
"Besok kita ke makam Ibu sama Ayah ya," bisiknya padaku.
Aku tak mampu menjawabnya, dadaku seketika terasa sesak. Chandra terus memelukku dan mengusap kepalaku dengan lembut. Aku merasa beruntung, saat perasaan sedang kacau dia selalu ada dan tiba-tiba ada entah dari mana dia datangnya.
"Jangan menangis, ingat kata dokter. Ibu hamil tidak boleh sedih sampai berlarut-larut. Aku tidak mau kamu dan anak kita kenapa-kenapa," ucapnya mengecup keningku dengan lembut.
_________
"Sayang. Makasih," hanya itu yang mampu terucap dari bibirku.
"Sudah. Tenangkan dirimu. Besok kita ke makam ya. Minum dulu," ucapnya dengan sabar menyodorkan segelas air putih padaku.
Aku segera meneguknya sampai habis. Entahlah, kenapa tangisku bisa pecah begitu saja. Padahal aku sedang tidak bersedih, tapi saat aku melihat isi album foto itu rasanya campuraduk. Antara senang dan sedih bercampur menjadi satu.
"Udah tenang kan? Setelah nangis pasti kamu lapar. Ayo ikut aku," ajaknya padaku segera bangun dari duduknya dan menggandeng tanganku.
"Kemana? Makan malam juga masih 4 jam lagi," tanyaku masih enggan untuk bangun.
"Kamu akan tau nanti," ucapnya dengan senyum khasnya yang mampu membuatku terhipnotis. Tanpa banyak bertanya lagi aku segera mengikutinya.
Di Taman belakang rumah,
Jembatan kayu yang menghubungkan bangunan rumah dengan taman masih cukup basah. Hujan siang tadi cukup deras, hingga menyisakkan air bekas hujan bertahan lama di atas pepohonan.
Alina berjalan beriringan di sebelah kiri Chandra, menggandeng lengannya yang kokoh melewati jembatan kayu berukuran kecil. Gemericik air sungai buatan yang mengelilingi taman kecil disana terdengar cukup jelas.
Membuat suasana terasa seperti sedang di pedesaan. Apalagi gazebo taman yang sengaja di buat mirip seperti gubuk di tengah sawah. Ya, Chandra sengaja membuatnya khusus untuk isterinya yang sangatbmenyukai suasana pedesaan.
Di gazebo sudah tersaji beberapa kue basah, gorengan dan juga donat kesukaan Alina. Seketika senyumnya mereka melihat apa yang ada disana, air mata kembali mengalir tidak terlalu deras.
Kali ini bukan tangis kesedihan, melainkan tangis harus seorang isteri yang merasa sureprise atas apa yang di siapkan suaminya untuknya. Alina tak segan-segan memeluk suaminya dengan sangat erat.
__ADS_1
Ia membenamkan wajahnya di dada bidangnya, tangis isak kembali terdengar membuat Chandra cemas karenanya. Chandra segera menenangkan isterinya dan menghibur supaya tangisnya berhenti.
"Sayang, kenapa kamu menangis lagi? Apa aku sudah melakukan kesalahan? Apa kamu tidak suka dengan makanan yang aku beli? Ya sudah, nanti aku minta Mbok Jum beli yang lain. Kamu mau apa?" tanya Chandra masih memeluk isterinya.
"Siapa yang bilang tidak suka? Aku menyukainya," sahutnya masih terisak.
"Terus kenapa kamu nangis? Kelilipan?" tanyanya lagi.
"Aiishh! Sayang ... aku cuma menangis terharu. Makasih kamu udah siapin ini untukku," ujarnya berusaha menghapus air matanya.
"Haih! Aku kira kenapa. Harusnya kamu jangan menangis," ujarnya ikut menghapus air mata di wjaah isterinya.
"Aku juga tadinya tidak mau menangis, tapi air mataku sudah turun lebih dulu," ucapnya membuat Chandra gemas dengan tingkahnya.
"Hmm, begitu rupanya. Ya udah sekarang diam, atau anak kita akan ikut menangis di dalam," sahutnya dengan sabar.
"Hmm, sedang aku usahakan untuk diam. Tapi susah," jawabnya.
