Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.205 Taksi


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Hari merayap semakin malam, jalanan yang sejak tadi ramai, kini sudah mulai lengang. Keenan baru saja keluar dari butik. dia mengira Riska ada di sana, akan tetapi dia tidak ada juga.


Mengendarai mobil dengan kecepatan maksimal dia sekarang menuju ke apartemen, mungkin saja Riska sudah memutuskan untuk pulang.


Beberapa saat kemudian, mobil Keenan sudah berhenti di parkiran apartemen. Keenan langsung masuk ke dalam lift, dengan perasaan yang sangat berharap, kalau Riska sudah ada di dalam apartemennya.


'Riska pasti ada di apartemen, dia pasti tidak akan pergi tanpa mendengar penjelasanku lebih dulu'


Keenan bergumam dalam hati, dia bergerak gelisah di dalam lift. Lelaki yang sedang khawarit itu, merasa pergerakan lift menjadi sangat lambat.


Ting!


Bunyi pintu lift terbuka, seakan memberikan udara yang meredakan sedikit sesak di dalam dada. Keenan berjalan menuju pintu unit miliknya, dia langsung menempelkan key card untuk membuka pintu.


Tubuhnya mematung dengan napas yang memburu, matanya melebar melihat seseorang yang ia cari dan membuatnya berfikir macam-macam, kini tengah berdiri di depannya dengan senyum manis.


"Riska?"


.


Beberapa saat yang lalu, saat Riska masih di dalam taksi.


Drrrtt ... drrttt ....


Ponsel Riska kembali berdering, ID nama bertuliskan 'Abang Ken' di layar, membuatnya hanya melihat sekilas, lalu menaruhnya lagi di dalam tas, tanpa berniat untuk menjawabnya.


Di tangannya masih memegang album yang menyerupai buku agenda itu, Riska kembali menundukkan kepalanya, melihat gurat keceriaan di setiap foto yang ada di sana.


'Kamu terlihat sangat bahagia di sini, Bang' gumam Riska dalam hati.


Tersenyum miris sambil terus membuka halaman demi halaman yang terus menggoreskan luka di dalam hatinya, menikmati rasa sakit yang ia ciptakan sendiri dengan prasangka yang semakin luas.


'Apa benar, aku ini adalah penghalang atas kebahagiaan kamu, Bang? Kalau memang benar, kenapa kamu tidak berbicara padaku? Aku ikhlas bila harus mengalah, demi kebahagiaan kalian berdua'


Riska mengusap airmata yang terus mengalir di pipinya, dia tak bisa lagi membendung tangis. Hatinya sakit bagaikan tersayat, dadanya pun sesak seakan tak bisa lagi menghirup oksigen untuk membebaskannya.

__ADS_1


Menutup buku yang sejak tadi masih terbuka di pangkuannya, Riska meraih ponsel dan mengirim pesan kepada Ayu untuk membatalkan rencananya le rumah sakit.


Tidak mungkin dia ke rumah sakit dengan kondisi yang kacau seperti ini, apa lagi buku untuk laporannya saja tidak ada.


Sopir taksi yang sejak tadi diam, kini mulai khawatir, dia bahkan belum tahu arah tujuan penumpangnya itu, sejak tadi dia terus berputar-putar di tempat yang sama.


"Maaf, Neng. Kalau boleh tau, kita mau ke mana, ya?"


Dengan ragu dan suara lirih, sopir taksi yang terlihat sudah tua itu, akhirnya memberanikan diri untuk berbicara.


Riska mengangkat kepalanya, sejak tadi dia lupa kalau saat ini sedang berada di dalam taksi. Mengambil tisu untuk mengelap airmata dan sedikit cairan hidung yang keluar sebelum menjawab pertanyaan sopir taksi tersebut.


"Ah, maaf, Pak. Saya lupa memberi tahu tujuan saya sama, Bapak," jawab Riska, merasa tidak enak. Dia termenung sebentar, kemudian menyebutkan sebuah alamat pada sopir itu.


Lelaki tua itu pun akhirnya mengaguk, sambil melihat Riska dari kaca spion dalam. Dia bisa melihat wajah berantakan dengan mata sembap dan hidung yang memerah, akibat tangisannya.


"Sedang ada masalah ya, Neng?" tanya Bapak itu, berusaha mencairkan suasana, saat melihat Riska kini lebih tenang.


Riska hanya tersenyum paksa, sebagai jawaban, tanpa mau membuka suara. Getar ponsel di dalam tas miliknya masih terasa, dia yakin itu masih telepon dari Keenan, hingga Riska membiarkannya.


"Sabar ya, Neng. Semua masalah pasti ada solusinya," ujar sopir taksi itu kembali.


"Iya, Pak. Terima kasih." Riska menjawab pelan.


