
...Happy Reading...
.......❤.......
Dua hari berlalu, kini Ezra, Ansel dan Keenan, sedang menunggu seseorang di sebuah kafe sederhana, yang terletak di pinggiran kota.
"Loe yakin dia bakalan dateng langsung?" tanya Ansel pada Ezra.
Ezra mengangguk mantap.
"Gue yakin, kita bisa pegang omongannya." jawab Ezra.
Tak lama kemudian, seorang lelaki dengan tinggi dan tampang di atas rata-rata, melangkah mantap menghampiri ketiga lelaki itu.
Di belakangnya, seorang lelaki lainnya terlihat mengikuti, dengan membawa sebuah tas kerja.
"Itu dia!" ucap Ezra, mengalihkan pandangannya pada lelaki yang baru saja masuk ke dalam kafe.
Ansel dan Keenan mengikuti arah pandangan Ezra.
"Jadi itu yang namanya, Agra?" Keenan menatap binar kedatangan lelaki sukses itu.
"Hai, Zra. Apa kabar?" sapa lelaki yang bernama Agra itu, saat baru saja sampai di depan Ezra.
"Baik, Kamu apa kabar, Gra?"
Keduanya bersalaman dengan sunggingan senyum hangat, sebagai teman yang sudah lama tidak bertemu.
"Kenalkan ini, adikku Keenan dan ini sahabatku Ansel."
"Agra," ucap lelaki itu, memperkenalkan diri begitu juga lelaki di belakangnya yang tak lain adalah Edo -asisten pribadinya.
"Apa kamu sudah bisa menemukan orang yang aku cari?" tanya Ezra, tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.
"Kamu tau siapa aku kan? Aku tidak akan menyetujui pertemuan ini, kalau belum mendapatkan apa yang kamu mau," jawab Agra.
"Iya, aku tau kamu orang sibuk," malas Ezra.
Agra hanya tersenyum kecil, menanggapi teman lamanya itu.
"Ini adalah berkas tentang orang yang kalian cari." Agra menggeser map berwarna hijau tua.
"Ini hasil penyelidikan yang aku dapatkan dari lelaki itu," Agra kembali menggeser amplop besar berwarna coklat.
"Terima kasih, semua ini sangat berarti bagi kami. Tolong kamu tahan dulu lelaki itu, jangan sampai dia melarikan diri." ucap Ezra.
"Kamu bisa mengandalkan aku," jawab Agra dengan seringai yang menghiasi wajahnya.
"Terima kasih banyak," Ezra kembali menjabat tangan lelaki itu saat dia berdiri.
Beberapa saat kemudian ke tiga pria itu sudah berada di ruang kerja Ezra, untuk melihat semua laporan yang di dapat oleh Agra.
__ADS_1
Ezra membuka dua barang yang tadi di peroleh dari Agra, mengeluarkan satu per satu barang yang ada di dalam sana.
Ada beberapa lembar kertas berisi semua identitas pelaku dan organisasi yang melindunginya.
Ansel dan Keenan langsung melihat, apa yang tertulis di dalam kertas- kertas tersebut.
"Organisasi mafia kelas atas! Pantas saja kita tidak bisa menembus keamanannya!" geram Keenan, saat sudah membaca semua kertas di tangannya.
Ezra, lelaki itu terpaku dengan sebuah biodata, orang yang sangat ia kenal.
'Apa ini, kenapa ada dia?' gumam Ezra dalam hati.
Dengan cepat ia meletakkan kertas itu, lalu mengambil flash disk yang terdapat di sana.
Ansel yang melihat perubahan raut wajah sahabatnya, langsung meraih kertas yang tergeletak begitu saja di atas meja.
Dia yang tidak tau cara kerja Agra hanya mengacuhkan kertas itu saja, karena memang hanya biodata biasa.
Namun, tidak dengan Ezra, lelaki itu tau apa yang di kirim oleh Agra adalah bukti dan semua orang yang terlibat di dalam kejadian ini.
Matanya meneliti apa yang tertera di layar komputernya.
Di sana, terlihat ruangan gelap dan lembap dengan pencahayaan, mengandalkan satu lampu pijar yang menggantung di tengah.
Di bawahnya, seorang lelaki dengan kondisi yang tidak terlalu baik, duduk di atas kursi kayu, dalam keadaan diikat.
