Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Monyet dan Gorila


__ADS_3

Ponsel Maya berdering ada sebuah pesan masuk, dia segera membukanya. Ternyata dari Lila yang menanyakan dimana ruangannya, Maya segera membuka pintu dan mencari keberadaan Lila. Setelah melihatnya dia melambaikan tangan kepada teman-temannya.


"Itu Maya...."Haris menunjuk ke satu arah.


"Hmm.. ayo kesana."Ujar Lila.


"Selamat datang, bagaimana ruangannya? Kalian suka?"Tanya Maya.


"Bagus sekali kita bisa melihat pantai juga dari sini."Ujar Lila.


"Syukurlah kalau kalian suka, kalau begitu aku panggil dulu pelayannya."Ujar Maya berdiri di pintu dan memberikan isyarat kepada pelayan.


"Selera kamu memang bagus May, aku suka."Ujar Kinan mendekati kaca untuk melihat pantai.


Lia mengikutinya dan mengambil beberapa gambar untuk di kirimkan kepada Randy agar tidak khawatir.


"Kau mengambil gambarku?"Tanya Kinan.


"Hmm.. "Lia memberikan isyarat kalau dia mengambil gambar untuk Randy.


"Baiklah, berikan saja kepadanya."Ujar Kinan.


"Kita foto bertujuh dulu yuk buat kenang-kenangan, minta tolong mbak-mbaknya buat fotoin."Ujar Haris.


"Aku saja yang fotoin."Ujar Lia.


"Tidak, kau kan teman kami juga."Ujar Maya membuat Lia tersenyum.


"Mbak, tolong fotoin kita ya."Haris memberikan ponselnya pada pelayan Cafe.


1………2………3……


"lagi" Ujar Lila.


1……2……3……


"Terimakasih mbak."Jawab Lila mengambil ponsel Haris untuk melihat hasil gambarnya. "Wah bagus sekali. Aku share ke grup ya." Ujar Lila tanpa menunggu persetujuan yang lainnya.


Devi tampaknya sedang mendekati Ivan, Kinan diam saja agar memberikan waktu untuk Devi bisa berkenalan dengan Ivan. Maya sedang duduk berdua dengan Lia di kursi, Kinan bergabung dengan mereka, dan Lila juga Haris ikut bergabung dengan mereka.


"Ris, bagaimana hubungan kamu dengan Lila?"Tanya Kinan.


"Apa si Kin?Kita hanya berteman."Ujar Haris.


"Iya kita hanya berteman, tidak lebih."Ujar Lila ikut menjawab.


"Teman tapi boleh kan berakhir duduk di kursi pelaminan yang sama."Ujar Kinan membuat wajah keduanya bersemu merah.


"Kin, aku seperti melihat sepasang kekasih yang sedang cinta monyet deh."Ujar Maya.


"Iya dia monyetnya."Ujar Haris menunjuk Lila.


"Kalau akau monyet, kamu gorilanya."Ujar Lila dengan kesal.


"Oh, jadi panggilan kesayangan kalian Monyet dan Gorila. Sweet sekali."Ujar Maya menggoda.


Salah ngomong lagi aku, lagian Haris sih tidak ada manis-manisnya sedikit. Masa aku dikata monyet, ya aku bilang saja dia gorila yang lebih besar dan seram. Kalau monyet kan masih ada lucu-lucunya.... -Batin Lila.


Sementara itu...


"Sofi, apakah hari ini kita masih ada pertemuan lagi?"Tanya Randy.

__ADS_1


"Tidak Pak. Hari ini sudah tidak ada pertemuan, tetapi ada beberapa berkas yang harus Bapak tandatangani, berkas sedang dalam perjalanan dikirim kesini."Ujar Sofi.


"Baiklah, pesankan aku makan siang, juga untukmu karena kau sudah bekerja keras untukku."Ujar Randy.


