Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.63 Panik


__ADS_3


...Happy Reading...


.......❤.......


Lima belas menit kemudian, Ayu sudah berada di ruang pemeriksaan puskesmas kecamatan.


Untungnya dokter jaga sudah datang, karena baru saja ada yang melahirkan. Padahal biasanya dokter jaga baru datang setelah jam sembilan pagi.


Ayu langsung di bawa menuju ke ruang pemeriksaan, Bi Een masuk untuk mendampingi Ayu, sedangkan Mang Surip dan Pak RT menunggu di luar.


"Ya Allah!" Mang surip menepuk keningnya karena baru mengingat sesuatu.


"Ada apa, Mang?" tanya Pak RT, yang duduk di sebelahnya.


"Aku lupa mengabari Den Ezra dan Den Ansel, sekarang pasti mereka sudah dekat,"


"Astagfirullah, ponsel aku di mana ya?" karena terlalu panik, ponsel yang berada di dalam saku sekarang sudah entah kemana.


"Kamu tau nomernya? Pake ponsel aku aja, mungkin punyamu jatuh di mobil, nanti biar aku carikan." Pak RT mengulurkan ponsel miliknya.


"Ingat, terima kasih, Pak." Mang Surip langsung menerima ponsel di tangan Pak RT dan menuliskan nomor telepon milik Ezra. Untung saja dirinya masih ingat nomor telepon sang majikan.


Di tempat lain, tepatnya di dalam mobil Ezra yang tengah melaju.


"Zra, perasaan gue kenapa gak enak gini ya?" tanya Ansel, memegang dadanya yang terus saja berdetak tak menentu.


Sejak tadi Ezra memang melihat Ansel bergerak gelisah.


"Kenapa, loe gak enak badan?" Ezra bertanya kembali, karna belum mengerti apa yang di maksud oleh sahabatnya itu.


Sebenarnya dirinya juga sejak tadi merasakan perasaan yang tak menentu, namun semua itu masih bisa ia kendalikan.


"Bukan sakit, tapi ini perasaan gue aja yang gak enak," ucap Ansel.


Tanpa sadar Ezra mempercepat laju mobilnya, karena terpikir tentang Ayu.


Mereka berdua duduk dengan pikirannya masing-masing. Tidak ada yang berniat memulai pembicaraan kembali.


Ezra hanya fokus berkendara sambil mencoba menenangkan perasaannya, sedangkan Ansel juga berusaha untuk mengendalikan perasaan yang tiba-tiba saja ia rasakan.


Di dalam keheninga itu, ponsel Ezra tiba-tiba saja berdering.


"Siapa?" tanya Ansel yang tengah duduk di sebelahnya.

__ADS_1


"Gak tau, nomor gak di kenal?" ucap Ezra melihat sesaat ponsel yang ia simpan di atas dashboard mobil.


"Jawab aja, siapa tau penting," ucap Ansel.


Ezra menepikan mobilnya terlebih dahulu, saat ini posisi mereka sudah dekat dengan vila, mungkin hanya tinggal setengah jam lagi juga sampai.


"Halo, Den. Ini Mang Surip." suara Mang surip yang terdengar bergetar dan panik, membuat Ezra mengerutkan keningnya.


Perasaannya kembali bergejolak, menerka apa yang terjadi di vila saat ini.


"Ada apa, Mang?" tanya Ezra, melirik sekilas wajah sahabatnya.


"Itu, Den ... Neng Ayu kecelakaan," suara Mang Surip terdengar terbata.


"Kecelakaan! Kenapa? Sekarang ada di mana?!" Ezra tak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya lagi, saat mendengar perkataan Mang Surip.


"Sekarang lagi di periksa di puskesmas kecamatan, Den."


"Oke, aku ke sana sekarang, sebentar lagi aku sampai!" Ezra langsung menutup sambungan teleponnya saat sudah tau letak keberadaan Ayu.


"Ada apa, Zra?" tanya Ansel, mengerutkan keningnya saat melihat wajah panik sahabatnya.


"Ayu kecelakaan!" jawab Ezra singkat, sambil melajukan kembali mobilnya menuju puskesmas.


Untung saja dirinya tau letak puskesmas yang di sebut oleh Mang Surip.


Beberapa menit kemudian mobil mewah yang terlihat sangat mencolok di bandingkan mobil lainnya itu, sudah terparkir di depan puskesmas kecamatan.


Mang Surip yang sudah menunggu kedatangan majikannya itu, langsung menghampiri mobil Ezra.


