Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Jealous


__ADS_3

"Kin, itu Revan datang."Ucap Lila yang melihatnya dari kejauhan.


"Ok, aku selesaikan laporan ku dulu. "Ucap Kinan masih sibuk dengan laporannya.


"Maaf dengan Ibu Kinan?"Ucap Revan dengan sopan.


"Iya saya."Ujar Kenan mengangkat kepalanya. "Van???"Ucap Kinan bangun dari duduknya membuat teman-temannya juga berdiri.


"Kinan....Jadi aku satu divisi denganmu?"Ujar Revan yang ternyata teman Kinan dulu. Kinan memanggilnya Ivan karena dia yang memintanya.


"Menurutmu? Kenapa kamu tidak bilang kalau pindah kemari?"Tanya Kinan memukul lengan Ivan.


"Aku belum sempat mengabari mu. Tadinya aku mau menelfon mu tapi takut mengganggu."Ujar Ivan menjelaskan.


"Aku tak menyangka, anak barunya adalah kau."Ujar Kinan lagi.


Kinan kenal dengan Revan? Bertambahlah sainganku. Kenapa mereka harus kenal coba....


Baru saja aku senang bisa bertemu pria sepertinya.. Tapi sekarang... ahsudahlah...-Batin Devi


"May ternyata dia teman kuliahku dulu, hanya beda fakultas."Ujar Kinan pada Maya


"Oh begitu, pantas saja sepertinya kalian saling mengenal. Ternyata dunia ini sempit ya."Ujar Maya.


"Ya begitulah, kita tidak bisa menduga-duga atas apa yang akan terjadi pada kita nantinya. Semoga kalian bisa berteman dengannya. Dia orang baik."Ujar Kinan pada teman-temannya. "Dan kau Haris, tenang saja aku akan membantumu."Ujar Kinan pada Haris.


Kinan teman kuliah dia dulu? Ko bisa? Apakah mereka saling menyimpan rasa satu sama lain? Sepertinya mereka sangat akrab daa kesempatan untuk aku mendekatinya semakin kecil.....-Batin Devi lagi.


"Kamu sepertinya sangat sibuk hari ini. Dan kau terlihat lebih cantik, tidak seperti dulu yang bodoamat dengan style." Ujar Ivan yang menyadari Kinan semakin cantik.


"Dulu aku lebih mementingkan otak Van. Dan kau sekarang juga berubah. Dulu kau selalu ugal-ugalan tapi ternyata bisa juga serapih ini."Ujar Kinan membuat Ivan tersipu malu.


"Karena tuntutan kerja Kin."Jawab Ivan.


"Bagaimana kalau kita makan diluar, anggap saja ini bentuk ucapan selamat datang untuk Revan."Ujar Maya.


"Boleh juga, tapi sebentar aku ijin dulu ya." Ucap Kinan.

__ADS_1


"Baiklah. Nanti kabari aku Kin."Ucap Maya.


•• *Mas, apakah aku boleh makan diluar dengan teman-teman? ••


•• Apakah ada yang sedang ulang tahun? ••


•• Tidak, kami hanya ingin memberikan ucapan selamat datang kepada Revan yang masuk ke divisi kami Mas. Apakah boleh? ••


•• Ya sudah, tapi kamu berangkat dengan mobil sendiri. Aku sudah menyiapkan sopir untukmu. ••


•• Baiklah. Terimakasih mas. ••


•• hmm* ••


"Teman-teman hari ini aku bisa ikut kalian makan-makan."Ujar Kinan.


"Ok, aku akan memesan meja dulu untuk kita."Ujar Lila.


Di ruang kerja Randy


"Sofi...."Randy memanggil Sofi.


"Iya Pak? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Sofi.


"Nanti Kinan akan makan malam bersama teman-temannya."Ujar Randy dengan cemas.


"Bapak tidak usah khawatir. Bukankah sudah ada sopir untuk Kinan yang bisa Bapak tugaskan untuk menjaganya?" Ujar Sofi yang tahu jika Pak Randy sedang khawatir tentang Kinan.


"Iya kamu benar. Kenapa aku tidak berpikir sampai kesitu."Ujar Randy.


"Baiklah, kalau begitu saya akan menghubungi Lia Pak." Ucap Bu Sofi.


"Siapa itu Lia?" Tanya Randy.


"Lia sopir pribadi Kinan Pak." Bu Sofi menjelaskan.


