
...Happy Reading...
...❤...
Pagi menjelang, Seperti biasa, Riska akan terbangun oleh suara adzan dari ponsel miliknya, dia mulai mengerjapkan matanya sambil beringsut bersandar di kepala ranjang.
Matanya mengernyit, saat melihat tidak ada lelaki yang malam tadi tertidur di sampingnya. Dia mengedarkan pandangan mencari keberadaan sang suami.
"Apa dia sudah bangun?" gumam Riska, sambil beranjak menuju kamar mandi.
Mengetuk pelan pintu itu, takut Keenan ada di dalam. Akan tetapi, sudah berulang kali ia mengetuk, tetap tidak ada jawaban dari dalam.
Perlahan Riska mulai membuka pintu kamar mandi, hingga dia kembali dibuat bingung karena tidak ada Keenan di sana.
"Ke mana dia?" tanya Riska, dia memilih untuk mandi terlebih dulu, dan melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim, sebelum mencari keberadaan sang suami.
Selesai dengan semua rutinitas pagi harinya. Riska berjalan ke luar kamar, dia mengedarkan pandangan pada seluruh ruangan yang ada di sana, mencari keberadaan sang suami.
Namun, sudah berkeliling unit apa teman milik Keenan, dia belum juga menemukan keberadaan lelaki itu.
"Apa dia ada di ruang kerja?" gumamnya, melihat pintu ruang kerja Keenan yang masih tertutup rapat.
Dia mengernyit dalam, karena setelah menikah dengan Keenan, dia tidak pernah mendapati suaminya berada di sana sepagi ini.
Berdiri di depan pintu ruang kerja, dengan perasaan bingung, mau mengetuk atau langsung membuka pintu. Berkali-kali tangannya terulur hendak menyentuh pintu di depannya. Akan tetapi, berulang kali juga dia menariknya kembali.
Menghembuskan napas panjang, setelah dia menemukan keputusan dan hendak menyentuh handle pintu.
Cklek.
Pintu terbuka perlahan, Riska mengedarkan pandangannya menyusuri ruangan yang tampak gelap dan sepi, seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya.
Masuk dengan sangat hati-hati, hingga matanya melebar saat melihat sang suami tertidur di kursi dengan keadaan yang berantakan.
"Dia tidur di sini?" gumam Riska, sambil berjalan menghampiri Keenan.
"Abang," Riska mengusap pundak Keenan, mencoba membangunkannya. Akan tetapi belum ada pergerakan dari suaminya itu.
"Abang!" panggil Riska pelan, hingga akhirnya Keenan terlihat terusik.
"Luna!" gumam Keenan seraya menegakkan tubuhnya dengan mta berusaha terbuka.
Riska mengernyit saat mendengar gumaman dari suaminya itu, dalam hati dia bertanya tentang nama yang baru saja disebutkan oleh Keenan secara tidak sengaja.
Walau dengan sekejap mata, dia merubah kembali raut wajahnya, dan bersikap biasa saja pada Keenan.
"Sudah subuh, Bang," ujar Riska, begitu melihat Keenan sudah mulai mengerjapkan mata.
__ADS_1
Keenan menggeliatkan tubuhnya yang terasa pegal, sambil mengedarkan pandangannya pada sekitarnya.
'Astaga, aku ketiduran di sini' gumam hati Keenan, saat menyadari keberadaannya.
"Maaf, Ris. Tadi malam aku ada pekerjaan," ujar Keenan, berusaha memberikan penjelasan pada sang istri.
"Heem," gumam Riska sebagai jawaban. Dia sempat melirik meja kerja Keenan sebelum pergi keluar terlebih dahulu dari ruang kerja, meninggalkan Keenan sendiri.
Keenan menatap punggung Riska, yang semakin menjauh dari pandangannya dan perlahan menghilang saat berbelok menuju kamar mereka.
Perlahan dia beranjak dari kursi, melangkah keluar dari ruang kerjanya dengan tubuh yang terasa sakit di beberapa bagian.
"Abang mandi aja dulu, aku diapain buat sholatnya," ujar Riska sambil menyiapkan peralatan sholat untuk Keenan.
Keenan menatap Riska dengan tatapan yang rumit, lalu melanjutkan langkahnya menuju ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, Keenan keluar dari kamar mandi, dia menghembuskan napas kasar, saat melihat kamarnya sudah kosong.
Tak terlihat lagi keberadaan Riska di sana. Keenan menatap nanar, perlengkapan sholat dirinya yang sudah siap tak jauh dari tempatnya berdiri.
Sejak menikah dengan Riska, ibadahnya kini terasa lebih rajin dari sebelumnya. Riska selalu memperhatiakan ibadahnya, hingga menyiapkan semua keperluannya.
Di sisi lain, Riska sudah mulai menyiapkan sarapan untuk mereka berdua, dengan dada terasa sesak entah kenapa.
