Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.199 Baby Zain


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Ezra dan Keenan masuk dengan menenteng kantong plastik dengan isi berbagai macam menu sarapan dan makanan ringan.


Riska yang melihat kedatangan suami dan kakak iparnya, langsung beranjak dan mengambil alih kantong plastik dari tangan Keenan.


"Ini, aku belikan kamu bubur ayam," ujar Keenan saat Riska sudah ada di sampingnya.


Riska mengangguk, dia kemudian menyimpan kantong plastik itu di atas meja dan beranjak menuju kamar mandi untuk mencuci tangan dulu.


Keenan memilih duduk di samping ibunya, sambil melihat keponakan barunya itu.


"Papah, liat ada dede bayi," ujar Naura, begitu antusias, seakan dia yang pertama kali tahu tentang kelahiran adiknya itu.


Ezra tersenyum, dia duduk di samping Ayu sambil membawa Naura ke pangkuannya.


"Naura, senang sudah punya adik ya?" tanya Ezra sambil mengusap puncak kepala anak perempuannya.


"Iya, Rara senang sekali. Nanti adek bayinya bisa Rara ajak main gak, Pah?" tanya Naura, dengan mata yang berbinar.


Ezra terkekeh, dia melirik pada Ayu dan Nawang yang sedang tersenyum, melihat tingkah lucu Naura.


"Tentu saja bisa. Tapi, nanti kalau dedek bayinya sudah bangun," ujar Ezra.


"Sayang, aku sudah bawakan susu kedelai, kamu mau minum sekarang atau nanti saja?" tanya Ezra.


"Sekarang juga boleh, biar aku bawa gelasnya dulu," ujar Ayu, sambil beranjak hendak berdiri. Akan tetapi, pergerakannya langsung dihentikan oleh Ezra.


"Kamu tunggu di sini, biar aku yang ambilkan," ujar Ezra pada Ayu.


"Ayo, sayang, kita ambilkan gelas buat Mama," ajak Ezra pada Naura yang langsung diangguki oleh anaknya itu.


Keduanya pun langsung beranjak untuk mengambil peralatan makan yang terdapat di sudut ruangan.


Ezra menyiapkan susu kedelai untuk Ayu dan beberapa makanan ringan sebagai pendampingnya.


"Zra, kamu sudah menyiapkan nama untuk cucu mama yang ganteng ini?" tanya Nawang.

__ADS_1


Ezra mengalihakan pandanganya sekilas kepada sang ibu sebelum dia menjawab pertanyaan itu.


"Sudah, Mah. Kita berdua sudah sepakat sebelum Nindi melahirkan," jawab Ezra.


"Siapa namanya, Pah?" tanya Naura tidak sabar.


Ezra melihat sekilas pada Ayu seakan meminta persetujuan sebelum menyebutkan nama dari anaknya itu.


"Zeindra Rayhan Darmendra," jawab Ezra.


"Wah bagus banget, aku mau panggil, baby Zein!" ujar Naura dengan penuh semangat, gadis kecil itu kemudian berjalan menghampiri Nawang dan adik barunya.


"Wah, kakanya langsung kasih nama panggilan buat adiknya," ujar Nawang, menatap Ezra dan Ayu secara bergantian, memberi kode agar mereka berdua menyetujui panggilan yang dibuat secara spontan oleh Naura.


Ezra dan Ayu serempak mengangguk samar, mereka juga setuju dengan apa yang dikatakan oleh Naura.


"Jadi mulai sekarang kita panggil Baby Zain?" tanya Keenan, ikut memastikan.


"Iya, seperti yang Naura panggil tadi. Iya, 'kan, sayang?" tanya Ezra, sambil berjalan menghampiri Ayu dengan membawa gelas berisi susu kedelai dan camilan yang ia siapkan.


"Iya," angguk Ayu, sambil tersenyum.


Naura yang mendengar itu semua ikut tersenyum senang, dia merasa bangga karena nama panggilan yang ia buat untuk sang adik, ternyata disetujui oleh kedua orang tuanya.


Keenan dan Riska yang harus kembali bekerja menggantikan Ayu dan Ezra, pamit pulang terlebih dahulu.


"Mah, aku sama Riska mau pamit pulang dulu," ujar Keenan seraya berdiri dri tempat duduknya,


"Kamu sudah mau ke kantor, Ken?" tanya Nawang, mengalihkan pandangannya dari dua cucunya.