"Astaga! Sini aku cium dulu supaya bisa diam, cupp!!" mengecup kening isterinya cukup lama dan kembali memeluknya supaya lebih tenang.
...CHANDRA POV...
Melihatnya menangis, membuat hatiku seperti teriris. Rasanya biar aku saya yang merasakan sakit dan perih, biar isteriku tidak menangis dan terus tertawa seperti saat ini. Belum ada 5 menit dia tenang dari tangisnya, sekarang dia sudah tersenyum dan menikmati makanan yang aku beli tadi.
Mood nya cepat sekali berubah, aku tidak akan pernah membuatnya menangis. Aku tidak bisa melihatnya menangis seperti tadi, semoga aku bisa terus membahagiakannya.
Hujan masih turun meski tak sederas seperti tadi siang. Seolah tau suasana sedang mendung, semendung rasaku saat melihatnya bersedih.
Mami sudah banyak berpesan padaku, jika ibu hamil sangatlah sensitif, begitupun dengan mood yang seringkali berubah dalam hitungan detik sekalipun. Tapi baru kali ini dia seperti itu, meski membuatku bingunh tapi inilah moment yang tak akan terulang lagi.
Sementara itu,
__ADS_1
Waktu menunjukkan pukul 16.30 masih tersisa waktu 30 menit sebelum pulang. Vannya sudah kembali ke ruang kerjanya sejak satu jam yang lalu, karena harus menulis schedule untuk Pak Chandra besok siang.
Hari ini Pak Chandra pulang lebih awal, Vannya mengiyakan saja. Toh ini adalah Perusahaan milik keluarganya, begitu pikir Vannya. Untuk menghilangkan kejenuhan, Vannya duduk di dekat jendela.
Dimanapun ruang kerjanya, dekat jendela adalah spot favoritnya. Entah apa yang membuatnya berpikir demikian, menurutnya dia bisa melihat sekeliling dari jendela. Melihat hujan, burung beerbangan, dan masih banyak lagi yang menarik matanya.
Tak lama kemudian, terdengar sebuah dering dari ponsel miliknya yang ia letakkan di atas meja kerjanya. Dengan sigao Vannya segera berjalan cepat mendekati meja kerjanya untuk mekihat siapa yang menghubunginya.
"Hallo Kak? Ya, ada apa" tanya Vannya setelah menggeser tombol berwarna hijau pada layar ponsel.
"Aku di depwn ruang kerjamu, bolehkah aku masuk?" tanyanya membuat Vannya terlonjak kaget. Antara percaya dan tidak percaya, sejak kapan Vin ada di Perusahaannya.
Tanpa menjawab, Vannya membuka ponselnya membuka map untuk melihat posisi suaminya saat ini. Dan benar saja, lokasinya berada di Perusahaan tempatnya bekerja saat ini.
Vannya segera berlari kecil mendekati pintu untuk membukanya. Sebelum tangan menyentuh pintu, sudah di buka lebih dulu dari luar. Seulas senyum terlihat dari wajah pria berusia 25 tahun itu.
"Sejak kapan Kakak disitu?" tanya Vannya.
"Apa aku tidak di persilakan untuk duduk? Aku sudah berdiri di depan hampir 15 menit lamanya," ujarnya dengan cuek.
"Benarkah? Kenapa tidak langsung masuk saja? Ayo duduk," ujarnya mempersilakan.
"Makasih Sayang," sahutnya dengan sangat manis.
"Kakak belum menjawab pertanyaanku. Sejak kapan Kakak di sini?" tanya Vannya lagi.
"Aku berdiri di depan hampir 15 menit, dari parkiran ke lantai 6 kurang lebih 10 menit. Menunggu di parkiran 20 menit. Berarti," ujarnya yang masih menghitung waktu.
"A-apa? Kakak pulang lebih cepat?" tanya Vannya lagi.
"Aku pulang tepat waktu, Sayang! Lihat ini sudah jam berapa?" ujarnya menunjukkan ponsel yang menyala pada Vannya.
__ADS_1
"Ke-kenapa bisa? Kenapa Kakak tidak masuk saja tadi?"
"Kata OB kamu masih lembur, ya udah aku diam dulu di depan. Tapi aku takut kamu kenapa-napa di dalam. Jadi aku menghubungimu," jawabnya tanpa merasa bersalah.