Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.87 Jawaban


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


 


“A-aku minta maaf,” lirih Ayu, menundukkan kepalanya.


“Kenapa?” tanya Ezra, matanya menatap penuh kecewa wanita di hadapannya.


“A-aku gak bisa pasang sendiri.”


Wanita itu menyodorkan cincin yang berada di genggaman tangannya.


“Ma-maksudnya?” linglung Ezra, bertanya seperti orang bodoh. Otaknya tiba-tiba saja terasa kosong, tidak bisa berpikir.


Ayu tersenyum tipis, mengangkat wajahnya menatap wajah bingung lelaki di depannya.


Mengambil tangan kanan Ezra, lalu menaruh cincin itu di telapak tangannya.


“Aku gak mau pasang sendiri, nanti di kira aku ngarang lagi sama orang-orang,” ucap Ayu menunjukkan jari tangannya.


“Ja-jadi aku di terima. Kamu mau menikah sama aku?!” tanya Ezra memastikan.


Wajahnya tampak sumringah dengan mata berbinar.


Ayu mengangguk, dengan senyum mengembang. Walaupun matanya tampak berkaca-kaca.


“Terima kasih ... terima kasih sudah mau menerima aku dan Naura,”


Ezra mengambil tangan Ayu, lalu memasangkan cincin di jari manisnya.


“Harusnya aku yang berterima kasih, karena kamu mau menerima wanita tidak sempurna seperti aku,” ucap Ayu, kembali menundukkan kepalanya.


“Jangan bilang seperti itu, dari awal aku memutuskan melamar kamu, itu berarti aku sudah memikirkannya matang-matang dan menerima segala kekurangan kamu dengan hatiku.”


“Begitu juga dengan aku sendiri. Aku berharap kamu bisa menerima segala kekuranganku dengan ketulusan hatimu.”


Ezra menggenggam tangan Ayu, lembut.


Ayu mengangguk dengan air mata berhasil lolos dari manik mata cantiknya.


“Sudah, jangan nangis. Ini kan hari bahagia kita ... masa kamu malah nangis sih. Nanti ketahuan Naura dan teman-temannya bisa ribet urusannya!” ucap Ezra dengan senyum mengembang, berusaha menghibur wanita yang kini menjadi kekasihnya.


Tangannya terur menghapus air mata di wajah wanita cantik itu.


“Aku juga akan memakai pasangannya.”


Lelaki itu mengambil cincin yang akan ia pakai di tangannya.


Desainnya sama, hanya saja itu terlihat polos tanpa ada berlian yang menghiasi.


Di dalamnya terdapat nama lengkap Ayu.


“Ini, sekarang giliran kamu pasang di jari aku.” Ezra memberikan cincin untuk dirinya kepada Ayu.


Ayu tersenyum samar, dengan pipi yang sudah memerah. Perlahan ia menyempatkan cincin itu di jari manis lelaki yang kini menjadi sandarannya.


“Ye ... Aunty jadi Mama Rara!”


Teriakan nyaring dari Naura membuyarkan kemesraan dari dua sejoli yang baru saja saling mengungkapkan cinta.


Keduanya mengalihkan perhatiannya pada asal suara.


Naura terlihat berlari ke arah Ezra dan Ayu.

__ADS_1


Grep ....


“Anak Papah!” Ezra menangkap dan membawa Naura pada gendongannya.


“Terima kasih Aunty sudah mau jadi Mama Rara,” ucap gadis kecil itu, menatap Ayu dengan binar bahagia dari matanya.


“Sama-sama, sayang. Terima kasih juga Naura sudah mau jadi anaknya Aunty?” Ayu membelai wajah calon anak sambungnya yang berada di dalam pelukan Ezra.


Memberikan ciuman sayang di pipi chuby gadis kecil itu.


Ayu dan Ezra mengalihkan pandangannya pada beberapa orang yang terlihat berjalan menghampiri mereka.


Keenan, Nawang, Garry, Ansel, Elena, dan Bian terlihat berjalan menghampiri mereka dengan senyum mengembang, juga Melati yang terlihat ada di urutan paling belakang.


Sepertinya di antara banyak wajah, hanya dia yang menampakkan ekspresi berbeda dari yang lain dan itu semua tak luput dari perhatian Ezra.


