Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.250 Uang Jajan


__ADS_3

...Happy Reading...


...❤️...


Keenan sudah sampai di kantornya, dia langsung disambut oleh Nino, salah satu anak buah kepercayaannya dan Ezra.


"Selamat pagi, Pak," sapa Nino, yang sudah menunggu Keenan di depan ruangannya.


"Pagi, No. Masuk," ujar Keenan, sambil melangkah menuju ke dalam ruangan kerjanya.


Nino pun mengangguk dan mengikuti langkah salah satu bosnya itu.


"Apa yang kamu dapatkan, No?" tanya Keenan, setelah mereka berdua duduk di kursi masing-masing.


"Ini, Pak," ujarnya, menyerahkan beberapa berkas laporan pada Keenan.


Keenan mengambilnya dengan pandangan mata menatap penuh selidik wajah anak buahnya itu.


Membukanya perlahan dan membacanya dengan seksama, bisa terlihat jelas cengkraman tangan Keenan di berkas itu semakin kencang, hingga terdengar bunyi gesekan kertas yang ia remas.


"Untuk apa dia melakukan ini semua?" tanya Keenan, entah pada siapa.


Nino yang berada tepat di depan Keenan, hanya terdiam. Tak berani menjawab pertanyaan yang ia sendiri tak tahu jawabannya apa.


"Sial! Berani sekali dia bermain-main denganku!" geramnya, menyimpan berkas itu dengan gerakan kasar.


"Awasi terus wanita kurang ajar itu, jangan sampai kita lengah!" perintahnya pada Nino.


"Baik, Pak," angguk Nino.


Keenan menyandarkan punggungnya, dia mnghembuskan napas kasar dengan tatapan tak lepas dari wajah anak buahnya itu.


"Kamu boleh pergi," ujarnya kemudian.


Nino beranjak dari kursi, dia kemudian menundukkan kepala sekilas di depan Keenan.


"Saya permisi, Pak," ujarnya, sebelum berbalik dan melangkah menuju pintu masuk.


"Tunggu!" Keenan menghentikan langkah Nino yang hampir saja sampai di depan pintu.


Salah satu kepercayaan Ezra dan Keenan itu, menghentikan langkahnya, dia kemudian berbalik demi melihat kembali atasannya itu.


"Ya, Pak?" jawabnya.


"Jangan lupa, tugasnya beberapa orang terpercaya, untuk mengawasi istriku. Aku tidak mau kalau sampai terjadi apa-apa padanya," ujar Keenan.


"Baik, Pak. Akan saya laksanakan segera," jawab Nino.


Keenan mengangguk, sebagai jawaban.


Nino pun langsung berbalik kembali dan keluar dari ruang kerja Keenan.


Sepeninggal Nino, Keenan masih saja terdiam. Tubuhnya memang berada di kantor, akan tetapi, pikiran dan hatinya entah sedang berada di mana saat ini.

__ADS_1


Hingga suara ketukkan di pintu menyadarkan lamunan Keenan.


"Pak. Anda, sudah ditunggu di ruang rapat," ujar sekeretarisnya.


Keenan mengangguk dia pun bersiap untuk menghadiri rapat pagi ini.


"Baiklah," jawabnya sambil mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerja.


Sekitar satu jam kemudian, rapat pun selesai. Keenan langsung berjalan menuju ke luar kantor.


"Pak. Anda, mau ke mana?" tanya sekretaris Keenan.


"Saya ada urusan di luar," jawabnya, melihat sekilas pada sekretarisnya itu, lalu berbalik dan berjalan cepat ke depan lift.


Keenan mengambil ponslenya dan mengetik sesuatu di sana, lalu mengirimkannya pada nomor seseorang.


Sampai di basement, Keenan langsung menuju pada mobilnya. Dia langsung melajukannya meninggalkan area kantor.


Sekitar tiga puluh menit kemudian dia sudah berhenti di depan sebuah sekolah negeri yang lumayan menjadi favorit di kota itu.


Suara pesan di ponselnya membuat Keenan langsung meraihnya, dia kemudian turun dari mobil, berdiri bersandar di samping pintu, dengan salah satu tangannya dimasukkan ke dalam saku.


Sedangkan satu tangan lagi, sedang memegang ponsel yang menempel di telinanya.


Keberadaannya tentu saja menyita perhatian para siswa yang kini baru saja keluar dari kelas. Karena, ini sudah memasuki jam istirahat sekolah.


Rio, melambaikan tangannya, saat melihat keberadaan kakak iparnya itu.


"Aku sudah bisa melihat, Kak Keenan," ujarnya, sebelum mematikan sambungan teleponnya.


"Siapa itu, Yo?" tanya salah satu temannya yang berada di samping Rio.


"Kakak iparku," jawab Rio, yang membuat temannya itu langsung melongo.


