Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.203 Salah Kostum


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


"Mba Winda sama Mba Sekar, aku mau ada pertemuan dengan pelanggan di tempat yang lumayan jauh, lebih baik kita tutup dulu aja, takutnya nanti aku gak sempet ke sini lagi," ujar Riska setelah dia selesai bersiap.


"Ya udah deh. Kalau kita tutup cepat, aku sama Winda bisa beli kado buat Mba Ayu, sebelum pulang," jawab Sekar.


Ini memang belum waktunya tutup. Akan tetapi, Riska sudah meminta izin terlebih dahulu pada Ayu, untuk menutup butik lebih siang.


Setelah semuanya selesai, Riska langsung memisahkan diri dan naik ojek online yang tadi sudah dia pesan.


"Mba, aku duluan ya. Ojek aku udah datang," pamit Riska begitu melihat tukang ojek online pesanannya sudah datang.


"Iya, Hati-hati di jalan ya, Riska. Kabari kita kalau ada sesuatu," ujar Sekar yang langsung diangguki oleh Winda.


Dalam perjalanan dia juga mengirim pesan pada Keenan, takut nanti suaminya menjemputnya ke butik.


"Terima kasih," ujar Riska sambil. mengembalikan helm milik tukang ojek itu. Dia sudah membayar terlebih dahulu di aplikasi, jadi tidak usah lagi memakai uang tunai.


Dia menatap bangunan bergaya modern di depannya. Mengehmbuskan napas kasar sambil melihat baju yang ia kenalan saat ini.


Celana denim dipadukan dengan, atasan rajut berkerah turtlenick berwarna putih dan outher warna navy yang Riska ambil acak sebelum dia berangkat.


'Kalau begini, kesannya aku salah kostum' Riska meringis dalam hati, melihat penampilannya sendiri.


Salah dia juga sih, yang tidak sempat mencari tahu tempat apa yang ia datangi, dikarenakan kesibukan di butik.


Riska menghirup napas dalam, sebelum melangkahkan kakinya ke dalam.


Mendekati pintu masuk, seorang karyawan restoran yang bertugas untuk menyambut tamu, sudah menatap Riska dengan raut wajah tidak menyenangkan.


'Sabar Riska, ini demi langganan butik yang udah lama,' gumam Riska sambil terus berjalan santai, seolah-olah tidak menghiraukan pelayan itu.


Ya, projek kali dia memang berjanji dengan salah satu pelanggan lama, yang sudah sering memebeli dan memesan berbagai baju di Clarissa Botique dari beberapa tahun lalu.


Kali ini mereka ingin memesan gaun pernikahan sambil melakukan tes food di salah satu restoran.


Mereka juga adalah termasuk orang-oarang yang sibuk, hingga terpaksa Riska harus menemui mareka di tempat yang lumayan jauh.


"Selamat sore, Mba. Maaf, apa Anda sudah melakukan reservasi sebelumnya?" tanya karyawan itu, menghentikan Riska yang hendak masuk ke dalam Restoran.

__ADS_1


"Saya sudah ada janji dengan Nona Anjani dan Tuan Reza, apa mereka sudah datang?" tanya Riska.


Karyawan itu terlihat sedang menilai penampilan Riska dari ujung rambut sampai ujung kepala, dia kemudian berdecih pelan, seperti tidak mempercayai Riska.


"Maaf, sepertinya mereka belum datang. Anda, bisa menunggunya di sana terlebih dahulu," ujar karyawan itu, menunjuk sebuah kursi yang diperuntukan bagi tukang ojek online yang sedang menunggu pesanan pelanggan.


Riska melihat sekilas tempat itu, kemudian beralih kembali melihat karyawan yang sedang memandang tak suka padanya.


"Tapi, aku sudah menerima kabar kalau mereka sudah datang beberapa saat yang lalu," ujar Riska.


Dia memang sempat mengabari kliennya kali ini, kalau dia sedikit terlambat.


"Maaf, sebaiknya Anda tunggu saja dulu di sana." Karyawan restoran itu masih belum percaya dengan Riska.


Riska akhirnya memilih mengalah, dia sudah tau drama restoran mahal seprti ini, banyak alasan yang mereka katakan hanya untuk memilah siapa yang pantas dan tidak pantas masuk dan makan di tempat mereka.


Setelah duduk dia mencoba melakukan panggilan video dengan pelanggannya, untuk membuktikan ucapannya pada karyawan restoran itu.


tak menunggi lama panggilan itu dijawab, dia pun menghampiri karyawan tadi yang sedang menyambut tamu yang lain.


