Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.35 Pindah rumah


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Beberapa saat kemudian dua mobil itu sudah terparkir di sebuah perumahan sederhana.


Ayu turun lebih dulu, bersama dengan kedua anak yang selalu setia mengikutinya.


Sedangkan Riska dan Kedua lelaki dewasa itu menyusul di belakang dengan barang bawaan di tangan masing-masing.


"Kayaknya dia suka tempat yang penuh dengan tanaman ya" tebak Ansel melihat setiap sudut rumah yang penuh dengan berbagai macam tanaman hias.


Ezra hanya mengangguk sambil ikut mengedarkan pandangannya.


Di dalam ternyata sudah ada sofa dan beberapa peralatan lainnya. hanya saja tidak ada hiasan lainnya untuk mempercantik ruangan.


"Silahkan duduk. Maaf, belum ada apapun di sini" ucap Ayu tidak enak, karena hanya menyajikan minuman kemasan.


Di rumah ini hanya ada perlatan besar seperti sofa, lemari, kursi, meja dan tempat tidur yang tidak di bawa oleh pemiliknya.


Sedangkan segala perlatan dapur benar-benar kosong.


Tadinya Ayu akan membawa sebagian dari rumah lama, tapi karena di sana sudah di tempati oleh Radit dan Mala, Ayu tidak jadi membawanya.


Rasanya, dia tak mau memakai barang atau apapun yang sudah pasti pernah di pakai oleh mereka berdua.


Ayu mungkin memang sudah memaafkan keduanya, tapi untuk melupakan, sepertinya itu akan sangat sulit dia lakukan.


Dia hanya ingin mengamankan hati dan perasaannya, agar tidak terus teringat pada kenangan pahit rumah tangga nya.


"Tidak apa-apa" jawab Ezra.


Setelah membawa semua barang Ayu ke dalam rumah, sekarang mereka sedang beristirahat di ruang keluarga.


Terlihat di depan mereka ada taman kecil dengan rumput sintetis yang bisa di pakai untuk anak bermain atau hanya duduk lesehan.


Dan tanaman asli di sisinya, yang membuat ruangan menjadi terasa sejuk dan nyaman.



Visual taman dalam rumah


"Sepertinya kita harus berbelanja perlatan rumah" ucap Ezra setelah meneguk air putih kemasan yang di sajikan oleh Ayu.


"Iya, gimana kalau kita berangkat sekarang aja, mumpung belum terlalu siang?" usul Ansel bersemangat.


"Tidak usah, bukannya kalian harus bekerja?" tanya Ayu, menolak secara halus.


"Saya sedang tidak ada praktek, hari ini"


"Aku juga luang, untuk hari ini"


Mereka berdua langsung mematahkan harapan Ayu, agar bisa terlepas dari kedua lelaki di hadapannya.


Ayu menghembuskan napas sedikit kasar, melihat dua orang anak yang sedang asik bermain di temani Riska.


Menatap mereka nanar dengan perasaan campur aduk.


Ayu sudah terlanjur menyayangi keduanya, akan sulit untuk dirinya bisa melupakan semua tingkah lucu mereka.


Namun Ayu juga terlalu takut untuk berada dekat dengan keluarga yang telah meninggalkannya.


Perasaan kecewa dan kenangan masa kecilnya selalu saja teringat ketika dia melihat Ansel.

__ADS_1


Walaupun dia belum tau pasti, apa benar Ansel itu adalah Arsyl, sang kakak, Atau bukan.


Karena desakan dari kedua lelaki itu, Apalagi kalau sudah melihat wajah memohon dari kedua anak kecil yang sangat menggemaskan, membuat Ayu sudah tidak bisa lagi membantah.


Dengan terpaksa Akhirnya Ayu pergi berbelanja bersama kedua lelaki itu dan para bocah kecil.


Sedangkan Riska memilih untuk membereskan rumah dan menunggu mereka pulang.


Tiga puluh menit kemudian, mereka sudah ada di pusat perbelanjaan untuk kebutuhan rumah.


Mulai dari interior, furnitur sampai pernak-pernik bahan dekorasi ruangan.


Ezra sengaja membawa Ayu ke sana, agar mereka hanya berbelanja di satu tempat saja.


Ayu langsung menuju ke tempat perlatan dapur. Menurutnya, saat ini itulah yang sangat penting.


Mulia dari kompor, peralatan memasak dan perlatan makan, Ayu hanya membeli yang sekiranya paling dia butuhkan.


Tabungannya sudah terkuras habis karena harus membeli rumah baru, dan sekarang dia juga harus melengkapi isi di dalamnya.


Setelah hampir dua jam lebih berkeliling, sekarang mereka sedang berada di salah satu restoran yang masih ada dalam area pusat perbelanjaan itu, untuk makan siang.