"Baik Pak."Sofi keluar dari ruangan kerja Randy dan mengambil ponsel di meja untuk memesan Go food.


Tring..


•• Kami sedang berada di Cafe Xx bersama seluruh karyawan divisi Pemasaran. ••


Randy tersenyum ketika melihat foto yang dikirimkan oleh Lia, Kinan terlihat cantik dan elegan. Senyumnya begitu tulus menambah nilai kecantikan yang dia miliki. Randy jadi senyum-senyum sendiri dan tidak menyadari telah berdiri seorang gadis di depannya.


Kerja bagus Lia, tidak sia-sia Sofi memilihmu untuk mengawasi Kinan. Sepertinya kamu pintar bergaul dan sudah semakin dekat dengan teman-teman Kinan yang lain. Aku akan memberikan bonus untukmu..-Batin Randy dengan senangnya.


"Selamat siang Kak."Sapa Erika yang tiba-tiba sudah berada di depan matanya.


"Mau apa kamu kesini?"Tanya Randy dingin.


"Aku hanga ingin bertemu dengan kakak saja. Aku boleh main kan."Ujarnya sembari duduk di sofa.


"Main di rumah bukan di kantor."Ujar Randy acuh.


"Aku hanya ingin bertemu dengan Kakak tidak dengan yang lain. Kalau aku main ke rumah pasti Rayna yang menemuiku bukan Kakak"Ujar Erika lagi.


"Terserah kau sajalah."Ujar Randy keluar.


"Kakak mau kemana?"Tanya Erika berdiri.


"Mau bertemu klien sebentar."Ujar Randy.


"Aku akan menunggu Kakak disini."Ujar Erika kembali menjatuhkan diri ke sofa.


"Baik Pak."Sofi menggeser lemari berkasnya.


"Kalau makanan sudah datang antarkan saja ke pantry, oh iya pesankan bakso atau cilok untuk anak kecil itu. Hmm.....satu lagi ambilkan ponselku di atas meja. Katakan saja aku ada meeting mendadak."Ujar Randy.


"Baik Pak."Sofi kembali menutup menutup pintunya.


Sofi segera memesan bakso dan es jeruk di kantin untuk Erika. Setelah bakso datang Sofi mengantarkan ke ruang Randy dimana Erika berada dan meletakkan Bakso juga es jeruk di meja depan Erika.


"Pak Randy menyuruhku memberikan semangkuk bakso untumu. Makanlah."Ujar Sofi meletakkan di meja Erika.


"Dimana kak Randy?"Tanya Erika.


"Meeting dengan klien."Sofi mengambil ponsel milik Randy yang diletakkan diatas meja.


"Itu ponsel untuk apa?Kau mau mencurinya?"Tanya Erika lagi.


"Pak Randy menyuruhku untuk mengambilkannya."Ujar Sofi segera keluar dari ruangan itu.


Gofood sudah datang, Sofi mengintip dari celah pintu untuk memastikan Erika tidak mengintipnya. Setelah aman, Sofi segera mengantar makan siangnya pada Randy yang sedang menunggu di pantry.


"Makanan sudah datang Pak, ini ponsel Bapak."Ujar Sofi memberikan ponsel milik Randy kemudian menyiapkan makanannya untuk Randy.


"Terimakasih Sofi, apakah anak kecil itu masih disana?"Tanya Randy lagi.


"Masih Pak, saat ini sedang menyantap bakso yang saya pesan di kantin."Ujar Sofi.


"Baik, kau kembalilah dan habiskanlah makan siangmu."Ujar Randy.


"Baik Pak, selamat menikmati makan siangnya."Ujar Sofi dengan sopan.

__ADS_1


Sebelum keluar dari balik lemari Sofi memastikan tidak ada orang yang melihatnya dan segera kembali ke meja kerjanya untuk menyantap makan siangnya. Dia benar-bnera beruntung bekerja dengan Pak Randy yang sangat baik padanya meski terkadang memberikan pekerjaan di luar kemampuannya.


