
...Happy Reading...
...❤...
Keenan berbalik setelah keduanya memanjatkan do'a bersama, hati yang tadi terasa panas seakan langsung terasa tenteram dan damai, setelah keduanya menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim.
Riska mencium tangan Keenan, kali ini terasa berbeda, ada rasa bersalah yang ia rasakan, mengingat sikapnya pagi ini.
Dia telah terbakar api cemburu dan termakan oleh hawa napsu, hingga tak bisa lagi berfikir dengan benar.
Karena semua itu, dia bahkan terlihat melalaikan kewajibannya untuk melayani suami, dia malah membiarkan suaminya kelaparan dan lebih mementingkan egonya sendiri.
"Maafkan aku, Bang," ujarnya, dengan bibir dan hidung masih menempel di punggung tangan Keenan.
Keenan bergeser untuk lebih dekat pada istrinya, dia kemudian merengkuh tubuh Riska dengan penuh kasih sayang.
Wawancara dia takut, kalau istrinya itu masih marah kepadanya, akan tetapi, melihat sikap Riska yang lebih lembut ditambah permintaan maafnya, membuat Keenan tahu, kalau istrinya sudah tak marah lagi.
Lelaki itu tersenyum dia memberikan kecupan di kening sang istri.
"Maafkan aku juga ya, sayang. Aku benar-benar tidak tau kalau mereka ada di sini," ujar Keenan.
Riska mengangguk dalam pelukan sang suami. Beberapa saat mereka berdua menikmati posisi seperti itu, hingga sesuatu yang memalukan terdengar di perut Riska.
'Aduh, dasar perut gak bisa diajak kompromi! Kenapa pake bunyi segala sih? Kan aku malu'
Riska meringis, merutuki perutnya sendiri, yang dengan tak tahu malunya menagih untuk diisi di saat yang seperti itu.
Keenan tersneyum samar, dia mengurai pelukannya dan menatap wajah istrinya yang terlihat memerah menahan malu.
"Kamu lapar?" tanya Keenan.
Riska tersenyum canggung, dia kemudian mengangguk pelan.
"Aku sudah pesankan makanan untuk kita berdua, lebih baik kita makan di kamar saja, ya?" tanya Keenan.
Riska kembali mengangguk. Mereka pun akhirnya beranjak untuk membereskan peralatan shalat terlebih dahulu.
Beberapa saat kemudian, keduanya kini sudah berada di atas sofa, untuk memulai makan siang sekaligus sarapan mereka itu.
.
.
Malam hari, Ezra memutuskan untuk berada di ruang kerjanya, sedangkan Ayu tengah menidurkan Naura di kamarnya. Sementara itu Zain di jaga oleh Bi Yati.
Ezra mencoba untuk mencari tahu, siapa saja orang yang telah berani membuat masalah dengan keluarganya.
__ADS_1
Dia pun sudah menugaskan Alvin untuk mencari tahu di luar, sejak siang tadi.
Ya, permasalahan yang melibatkan sang anak, tidak bisa dibiarkan berlarut-larut, hingga dia memutuskan untuk kenyelesaikannya secepat mungkin, walau sekarang adalah akhir pekan.
Di halaman rumah, motor Alvin baru saja berhenti, lelaki yang baru saja lulus kuliah satu tahun lalu itu, langsung mengetuk pintu rumah bosnya.
Salah satu pelayan menyambut kedatangan Alvin, dia langsung mengajak asisten baru dari tuannya itu, ke lantai dua untuk menuju ke ruang kerja suaminya.
Ini adalah kali pertama dia diberikan izin untuk masuk ke ruang kerja Ezra di rumahnya, setelah satu minggu bekerja sebagai asisten pribadi.
Dia menatap takjub suasana ruangan di lantai dua yang terlihat sangat berbeda dibandingkan dengan di bawah.
Di saat bersamaan Ayu baru saja keluar dari kamar Naura, Alvin sempat tertegun saat melihat Ayu, walau secepatnya dia kembali menetralkan raut wajahnya, lalu menyala istri dari bosnya sendiri.
"Selamat malam, Bu Nindi," sapa Alvin, sedikit menganggukkan kepalanya, dan menangkupkan kedua tanganya di depan dada.
"Malam, Alvin. Kamu pasti mau ke ruang kerja Mas Ezra ya?" tanya Ayu.
"Iya, Bu. Saya pamit bertemu Bapak," ujar Alvin, sopan.
Ayu mengangguk, dia melihat Alvin dan salah satu pelayan yang mengantarkannya, berjalan menuju darinya, sebelum masuk ke dalam kamar Zain.