Tenyata benar saja, mereka sudah ada di dalam, dan menyuruh Riska untuk masuk.


Karyawan tadi pun tidak berkutik, setelah melihat orang yang Riska telepon.


"Si–silahkan masuk," jawab karyawan itu dengan wajah yang menunduk malu.


Riska hanya tersenyum miring, lalu masuk tanpa menghiraukan lagi karyawan itu.


Sampai di dalam Riska langsung menemui kliennya, ternyata mereka berada di ruangan khusus.


Rapat pun berjalan cukup lama, karena mereka kebingungan memilih model baju untuk hari pernikahannya. Sang calon mempelai wanita pun sedikit kecewa, karena bukan Ayu yang datang langsung.


Namun, karena mendapat kabar kalau Ayu melahirkan, semua itu malah membuat sang calon pengantin wanita itu ikut senang.


Riska pun mengusulkan agar sang calon pengantin wanita itu, untuk memberitahunya tentang gaun yang ia bayangkan, agar nanti bisa ia sampaikan kepada Ayu terlebih dahulu.


Setelah mendengar semua keinginan klien dan mencatatnya untuk disetorkan pada Ayu dan rapat selesai, kini Riksa sudah berjalan menuju ke luar.


Matanya memicing saat melihat seseorang yang ia kenal baru saja masuk ke dalam restoran, bersma dengan orang yang terlihat familiar di matanya.


"Itu Abang? Dengan siapa dia?" tanya Riska lebih kepada dirinya sendiri.


Dia berusaha mengingat-ingat dulu sebelum berniat untuk menghampiri Keenan.

__ADS_1


Namun, beberapa saat kemuidan matanya melebar dengan tangan menangkup mulutnya yang terbuka.


Riska pun mengurungkan niatnya untuk menemui Keenan, apa lagi saat matanya melihat Keenan yang seperti sedang memeluk orang itu.


Dadanya tiba-tiba terasa sesak, dengan jantung yang bertalu cepat. Matanya merasa panas, dengan air yang mulai berkumpul di pelupuk.


Riska pun memilih untuk keluar tanpa menyapa Keenan, karena terburu-buru, dia menabrak seseorang di pintu masuk.


"Maaf, saya tidak melihat Anda," ujar Riska ambil membereskan beberapa barang yang berceceran.


Dia pun mnegambil barang miliknya, begitu pun lelaki yang ia tabrak.


"Tidak apa, aku yang salah karena tadi berjalan sambil menelepon," jawab lelaki itu.


Riska tak menjawab, dia hanya tersenyum kemudian berlalu tanpa memperpanjang pembicaraan itu.


Hari sudah menjelang malam, saat Riska baru saja keluar dari restoran. Jarak restoran itu cukup jauh dari butik, sedangkan hari sudah mulai gelap. Butik sudah tutup terlebih dahulu sebelum dia pergi, jadi sekarang dia bisa langsung pulang ke apartemen.


Riska kemudian masuk ke dalam taksi yang kebetulan baru saja menurunkan penumpang di sana. Hatinya sedang tidak baik-baik saja saat ini.


Dia butuh ketenangan untuk menerima apa yang baru saja dia lihat. Awalnya Riska berniat untuk berbicara pada Keenan malam ini, akan tetapi, setelah melihat semua itu, Riska kembali meragu.


Drrt ... drrrt ... drrt ....


Di saat dirinya termenung sambil menikati jalanan yang terasa ramai itu, ponselnya bergetar. Riska langsung mengangkatknya, begitu dia melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


"Iya, Mba. Aku ke rumah sakit sekarang." Riska mengakhiri panggilan teleponnya dengan Ayu, setelah mengucapkan itu.


Ternyata Ayu menyuruhnya ke rumah sakit untuk menyerahkan laporan rapat kali ini, mengingat Ayu harus mendesain secara langsung untuk gaun yang dipesan klien kali ini karena kliennya tidak menyukai contoh desain yang sudah ada.


Riska kembali membuka buku catatan yang ia bawa untuk memastikan dan membaca kembali hasil rapat dengan klien di restoran beberpa saat yang lalu.


Namun, kini dia tak lagi bisa membendung air matanya. Itu bukanlah buku miliknya, di dalamnya tidak ada sama sekali tulisannya, dia malah melihat beberapa kumpulan foto kebersamaan Keenan dengan orang lain.


...🌿...


...Siapa nih yang bersama Keenan? Apa yang Riska lakukan setelah melihat Keenan dengan orang itu? ...


...Komen👍...


...🌿...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2