"Aunty, nanti Rara boleh gak nginep di rumah Aunty?" celoteh anak kecil dengan rambut di ikat dua itu.


Ayu sedikit melirik Ezra, namun yang di lihat malah pura-pura sibuk dengan ponsel di tangannya.


"Boleh dong, tapi harus ijin sama Papa dan Nenek dulu ya" ucap Ayu.


"Kalau Bian boleh gak Aunty, Bian juga mau tidur di rumah Aunty" ucap Bian dengan binar penuh harap dari matanya.


"Hm.. boleh gak ya" Ayu mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di dagu, seolah sedang berpikir.


"Aunty, kan Bian juga mau kayak Rara" hidung bocah kecil itu sudah memerah dengan kaca yang hampir saja pecah dari mata bulat nya.


"Boleh dong sayang" ucapnya


Ia mengusap sudut matanya yang tampak berair.


Walau Ayu tampak terus menampilkan senyum, namun matanya memancarkan kesedihan yang mendalam.


Ezra dan Ansel mengerutkan halus keningnya melihat Ayu yang tampak berbeda.


Senyum itu seakan di paksakan dengan semburat luka yang terselip di dalamnya.


Selesai dengan makan siang nya ,mereka kembali menuju rumah Ayu.


Dua anak yang tadi seakan tak mempunyai rasa lelah itu, sekarang sudah terkulai lemas di pangkuan Ayu.


Setelah sampai Ezra dan Ansel langsung mengambil alih kedua bocah itu.


"Bawa saja kek kamar" ucap Ayu melihat kedua lelaki yang menggendong anak-anak mereka.


Keduanya langsung berjalan ke lantai dua, tempat kamar utama berada.


³



Visual kamar Ayu


Kamar bernuansa dominan putih itu, tampak nyaman, walau belum banyak barang di sana.


Kedua lelaki itu menurunkan bocah itu di atas ranjang yang cukup besar.


"Orang desain beda ya, beli rumah aja langsung kerasa nyaman walaupun masih terlihat kosong" ucap Ansel menelisik kamar pribadi Ayu.

__ADS_1


Ezra hanya mengangguk.


Brak...


Suara barang jatuh itu terdengar lumayan nyaring.


Ezra langsung menatap Ansel.


Ya... saat Ansel hendak berbalik dia tidak sengaja menyenggol kotak yang berada di atas nakas.


"Loe, gimana sih Bro" sungut Ezra sambil berjalan memutar tempat tidur agar dapat sampai ke tempat Ansel berdiri.


Ezra langsung berjongkok untuk memungut barang yang berserakan.


"Apaan sih loe?" tanya Ezra tajam saat tangannya di tahan oleh Ansel.


Sedikit terkejut ketika melihat air muka sahabatnya itu yang sudah berubah.


Ansel tak menghiraukan teguran dari Ezra, tatapannya terpaku pada sebuah Album yang sudah terbuka.


Ezra mengikuti arah mata lelaki yang sudah menjadi temannya, sejak mereka menkmba ilmu di sekolah menengah pertama.


Alisnya bertaut saat melihat sebuah foto keluarga bahagia dengan dua anak, perempuan dan laki-laki.


Tangan Ansel terulur, meraih sebuah Album usang itu.


Wajahnya menatap sendu penuh dengan kerinduan.


Ezra memperhatikan setiap gerak-gerik sahabatnya itu.


" Zra, ini... ini foto keluarga gue, Zra" ucap Ansel lirih.


"Hah...?" Ezra mengerutkan kening berusaha mengingat sesuatu.


"Maksud loe, ibu sama adek loe itu?" tanya Ezra sedikit menaikkan nada suaranya.


Ansel mengangguk.


"Ternyata selama ini mata itu memang miliknya, dia Nindi, adikku, Zra" Ansel menatap haru lelaki di hadapan nya itu.


Hatinya sangat senang karena sudah bisa menemukan sang adik, yang selama beberapa tahun ini ia cari.


Adik yang sudah sangat dia rindukan.


"Gue harus segera mengatakan semua ini padanya Zra, Ya Allah terima kasih.." ucap syukur Ansel dengan mata yang sudah memerah.


Ezra mengangguk dia pun sama bahagianya dengan sahabatnya itu.


Ezra tau bagaimana perjuangan Ansel untuk mencari adiknya selama ini.


Mereka berdua bangun dan berbalik hendak melangkah keluar dari kamar dan menemui Ayu.


Tapi keduanya di buat terkejut ketika melihat orang yang mereka bicarakan sudah berdiri mematung dengan wajah pucat di depan pintu.


"Ayu..."


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...


Terima kasih atas segala bentuk dukungan dari Kalian semua..


...🙏😊🥰😍😘...

__ADS_1


__ADS_2