Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.285 Kabar Bahagia


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Keenan sudah menghentikan mobilnya di pelataran rumah mertuanya. Tidak menunggu lama, terlihat Rio ke luar dari rumah dan menghampiri mereka.


"Anak itu, pasti jadi yang pertama ke luar kalau aku pulang," ujar Riska sambil membuka sabuk pengaman.


Keenan menatap wajah istrinya, kemudian mengalihkan pandangannya pada Rio yang sedang berjalan ke arahnya.


"Itu karena dia sangat menyayangi kakaknya," ujar Keenan.


Sebagai seorang adik, dia juga tau bagaimana rasa senangnya saat melihat kakak yang sangat disayanginya datang mengunjunginya dulu.


"Iya dia memang sangat menyayangi aku," angguk Riska.


Rio yang sudah sampai di samping mobil Keenan langsung membuka pintu untuk sang kakak.


"Hai, Kak. Lama banget sih gak pulang ke rumah," gerutu Rio, sambil membantu Riska ke luar dari mobil.


"Iya, maaf. Kakak baru sempat main lagi ke rumah," jawab Riska.


Mereka berdua berpelukan sekilas, saling melepas rindu, karena sudah jarang bertemu. Walaupun mereka tinggal di kota yang sama. Akan tetapi, baik ibu Riska maupun Rio, masih enggan untuk berkunjung ke apartemen milik Keenan, bila tidak ada yang mendesak.


"Ibu mana?" tanya Riska, sambil menoleh ke arah rumahnya.


Keenan pun membawakan sedikit oleh-oleh untuk ibu dan Rio, yang di simpan di kursi belakang.


"Ibu ada, paling lagi siap-siap ke pasar," jawab Rio.


Ya, memang rencananya hari ini Rio dan ibu akan pergi ke pasar, untuk membeli barang-barang di warung yang sudah habis.


"Sini, Kak. Biar aku aja yang bawa," ujar Rio lagi, sambil mengambil paper bag di tangan Keenan.


"Terima kasih, Rio," ujar Keenan.


Riska yang mengetahui ibunya ada di dalam rumah, berjalan cepat menuju pintu masuk.


"Eh, sayang ... hati-hati!" ujar Keenan, refleks sedikit berteriak, karena tekrjut dengan langkah istrinya yang begitu cepat.


Dia pun langsung berjalan sedikit berlari, demi menghampiri istrinya.


Riska menghentikan langkahnya tepat di depan pintu, dia menoleh ke arah Keenan sambil tersenyum canggung.


"Maaf, aku lupa," ujarnya kemudian, saat Keenan sudah sampai di depannya.


Keenan mengacak puncak kepala Riska gemas, dia benar-benar terkejut dengan sikap ceroboh istrinya. Walaupun sebenarnya semua itu tidak akan berdampak apa-apa pada kehamilan istrinya.

__ADS_1


Namun, sebagai seorang calon ayah dengan kehamilan Riska yang masih sangat rentan itu, dia merasa khawatir. Apalagi, mengingat kejadian yang menimpa istrinya beberapa hari lalu.


"Ya sudah, lain kali hati-hati ya. Ingat sekarang kamu tidak sendiri lagi, hem," ujar Keenan kemudian.


Mereka pun masuk ke dalam besama-sama sambil mengucapkan salam.


Rio yang memang berjalan di belakang Keenan dan Riska, melebarkan matanya mendengar perkataan kakak iparnya itu.


"Maksudnya apa tadi, Kak? Kakak sudah?" Rio bahkan tidak mampu untuk meneruskan perkataannya.


"Kakakmu sudah mengandung," ujar Keenan, menjawab pertanyaan Rio.


"Hah?! Beneran, Kak? Kakak udah hamil anaknya, Kak Keenan?" tanya Rio dengan ekspresi wajah yang penuh semangat.


"Yaiyalah, hamil anak Bang Ken, terus siapa lagi," jawab Riska dengan wajah kesalnya.


"Eh, iya juga ya!" ujar Rio sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


Keenan terkekeh geli, melihat keakraban kedua kakak beradik itu, dia menggelangkan kepalanya samar, melihat Rio yang merasa bersalah karena telah asal bicara.


"Apa tadi ibu gak salah dengar? Kamu sudah mengandung, Nak?" tanya Ibu yang baru saja ke luar dari dalam kamar.


Riska dan Kenan tersenyum hangat, mereka mengangguk kemudian mencium punggung tangan ibu bergantian.