"Dimana Ayu sekarang?" tanya Ansel dengan wajah yang terlihat panik, sampai tanpa sadari dia langsung melompat keluar, bahkan sebelum Ezra memarkirkan mobilnya dengan benar.


"Ada di dalam, Den. Sedang di periksa oleh dokter," jawab Mang Surip.


Ansel langsung merangsek masuk ke dalam puskesmas, di kejar oleh Mang Surip dan Ezra yang menyusul setelah memarkir mobil.


Lelaki dewasa itu, mencoba berfikir jernih untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, walau di dalam hatinya berbagai perasaan bercampur aduk, saat ini.


Khawatir, marah dan rasa bersalah kini berkecamuk di dalam dirinya. Merasa tak bisa menjaga Ayu dengan baik, hingga kejadian ini terjadi.


Langkah lebar itu, menarik perhatian para pengunjung puskesmas yang sudah terlihat ramai. Postur tubuh dan pakaian yang sangat berbeda dari para pengunjung puskesmas yang lain membuat Ansel dan Ezra menjadi bahan perhatian.


Sampai di depan ruang pemeriksaan, Ansel merangsek masuk ke dalam.


"Maaf Kang, ini masih ada pemeriksaan," Seorang perempuan yang di yakini sebagai perawat mencegah langkah Ansel yang akan masuk ke dalam.

__ADS_1


"Aku kakaknya dan aku juga dokter!" Ansel langsung menepis lengan perempuan yang menghalanginya.


Perawat itu akan menahan Ansel kembali, tetapi kode dari dokter yang memeriksa Ayu langsung mengurungkan niatnya.


"Bagaimana keadaan adik saya, Dok?" tanya Ansel sambil memeriksa sendiri keadaan Ayu.


"Denyut nadinya sedikit lemah, karena efek obat bius yang ia hirup, kami juga menemukan ada partikel racun yang juga terhirup oleh pasien, saya mengira racun itu di campurkan dengan obat biusnya." dokter perempuan yang menangani Ayu langsung menjelaskan secara detail keadaan Ayu saat ini.


"Untung saja tidak ada luka dalam, dan infeksi lainnya, hanya saja luka lebam bekas pukulan cukup banyak kami temukan di tubuh pasien."


Ansel menatap tajam dokter di depannya.


"Kami menyarankan agar pasien di pindahkan ke rumah sakit yang lebih lengkap, untuk menerima pemeriksaan lebih lanjut," ucap Dokter tadi, ia sama sekali tak menghiraukan tatapan tajam Ansel.


"Baik, akan saya urus semua prosedur untuk memindahkan pasien ke rumah sakit kota. Terima kasih atas pertolongannya, Dok." Ezra yang baru saja masuk, langsung menyela Ansel yang ingin berbicara kembali.


"Tenang, kita harus tetap tenang, untuk menghadapi keadaan ini. Bisa saja sekarang kita masih di awasi oleh orang yang menyerang Nindi," ucap Ezra pada sahabatnya itu.


Baru saja dia mendengarkan kejadian yang terjadi pada Ayu dari Mang Surip dan Pak RT.


Ezra sangat yakin kalau ini adalah sebuah penyerangan.


"Apa, penyerangan?" ucap Ansel dengan suara tertahan. Kedua tangannya mengepal kuat, menahan perasaan emosi di dalam dirinya.


"Iya, Mang Surip mengatakan kalau ada warga yang melihat seorang lelaki yang sedang mengawasi Nindi, tadi pagi." jelas Ezra.


"Siapa yang berani melakukan ini sama Nindi?"


"Itu yang harus kita cari tau, gue akan ke vila dulu untuk melihat kamera pengawas yang gue pasang di sana, loe jaga Nindi di sini, Mang Surip akan mengurus berkas untuk memindahkan Ayu ke rumah sakit. Berikan saja semua datanya pada dia." jelas Ezra.


"Oke, sekarang gue hubungi temen gue," angguk Ansel, menyetujui rencana Ezra.


Ezra melirik sekilas keadaan Ayu, yang masih tak sadarkan diri, tangannya mengepal kuat, dengan rahang yang terlihat mengeras, saat melihat kondisi Ayu saat ini.


Lebam di sudut bibir yang terlihat berwarna biru keunguan, wajah pucat dan ada luka robek di keningnya.


Tak kuat lama melihat kondisi wanita yang telah menyusup ke dalam hatinya itu, Ezra bergegas keluar dan pergi dari puskesmas menuju vila.


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...


Terima kasih semuanya🙏🥰🥰

__ADS_1


Sambil nunggu aku up lagi boleh mampir di karya keren milik sahabat literasi aku kak Irma Kirana.



__ADS_2