
...Happy Reading...
......................
Flash back satu minggu yang lalu.
Ketukan di pintu mengalihkan perhatian Kenan dari pekerjaannya yang sangat menumpuk.
"Masuk!" ujar Keenan.
Pintu masuk runagan kerjanya pun terbuka, menampilkan seorang laki-laki muda yang tidak lain adalah asisten kakaknya sendiri.
"Alvin? Ada apa kamu ke sini?" tanya Keenan, sambil beranjak menuju sofa, tempatnya tidak jauh dari kursi kerjanya.
Alvin pun duduk di depan Keenan, wajahnya tampak ragu untuk mengungkapkan apa yang seharusnya dia sampaikan.
Keenan menatap wajah Alvin, mencoba mencari arti dari kegelisahan laki-laki yang beberapa tahun lebih muda darinya.
"Ini tentang Alana dan Toni, Pak," ujar Alvin sedikit meragukan perkataannya.
Keenan langsung menegakkan tubuhnya saat mendengar dua nama orang yang disebutkan oleh Alvin.
"Ada apa dengan mereka? Oh iya, hari ini bukannya sidang putusan atas hukuman yang akan diterima orang itu? Bagaimana hasilnya?" tanya Keenan.
"Alana dijatuhkan hukuman empat tahun penjara, sedangkan Toni–" Alvin sedikit ragu ingin meneruskan perkataannya.
"Toni kenapa, Vin?" Keenan merasa tidak sabar, melihat Alvin yang terlalu lama dalam menjawab.
"Toni, tewas dalam upaya pelariannya," jawan Alvin.
"Pelarian? Maksudmu, Toni berusaha kabur?" tanya Keenan, menatap penuh tanya laki-laki di depannya
"Iya, Pak. Toni berusaha kabur saat mau meninggalkan pengadilan, bahkan dia membuat kekacauan dan menjadikan salah satu orang yang ada di sana sebagai sandra."
"Dia akhirnya ditembak mati oleh polisi, demi melindungi sandra yang ada di tangannya," jelas Alvin.
Keenan melebarkan matanya mendengar penjelasan dari Alvin. Dia sama sekali tidak menyangka kejadian ini akan terjadi pada Toni.
Setelah saat itu Toni mencoba bunuh diri hingga dilarikan ke rumah sakit, kini laki-laki itu malah benar-benar terbunuh karena ulahnya sendiri yang terus melawan hukum dan polisi.
"Di mana jasadanya sekarang?" tanya Keenan, setelah cukup lama dia hanya terdiam.
"Di rumah sakit, Pak. Apa, bapak mau melihatnya?" tanya Alvin.
Keenan terdiam lagi, dia bingung harus berbuat apa, menghadapi kejadian yang begitu mendadak ini.
"Aku harus memastikannya! Ya, aku harus memastikan kalau yang meninggal itu benar-benar Toni, agar tidak ada lagi rasa was-was di hatiku dan Riska," lirih Keenan sambil melihat Alvin, seakan meminta dukungan.
Alvin pun hanya mengangguk samar. "Aku akan mengurusnya, jika itu yang, Bapak, inginkan."
Keenan mengangguk, sedangkan Alvin langsung meminta salah satu kenalannya di kepolisian, untuk mengurus izin Keenan agar bisa melihat jenazah Toni.
Sore manjelang malam harinya, Alvin dan Keenan pun langsung pergi bersama-sama menuju ke rumah sakit.
Flash back off
__ADS_1
"Abang, ayo kita ke taman belakang," ajak Riska.
Saat ini mereka tengah berada di kamar, Keenan baru saja selesai menerima telepon dari salah satu klien di luar negeri.
Keenan tersenyum, dia merangkul tubuh istrinya sambil sesekali memberikan kecupan di puncak kepalanya.
"Yuk," angguk Keenan kemudian. Mereka pun berjalan bersama ke luar dari kamarnya.
Malam ini mereka berencana untuk mengadakan pesta barbeque di taman belakang vila, mengingat Riska yang tengah hamil dan tidak boleh makan sate kambing yang banyak dijual di daerah puncak.
Sampai di halaman belakang vila, semua keluarga Darmendra udah menunggu dengan peralatan barbeque lengkap.
Suasana malam yang terasa begitu hangat, bersama kasih sayang yang tercurah dari semua anggota keluarga, membuat senyum di wajah Riska semakin merekah.
Lampu kecil berwarna-warni menjadi penghias tambahan, untuk menambah terang halaman vila itu, yang hanya diterangi oleh lampu taman.
"Ayo." Keenan merangkul pundak Riska dan membawanya untuk bergabung dengan semua anggota keluarga besar Darmendra.
"Ken, sini! Enak banget kamu ya, bisa datang terlambat." Ezra yang sedang bertugas untuk memanggang, memanggil adiknya.
Keenan mengantarkan Riska untuk duduk bersama dengan Ayu dan Nawang yang sedang menyiapkan bumbu dan juga sayuran, sebagai pelengkap.
"Iya, sebentar ... bawel banget sih!" gerutu Keenan, menjawab Ezra.
Seluruh keluarga pun kebagian tugasnya masing-masing. Para laki-laki bertugas untuk memanggang daging dan pelengkap lainnya, sedangkan para perempuan menyiapkan bumbu dan sayurnya.
Keenan mengedarkan pandangannya, saat merasa ada yang kurang. "Alvin dan Naura ke mana?"
