Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Eps.144 Bang Ke


__ADS_3


...Happy Reading ...


...❤...


Keenan menendang ban mobilnya dengan penuh amarah, dia bru saja pulang dari luar kota, sedangkan hari sudah beranjak malam. Mobil yang seminggu lalu diantarkan oleh salah satu anak buah Ezra ternyata mogok.


"Sial banget sih, kenapa bisa sampai mogok kayak gini?" umpat Keenan sambil menyandarkan tubuhnya pada badan mobil. Kedua tangannya bertengger di pinggang, helaan napas kasar juga terdengar begitu kasar.


Bukan tanpa sebab Keenan urung-uringan tak jelas seperti itu, dia memang mengerti masalah mesin sedikit-sedikit, tetapi yang membuatnya merasa kesal adalah semua peralatan servis yang biasanya ada di dalam bagasi, entah kemana hilangnya.


Cukup lama mengatur emosinya sendiri, kini sepasang mata Keenan mengedar mencari bengkel atau mungkin rumah warga yang mungkin ada di sekitar sini.


Ya, sekarang Keenan tengah berada di tempat sepi, di sekitarnya hanya ada pepohonan tanpa terlihat ada rumah warga, kendaraan yang lewat pun terlihat tidak terlalu banyak, mengingat ini adalah jalan pintas yang terbilang sepi.


Keenan berdiri di pinggir jalan, mencoba mencari pertolongan kepada pengguna jalan yang lain, tangannya melambai setiap kali ada kendaraan yang melewatinya.


Namun entah kenapa, tak ada satu pun kendaraan yang mau berhenti, bahkan sebagian banyak mereka malah menambah kecepatannya ketika melihat dirinya.


"Apa muka aku seseram itu, kenapa tidak ada satu orang pun yang mau berhenti?" desis Keenan, menjambak rambutnya dengan prustasi.


Ponselnya tak lagi berfungsi saat sinyal di sana juga menghilang entah kemana. Hari ini Keenan benar-benar dibuat kesal sejadi-jadinya. Dia akhirnya memutuskan unruk bersandar di badan mobil, sambil menunggu ada pengguna jalan yang mau berhenti.


Kepalanya menunduk melihat rerumputan di pinggir jalan yang ia injak berkali-kali, untuk meluapkan kekesalannya. Sesekali ia melihat layar ponsel, berharap sinyal yang menghilang itu, bisa kembali lagi.


Cukup lama Keenan bertahan dalam posisi itu, hingga malam telah tiba, dan sekitarnya berubah menjadi gelap gulita. Bahkan sekedar lampu penerangan jalan pun tidak ada di sana, kendaraan yang lewat pun semakin jarang, itu pun dengan kecepatan tinggi.


Niat hati ingin mempersingkat waktu jarak tempuhnya dan bisa langsung beristirahat di rumah, malam membuatnya terjebak di tempat asing tanpa seorang pun yang tahu keberadaannya.


Memilih masuk ke dalam mobil dan merebahkan tubuhnya di kursi kemudi, tubuhnya lelah, setelah seharian mengurus para perampok yang ternyata merupakan suatu kelompok yang sudah beberapa kali beraksi, hingga akhirnya kemarin malam mereka tertangkap karena kerja sama antara dirinya dan polisi yang menangani kasus ini dengan baik.


Setelah melakukan pengintaian selama beberapa hari, untuk melihat kebiasaan mereka, akhirnya penggerebekan langsung di markas mereka berhasil setelah sempat ada adu tembak antara pihak perampok dan kepolisian.


Dia yang ikut terjun langsung dalam aksi penggerebekan itu, terpaksa harus terlibat dan semua itu sudah cukup menguras tenaganya, di tambah dengan urusan lainnya saat mereka sudah tertangkap, hingga ia baru bisa pulang setelah hari menjelang sore.


Tuk ... tuk ... tuk ....


Suara ketukan di kaca mobil yang terdapat tepat di sampingnya, membuat Keenan tersadar dari pemikirannya, hingga akhirnya membuka mata dan melihat dengan penuh waspada ke arah luar.