"Selamat malam, Pak," ujar Alvin, begitu masuk ke dalam ruangan kerja Ezra.
"Malam, Vin. Duduk," jawab Ezra.
"Apa yang kamu dapatkan, Vin?" tanya Ezra lagi.
"Ini, Pak. Ada beberapa rekaman CCTV yang menangkap kejadian di sekolah Naura," lapor Alvin, memberikan flashdisk berisi beberapa potongan rekaman di sekolah Naura.
Ezra menerima flashdisk itu, lalu memasangkannya di laptop miliknya, dia pun melihat dengan seksama, walau sesekali matanya melirik Alvin.
Tangannya mengepal kuat, saat terlihat ada beberapa anak perempuan yang mendekati Naura dan mengajaknya mengobrol.
Beberapa menit kemudian video pun berakhir, Ezra kembali menatap asisten barunya itu.
"Kamu sudah mencari tau, siapa saja mereka?" tanya Ezra.
Alvin menegakkan kembali tubuhnya, saat Ezra menatapnya dengan begitu serius.
Dia pun menjelaskan satu per satu setiap data yang di dapatkannya, setelah hampir satu hari ini, dia berperan bagaikan seorang detektif polisi.
Sungguh pekerjaan yang sangat mengejutkan dan penuh dengan tantangan.
Ezra tampak mengernyit, berpikir keras sambil terus mendengarkan penjelasan asisten pribadinya itu.
Ada beberapa kejanggalan yang ia temukan dari setiap laporan yang diberikan oleh asistennya itu.
Ezra pun mencari detail profil nama-nama orang yang disebutkan oleh Alvin.
__ADS_1
"Tunggu," cegah Ezra, menghentikan sejenak penjelasan Alvin.
"Apa kamu sudah mencari tau motif mereka melakukan itu pada Naura?" tanya Ezra kemudian.
Alvin tampak mengusap tengkuknya, dengan kepala sedikit menunduk.
Ezra menghembuskan napas kasar, dari gelagatnya saja, dia sudah tahu, kalau asisten baunya itu, belum mencari tahu sampai ke sana.
"Maaf, Pak ... saya belum sempat mencari tahu," jawab Alvin lirih.
Ezra menutup matanya, meredam emosi yang terpendam di dalam dirinya, sejak tadi pagi. Bila dia tidak ingat kalau Alvin ini masih baru, mungkin dia sudah menjadikan Alvin sebagai pelampiasan saat ini.
"Kamu bawa laptop?" tanya Ezra, setelah berhasil menekan emosinya, walau suaranya masih terdengar berat.
"A–ada, Pak," angguk Alvin.
"Pakai itu untuk mencari tau profil mereka semua!" Ezra berucap tegas.
"B–baik, Pak." Alvin langsung mengeluarkan laptopnya dan bekerja di depan Ezra.
"Kerjakan sekarang, aku ke luar dulu, tiga puluh menit lagi aku kembali," ujar Ezra, sambil berdiri.
Alvin mengangguk, tanpa berani bertanya, walau dalam hati penuh tanya.
Ezra langsung ke luar dari ruang kerja itu, dia benar-benar membutuhkan istrinya saat ini, untuk meredam gejolak emosi di dalam dirinya.
Ya, hanya Ayu lah yang bisa meredam emosi seorang Ezra, maka dari itu, lelaki dengan dua anak itu tak bisa jauh dari istrinya.
'Aku kira akan bekerja bersama, eh ... ternyata aku malah ditinggal sendiri' gerutu Alvin di dalam hati, saat pintu ruangan itu tertutup.
Ezra membuka pintu kamar Zain perlahan, istrinya itu sering ketiduran di kamar anak-anaknya, entah itu di kamar Naura ataupun Zain, makanya dia akan lebih dulu mencari keberadaan istrinya di kamar anak-anaknya.
Benar saja, dia menemukan Ayu sedang tertidur di sofa yang sengaja direbahkan, hingga membentuk sebuah ranjang kecil, dengan Zain di dalam pelukannya.
Dia kemudian memindahkan Zain ke box bayi yang ada di kamarnya, melewati pintu penghubung.
"Sshhh." Ezra berdesis saat Zain terlihat menggeliat saat dia pisahkan dari dekapan hangat sang ibu.
"Papah pinjam Mamah dulu ya," ujarnya lagi, seakan sedang meminta dipinjamkan mainan kepada anaknya.
...🌿...
Mau di apaan nih Ayu, sama Ezra?🤭
Ingat Bang Ezra, masih puasa😅
...🌿...
...Bersambung...
__ADS_1