Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.242 Kesempurnaan


__ADS_3


...Happy Reading...


...โค๏ธ...


Ayu mengalihkan perhatiannya pada seseorang yang sejak tadi berdiri di belakang Mala, dia tersenyum samar, sebelum menatap Mala kembali.


"Kalian?" tanya Ayu, menatap keduanya bergantian.


Mala tersenyum haru.


"Sekarang kami berteman. Iya kan, Mas?" ujar Mala.


"Iya, Ay," jawab laki-laki yang tak lain adalah Radit.


Ayu tersenyum cerah, dia kemudian menatap Mala dan Radit bergantian. Hatinya senang saat melihat tak ada lagi kebencian di antara kedua masalalunya itu.


Flashback


Setelah Radit menemui Ayu beberapa bulan lalu, dia terus memikirkan perkataan wanita itu.


Dia pun mencoba untuk berdamai dengan masa lalu dan menatap masa depan.


Memaafkan kesalahan dirinya sendiri dan menjadikannya pelajaran. Kembali fokus pada karir dan kesehatan sang ibu.


Dia pun menemui Ezra, untuk langkah awal. Dia ingin meminta maaf dan berteman dengan suami dari mantan istrinya itu.


Saat itu dia pergi ke kantor Ezra, tanpa disangka laki-laki itu menerimanya dengan baik.


Walau awalnya Keenan sedikit tak suka padanya.


"Ada perlu apa, Anda, datang ke sini?" tanya Keenan, saat melihat Radit ada di lobi kantor kakaknya.


"Aku ingin bertemu dengan Ezra. Apa dia ada?" ujar Radit.


"Tunggu sebentar, aku lihat dulu." Keenan kembali berjalan menuju lantai dua.


Keenan yang saat itu baru saja masuk kerja, setelah pernikahan dadakannya dengan Riska, merasa kesal kembali karena kedatangan Radit.


"Kak," panggil Keenan, begitu dia sampai di ruang kerja kakaknya.


Ezra yang masih sibuk dengan laptop dan beberapa berkas di depannya, mengangkat kepalanya untuk melihat sang adik.


"Ada apa? bukannya tadi kamu bilang mau makan siang?" tanya Ezra.


"Ada tamu yang mau bertemu dengan, Kakak," jawab Keenan.


Ezra mengernyit, dia merasa tidak memiliki janji temu dengan siapa pun hari ini.


"Siapa?" tanyanya sambil kembali melihat berkas di tangannya.


"Radit."


Ezra langsung mengangkat kepalnya lagi, menatap adiknya dengan penuh tanya.


Namun, sedetik kemudian, senyum tipis pun terbit di wajahnya.


"Suruh dia masuk," perintahnya pada sang adik.


Keenan pun akhirnya menghubungi resepsionis dan untuk mengantarkan Radit naik ke atas.

__ADS_1


Tak menunggu lama, resepsionis tadi sudah datang, bersama Radit di belakangnya.


Keenan yang menunggu di depan pintu ruangan Ezra, membawa Radit masuk.


"Ada perlu apa, Anda menemuiku?" tanya Ezra begitu mereka bertatap muka.


Radit duduk di depan Ezra, sedangkan Keenan sudah keluar dari ruangan itu.


"Beberapa hari yang lalu aku menemui istri Anda," ujar Radit.


Ezra tersenyum samar, dia menatap tajam mantan suami Ayu itu.


"Aku tau. Lalu?" tanya Ezra.


"Aku mau minta maaf karena tidak mengabari terlebih dahulu. Padahal saat ini Anda adalah suaminya," ujar Radit.


Ezra menyandarkan punggungnya, menatap Radit santai dengan senyum tipis.


"Itu semua keputusannya, aku tentu akan menghargai itu. Lalu apa yang harus dipermasalahkan?" tanya Ezra lagi.


Radit menatap Ezra dengan kening bertaut, dia tidak percaya kalau Ezra bisa menerima pertemuannya dengan Ayu begitu saja, tanpa ada emosi atau curiga sedikitpun.


Padahal dia bahkan sudah menyiapkan diri, bila mungkin harus mendapatkan pukulan dari laki-laki di depannya itu.


Namun, apa yang terjadi sekarang justru diluar ekspektasinya. Itu semua membuatnya semakin kagum dengan Ezra.


"Anda tidak marah?" tanya Radit, seakan ingin memastikan keadaannya saat ini.


"Untuk apa? Aku percaya pada istriku ... dia tau mana yang benar dan mana yang salah. Jika dia memutuskan untuk bertemu dengan Anda, itu berarti benar menurutnya."


Setelah pertemuan itu, mereka berdua pun memilih untuk berteman. Ezra pun menawarkan posisi yang cukup baik untuk Radit di salah satu bank milik temannya.


Ya, tentu saja itu disambut baik oleh Radit, walau dia ingin tetap menjalani proses sebagai pelamar pekerjaan seperti semestinya.


Dia sering menghubungi mantan istrinya itu, hanya untuk memberikan semangat atau sekedar teman mengobrol, di sela perawatan yang sedang dijalaninya.


Flashback off


Setelah mengobrol cukup lama dan para tamu mulai ada yang pamit pulang, Ayu mempersilahkan Radit dan perawat Mala untuk makan terlebih dahulu.


Sedangkan Mala yang masih dalam pengawasan dokter, tidak bisa makan sembarangan, sehingga dia memilih untuk tidak makan.


Ayu memutuskan untuk menemani Mala, saat Raditt dan perawat itu mengambil makanan.