"Iya, Bu. Riska sedang mengandung. Maaf baru bisa memberi tau, Ibu, sekarang," jawab Keenan.


Dia pun melihat Keenan dengan penuh kasih sayang dan kebahagiaan.


Ya, pernikahan yang dulu terlihat terpaksa, bahkan Riska sendiri terlihat enggan, selalu membuatnya takut akan kelanjutan rumah tangga anak sulungnya itu.


Namun, sekarang dia sudah yakin, kalau antara Riska dan Keenan sudah tidak ada rasa terpaksa lagi. Bukan hanya karena Riska yang sudah mengandung, melainkan cara Keenan dan Riska melihat satu sama lain pun, kini terlihat sangat berbeda dibandingkan dengan sebelumnya.


"Terima kasih, Bu," jawab Keenan.


Setelah bercengkerama sebentar, Keenan pun berpamitan kepada semuanya, karena hari sudah mulai siang.


"Sayang, kamu hati-hati di sini ya. Kalau ada apa-apa, langsung telepon aku," ujar Keenan, saat Riska mengantarkannya ke luar.


"Iya, Abang. Abang, juga hati-hati di jalan ya. Nanti kalau sudah sampai jangan lupa kabarin aku," jawab Riska sambil bergelanyut manja di tangan sang suami.


"Iya, sayang. Aku berangkat sekarang. Assalamualaikum," pamit Keenan.


Riska mengangguk, lalu mencium punggung tangan suaminya. Dilanjutkan dengan Keenan yang mencium kening Riska lalu mencuri ciuman kecil di bibirnya.


"Abang, ih! Kalau ada yang lihat gimana?" protes Riska, sambil melihat ke sekitarnya.


"Gak apa-apa, udah halal ini," jawab Keenan sambil terkekeh pelan.

__ADS_1


"Papah ke kantor dulu ya, sayang. Jangan nakal di dalam sana," ujarnya lagi, sambil mengusap halus perut sang istri.


"Iya, Papah," jawab Riska sambil menirukan gaya bicara anak kecil.


Mereka berdua pun terkekeh geli. Keenan mengusap kepala Riska sebelum meninggalkan istrinya.


"Jangan pergi sendiri, minta tolong sama Rio kalau kamu mau sesuatu, oke?" ujar Keenan, masih terasa enggan untuk meninggalkan istrinya.


"Iya, Abang. Udah sana, cepetan pergi, nanti malah kesiangan." Riska mendorong pelan pundak suaminya.


Keenan melihat jam di pergelangan tangannya, lalu berdecak malas.


"Angkat telepon aku, kalau tidak mau aku khawatir," ujar Keenan lagi masih saja terus memberi pesan pada Riska.


"Iya, Papah. Kenapa sekarang, Abang, jadi cerewet sekali sih?" gerutu Riska, sambil memajukan sedikit bibirnya.


Keenan terkekeh gemas melihat tingkah istrinya.


"Iya, iya, aku pergi sekarang. Assalamualaikum," ujar Keenan kembali memberi salam.


"Waalaikusalam," jawab Riska.


Dia menatap Keenan yang sudah berjalan menjauh darinya, kemudian masuk ke dalam mobil.


"Ya ampun, lihat kalian berdua, aku jadi pengen ikutan cepet dapat pacar."


Riska langsung menoleh cepat, melihat Rio yang menghampirinya dari dalam sambil tersenyum menggoda.


"Kamu ngintip kakak, hah? Dasar anak kecil! Apa tadi kamu bilang, pacar? Masih kecil udah mau pacaran? Awas saja kamu ya," cerocos Riska, pada sang adik.


"Eh, enggak, Kak. Aku gak ngintip. Tapi, emang kalian aja yang gak tau tempat, masa bermsraan di depan pintu," jawab Rio sambil berbalik masuk lagi ke dalam.


"Heh, dasar adik nakal! Bu, lihat tuh, Rio, godain aku!" teriak Riska mengadu pada ibunya.


"Eh, gak gitu, Bu. Ya ampun, kenapa sekarang, Kakak, jadi aduan gini sih?" gerutu Rio.


"Rio, jangan godain kakakmu, ingat dia sedang hamil muda!"


Terdengar teriakan ibunya dari dapur, yang langsung membuat Rio semakin kesal.


Sedangkan Riska tertawa tanpa suara, melihat Rio yang tidak bisa meledeknya lagi.


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2