"Terima kaish, Pak." Riska hanya mengangguk sambil tersenyum tipis,


Riska tidak mungkin menceritakan apa yang menjadi masalahnya kepada orang asing yang baru saja ia temui. Apa lagi ini belum ada kejelasannya.


Walaupun begitu, sepanjang jalan sopir taksi itu, terus mengobrol dan menceritakan ceritanya sendiri. Semua itu cukup mengalihkan perhatian Riska dari rasa sakit di hatinya.


"Bapak, sudah lama jadi sopir taksi?" tanya Riska, mulai tertarik dengan kehidupan pria tua di depannya.


"Saya bekerja sebagai sopir taksi sudah dua puluh tahun, Neng. Dengan pekerjaan ini juga, saya bisa menyekolahkan anak-anak saya sampai SMA," jawab sopir taksi itu.


"Lama sekali ya, Pak," ujar Riska.


"Iya, Neng. Saking lamanya, saya juga sudah banyak melihat berbagai penumpang taksi. Dari yang biasa saja, sampai yang lumayan merepotkan, hahaha!" cerita sopir taksi itu, disertai dengan tawa.


"Pasti saya termasuk yang merepotkan ya, Pak?" tanya Riska lagi.


"Tidak, Neng. Kalau cuma nangis di taksi itu sudah biasa, yang gak biasa itu kalau ngamuk di taksi, hahaha!" canda sopir taksi itu.

__ADS_1


Riska terkekeh, dia cukup terhibur dengan perbincangannya dengan sopir taksi kali ini. Sejenak dia bisa melupakan masalahnya dengan Keenan.


"Memang ada yang seperti itu, Pak?" tanya Riska, sedikit tidak percaya dengan perkataan sopir taksi itu.


'Bisa saja kan, Bapak ini hanya mau menghibur aku' gumam Riska dalam hati.


"Benar, Neng. Yang lebih merepotkan lagi, saat ada orang mabuk tanpa ada pendampingnya."


"Ada yang seperti itu, Pak?" tanya Riska, cukup terkejut dengan ungkapan sopir taksi itu.


Sopir taksi itu menganggukkan kepala sambil tertawa, tanpa menimpali perkataan Riska lagi, karena sebentar lagi mereka akan sampai.


"Neng, kalau saya boleh memberi saran ... apa pun masalah yang sedang kita hadapi saat ini, lebih baik kita berfikir dengan hati dan kepala dingin, sebelum mengambil keputusan. Apa lagi jika itu melibatkan orang lain, lebih baik kita berusaha berbicara baik-baik dulu, dan meminta penjelasan, dari pada nantinya kita akan menyesal karena terbawa emosi dan perasaan marah sesaat."


"Maaf ya, Neng. Bapak jadi sok tau begini, Neng, itu mirip seperti anak saya, yang udah meninggal lima tahun lalu. Jadi malah kebawa perasaan, hehem," ujar sopir taksi itu, sambil menoleh sekilas ke arah Riska.


Saat ini mereka sudah sampai di depan apartemen milik Keenan. Ya, Riska memang memilih untuk pulang ke apartemen.


Riska membalas tatapan pria tua itu, terlihat jelas sorot sendu di sana, membuat hati Riska sedikit tersentuh. Apa lagi, perkataan bapak itu ada benarnya, dia memang harus lebih dulu bertanya dan berbicara pada Keenan tentang semua ini, sebelum memutuskan semuanya.


"Saya turut berduka cita atas meninggalnya anak bapak ... dan terima kasih untuk nasehatnya, saya senang bisa mengobrol dengan bapak walau hanya sebentar," ujar Riska sambil mengulurkan uang untuk ongkos taksinya.


"Tidak usah, Neng. Untuk kali ini, biar saya traktir saja, hehe. Mengantarkan, Neng, serasa saya sedang mengantarkan anak saya," tolak sopir taksi itu, dengan senyum yang terlihat sangat tulus.


"Tapi, Pak. Ini sudah kewajiban saya." Riska sedikit memaksa, akan tetapi, sopir taksi itu tetap menolak uang dari Riska.


"Terima kasih banyak, Pak," ujar Riska, akhirnya dia memilih mengalah.


"Sama-sama, Neng. Semoga masalah, Neng, cepat selesai."


"Amiin, Sampai jumpa lagi, Pak," ujar Riska, sambil membuka pintu taksi dan keluar.


Dia berdiri di sana sambil melihat taksi yang sebelumnya ia tumpangi itu keluar dari area apartemen. Menghembuskan napas kasar, sebelum akhirnya dia masuk ke dalam lobi.


...🌿...


...Jangan lupa follow akun ini dan IG aku @Warnyiwarnyi ❤❤❤...


...Komen👍...


...🌿...

__ADS_1


...Bersambung...



__ADS_2