"Iya, Mah. Riska juga harus buka butik, gak enak kalau tiba-tiba butik tutup, apa lagi ada beberapa janji dengan klien yang harus ditepati hari ini," jelas Keenan.


Nawang mengangguk, dia mengerti kesibukan sepasang suami istri yang masing-masing harus bekerja, karena menggantikan Ayu dan Ezra.


Setelah mendapat persetujuan dari Nawang dan berpamitan kepada semua orang yang ada di sana, Keenan dan Riska pun keluar dari kamar rawat inap Ayu bersama-sama.


Keenan terus menggenggam tangan Riska, sepanjang mereka berjalan di koridor rumah sakit, bahkan di dalam lift pun lelaki itu tak juga melepaskan tangan istrinya.


Ada rasa hangat dan bahagia yang menyelimuti hati Riska saat ini, mendapati semua perlakuan lembut dari Keenan.


Walau dia juga belum mendapat kejelasan dan ungkapan pasti tentang perasaan Keenan terhadapnya.

__ADS_1


Perbincangannya dengan Ayu beberapa waktu yang lalu, cukup membuat hatinya merasa sedikit lega, dia juga sudah memutuskan untuk berbicara pada Keenan baik-baik, terlebih dahulu, sebelum mengambil keputusan.


"Ris, kamu mau langsung aku antar ke butik atau kita ke apartemen dulu?" tanya Keenan, saat keduanya sudah berada di dalam mobil.


"Ke apartemen dulu aja, Bang. Aku mau ganti baju, sama ada beberapa barang yang harus aku bawa ke butik," jawab Riska.


Keenan mengangguk, dia kemudian mulai mengemudiakn mobilnya keluar dari area rumah sakit.


Sepanjang perjalanan sepasang suami istri itu hanya terdiam, dengan pikirannya masing-masing.


Riska berpikir, bagaimana caranya memulai pembicaraan tentang perempuan yang ada di dalam foto, sedangkan Keenan, berpikir apakah dia harus mengungkapkan perasaannya pada Riska dan menceritakan semuanya tentang Luna.


Suasana itu ternyata bertahan, sampai mobil Keenan sudah sampai di parkiran apartemen tempat mereka tinggal, Riska turun lebih dulu, sedangkan Keenan menyusul kemudian.


Sampai di dalam, Riska langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, sedangkan Keenan memilih untuk merebahkan dirinya di atas sofa yang berada di kamar mereka.


Ternyata tubuhnya lelah juga, setelah dua malam ini, tidak tidur dengan benar. Kalau saja hari ini tidak ada pertemuan penting, mungkin dia akan memilih untuk tidur bersama Riska dan bekerja dari rumah saja.


Menutup mata dengan salah satu tangan dia letakan di atas kening, hembusan napas lelah pun terdengar berulang kali.


Sayang sekali, semua itu hanya menjadi angan saja saat ini. Dia tidak bisa bertindak egois, saat ini dirinya masih menjadi asisten Ezra, sampai kakaknya itu mendapatkan pengganti dirinya.


Ya, sebenarnya beberpa hari yang lalu, Ezra sudah memberi pengumuman untuk mencari asisten baru untuknya di bengkel. Kakaknya itu menyuruh Keenan untuk lebih fokus pada perusahaan keluarga, agar saat Garry pensiun dia sudah bisa mengerti semua keadaan perusahaan itu.


Hanya saja, sampai sekarang belum ada pelamar yang membuat Ezra merasa cocok dan menyetujui lamaran itu. Apa lagi syarat utamanya adalah harus seorang laki-laki.


Masih ingat bukan, kalau suami dari Ayu itu memiliki alergi pada makhluk yang bernama perempuan, kecuali pada dua bidadari hatinya dan ibunya tentunya.


Keenan membuka mata saat suara pintu kamar mandi terbuka. Dia bisa melihat Riska yang seperti sedang mengintip keluar.


'Kenapa dia?' tanyanya dalam hati sambil sedikit mengangkat kepalanya.


"Ada apa, Ris? Kenapa kamu gak keluar?" tanya Keenan, sambil beranjak duduk di atas sofa.


Riska meringis saat mendapati suaminya ternyata berada di dalam kamar. Mau bicara jujur, dia merasa malu. Akan tetapi, kalau tidak bicara, dia juga tidak bisa keluar dari kamar mandi dengan keadaan seperti sekarang ini.


'Ya ampun, giamana ini? Riska, kenapa kamu bodoh banget sih?' runtuk Riska pada dirinya sendiri.


...🌿...


...🌿...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2