"Dia sedang ke luar, sebentar lagi juga datang," jawab Ezra, sambil menaruh daging kembali di alat pemanggang.
Sedangkan Garry selaku laki-laki yang paling tua, sejak tadi hanya duduk santai di kursi, tanpa mau membantu kesibukan anak dan istrinya.
Garry tampak melihat wajah anaknya, di tangannya terdapat wedang jahe, untuk menghangatkan tubuh yang kian bertambah tua.
"Aku sedang menikmati pemandangan yang sangat indah," jawab Garry.
"Ck, dasar kakek-kakek, bukannya bantuin malah enak-enakkan nonton," decak Keenan, sedikit meledek ayahnya.
"Hey! Dasar anak kurang ajar! Bisa-bisanya kamu ngomong begitu sama papamu sendiri?!" tunjuk Garry, tidak terima dengan ejekan dari anak bungsunya.
"Dih, dia marah, Kak," ujar Keenan beralih pada Ezra.
"Padahal memang benar kan apa yang aku katakan?" tanya Keenan meminta dukungan kepada Ezra.
Garry menatap kedua anaknya itu tidak percaya, apa lagi saat melihat anggukkan kepala dari Ezra.
"Dasar, kalian–!" Garry menunjuk kedua anaknya bergantian dan segera berdiri.
Laki-laki paruh baya itu, menghampiri Keenan dan Ezra, lalu memberikan pukulan di kepala kedua anaknya itu.
"Sshh." Keenan dan Ezra kompak berdesis saat merasakan sedikit ngilu di kapala bagian belakang mereka.
"Rasakan! Itu pantas kalian dapatkan," ujar puas Garry.
Sedangkan Ezra dan Keenan hanya tersenyum, karena sudah berhasil memancing Garry untuk bangun dan bergabung dengan mereka.
__ADS_1
"Nah, Papah, kan udah ada di sini, jadi sekarang pegang ini dan bantuin kita memanggang," ujar Ezra sambil memberikan alat penjepit daging kepada Garry.
Garry menatap kedua anaknya tidak percaya, saat sadar ternyata dia masuk ke dalam jebakan Ezra dan Keenan.
"Sudah jangan banyak protes, atau aku laporin sama mama," ujar Keenan, sambil berlagak hendak memanggil Nawang.
"Laporin apa? Papah, gak buat salah," elak Garry.
"Memang gak buat salah. Tapi,kalau sampai mama tau, Papa, sering bolos kerja karena bermain golf dengan teman-teman, Papah, gimana ya?" ujar Keenan dengan senyum meledekanya.
Garry melebarkan matanya, saat Keenan membocorkan kebiasaannya yang sering ke luar dari kantor, hanya untuk bermain golf bersama teman-temannya.
"Heh! Awas saja kalau sampai kamu bilang semua itu sama mama kamu," panik Garry.
Memang semenjak Keenaan bekerja di kantor, bersama dengannya. Garry mulai sering ke luar dari kantor, untuk menikmati hobi bersama teman-temannya.
Keenan dan Ezra pun saling bermain mata, seolah tengah memerintah Garry untuk membantu mereka memanggang.
"Haish, kalian ini benar-benar–" kesal Garry, akhirnya hanya bisa pasrah menghadapi anak-anak kurang ajarnya itu.
.
.
Sedangkan di yempat lain, Riska yang melihat semua bahan masakan yang lumayan banyak, mengerutkan keningnya.
"Kok kita masakanya banyak banget, Mah, memang mau ada siapa lagi?" tanya Riska, melihat ibu mertuanya yang sedang mengaduk saus.
"Ini, nanti ada tamu yang akan ikut bergabung dengan kita di sini, sebentar lagi juga datang," jawab Nawang.
Kerutan di kening Riska semakin dalam, dia sama sekali tidak tau kalau malam ini akan ada orang lain yang datang, selain keluarga suaminya.
"Siapa, Mah? Apa sangat penting?" tanya Riska, dia melihat penampilannya yang biasa saja, dirinya takut membuat malu keluarga suaminya.
"Sangat penting." Kini Ayu yang mejawab, dengan senyum yang merekah di bibirnya.
Riska terkejut mendengar jawaban dari Ayu, dia hendak beranjak dari tempat duduknya, untuk mengganti baju.
"Kalau begitu aku ganti baju dulu," ujar Riska.
Ayu langsung menahan tangan Riska, dia kemudian menuntun Riska untuk duduk lagi di tempatnya.
"Gak usah, begini saja sudah bagus kok," cegah Ayu.
Riska menatap Ayu dan juga Nawang bergantian, dia merasa kurang percaya diri dengan penampilannya saat ini.
Riska pun akhirnya menuruti saran dari Ayu, saat mertuanya pun mendukung dirinya. Wanitayang tengah hamil itu pun duduk kembali.
Beberapa saat kemudian, beberapa orang tampak datang, dari arah halaman samping vila.
"Nah, itu dia mereka sudah datang!" ujar Nawang, melihat ke arah kedatangan orang-orang yang mereka tunggu.
...🌿...
Siapa ya kira-kira yang datang?
__ADS_1
Oh, iya dalam waktu dekat ini kisah keluarga Darmendra akan segera tamat, jadi kalau ada masalah yang kiranya belum selesai tolong kasih tau aku ya, takutnya aku lupa.
Terima kasih semuanya🙏🥰