Tak lama kemudian ada suara dari seorang lelaki, yang ia yakini adalah salah satu anak buah Agra.
"Siapa yang menyuruhmu melakukan penyerangan?!"
Ansel meringis melihat semua adegan kekerasan yang di tampilkan layar monitor di depannya.
"Sebenernya siapa sih Agra itu?" gumam Ansel, entah bertanya pada siapa.
"Dia adalah wakil presdir dari Leopard Corporate dan ketua dari mafia Black Eagle." Keenan menjawab dengan enteng.
Ansel di buat melotot horor, mendengar perkataan adik dari sahabatnya itu.
"Jadi sekarang kita berurusan dengan kelompok mafia?!" tekan Ansel pada Ezra.
Ezra mengangkat tangannya, agar kedua orang di belakangnya tidak berisik.
Tak ada yang mengejutkan dari video itu, lelaki itu hanya mengaku dia di suruh seorang wanita yang sudah pasti mereka tau itu siapa.
"Sialan tuh perempuan tua, ternyata di berani juga main kekerasan!" umpat Ansel, saat mendengar pengakuan dari sang pelaku.
"Tapi, kenapa dia mencari masalah lagi, bukannya kemauannya sudah terpenuhi?" tanya Ezra.
Ezra mengerinyitkan keningnya, merasa ada yang janggal dari semua berkas yang di berikan oleh Agra.
"Ya, karena takut Nindi bakal balik lagi sama anaknya lah!" jawab Ansel.
"Atau dia menyalahkan Kak Nindi atas kejadian keguguran menantu barunya itu?" Kenan ikut menerka apa yang terjadi.
__ADS_1
Ezra tak bergeming, pikirannya terus terarah pada biodata orang tadi.
'Tidak mungkin Agra mengirimkan semua itu bila tidak ada maksudnya.' gumam Ezra dalam hati.
Baiklah, besok kita beri pelajaran halus untuk wanita tua itu, melalui anak dan menantu kesayangannya.
Mereka bertiga akhirnya berunding tentang apa yang harus mereka lakukan esok hari.
"Lakukan secara halus, jangan sampai ada yang curiga dengan apa yang kita lakukan," ucap Ezra.
Kedua lelaki di depannya langsung mengangguk patuh.
Mereka bertiga akhirnya memisahkan diri, dengan Ansel yang pulang ke rumah dan Keenan yang pergi entah ke mana.
Sepeninggal dua orang itu, Ezra langsung mengambil ponsel di saku celananya.
"Kamu tidak melupakan sesuatu yang harusnya aku ketahui?" Ezra langsung berbicara pada intinya setelah mendengar jawaban dari seberang sambungan teleponnya.
Terdengar tawa yang menggema dari orang yang ia hubungi.
"Kamu memang sangat teliti, Zra!" kekehan kecil masih mengiringi perkataannya.
"Apa, yang belum aku ketahui?" tanya Ezra lagi, tak memperdulikan ejekan dari teman lamanya tersebut.
Agra, lelaki itulah yang saat ini Ezra hubungi.
"Aku suda mengirimkan penjelasannya lewat email, kamu hanya tinggal melihat saja, pasti kamu akan mengerti." ucap Agra, sebelum menutup sambungan telepon mereka berdua.
Ezra hanya bersikap biasa saja, memang begitulah pertemanan di antara keduanya.
Lelaki yang dingin dan tak tersentuh.
Berjalan kembali menuju meja kerjanya.
Lelaki itu semakin dibuat terkejut dengan apa yang sudah di temukan temannya itu dalam waktu satu hari dua malam saja.
Benar memang, semua ini akan terlalu mengejutkan, bila di lihat langsung oleh Ansel maupun Keenan.
Ezra menggelengkan kepalanya miris, melihat masalah yang sudah seperti benang kusut.
"Keluarga loe emang selalu penuh kejutan, Sel." Ezra bergumam sendiri.
Tatapannya tetap fokus pada layar di depannya. Sesekali seringai itu kembali menghias wajahnya.
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
Udah dulu ya, tugas di dunia nyata menanti ... daaah👋👋
Gak bosen aku bilang terima kasih buat kalian semua yang udah selalu dukung aku. Like, komen, vote dan hadiah itu sangat berarti untuk aku.
__ADS_1
Lope-lope sekebon untuk kalian semua❤❤❤❤