Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.245 Jalan-jalan Malam


__ADS_3

...Happy Reading...


...❤️...


Keenan dan Rio masuk ke dalam rumah bersama-sama, bersamaan dengan Riska yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Kalian baru datang?" tanya Riska, menatap suami dan adiknya bergantian.


"Iya. Ibu mana?" tanya Keenan yang belum melihat mertuanya itu.


"Ibu masuk ke kamar tadi, sebentar lagi juga keluar. Abang, mandi saja dulu," ujar Riska.


"Heem, baiklah," jawab Keenan, sambil berjalan mengikuti Riska ke dalam kamar.


Sedangkan Rio memilih untuk duduk di ruang tengah dan menyalakan televisi.


Sampai di dalam, Riska langsung mengambil baju ganti dan handuk untuk Keenan.


"Abang, boleh gak kita nginep di sini dulu?" tanya Riska.


Keenan yang duduk di sisi ranjang melihat istrinya, dia terdiam dengan hati yang bimbang.


Saat ini pekerjaannya sangat banyak dan tidak mungkin kalau dikerjakan di sini. Akan tetapi, dia juga tidak tega menolak permintaan Riska.


"Baiklah, malam ini kita menginap di sini," jawab Keenan kemudian.


Senyum Riska langsung mengembang, mendengar persetujuan dari suaminya.


Sudah sejak menikah, Riska belum pernah menginap di sini. Karena, dirinya terlalu takut untuk mengungkapkan keinginannya.


"Terima kasih, Abang," ujar Riska, memeluk erat Keenan.


Keenan ikut tersenyum, dia langsung membalas pelukan istrinya itu.


"Asal kamu bahagia, sayang," balas Keenan, sambil mengelus rambut Riska.


.


Keenan dan Riska keluar dari kamar bersama-sama. Di saat itu, ibu juga baru saja keluar dari kamarnya.


"Ibu, apa kabar?" sapa Keenan, sambil mencium tangan mertuanya itu.


"Alhamdulillah, Ibu baik. Nak Keenan, sehat?" tanya IBu, sambil mengelus pundak Keenan.


"Aku baik, Bu," jawab Keenan, dengan sopan.


"Maaf, tadi aku mampir dulu ke warung, sebelum menyapa, Ibu," sambung Keenan lagi.


Ibu tersenyum, dia menatap wajah menentu pertamanya itu. Menantu yang telah banyak membantu kehidupan mereka.


"Tak apa. Tadi ibu juga sedang memasak di dapur. Riska tidak merepotkan kamu kan di sana?" tanya Ibu, dengan raut wajah khawatir.

__ADS_1


Keenan tersenyum hangat sebelum menjawab, dia menatap wajah Riska sekilas lalu kembali pada wajah ibu.


"Tidak, Bu. Riska cukup menyenangkan untuk menjadi teman dan sangat dewasa sebagai seorang istri," ujarnya.


Ibu menghembuskan napas lega mendengar jawaban dari menantunya itu. Awalnya dia khawatir kalau Riska akan merepotkan Keenan, apalagi dengan sikap Riska yang cerewet dan cukup keras kepala.


"Ibu, aku permisi mau mandi dulu," ujar Keenan kemudian.


"Ah, iya silahkan. Maaf ibu jadi mengganggu kamu," jawab ibu.


"Tidak sama sekali, Bu. Kalau begitu aku permisi dulu," ujar Keenan.


Dia pun langsung mengambil baju ganti dan handuk di tangan istrinya, lalu berjalan menuju kamar mandi.


Malam hari setelah semuanya makan malam, Keenan memilih duduk di depan rumah, menikmati angin malam di rumah mertuanya itu.


"Kak, mau keliling kampung gak? Nanti aku temenin," ujar Rio, yang menyusul Keenan ke luar.


Sedangkan Riska sedang membantu ibu membereskan bekas makan dan mencuci piring di dapur.


"Boleh. Tanya dulu kakakmu, takutnya dia mau ikut atau mau pesan sesuatu," ujar Keenan.


"Oke! Aku tanya kakak dulu," jawab semangat Rio, sambil kembali masuk ke dalam rumah.


Keenan kembali mengalihkan perhatiannya ke depan, menunggu adik iparnya itu.


Tak lama kemudian Rio kembali sudah dengan memakai jaket. Juga, satu jaket di tangannya.


"Kakak gak ikut. Nih, kakak suruh, Kak Keenan, pakai jaket biar gak dingin." Rio, mengulurkan jaket di tangannya untuk Keenan.