"Dimana Kak Randy?"Tanya Sofi.


"………………" Sofi diam saja karena Erika tidak menjelaskan dia sedang bertanya kepada siapa.


"Apa kau tidak mendengarku?"Tanya Erika dengan kesal.


"Oh adik kecil ini bertanya padaku."Ujar Sofi merapikan bungkus makan siangnya.


"Siapa lagi kalau bukan kau."Ujar Erika semakin kesal.


"Adik kecil, lain kali kalau mau bertanya panggil nama dengan sopan. Saya kira sedang berbicara dengan Om Jin yang berjaga disini."Ujar Sofi menakut-nakuti Erika.


"Ji...Jin? Ada Jin disini?"Tanya Erika tak percaya.


"hmm.. lebih tepatnya di ruang kerja Pak Randy."Ujar Sofi cuek.


"Benarkah?Kenapa kau tidak bilang padaku?"Ujarnya.


"Bagaimana aku mau bilang, kan adik kecil tidak bertanya padaku."Jawab Sofi.


"Jangan panggil aku adik kecil. Aku calon isteri atasanmu tahu."Ujar Erika dengan sombong.


"Benarkah?"Tanya Erika pura-pura kaget.


"Apa kau tidak tahu kalau aku dan Kak Randy akan segera menikah?"Ujarnya lagi.


"Mana saya tahu, karena Pak Randy tidak pernah mengatakan kalau dia akan menikah denganmu. Yang aku tah dia sedang menyukai gadis lain."Ujar Sofi membuat panas hati Erika.


"Siapa yang berani merebut Kak Randyku?"Tanya Erika semakin kesal.


"Hmm... Maaf tidak bisa menjawab. Karena itu rahasia kami."Ujar Sofi.


"Cepat katakan padaku, atau aku akan..."Ujar Erika mengangkat tangannya hendak memukul Sofi.


"Om Jin tolong aku, ada adik kecil yang akan memukuliku. Berikan pelajaran padanya Om Jin."Ujar Sofi berpura-pura bicara dengan Om Jin.


"ehemmmm...." mendengar Sofi teriak dan memanggil Om Jin, Randy segera bersuara dari dalam pantry.


"Suara siapa itu?"Tanya Erika mulai ketakukan.


"Itu suara Om Jin dia tidak suka jika ada anak kecil suka marah-marah. Cepat pergi sebelum kau dipukul olehnya."Ujar Sofi setengah berbisik agar Erika semakin takut.


"Awas ya, lain kali aku akan memberimu pelajaran."Ujar Erika mengancam Sofi.


"Om Jin dia mengancamku. Tolong aku Om Jin."Ucap Sofi lagi dan berharap Randy menjawabnya lagi.


"Ehemmm..." Randy bersuara lagi.


"Issshhhh....."Erika mengepalkan kedua tangannya dan berlalu pergi."Menyebalkan sekali." Erika berjalan menjauhi ruangan Sofi sembari mengumpat.


Setelah Erika menghilang dari pandangannya, Sofi tidak bisa menahan tawanya lagi. Randy segera keluar dari balik lemari di ruangan Sofi dan tertawa dengan kencangnya melihat anak kecil itu telah pergi karena ulah mereka berdua.


"Kerja bagus Sofi."Ujar Randy.


"Terimakasih Pak, Dia memang harus sekali-kali diberi pelajaran."Ujar Sofi tersenyum.


"Terimakasih kau sudah menyelamatkanku dari gorila kecil itu."Ujar Randy segera masuk ke ruang kerjanya.


Di dalam ruang kerjanya Randy kembali menjatuhkan dirinya di Sofa panjang ubruk meluruskan badannya dan berisitirahat sejenak sebelum berkas datang. Sedangkan Sofi segera masuk ke pantry untuk membereskan piring dan gelas milik Pak Randy.

__ADS_1


__ADS_2