"Sayang, sepertinya Zain haus." Ezra menyela perbincangan antara Ayu dan Mala, sambil membawa Zain yang mulai rewel.


"Iya, Mas. Kalau gitu aku kasih ASI dulu ya," ujar Ayu, dia pun akhirnya pamit, setelah Radit datang kembali.


Ezra mengantarkan Ayu untuk memberi ASI di kamar tamu bawah.


"Aku ke luar dulu ya, gak enak ... masih banyak tamu yang belum pulang," ujar Ezra, setelah dia memastikan kenyamanan istrinya.


"Iya, Mas." Ezra memberikan kecupan kilas di kening istrinya, sebelum melangkah pergi dari kamar itu.


Ayu melihat punggung suaminya dengan senyum mengembang, hatinya terus bersyukur karena sudah dipertemukan dengan seseorang seperti Ezra.


Sosok suami yang selalu berusaha untuk membuatnya trsenyum, dari hal kecil sampai hal yang tak terduga seperti saat ini.


Suami yang selalu mengutamakan dirinya tanpa perduli perkataan orang di luar sana. Suami yang selalu membelanya dan percaya sepenuhnya dengan keputusan yang dia ambil.


"Terima kasih, Mas. Aku mencintaimu," gumam Ayu, saat melihat Ezra tersenyum padanya sebelum menutup pintu.

__ADS_1


Entah mengapa dia merasakan rasa cintanya pada sang suami selalu bertambah setiap harinya.


Selesai memberi ASI untuk Zain, Ayu memanggil Bi Yati untuk menjaga Zain yang kini sudah tertidur.


"Bi, tolong jaga Zain dulu. Aku harus kembali ke luar," ujar Ayu yang langsung mendapatkan anggukkan kepala dari Bi Yati.


Ayu berjalan menuju ke tempat pesta, di sana sudah terlihat lengang. sebagian banyak tamu sudah pulang.


Saat ini yang tersisa hanya tinggal beberapa orang kerabat yang masih bercengkerama bersama.


Ayu mengedarkan pandangannya, melihat satu per satu orang yang masih ada di sana.


Ingatannya kembali berputar menuju saat dirinya kecil dan terpisah dari ayah juga kakanya. Disanalah awal perjalanan pahit kehidupannya.


Bertumbuh dewasa dengan hinaan dan belas kasih dari orang di sekitarnya. Berjuang melalui masa-masa sulit kehidupan tanpa ada satupun sandaran.


Hingga dia menemukan sosok seseorang yang dia harapkan akan menjadi sandaran hidupnya dan menjalani masa susah dan bahagia bersama.


Namun, ternyata itu semua juga harus kandas dan menghancurkannya kembali dengan pengkhianatan orang-orang yang ia cintai.


Membuatnya kembali terpuruk lebih dalam lagi. Ditambah dengan pertemuannya dengan masa keluarga yang telah lama menghilang dari kehidupannya.


Perjuangan untuk bangkit dan percaya lagi sangat tidak mudah saat itu. Namun, bukankah Tuhan selalu memberikan pertolongannya.


Ya, di saat ia terpuruk dan tak tau arah jalan, Tuhan mendatangkan sosok yang selalu ada dan melindunginya.


Sekaligus sosok penghibur yang selalu membuatnya melupakan sedikit rasa sakit di dalam hatinya.


Ezra dan Naura. Dua sosok itu hadir, bagaikan cahanya di saat dirinya berada di dalam kegelapan tanpa tau arah jalan keluar.


Membawa bahagia dalam badai yang bahkan masih terus menerpa dirinya. Mengembalikan rasa percaya dan meyakinkan untuk kembali bersandar pada seseorang.


Memberikannya hidup, di saat dirinya hampir saja mati oleh semua kesakitan dan luka tak kasat mata di dalam jiwanya.


Kini dia sudah bisa berdamai seutuhnya, membuka lembaran baru dengan keluarga yang mencintai dan sangat dicintainya.


Kebahagiaan itu bukanlah suatu impian lagi untuknya. Semua itu kini telah nyata berada di depan matanya.


Kesabaran dan ketabahannya, kini membuat doa yang selalu ia panjatkan bisa ia dapatkan.


"Sayang, ayo kita bergabung di sana." Ezra datang, membuyarkan semua lamuanannya. Merangkulnya sambil mengarahkan pada keluarga yang berkumpul di sisi lain ruangan.


Ayu tersenyum kemudian mengangguk.


"Terima kasih, Mas. Hidupku kini sempurna karena adanya dirimu, Naura dan Zain di sampingku. Aku tak ingin apa-apa lagi, selain kalian semua," ujarnya lirih.


Ezra menghentikan langkahnya, dia menatap Ayu dengan senyum lembutnya.


"Kamu adalah kesempurnaanku yang sesungguhnya, sayang," jawab Ezra, sambil mengecup kilas kening istrinya.


...๐ŸŒฟ...


Kisah Ayu dan Ezra aku hentikan sampai di sini ya. Selanjutnya aku akan fokus pada Keenan dan Riska. Walaupun pasti masih ada Ayu dan Ezra, akan tetapi tak akan menjadi fokus utama.


Terima kasih yang sudah mengikuti kisah mereka sampai saat ini๐Ÿ™ Lope-lope sekebon untuk kalian semua.


...๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜โค๏ธโค๏ธโค๏ธ...


...๐ŸŒฟ...


...Bersambung...

__ADS_1


Mampir si karya teman literatur aku juga ya๐Ÿ˜Š



__ADS_2