Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.62 Lelaki misterius


__ADS_3


...Happy Reading...


Satu minggu sudah Ayu berada di kampung, Ezra diam-diam selalu menanyakan kabar Ayu di vila, melalui Mang Surip.


Sebenarnya Ayu merasakan ada hal janggal di sini, di merasa ada seseorang yang sedang mengawasi dirinya.


Namun, saat dia mencari tau, ia tidak mendapatkan petunjuk apapun.


Sudah tiga hari ini, Ayu merasakan, seperti ada yang selalu mengikutinya. Bahkan saat ia berada di vila, dia merasa ada yang sedang mengawasinya dari luar.


Ayu sempat melihat beberapa kali seorang lelaki yang terlihat mencurigakan, berada di sekitarnya.


Ayu sudah meminta bantuan Mang Surip dan Bi Een, untuk mencari tau pada warga sekitar.


Ternyata memang ada penyewa vila baru yang baru saja datang, sehari setelah Ayu dan Ezra datang dan belum kembali sampai saat ini.


"Ada penyewa vila yang juga belum pulang, Neng. Dia seorang laki-laki."


Penuturan Mang Surip waktu itu, membuat Ayu cukup yakin dengan perasaannya, kalau dia sedang di awali oleh seseorang.


Kondisi tidak nyaman ini, membuat Ayu akhirnya memutuskan untuk menghubungi Ansel.


Meminta sang kakak menjemput Ayu secepatnya.


Pagi ini, rencananya Ansel akan menjemput Ayu setelah Shalat Subuh.


Setelah mendengar permintaan Ayu semalam, dirinya langsung berbicara pada Elelna dan bergegas mencari tau letak vila dari Ezra.


Benar memang perkiraan Ezra waktu itu, Ayu tidak akan menghubunginya jika dia sudah ingin kembali, melainkan langsung kepada Ansel.


Pukul lima pagi Ezra dan Ansel berangkat menuju vila, untuk menjemput Ayu.


Di vila, pagi ini Ayu sedang duduk di teras belakang, seperti sudah menjadi kebiasaannya untuk menikmati pagi di sana, seorang diri.


Apa lagi sekarang dia memang sedang sendiri di vila, karena Mang Surip dan Bi Een sedang takziah pada salah satu tetangga mereka yang meninggal tadi malam.


Secangkir teh pun tak pernah absen menghangatkan pagi wanita cantik itu.


Ayu menghembuskan napas kasar, saat kembali mengingat semua masalah yang akan dia hadapi di kota.


Menegakkan tubuhnya, dengan tatapan menerawang. Entah apa yang saat ini dia pikirkan, hanya dialah yang tau.


Tok ... tok ... tok ....


Suara ketukan di pintu menyadarkan lamunan Ayu, melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Ini baru jam tujuh, mana mungkin kakak sudah datang?" gumam Ayu pelan.


Dirinya beranjak berjalan menuju pintu depan lewat halaman rumah, melangkah dengan sedikit waspada dan siaga.


"Eh, Nina ... kenapa ke sini?" Ayu bernapas lega, ketika ternyata yang ada di depan vila adalah Nina, seorang anak kecil yang suka membantu Bi Een.

__ADS_1


"Ini dari Bi Een, Teh. Katanya teteh, mau masak buat kakak, Teteh," ucap Nina, mengulirkan kantong plastik berisi sayuran pada Ayu.


"Wah ... terima kasih ya, Nin."


"Sama-sama, Teh." jawab Nina.


Tak lama kemudian anak berusia sembilan tahun itu pamit, karena sudah di tunggu temannya berangkat ke sekolah.


Ayu juga sempat memberikan uang jajan untuk Nini dan semua teman-temannya. Tentu mereka sangat senang, dan pergi ke sekolah dengan riang gembira.


Ayu melangkah untuk kembali untuk kembali ke belakang vila, setelah melihat semua anak-anak itu pergi dan menjauh dari sana.


"Jadi kangen sama Naura dan Bian," gumam Ayu di sela langkahnya, menyunggingkan senyum mengingat dua anak kecil itu.


Grep ....


"Eummm."


Ayu langsung berontak, saat seseorang tiba-tiba membekapnya dengan kain yang sudah di semprotkan obat bius sebelumnya, dari belakang.


Berkat gerakan bela dirinya Ayu bisa melepaskan diri, dari kungkungan lelaki yang memakai masker berwarna hitam itu.


Namun karena sudah ada obat yang terhirup olehnya, membuat Ayu merasakan pusing dengan kesadaran yang sedikit melemah.


"Siapa kamu?" tanya Ayu, mundur menjauh dari jangkauan lelaki itu, dengan tubuh reflek memang kuda-kuda.


Kewaspadaannya meningkat tinggi, Ayu berusaha untuk tetap sadar.


"Kamu tidak perlu tau siapa aku," ucap Lelaki itu sebelum, satu tendangan dia layangkan pada Ayu.