Keduanya kini berjalan menikmati malam di sekitar tempat tinggal Riska yang masih terasa nyaman.


Baru kali ini dia berjalan malam seperti ini, apa lagi dengan suasana perkampungan, yang khas dengan keramahan warganya.


Beberapa kali Keenan dan Rio harus berhenti, untuk menjawab beberapa pertanyaan dari para tetangga.


Apalagi kebanyakan dari mereka belum tau kalau Keenan adalah suami Riska.


Bentuk tubuh yang tinggi dan kulit yang terawat dengan pakaian yang terlihat tidak biasa, membuat Keenan terlihat mencolok di kampung tersebut, hingga menari perhatian warga.


Diam-diam Rio tersenyum saat mereka sudah dekat dengan pos ronda. Tempat para pemuda bergantian jaga malam di kampung itu.


'Akhirnya aku bisa memamerkan suami kak Riska pada mereka. Semoga saja setelah ini, mereka sadar diri dan tidak lagi menanyakan kakak kepadaku'


Selama ini Keenan dan Riska hanya beberapa kali berkunjung dan itu pun hanya sebentar, hingga jarang orang yang tahu wajah dan rupa dari suami Riska.


"Kenapa kamu, senyum-senyum sendiri begitu?" tanya Keenan, saat menangkap senyuman samar di wajah adik iparnya itu.


Rio terkejut dengan pertanyaan Keenan, dia tidak menyangka akan terpergok oleh kakak iparnya.


"Eh, enggak apa-apa, Kak," jawa Rio, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


Keenan memicingkan matanya, melihat Rio penuh curiga.


"Benar, tidak ada apa-apa?" tanya Keenan memastikan.


"Iya, aku hanya senang saja bisa mengajak, Kak Keenan, keliling kampung," ujar Rio, memberi alasan.


Keenan mengangguk, dia kembali menikmati suasana malam di kampung itu.


"Kak, itu pos ronda kampung ini. Yuk kita sapa dulu ke sana," ujar Rio, mengajak Keenan.


Keenan tak menjawab, akan tetapi dia terus mengikuti langkah sang adik iparnya.


"Selamat malam semuanya," sapa Rio pada beberapa pemuda yang sedang duduk di pos ronda.


Bila masih sore, hampir semua pemuda kampung berkumpul di sana. Akan tetapi bila waktu semakin malam, sebagian dari mereka akan memilih pulang.


Mendengar suara Rio, hampir semua orang yang berkumpul di sana mengalihkan perhatiannya pada Rio dan Keenan.


"Eh, Rio. Tumben kamu ke sini, biasanya juga gak pernah, kalau bukan giliran ronda," ujar salah satu pemuda di sana


"Ini juga cuma lewat kok, Bang. Nemenin Kak Keenan, jalan-jalan di sekitar kampung," jawab Rio.


"Siapa itu, Yo. Kok kita baru lihat sih?" tanya pemuda yang lainnya, menatap Keenan dari ujung kaki sampai ujung rambut.


Mereka semua memusatkan perhatiannya pada seseorang yang kini berdiri di samping Rio. Pencahayaan yang temaram, sedikit menghambat penglihatan mereka, hingga tak bisa menatap dengan jelas.


"Bukannya ini, Pak Keenan. Wakil direktur baru di perusahaan Darmendra Corp?" tanya pemuda yang pertama kali bertanya pada Rio.


"Eh, Bang Fatir, kenal Kak Keenan?" tanya Rio.


Keenan yang mendengar ucapan salah atu pemuda yang sepertinya mengenalnya itu pun, memperhatikannya.


"Apa kamu mengenal saya?" tanya Keenan, akhirnya membuka suara.


"Maaf, Pak. Saya salah satu karyawan di perusahaan, Darmendra Corp," ujar pemuda yang dipanggil Fatir oleh Rio.


Keenan tersenyum lalu mengangguk samar, pada Fatir.


"Wah, hebat banget kamu, Yo. Bisa kenal sama atasan si Fatir. Kenal di mana?" tanya salah satu pemuda di sana.


"Oh, ini adalah kakak–"


Belum selesai Rio menjawab, panggilan seseorang dari arah belakang menghentikan semuanya.


"Abang!"


Semua pemuda yang berada di pos ronda itu langsung mengalihkan pandangannya pada seorang perempuan yang kini tengah berjalan menuju ke tempat mereka.


...🌿...


Siapa ya, perempuan itu? Comen👍

__ADS_1


...🌿...


...Bersambung...


__ADS_2