Mereka memang tahu kalau Rio mempunyai seorang kakak perempuan. Akan tetapi, mereka juga belum pernah mendengar kalau kakak temannya itu menikah.


"Hah, kakak ipar?" tanya temannya lagi.


"Heem," angguk Rio.


"Udah, kalian sampe sini aja. Dia mau ketemu sama aku, cuman berdua," ujarnya lagi, setelah sampai di gerbang sekolah.


"Yah, kan kita juga mau kenalan, apa lagi kalau sambil ditraktir jajan," ujar salah satu temannya.


"Enak aja. Udah kalian pada jajan duluan aja, nanti aku nyusul, kalau udah bicara sama Kak Keenan." Rio langsung meninggalkan para teman-temannya.


Tak mendapat persetujuan dari Rio, teman-temannya pun akhirnya memilih untuk pergi ke salah satu warung, tempat mereka biasa menghabiskan waktu istirahatnya.


"Kak?" sapa Rio, setelah sampai di depan kakak iparnya.


"Masuk ke dalam mobil, ada yang mau aku tanyakan sama kamu," ujar Keenan sambil membuka pintu mobilnya.


Rio mengangguk, dia kemudian mengikuti Keenan, untuk masuk ke dalam mobil kakak iparnya itu.

__ADS_1


"Ada apa, Kak?" tanya Rio, setelah mereka duduk di dalam mobil.


"Aku membutuhkan pendapat kamu, tentang Fatir dan ibunya," ujar Keenan.


Dia sebenarnya cukup bingung untuk mengambil sikap kepada Fatir dan ibunya.


Mau memberikan pelajaran dengan cara memecat Fatir dari pekerjaannya, rasanya dia takut akan membuat Riska marah. Mengingat Rio bercerita kalau Fatir dan Riska cukup dekat.


Namun, bila dia terus diam saja, Keenan merasa ini perlu diberikan syok terapi, agar ibunya Fatir tidak lagi berbicara sembarangan pada istrinya.


Rio menautkan alisnya mendengar pertanyaan dari kakak iparnya itu.


"Maksud, Kak Keenan?" tanya Rio, masih belum paham.


Keenan menghembuskan napas kasar, dia kemudian menjelaskan maksud perkataannya.


"Aku tidak bisa melupakan hinaan yang diucapkan oleh ibunya Fatir, malam tadi. Ingin rasanya aku pecat saja, laki-laki itu dari kantor," ujar Keenan, setelah menjelaskan maksudnya pada Rio.


Rio tersenyum, melihat Keenan kini sangat mencintai dan melindungi kakaknya.


"Sebaiknya jangan dipecat, Kak. Kalau sampai Kak Riska tahu, bisa-bisa dia merasa bersalah pada Bang Fatir," ujar Rio.


"Lalu, apa dong?" gumam Keenan, sedikit memijit pelipisnya yang terasa pening.


Pikirannya benar-benar terkuras habis habis, akhir-akhir ini. Dia mulai dari kepindahannya ke perusahaan sang ayah, lalu berbagai masalah yang muncul menyusul di dalam kehidupan rumah tangganya.


Semua itu, membuat dia memaksa dirinya untuk terus berpikir. Rasanya kepalanya bahkan sudah mau pecah, mengingat semua masalah yang kini mau tak mau ia harus hadapi.


Rio menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung sendiri harus menjawab apa.


Keenan berdecak, melihat senyum canggung Rio. Dia sudah tau kalau adik iparnya itu juga bingung, sama seperti dirinya.


"Tapi, Riska dan Fatir, benar-benar tidak memiliki hubungan apa pun kan?" tanya Keenan.


Dia masih takut kalau sebenarnya istrinya pernah menjalin hubungan dengan lelaki itu, hingga membuat ibunya berkata seperti itu.


"Setauku, tidak ada apa-apa antara Kak Riska dan Bang Fatir, selain hubungan pertemanan. Tapi, aku gak tau juga sih," jawab Rio, malah semkain membuat Keenan gusar.


"Ish, kamu ini!" decak Keenan, sambil mengambil dua lembar uang seratus ribuan dari dompetnya.


"Nih, kamu traktir teman-temanmu saja sana," ujar Keenan lagi.


"Wah, beneran nih, Kak?" tanya Rio, dengan mata yang berbinar.


"Iya, sudah sana keluar, aku masih ada urusan lain," ujar Keenan, sambil bersiap untuk mengendarai mobilnya lagi.


"Iya, ini aku mau keluar. Makasih uang jajajnnya, Kak," ujar Rio, sambil membuka pintu mobil dan keluar.


Keenan hanya mengangguk, dia pun akhirnya pergi meninggalkan area sekolah adik iparnya itu, dengan perasaan yang malah bertambah kesal.


...🌿...


...🌿...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2