Matanya melebar saat melihat wajah seorang gadis yang begitu dikenalnya, sedang berusaha melihat ke dalam mobil. Keenan kemudian memutar kepalanya, melihat ke sekitar mobilnya berada, mencari keberadaan orang yang mungkin bersama dengan gadis itu. Akan tetapi, dia tak melihat siapa pun selain gadis yang sekarang sedang berteriak memanggil namanya.


Tuk ... tuk ... tuk ....


"Bang Ke!"

__ADS_1


Tuk ... tuk ... tuk ....


"Bang Ke!"


Panggilan yang terasa janggal di telinganya itu, membuat alis Keenan bertaut dalam, memikirkan apa yang salah di dalam panggilan gadis itu.


"Dia panggil aku apa tadi?" gumam Keenan linglung.


"Bang Ke! Buka pintunya kenapa malah bengong? Woy!" Teriakan dan gedoran di kaca tak dihiraukan olah Keenan, hanya satu yang kini terngiang di dalam otaknya, hingga mata itu melebar dengan kekesalan mencapai pucak.


"******?! Dia panggil aku ******?! Wah, ini orang mau nolong apa mau buat orang tambah emosi sih?!" kesal Keenam, membuka pintu mobil dengan begitu kasar hingga gadis yang sejak tadi berdiri di depan pintu harus mundur dengan terburu-buru sampai hampir jatuh duduk, bila saja dia tak bisa menguasai dirinya dengan baik.


"Kamu panggil apa tadi?! Dasar cerewet! Enak saja kamu bilang aku ******!" tuding Keenan begitu dia keluar dari dalam mobil, telunjuknya bahkan berada tepat di depan hidung mungil milik gadis itu, taapannya tajam dengan wajah mengeras.


"Apa? Siapa? Aku?" linglung gadis itu sambil menunjuk dadanya sendiri.


"Iya, kamu! Kamu tadi panggil aku apa, hah?!" Keenan masih kesal setengah mati. Setelah seharian ini dia mendapat semua kejadian yang membuatnya harus menahan sabar dengan sangat ekstra, sekarang kekesalannya semakin bertambah dengan ejekan dari gadis yang ada di hadapnnya itu.


Alam bawah sadarnya seperti menemukan pelampiasan untuk menluapkan segala emosinya pada gadis yang kini tengah berpikirdengan begitu keras, kerena reaksi Kenan kepada dirinya.


"Bang Ke? Mba Ayu menyuruhku menganggapmu sebagai kakak sendiri jadi aku panggil kamu Bang Ke, apa yang salah?" tanya gadis itu dengan alis bertaut dalam, menatap bingung wajah merah Keenan. Matanya berkedip lambat dengan wajah polos yang baru kali ini dilihat oleh Keenan.


Keenan sempat terdiam selama beberapa detik, terkejut dengan ekspresi yang begitu jarang terlihat dari gadis cerewet dan judes bahkan terlihat galak itu.


"Siapa yang menyuruhmu memanggilku begitu, hah? Aku tidak percaya kalau Kak Nindi yang menyuruhmu!" Keenan masih belum puas berdebat dengan gadis itu, walau di awal kalimat terdengar getaran samar di dalam suaranya.


Keenan merutuki dirinya sendiri yang merasa sedikit gugup, dengan jantung yang bertalu begitu cepat di dalam dada.


'Apa ini, kenapa aku jadi begini di depan gadis cerewet ini?' gumam hati Keenan.


"Gak ada pengulangan!" ucap gadis itu yang tak lain adalah Riska. Dia menatap wajah Keenan dengan tangan terlipat di dada.


"Bang Ke, nagpain di sini malam-malam begini? Mobil mogok ya?" tanya Riska, sambil melihat seluruh bodi mobil Keenan.


"Udah tau, pake nanya lagi! Kamu gak liat itu kap mobil kebuka?" ujar Keenan dengan nada yang dibuat ketus, untuk menyamarkan rasa gugupnya.


"Kamu sendiri dari mana, malam-malam begini lewat jalan sepi begini? Gak takut ada begal apa?" sambungnya lagi.