"Kenapa rasanya sakit?" gumam Riska sambil mendongakkan kepalanya, menahan desakkan air mata.
"Untuk apa dia menjelaskan, kalau ternyata itu adalah suatu kebohongan?" gumam Riska.
Matanya mulai memerah, dengan dada yang semakin terasa sesak.
"Heh! Jelas-jelas tidak ada berkas atau tanda-tanda bekas bekerja di sana," imbuhnya lagi, dengan tawa miris.
Berulang kali dia berusaha menyangkal semua rasa, walau akhirnya, dia tak sanggup menahannya.
"Sadar, Ris ... kalian menikah bukan karena cinta, jadi wajar jika dia memiliki perempuan lain di luar sana," ujarnya, menepuk dada berulang kali, berusaha menghilanhkah sesak.
"Kamu begitu tidak pantas, untuk bersanding dengannya. Kalau saja tidak ada kejadian itu, sampai saat ini kamu tidak akan pernah berada di posisi ini!"
Menghibur dirinya dengan kata-kata sendiri, walau yang terjadi kemudian, malah semakin menambah luka di dalam hati.
Tangannya mengambil sesuatu yang ia simpan di dalam saku celana, sebuah foto yang ia temukan tergeletak di dekat kakinya, sesaat sebelum membangunkan Keenan.
"Apa dia yang bernama Luna? Memang pantas Abang mencintai perempuan ini. Dia begitu cantik dan anggun, aku bahkan tidak ada seujung kukunya, bila dibandingkan dengan dia," ujar Riska.
"Masak apa?"
Suara Keenan di belakangnya, membuat Riska terperanjat, dengan cepat ia menyembunyikan kembali foto itu di saku celananya.
Menoleh ke belakang dengan senyuman yang berusaha di kembangkan.
__ADS_1
"Masak sarapan. Abang, mau kopi?" tanya Riska.
Keenan meneruskan langkahnya, ia memeluk Riska dari belakang, dengan dagu di simpan di atas bahu.
"Boleh bikinin aku wedang jahe saja? Sepertinya aku kurang enak badan," keluh Keenan.
"Abang kenapa? Sakit?" tanya Riska, berusaha melihat wajah Keenan.
"Sedikit, kepalaku terasa berdenyut, mungkin karena semalam tidur dengan tidak benar," ujar Keenan, sambil menduselkan wajahnya pada ceruk leher Riska.
"Ya udah, Abang, duduk dulu, biar aku buatkan sedang jahenya dulu," ujar Riska.
"Tapi, aku mau seperti ini." Keenan malah semakin mengerahkan pelukannya. Hidungnya menghirup dalam aroma wangi tubuh istrinya, dalam.
"Abang, gimana aku mau bikin wedang jahe, kalau buat bergerak aja susah begini?" ujar Riska, mematikan kompor di depannya karena dirinya susah bergerak.
"Abang istirahat saja di kamar, biar nanti aku bawa wedang jahenya sekalian dengan sarapan ke kamar," ujar Riska.
"Sebentar lagi, biarkan seperti ini sebentar lagi," gumam Keenan, memjamkan mata, menikmati kehangatan dan rasa nyaman yang ia dapatkan dari sang istri.
Riska mengendurkan pelukan Keenan, lalu berbalik menghadap sang suami, menempelkan punggung tangan di dahi Keenan, untuk mengukur suhu.
Benar saja, tubuh suaminya terasa panas, dengan wajah yang sedikit pucat.
"Ayo, aku antar, Abang, ke kamar," ujar Riska, mengalungkan tangan di pinggang Keenan dan mengajaknya berjalan ke kamar.
Riska merebahkan tubuh Keenan di atas ranjang, dengan perlahan. Akan tetapi, beberapa saat kemudian suara pekikan Riska terdengar, saat tubuhnya ditarik oleh Keenan hingga terjatuh tepat di atas tubuh suaminya.
"Abang, ngapain sih?!" cebik Riska kesal.
"Temani aku," lirih Keenan, denga tangan memeluk tubuh sang istri.
"Tapi, Abang, sedang sakit," ujar Riska.
"Sebentar saja, temani aku. Aku mau berada di pelukanmu," mohon Keenan.
Riska menghembuskan napas panjang, lalu mengizinkan Keenan melakukan apa pun pada tubuhnya sesuai dia.
Tak ada adegan panas atau sentuhan penuh rayuan. Hanya pelukan hangat dengan belaian penuh kasih sayang yang begitu menenangkan, hingga perlahan Keenan terlelap di dalam kenyaman itu.
Kenyaman seorang istri, yang tampa sadar telah membuatnya begitu tergantung dengan keberadaan Riska di dalam hidupnya.
...🌿...
Sabar-sabar, ini baru sehari semalam loh, udah pada esmosi aja🤭
...🌿...
...Bersambung...
__ADS_1