Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.299 Ngidam Kedondong


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


Seluruh keluarga terlihat berada di kebun yang berada di bagian belakang vila, pandangan mereka semua hanya tertuju pada satu titik, di mana ada sesuatu yang tampak menarik.


Beragam ekspresi pun terlihat menghiasi wajah dari orang-orang yang berada di sana. Ada yang khawatir, ada juga yang tersenyum senang, dan antusias melihat pemandangan yang langka itu.


Sebuah pohon kedondong yang lumayan besar, kini menjadi objek utama mereka. Karena ada seseorang yang berada di atasnya.


"Ken, hati-hati!" teriak Nawang yang kini menatap khawatir anak bungsunya itu.


Sedangkan yang lainnya, terlihat cukup senang melihat kesusahan yang sedang dialami oleh Keenan.


Sedangkan Riska tampak berbinar, melihat penuh minat buah kedondong yang tampak cukup lebat di atas sana.


Ayu pun terlihat meringis melihat Keenan yang sedang berusaha naik, ke atas pohon kedondong yang sedang berbuah itu. Ingatannya pun kembali pada saat dirinya mencoba mengajak Riska berbicara, beberapa saat yang lalu.


Flash back off.


"Riska, Keenan kenapa sih, kok uring-uringan begitu?" tanya Ayu, begitu dia sampai di dapur.


Ayu melirik Nawang yang sedang melanjutkan acara memasak makan siang, mencoba mencari jawaban, sekaligus meminta izin untuk berbicara dengan Riska dulu.


Nawang yang tahu arti tatapan dari menantunya hanya mengangguk pelan, sambil memberikan sedikit isyarat agar Ayu bisa merayu istri dari Keenan.


Sedangkan Riska, masih memilih diam dengan wajahnya yang masam. Matanya pun tampak berkaca-kaca, membayangkan Keenan yang lupa akan permintaannya.


"Riska, kamu kenapa, hem?" Ayu menggenggam tangan Riska.


Riska yang sedang melakukan, terperanjat merasakan genggaman tangan Riska, dia melihat Ayu terkejut, walau kemudian tersenyum.


"Ada apa, Ris?" Ayu kembali bertanya dengan nada yang lembut.


Riska tampak menundukkan kepalanya sekilas, sebelum membalas tatapan Ayu. "Aku minta sesuatu tadi pagi sama Abang. Tapi, sekarang Abang udah lupa. Rasanya kok hatiku sakit banget, Mba. Padahal kalau dipikir, itu bukan sesuatu yang besar."


Ayu tersenyum mendengar jawaban Riska, karena saat dia mengandung Zain, dia juga merasakan kebingungan dan dilema sama seperti Riska saat ini.


Hati terasa sensitif dan gampang sekali sakit dengan perlakuan kecil yang terasa salah, padahal logikanya mengatakan itu tidak pantas untuk dipermasalahkan.


"Gak apa-apa, itu hanya efek dari perubahan hormon, karena kamu sedang hamil. Sekarang coba bilang baik-baik sama aku, apa yang sebenarnya kamu inginkan?" ujar Ayu.


"Sebenarnya, tadi pagi aku lihat ada pohon kedondong di belakang vila." Riska tampak ragu saat mengatakannya.


"Kedondong?" Kerutan halus di kening Ayu pun tampak terlihat, mencoba mengingat pohon kedondong di sekitar vila.

__ADS_1


"Sebenarnya kedondongnya bukan ada di vila ini, Mba," jawab Riska, seakan tahu kebingungan Ayu.


"Oh, pantas saja aku seperti tidak pernah melihat ada pohon kedondong di sekitar vila." Ayu tersenyum setelah mendengar penjelasan dari Riska.


"Jadi kamu mau buah kedondong?" tanya Ayu memastikan.


Nawang uang mendengar percakapan antara dua menantunya itu pun tersenyum, saat mendengar permintaan Riska.


Riska mengangguk menanggapi tembakan dari Ayu.


"Ya sudah, biar aku suruh Keenan membelinya sekarang, ya," ujar Ayu hendak beranjak dari kursi makan itu.


Namun, kemudian dia menghentikan gerakannya begitu Riska kembali menggeleng.


"Aku gak mau beli, Mba," lirih Riska.


Ayu dan Nawang yang mendengar perkataan Riska melebarkan matanya. Mereka berdua seakan tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh wanita hamil itu.


Ayu melirik Nawang, dia kemudian kembali menatap Riska setelah mendapatkan persetujuan dari Nawang.


"Ya sudah, kita minta penjaga vila untuk minta kedondong itu sama pemiliknya, sekalian mengambilnya dari pohon," ujar Ayu, kembali memberikan saran.


Namun, Riska kembali menggelengkan kepala, menolak saran dari Ayu.