Riska mengangguk-anggukan kepalanya, sambil melihat ke arah kap mobil bagian depan yang terbuka, mulutnya membentuk huruf O tanpa ada suara, kemudian beralih kembali menatap lelaki di depannya.


"Di sini gak akan ada orang yang mau berhenti karena beberapa hari yang lalu ada yang baru kena begal. Mau ikut aku gak?" bukannya menjawab pertanyaan Keenan, Riska malah berbicara yang dia mau bicarakan saja.


'Pantes dari tadi gak ada yang berhenti, sialan memang!' umpat Keenan dalam hati, setelah mendengar penjelasan dari Riska.


"Begal? terus nagpain kamu malah lewat sini? Minta dibegal?!" tanya Keenan merasa bingung dengan pemikiran gadis di depannya. Bukannya menghindari area berbahaya, dia malah dengan berani menggunakan jalan yang berbahaya bagi keselamatannya.

__ADS_1


"Aku mau cepet pulang. Apa lagi?" jawab acuh Riska.


"Iya, kalau kamu pulang ke rumah, nah kalau kamu di begal terus berakhir pulang ke akhirat gimana? Dasar bodoh!" cerocos Keenan.


'Kenapa malam ini, dia jadi cerewet banget ya?' gumam hati Riska yang bingung melihat Keenan yang sejak tadi seperti tak mau berhenti bicara.


"Kalau kena begal ya udah nasib aku, gitu aja kok susah.'


Keenan menatap tak percaya gadis di depannya, 'Apa dia tidak memiliki rasa takut sama sekali?' gumam hati Keenan.


"Kamu belum jawab pertanyaan aku, dari mana kau malam-malam begini?" tanya Keenan lagi.


"Aku ada urusan di kota sebelah," jawab singkat Riska.


"Jadi, mau ikut gak nih, nanti keburu begalnya pada keluar?" tanya Riska lagi dengan sedikit candaan di dalamnya.


"Lah, kalau ada begal, terus nasib mobil aku gimana?" Keenan tidak rela jika salah satu mobilya itu nanti dibawa olah para begal.


"Orang kaya, masih takut mobilnya ilang juga? Ya, biarin aja, dari pada nyawa yang ilang. Pilih mana?" ujar Riska, kemudian berjalan menuju motornya terparkir di belakang mobil Keenan.


"Eh, astaga! Motor aku mana?!" teriak Riska saat melihat motor miliknya sudah tidak ada.


Keenan yang mau mengambil barang-barangnya di dalam mobil langsung berlari menuju tempat Riska berada. Dia ikut terkejut saat tidak ada apa pun di belakang mobilnya.


"Kamu beneran naruh motor kamu di sini?" tanya Keenan, ikut panik. Dia memutar tubuhnya mencari ke sekeliling tempatnya berada. Akan tetapi, tak ada kendaraan satu pun yang terparkir di sekitar sana.


"Aku belum pikun ya! Aaaaa ... motor aku! Huaaaa!" Riska kini menangisi motor yang sudah hilang entah ke mana.


"E–eh, kok malah nangis sih? Haduh gimana ini?" Keenan bergerak gelisah menatap bingung gadis yang kini sudah terduduk di atas rumput dengan tangis yang semakin kencang.


"Cup ... cup ... cup, udah ya, jangan nangis di sini, nanti kalau ada yang nemenin kamu nangis gimana?" Keenan berjongkok di samping Riska, matanya menegedar menatap sekitar yang terasa semakin menakutkan.


BUkan orang yang kini dia takutkan karena tangis Riska malah mengingatkannya dengan hantu yang suka duduk di atas pohon dengan suara tangis atau tertawanya, yang membuat bulu kuduk di tengkuknya terasa berdiri, menimbulkan efek berat seakan ada yang menindihnya.


'Astaga kenapa aku jadi parno gini ya?' gumam hati Keenan, melirik ke sekelilingnya.


Bukannya berhenti, tangis Riska malah makin menjadi, membuat Keenan semakin merasa prustasi karena harus mencari cara untuk menenangkan seorang gadis.


...🌿...


...Melipir dulu ke Keenan dan riska ya😊 Semoga menghibur🥰❤...


...🌿...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2