Bukh ....


Ayu terus menghindar dan menangis setiap serangan itu. Tetepi, karena kesadarannya mulai terus menurun, satu pukulan di perut dan juga rahangnya berhasil tak dapat ia tahan.


Bukh ....


Ayu terpental, dan jatuh terduduk ke belakang. Rasa asin bercampur amis mulai memenuhi lidahnya.


Sepertinya ada cedera di dalam mulutnya, sehingga mengeluarkan darah.


Perut dan rahannya terasa berdenyut hebat, pukulan itu sangat kuat dan tidak main-main.


'Siapa sebenarnya orang ini' gumam Ayu dalam hati.


Dengan cepat berdiri kembali dengan di iringi tatapan remeh dari lelaki itu.


Pergerakan lelaki itu, yang terlihat sudah sangat terlatih dan begitu cepat, sangat menyulitkan Ayu untuk terus bertahan, bahkan memasukan serangan balik terasa tidak mungkin.


"Mau apa kamu sebenarnya?! Aku tidak punya urusan dengan kamu?"


"Kau memang tidak punya urusan denganku, tapi kau punya urusan dengan orang yang membayarku," jawab lelaki itu.


Ayu membolakan matanya, berpikir siapa kira-kira orang yang bisa melakukan hal seperti ini.

__ADS_1


Di lain tempat seorang laki-laki lainnya, tengah mencari keberadaan Mang Surip, dengan keadaan napas memburu seperti setelah berlari.


"Mang, pulang sekarang, Neng Ayu sedang dalam bahaya?" ucapnya saat sudah berada di sisi orang yang di carinya.


"Apa maksud kamu, Din?" Mang surip bertanya, pada salah satu tetangganya itu.


"Aku tadi melihat ada orang yang sedang memperhatikan Neng Ayu, saat Nina mengantarkan sayur." jelas lelaki yang bernama Udin.


Dia tadi baru saja pulang mengambil mirah kelapa untuk di jadikan gula, dan saat melintasi vila, dia melihat ada seorang lelaki yang memakai masker, sedang bersembunyi di balik pohon, sedang memperhatikan Ayu.


Dengan tergesa-gesa Mang Surip, Bi Een dan Udin berjalan ke arah vila.


Untung saja, pemakaman jenazah sudah hampir selesai, jadi mereka pamit pulang terlebih dahulu.


Di lain tempat, Kesadaran Ayu sudah hampir menghilang, seluruh tubuhnya sakit karena banyaknya pukulan yang ia terima.


Tubuhnya sudah tergeletak tidak berdaya, dengan berbagai luka.


Lelaki itu berjongkok di samping wajah Ayu, sunggingan senyum itu terlihat samar dari balik masker hitam yang di pakainya.


"Ilmu bela dirimu cukup bagus, pantas saja dia menyuruhku untuk memberimu obat bius." ucapnya, memandang seluruh tubuh Ayu yang penuh luka. Mengambil gambar menggunakan ponselnya, untuk di jadikan bukti.


Dirinya pun beberapa kali mendapat serangan dari wanita di hadapannya itu.


"Ini semua akibat dari kedatanganmu kembali," ucapnya, sebelum berbalik dan berlalu meninggalkan Ayu yang sudah tak sadarkan diri.


Beberapa saat kemudian Mang Surip, Bi Een dan Udin sampai di vila.


Mereka terkejut melihat Ayu yang sudah tergeletak tak sadarkan diri.


"Astagfirullah! Neng, bangun, Neng ... Neng Ayu kenapa?!" Bi Een langsung duduk di samping Ayu, pahanya di jadikan bantalan untuk kepala Ayu.


"Kang, tolongin atuh, bawa Neng Ayu ke rumah sakit?" ucap Bi Een dengan derai air mata yang sudah membasahi pipinya.


Mang Surip langsung berlari menuju rumah pak RT yang mempunyai sebuah mobil untuk membawa Ayu ke rumah sakit.


"Sebaiknya kita ke puskesmas saja dulu untuk memberikan pertolongan pertama?" ucap Pak RT setelah melihat kondisi Ayu yang cukup parah.


Jarak dari desa ke rumah sakit cukup jauh, butuh waktu sekitar empat puluh lima menit sampai satu jam untuk ke rumah sakit.


"Iya, ayo! Kemana saja yang penting Neng Ayu cepat di periksa!" Bi Een tampak sangat panik.


"Sabar, Bu. Neng Ayu pasti baik-baik saja," Mang Surip berusaha untuk menghibur istrinya itu, walau dalam hati dia juga sangat khawatir saat ini.


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...


Sampai sini dulu ya😁


Terima kasih yang sudah memberi dukungannya, senengnya liat banyak yang kasih vote dan hadiah🙏🥰🥰

__ADS_1


Sayang kalian semua❤❤❤❤


__ADS_2