"Aku mau, Abang petik sendiri buah kedondong itu," jawab Riska lirih.


Astagfirullah, Dek. Kamu masih di dalam perut aja udah penuh drama. Semoga kalau udah keluar gak kebawa ya, sifat jahilnya. Ayu menatap miris perut rata Riska.


Ya ampun, cucuku yang satu ini seru sepertinya sedikit bar-bar, masa dia nyuruh baiknya naik ke pohon? Nawang ikut terkejut.


"Ya sudah, aku coba bilang sama Keenan dulu, ya," ujar Ayu, setelah bisa mengendalikan keterkejutannya.


"Awas aja kalau Abang gak mau, nanti malam aku gak izinin dia masuk ke kamar."


Ayu semakin dibuat bingung oleh ancaman yang diberikan oleh Riska. Sedangkan Nawang menahan tawanya di belakang, walaupun sebenarnya dia juga meringis membayangkan anda bungsunya harus memanjat pohon kedondong.


Ayu mengangguk, dia kemudian beranjak untuk menemui adik iparnya yang sedang uring-uringan, di ruangan tengah vila.


Begitu Ayu datang, Keenan langsung berdiri dan menghampiri kakak iparnya itu, dengan wajah penuh harap.


"Bagaimana, Kak? Apa Riska udah kasih tau apa yang dia mau?" tanya Keenan langsung.


Ezra yang melihat itu pun tidak mau kalah, dia langsung mendekati tubuh istrinya agar Ayu tidak bisa lebih dekat dengan Keenan.


"Ingat, jaga jarak! Jangan deket-deket sama istriku," ujar Ezra, menatap penuh waspada adik kandungnya.

__ADS_1


"Astaga, Kak! Aku kan cuman nanya sama Kak Nindi," kesal Keenan, melihat tingkah posesif Ezra.


"Dih, biarin ... istri aku ini! Kalau kamu iri, sana samperin istrimu sendiri," ujar Ezra dengan gaya sombongnya.


"Ck!" Keenan menatap kesal Ezra.


"Sudah-sudah ... kalau kalian berantem terus, kapan aku bisa bicara apa yang diinginkan Riska?" lerai Ayu, memisahkan kakak beradi di depannya yang selalu saja beradu kata.


"Itu kan urusan dia bukan urusan kita," jawab ketus Ezra.


"Mas." Ayu berkata penuh penekanan, seolah memperingatkan suaminya itu.


Ezra pun langsung diam, saat mendengar nada bicara Ayu yang seolah sedang menahan kesal.


"Dasar bucin!" Keenan menahan tawanya, melihat Ezra yang tidak berkutik di depan istrinya.


Ezra melotot kesal, melihat Keenan yang mengejeknya di depan sang istri.


Ayu sudah tidak perduli dengan kelakuan dua laki-laki dewasa di depannya, yang sepertinya telah berubah menjadi anak kecil yang sedang saling mengejek lewat mata dan gerakan bibir saja.


Kok aku serasa sedang mengatasi dua anak kecil, ya? batin Ayu menatap kesal suami dan adik iparnya.


"Mau denger gak nih? Atau aku bilang Riska kalau kalian berdua gak dengerin omongan aku, biar dimarahin sama Mama sekalian!" ujar Ayu, membuat dua orang laki-laki di depannya langsung diam.


Setelah melihat Ezra dan Keenan terdiam, kini Ayu bersiap untuk mengatakan keinginan Riska.


"Riska mau, Keenan mengambil kedondong di kebun tetangga belakang vila," ujar Ayu pelan.


"Apa?!" Kedua kakak beradik itu berucap bersamaan, dengan mata yang melebar, akibat terkejut dengan perkataan Ayu.


Namun, sedetik kemudian Ezra tertawa puas, membayangkan Keenan yang harus memanjat pohon kedondong di belakang vila.


"Kakak, gak salah dengar? Masa aku harus memanjat pohon kedondong itu," keluh Keenan.


"Itu kan, pusing kedondong yang sering kamu curi buahnya waktu kecil, sekarang malah terkena getahnya, hahaha!" Ezra mengingat saat Keenan kecil, sering mencuri buah kedondong, yang dulu pohonnya masih dan pendek, hingga mudah untuk diambil.


"Ck! Itu kan masa lalu, kenapa sekarang harus terulang lagi sih!" desah Keenan.


Sedangkan Ayu ikut terkekeh, saat mendengar perkataan Ezra yang ternyata bagian dari masa lalu Keenan.


flash back off


...🌿...


Adakah yang waktu kecik bar-bar kayak Keenan, atau ngidam kedondong kayak Riska?🤭

__ADS_1


Yuk komen🙏🥰


__ADS_2