Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab. 148 Ijab Kabul


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Ayu dan Ezra akhirnya sampai di balai warga tempat Keenan dan Riska berada. Keenan langsung menghampiri, begitu melihat motor yang dikendarai kakaknya itu.


"Kak," panggil Keenan.


"Kamu gak apa-apa? Di mana Riska?" tanya Ayu begitu Keenan ada di depannya.


"Riska sudah di bawa ke salah atu rumah warga, katanya mau dipakaiakan pakaian untuk ijab kabul," jawab Keenan.


Hari memang sudah mulai siang saat Ayu dan Ezra sampai di lokasi, hingga sekarang Riska sudah disiapkan.


'Apa mereka sudah biasa menghadapi pernikahan dadakan seperti ini? Kenapa terlihat seperti sudah disiapkan sejak jauh-jauh hari ya?' gumam hati Ayu, melirik sekilas Ezra yang kini sedang berbicara dengan para warga.


Saat ini Ayu sedang duduk di dalam pendopo, yang sudah di siapkan untuk acara pernikahan dadakan antara Keenan dan Riska. Sedangkan Ezra sedang berbincang dengan para tetua dan warga lainnya di bagian pendopo lainnya.


Sedang asyik dengan pemikirannya sediri, terlihat dua motor datang lagi dengan pakaian formal khas penghulu dan petugas KUA. Kening Ayu semakin berkerut, melihat semua kesibukan warga yang dengan suka rela menyiapkan pernikahan Keenan dan Riska.


"Bu, apa saya bisa bertemu dengan adik saya?" tanya Ayu saat melihat ada seorang wanita paruh baya melintas di depannya.


"Ini siapa, ya?" tanya ibu-ibu dengan baju gamis sederhana.


"Saya, istrinya laki-laki yang itu, kakaknya pemuda yang mau di nikahkan hari ini," jelas Ayu, menunjuk Ezra.


"Oh, tentu saja boleh. Mari saya antar," ajak wanita paruh baya itu, tersenyum ramah.


"Saya pamit dulu kepada suami saya ya, Bu." Ayu berkata sebelum beranjak dari duduknya, lalu berjalan menuju tempat Ezra saat ini berada.


"Mas, aku mau melihat Riska dulu ya, sama ibu itu," tunjuk Ayu pada ibu yang sedang menunggunya.

__ADS_1


Ezra mengalihkan pandangannya pada wanita paruh baya yang ditunjuk o;eh istrinya, mengenali wajah kemudian bertanya pada salah satu warga.


"Pak, itu siapa ya?" tanya Ezra.


"Oh, itu istri saya, Pak. Kenapa?" tanya Toto.


"Ah, tidak, saya hanya ingin tau, karena di mau pergi dengan istriku untuk menemui Riska," jawab Ezra, dia kemudian mengizinkan Ayu untuk pergi bersama istri Toto.


Para warga hanya saling pandnag, melihat sikap Ezra yang begitu menjaga istrinya, bahkan lebih terlihat posesif. Ada juga para wanita yang berbisik mengagumi ketampanan kakak beradik itu. Apa lagi dengan sikap lembut dan penuh perhatian Ezra pada Ayu, itu menambah nilai tambah bagi para wanita di sana.


Seperti biasa, Ezra hanya acuh, tak menghiraukan sama sekali semua perempuan di sana, dia hanya fokus pada masalah adiknya kali ini. Lagi pula, sebenarnya dia juga risih saat mendapatkan perhatian berlebihan dari par perempuan, apa lagi di tempat yang asing seperti di kampung ini.


Ayu berjalan beriringan dengan wanita paruh baya itu, ia sesekali bertanya tentang kampung yang terlihat masih asri, tanpa terjamah oleh dunia modern di luar sana.


"Sudah berapa bulan ini?" tanya ibu itu yang ternyata bernama Sarti.


"Sudah delapan bulan, Bu," jawab Ayu sambil mengelus perutnya.


"Wah, sudah besar ya. Semoga dilancarkan dalam menjalani proses kelahiran. ibu serta anaknya diberikan kesehatan.


Berjalan beberapa saat dengan jarak yang tidak terlalu jauh, dia sekarang sudah berada di sebuah rumah sederhana yang berada di bagian belakang kawasan pandopo itu.


"Mba Ayu," Riska yang ternyata sudah siap dengan pakaian adat khas warga setempat, menghambur memeluk Ayu dengan derai air mata.


"Sabar ya, Ris. Mungkin ini memang sudah takdir jodoh kamu, Keenan lelaki baik yang dipilihkan Tuhan untuk bersama denganmu. Mba harap, kamu bisa menerima semua ini ... semua keluarga sudah tau dan merestui kalian berdua, sekarang tinggal kamu dan Keenan yang harus menerima apa yang telah terjadi pada kalian berdua," ujar Ayu, setelah dia membiarkan Riska menumpahkan tangisnya di dalam pelukan. Kali ini keduanya sedang duduk di atas kursi kayu.


Ayu mengusap punggung asistennya itu, dia sudah mengenal Riska sejak gadis itu masih remaja, Ayu tahu betul kalau Riska adalah gadis yang baik. Tulang punggung keluarga yang berani meninggalkan mas mudanya agar bisa membantu sang ibu untuk mencari uang demi menyekolahkan Rio, adik satu-satunya.