Sejak tadi sebenarnya Nawang diam-diam melihat saat Ayu menerima Ezra. Setelah itu ia mengabarkan pada semua anggota keluarganya hingga akhirnya mereka semua ada di sini.


Bergabung dengan penuh suka cita dan ikut berbahagia dengan diterimanya cinta Ezra kepada Ayu.


“Jadi hari ini kita bukan hanya merayakan ulang tahun Naura, tapi juga merayakan pertunangan Ezra dan Nindi?” tanya Nawang, dengan wajah berseri.


“Iya dong, Mah. Pokoknya sekarang kita pesta besar-besaran!” ucap Keenan penuh semangat, menjawab pertanyaan dari sang ibu.


“Terima kasih ya, Nindi. Sudah mau menerima anak dan cucu Mama jadi bagian dari kehidupan kamu ke depannya.”


Nawang memeluk wanita itu dengan penuh kasih sayang, matanya tampak berkaca-kaca menahan haru.


Ayu mengangguk dalam pelukan hangat seorang ibu, yang sudah lama ia tak pernah rasakan. Air matanya kembali jatuh tak tertahan.


 “Terima kasih,  Mah. Terima kasih sudah mau menerima aku,” lirih Ayu, ia menggigit bibirnya bawahnya meredam isak tangis yang tak bisa lagi di tahan.


“Baiklah, sudahi acara penuh dramanya. Sekarang giliran peran kita sebagai orang tua yang turun tangan. Ansel tolong hubungi ayahmu, kapan sekiranya dia bisa meluangkan waktu untuk membicarakan haru pernikahan Nindi dan Ezra?” Garry mengambil alih perhatian semua orang yang berada di sana.


“Aku tidak mau kalian pacaran seperti anak muda jaman sekarang. Lebih baik kalian cepat meresmikan acara pernikahan, kalau bisa dalam minggu-minggu ini saja,” sambungnya lagi, dengan penuh semangat.


“Iya, nanti pasti akan saya sampaikan pada Papah, Om,” angguk Ansel.


Sementara itu, Melati terlihat mengepalkan kedua tangannya dengan mata melihat tidak suka pada kebahagiaan mereka semua.


‘anak dan ibu sama saja ... bermuka dua’ gumam Keenan yang sejak tadi diam-diam memperhatikan Melati.


Suasana haru itu pun berakhir begitu saja, semuanya kembali pada tempat pesta.


Para tamu yang sedang mengikuti permainan dan hiburan mulai pada mencari tuan rumah yang tiba-tiba saja pada menghilang dari acara.


Kini di dalam acara itu, di manfaatkan oleh Nawang untuk memperkenalkan Ayu sebagai calon menantunya kepada para teman-temannya.


Sekarang Ayu bukan lagi di repotkan oleh Naura. Tetapi lebih kepada kemauan sang calon ibu mertua yang terus menariknya ke sana kemari.


Acara puncak sebentar lagi tiba.


“Kita panggilkan Naura bersama dengan Pak Ezra dan Bu Ayunindia untuk naik ke atas panggung untuk melakukan acara tiup lilin dan potong kue bersama.”


Pembawa acara terdengar mulai memberi intruksi untuk memulai acra.


“Ayo,” ucap Ezra kepada Ayu yang sedang berbincang bersama para tamu wanita lainnya bersama Nawang.


Nawang mengangguk, ke arah Ayu sebagai tanda menyetujui ajakan sang anak.


Akhirnya kini di atas panggung kecil itu, Naura tampak bergembira bersama ayah dan calon  ibu sambungnya, siapa lagi kalau bukan Ayu.


Ketiganya tampak serasi dengan pakaian senada, dan wajah yang terlihat sangat bahagia.


Pemandangan itu bagaikan sebuah keluarga kecil bahagia.


Nawang tersenyum melihat wajah anak sulung dan cucunya yang terlihat begitu bercahaya.

__ADS_1


Mengaingat kembali bagaimana para teman dan sahabatnya iri kepadanya, karena bisa mendapatkan calon menantu seperti Ayu.


Sebagian dari mereka memang sudah mengenal Ayu di dunia desain karena rancangan bajunya yang selalu memukau.