"Oh Baiklah. Katakan padanya jaga Kinan jangan sampai ada pria lain yang mendekatinya." Perintah Randy pada Bu Sofi.

__ADS_1


"Baik Pak, kalau begitu saya permisi dulu untuk menginstruksikan kepada Lia." Ujar Bu Sofi.


"Ok." jawab Randy.


Kenapa aku khawatir dan takut jika Kinan bersama pria lain? Atau mungkin karena aku takut jika nanti diam-diam Papah akan melihat Kinan saat sedang bersama pria lain dan tahu kalau aku hanya telah berbohong....-Batin Randy


•• Papah sudah mengatakan pada Erika dan Papahnya kalau kamu sudah memiliki calon isteri. Ada baiknya jika kalian segera bertunangan dan pernikahan kalian di percepat saja. ••


•• *Randy akan diskusi dulu dengan Kinan Pah. Biar bagaimanapun ini soal kami berdua. Jadi kami harus memikirkan bersama untuk kedepannya. ••


•• Ok Papah tunggu jawaban kalian. Papah harap lusa sudah ada jawaban. ••


•• Baik Pah*. ••


Sebelumnya...


"Bagaimana soal pernikahan anak kita?Bukankah kau sudah setuju?" Tanya Harun.


"Maaf Harun, tapi sepertinya Randy sudah memiliki calon isteri. Dan aku tidak mungkin memaksa Randy untuk menikah dengan Erika. Karena aku melihat ada kebahagiaan dari sorot matanya saat Randy sedang bersama kekasihnya." Ujar Ardhana menjelaskan dengan hati-hati agar tidak menyinggung perasaan sahabatnya.


"Apa kau tidak mau mengabulkan permintaanku Dhana? Kita sudah kenal sejak lama, aku pikir kau akan mengabulkan permintaanku. Suruh saja Randy untuk memutuskan wanita itu, dia tak ada apa-apanya dibandingkan dengan Erika putriku." Ujar Harus menyombongkan putrinya.


"Maaf Harun, kebahagiaan Randy lebih penting untukku. Dia sudah banyak membuktikan dengan membuat kami selalu bangga padanya dan aku yakin untuk masalah calon isteri dia juga bisa memilih sendiri." Ujar Ardhana lagi.


"Baiklah jika itu keputusanmu, secara tidak langsung kau sendiri yang telah merusak persahabatan kita. Aku sangat kecewa denganmu." Ujar Harun dengan kesal.


"Bukan begitu Harun, tapi aku tidak bisa mengorbanku kebahagiaan anakku demi persahabatan kita yang jelas-jelas tidak akan terpengaruh hanya karena masalah perjodohan. Kita masih bersahabat meskipun Randy menikah dengan wanita lain." Ujar Ardhana lagi.


"Tidak bisa. Aku tidak bisa menerimanya, selama ini putriku tidak pernah di tolak oleh siapapun. Dan kau yang sudah aku anggap seperti saudara malah menolak putriku. Mulai hari ini persahabatan kita cukup sampai disini. Aku tidak akan lagi mau kenal denganmu Dhana." Ucap Harun berdiri dari duduknya.


"Harun, bicarakan dengan baik-baik. Aku sudah menganggap Erika seperti putriku sendiri, tapi bukan berarti aku harus menikahkan dia dengan Randy. Karena aku bukan Tuhan yang bisa seenaknya menjodohkan begitu saja." Tegas Ardhana pada Harun.


"Perse*an dengan ucapanmu Dhana." Ujar Harun pergi meninggalkan Ardhana yang masih duduk dengan tenang.


Maafkan aku Harun, aku tidak bermaksud untuk itu. Aku hanya ingin membahagiakan putraku, semoga suatu saat kamu bisa menerimanya dan memahami bahwa perasaan tidak bisa di paksakan meski kita adalah orangtuanya. Karena anak kita juga berhak untuk memilih jalan hidupnya selagi itu positif dan tidak merugikan orang lain. Aku pikir kau tidak kami rugikan, apakah begini caramu mendidik Erika selama ini? Sampai kapan kamu akan terus menuruti kemauannya?-Batin Ardhan.


Ardhana masih terdiam di ruang kerjanya. Tak habis pikir Harun akan semarah ini, dan tidak ada angin dan hujan kenapa dia bisa semarah itu. Ardhana terus terngiang-ngiang setelah kepergian Harun dalam kondisi marah.

__ADS_1


__ADS_2