuk aku, jangan geer ya!’’ kesal Ayu, sedikit memajukan bibirnya.
‘’Hei, jangan seperti itu, bisa-bisa aku tidak akan kuat menunggu jawabanmu sampai besok siang.’’
Ayu mendengus kesal, mendengar godaan yang di berikan lelaki di depannya itu.
‘’Eh, sini biar aku saja yang siakan!’’ Ayu mencondongkan tubuhnya, hendak meraih kotak bekal dari tangan Ezra.
Namun, gerakannya kalah cepat dengan lelaki itu, hingga tangannya hanya bisa meraih angin saja.
‘’Untuk sekarang biarkan aku saja yang menyiapkannya, tapi kalau nanti ... aku tidak tahu,’’ ujar lelaki itu, dengan kekehan kecil dari mulutnya.
‘’Nanti, apa? Eh, aku bilang gak mau makan, itu buat Keenan!’’ ayu nampak sangat kesal sampai wajahnya memerah, entah karena kesal atau malu ... atau mungkin keduanya.
‘’Aku tidak suka makan sendiri, jadi sekarang kamu harus menemani aku makan, kalau tidak ... aku tidak mau makan. Lagi pula Keenan sekarang pasti sudah makan bersama para karyawan yang lain di bawah,’’ jelas Ezra, dengan tangan tetap cekatan menyiapkan makan untuk mereka berdua.
Ya, sebenarnya Keenan pergi ke bawah bukan untuk menemui klien. Tapi, karena intruksi dari ibunya yang menelepon dan mengabarkan tentang kedatangan Ayu yang membawa makan siang.
Hari itu, Ayu benar-benar terjebak oleh ulah para perempuan keluarga Darmendra.
Sekarang dia juga harus terjebak di ruangan Ezra, karena berbagai macam alasan yang di berikan lelaki itu agar dirinya bisa tetap berada di sana.
Wanita itu baru bisa pulang setelah langit sudah berwarna jingga, itu pun dengan di antar oleh lelaki yang sangat menyebalkan itu.
‘’Terima kasih ya, sudah mau menemani aku di kantor hari ini,’’ ucap Ezra saat mobil yang di kendarainya baru saja berhenti di pelataran rumah milik Ayu.
‘’Hem,’’ Ayu hanya bergumam saja sebagai jawaban. Lengannya tampak sibuk membuka sabuk pengaman yang terasa cukup sulit.
Ezra menyunggingkan senyumnya, ‘’Kalau marah jangan lama-lama ya, maaf kalau hari ini aku keterlaluan.’’
Tangannya terulur membantu membuka sabuk pengaman milik wanita di sampingnya.
Tubuh Ayu langsung mundur ke belakang, ketika merasakan Ezra mendekat kepadanya.
Ayu menegang saat merasakan hembusan napas hangat yang menyentuh wajahnya.
‘’Buka,’’ ucapnya berusaha menarik sabuk pengaman yang sekarang telah beralih ke tangan Ezra.
‘’Janji gak akan marah lagi baru aku lepas,’’ ucap Ezra.
Ayu mengangguk dengan pandangan menunduk dalam, ia tak berani memandang wajah lelaki yang berada cukup dekat dengannya.
‘’Assalamualaikum!’’ Ayu bergegas keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumahnya tanpa menghiraukan Ezra.
Lelaki itu terkekeh geli merasa lucu ketika melihat wajah tegang dan gugup dari wanita pujaannya itu.
Ternyata tidak sia-sia juga menuruti rencana konyol dari ibunya itu.
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
Maaf telat, ada sedikit kendala waktu ngetik.🙏🤧🤧
__ADS_1