Walaupun Butik wanita itu masih kecil, tetapi kualitas busana yang di jual di sana sangat bagus dan dapat di perhitungkan di dunia mode.


Haya saja, koneksi yang terbatas dan jarangnya Ayu mengikuti ajang kontes maupun peragaan busana, membuat butik milik wanita itu tidak banyak diketahui  banyak orang dari kalangan atas atau penikmat mode lainnya.


‘mereka akan sangat menyesal karena melepaskan berlian sepertimu’ gumam Nawang dengan tatapan lurus pada Ayu.


“Biklah kita mulai acara inti pada siang  hari ini ya semuanya?!” terdengar suara seruan dari pembawa acara yang membuat tersebut lebih meriah.


Para tamu mulai menyanyikan lagu selamat ulang tahun, dengan di iringi Keenan yang bermain piano di sudut panggung, dan di pandu oleh pembawa acara.


Suara tepuk tangan terasa menggema saat Naura meniup lilin dan di lanjutkan memotong kue untuk di suapkan kepada seluruh keluarganya.


Suasana bertambah meriah saat Pembawa acara megarahkan Ezra dan Ayu untuk mencium Naura secara bersama-sama.


Semua tamu undangan bersorak mendukung keduanya yang tampak kikuk.


Hanya ada satu orang di antara banyaknya tamu yang tampak suram, ia menatap penuh amarah kebahagiaan Ayu saat ini.


‘Kamu tidak pantas bahagia di balik penderitaanku dan ibuku!’ gumamnya dalam hati.


Keenan berdecih menatap remeh gadis itu.


‘Kali ini gak akan aku biarkan kamu menyentuh kakak iparku,’ gumam Keenan, mantap tajam sosok gadis yang berdiri di belakang para tamu.


Jam empat sore pesta baru saja benar-benar berakhir, karena para tamu sudah pulang semuanya.


Kini Ayu tengah duduk di ruang keluarga bersama semua anggota keluarga Darmendra, setelah memandu Naura untuk berganti baju terlebih dulu.


Gadis kecil itu terus memeluk posesif calon ibu sambungnya, sedangkan Ezra duduk d samping kekasihnya.


...............


Di tempat lain, Melati bru saja sampai di rumahnya, ia langsung menghambur pada sang ayah dengan derai air mata buaya menghiasi wajahnya.


"Papah!" sedunya dalam dedapan tangan sang ayah.


"Kenapa, sayang? Ada apa?" bingung Larry mengerutkan keningnya.


"Kak Ezra, Pah ... Kak Ezra melamar Kak Ayu!'' isak tangis terdengar mengiringi setiap perkataan gadis itu.


"Papah kan tau aku dari dulu suka sama Kak Ezra, tapi sekarang dia malah bertunangan dengan kak Ayu!" pecahlah sudah tangis gadis itu.


Larry mengelus punggung sang anak, berusaha untuk menenangkannya. Walaupun dalam hatinya sendiri gusar memikirkan dua anak perempuannya.


"Sudahlah, Mel. Mungkin Ezra bukan jodoh kamu, lagi pula kamu masih kecil sedangkan Ezra sudah sangat dewasa ... kalian terpaut umur sangat jauh. Mungkin kamu hanya sekedar cinta-cintaan saja."


Larry mengurai pelukannya, menatap nanar wajah penuh air mata anaknya.


"Gak bisa, aku mau Kak Ezra jadi miliku. Aku gak terima kalau dia jadi milik orang lain walaupun itu Kak Ayu!" Melati terus bersikeras tak ingin mengalah untuk kakaknya sendiri.


"Ternyata benar kata Mama, Papah lebih sayang Kak Ayu di bandingkan aku!" sentak Melati, sebelum berlari pergi ke kamarnya.


Blam ....


Suara gebrakan pintu yang tertutup dengan kencang menggema di rumah besar tersebut.


Larry menghembuskan napas gusar memikirkan masalah yang kini terjadi antara dua orang anak perempuannya.


...🌿...


...Bersambung...


Nah, udah pada lega kan semuanya🤭🤭

__ADS_1


Sampai jumpa di bab berikutnya🙏👋👋❤❤❤


__ADS_2