Bekerja banting tulang bersama dengannya, Riska banyak berjasa dalam membantunya memajukan butik. Dia yang telah ikut berpartisipasi dalam segala kesusahan yang Ayu dapatkan dalam merintis usahanya itu.


"Terima kasih, Mba. Tapi, bagaimana dengan keluarga Bang Ken, apa mereka mau menerima aku yang seperti ini?" tanya Riska, menunduk dalam.


Sejak tadi hatinya gundah, dia tidak mau kalu sampai pernikahannya akan menimbulkan masalah bagi keluarga Keenan. Melihat dari sisi manapun dirinya tidak pantas, untuk menjadi pendamping seorang Keenan dan menatu untuk keluarga Darmendra.

__ADS_1


Ayu tersenyum, dia mengangkat wajah Riska dengan penuh kelembutan. Dia tahu apa yang dirasakan oleh Riska sekarang ini, karena dirinya sendiri pernah merasakannya, sebelum menerima lamaran Ezra.


"Kamu tahu kan bagaimana sifat kedua mertuaku? Mereka tidak pernah membedakan orang dari kastanya, sebab itu mereka juga menerimaku. Aku sudah bicara, mereka sudah menerima semua ini," ujar Ayu.


Riska hanya mengangguk dengan kepala menunduk dalam, sesegukan dari sisa tangis masih terdengar lirih.


Beberapa saat setelah kemudian Riska dibawa keluar dengan didampingi oleh Ayu langsung, untuk melakukan ijab kabul bersama dengan Keenan. Dapat Ayu rasakan bagaimana gugupnya gadis itu, tangan yang mengenggam erat lengan Ayu itu terasa begitu dingin dan bergetar. Di belakang mereka para wanita desa itu, mengikuti keduanya.


Ayu mengelus pelan, mencoba menenangkan gadis yang harus menikah secara paksa karena suatu keadaan. Riska menatap Ayu dengan mata yang masih berkaca-kaca, dia msih belum percaya dengan situasi yang terjadi kini. Ini semua seperti sebuah mimpi yang dia sendiri tak bisa mendeskripsikan itu adalah baik atau buruk untuk dirinya ke depannya.


Untuk saat ini Riska hanya bisa berharap kalau semua ini adalah sebuah awal kebaikan untuk dirinya. Mencoba berdamai dengan hati juga pikiran buruknya sendiri, kini dia hanya bisa menerima dan tak bisa mundur lagi.


'Ya Tuhan, jika ini adalah rencana darimu untuk hidupku, aku rela. Semoga semua ini memang yang terbaik untukku, keluargaku, dan hidupku kedepannya. Aku Ikhlas ... aku ikhlas,' gumam hati Riska.


Huffthh.


Hembusan napas berat berulang kali terdengar oleh Ayu dari gadis di sampingnya, saat langkah mereka semakin dekat menuju tempat acara, bahkan dari sini ia sudah bisa melihat sosok Ezra dan Keenan yang sudah bersiap di tengan-tengah pendopo.


Langkah Riska semakin terasa berat, pandangannya sudah sedikit kabur, terhalang oleh air mata yang bersiap untuk keluar lagi. Tak ada seorang gadis pun yang menginginkan pernikahan seperti ini. Tanpa keluarga, tanpa cinta, terlebih di daerah asing, juga bersama para orang asing. Itu juga yang Riska rasakan saat ini.


Tak ada kebahagiaan, tak ada senyum atau kata cinta yang mengiringi prosesi sakral bagi dua insan yang akan memulai untuk melangkah pada kehidupan yang selanjutnya, yang ada hanya kata terpaksa dan tanggung jawab. Entah bagaimana kehidupan dua orang muda-mudi itu setelah hari ini, tak ada yang tahu. Termasuk Riska den Keenan sendiri, mereka hanya melakukan apa yang sudah dirancang oleh Tuhan mereka.


Riska duduk di samping Keenan, Ayu memasangkan sebuah selendang berwarna putih pada kepala keduanya. Beberapa saat kemudian riuh ucapan kata SAH terdengar, membuat air mata di pelupuk mata Riska akhirnya tak sanggup lagi ia tahan.


Keenan menghembuskan napas berat, saat ujung matanya melihat bulir bening itu lolos dari gadis yang kini sudah beralih status menjadi istrinya.


Ini adalah sesuatu yang berat bagi keduanya, Keenan sadar itu. Dia pun tidak dalam keadaan baik-baik saja, hanya saja dia lebih bisa mengontrol perasaannya, hingga masih terlihat tenang, walau di dalam hati ia juga merasakan hal yang sama dengan Riska.


Lantunan doa yang di–Aminkan oleh semua orang yang hadir, terdengar sayup di telinga Riska, telinga terasa berdengung hingga akhirnya kegelapan merenggut kesadarannya.


...🌿...


Selamat menunaikan ibadah puasa untuk yang menjalankan, Happy weekend semuanya😘❤

__ADS_1


...🌿...


...Bersambung...


__ADS_2