Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Ternyata


__ADS_3

"Lalu apa yang mereka lakukan selanjutnya Pak?" tanya Vannya.


"Saat ini dia dibawa ke pusat rehabilitasi, karena ternyata 3 tahun lalu dia sudah menghabisi nyawa kedua orangtuanya secara sadis," ujarnya menjelaskan.


"A-apa? Keji sekali," ucap Vannya tak percaya.


"Ya, akupun tak menyangka. Tapi itulah kenyataannya, makanya aku takut jika dia sampai tau Alina. Mungkin dia juga tidak akan segan-segan menyingkirkan Alina, juga anak kami yang saat ini masih ada dalam kandungan,"


"Untunglah Bapak bertindak cepat sebelum kejadian yang tidak di inginkan terjadi," ujar Vannya merasa lega.


"Dan untungnya aku cerita padamu, setidaknya aku jadi berpikir harus menyiapkan rencana kedua jika kejadian yang tak ku inginkan terjadi. Dan ternyata benar, aku harus menggunakan rencana keduaku dengan wajtu yang sangat cepat. Terimakasih Vannya," ujarnya sengan seulas senyum di sudut bibirnya.


"Sama-sama Pak. Sudah tugas saya sebagai sekretaris untuk mengingatkan Bapak, supaya reputasi Bapak tidak jelek. Dan tugas saya sebagai adik mencegah adanya perpecahan dalam keluarga kita Pak," jawab Vannya dengan wajah yang bersemu merah karena merasa malu dengan pujian yang Pak Chandra berikan.


"Dan kamu, jangan dikit-dikit curiga pada suamimu Van. Sebagai suami pasti senang kalau isterinya cemburu, tapi kalau terlalu posesif itu akan mengganggu sekali. Pria juga butuh sedikit kebebasan," ujar Pak Chandra menyinggung soal tadi siang.


"Kebebasan seperti apa yang Bapak maksud? Kebebasan untuk pergi bersama teman wanita di luar sana?" tanya Vannya.


"Haiss! Bukan itu maksudku, contohnya aku saja. Kamu tau kan klien kita tidak semuanya berjenis kelamin yang sama, dan kamu sudah tau tadi saat ikut denganku meeting di luar,"


"Iya Pak, saya tau. Habis saya trauma karena melihat Bapak dengan wanita itu kemarin. Saya takut Kak Vin akan khilaf dan masalahnya akan lebih rumit dari apa yang terjadi pada Bapak," ujar Vannya menjelaskan maksud dari rasa cemburunya.


"Hmm, aku tau itu. Tapi sebaiknya kamu tanyakan dulu, sebelum kamu mengeluarkan air mata hanya karena curiga yang tak berbukti," sahutnya.


"Hais! Baiklah, mohon bimbingannya Pak supaya saya tidak kebawa emosi lagi," celetuknya dengan gemas.


"Van, kamu ini lucu sekali. Semoga Vin tidak mengalami seperti yang terjadi padaku," batin Pak Chandra.


"Kau pikir aku dosen pembimbingmu? Sudah waktunya makan siang, ayo kita pergi ... ." ajaknya berdiri dari tempat duduknya.


"Baik Pak, saya siap-siap dulu ya!" ujarnya ikut berdiri.

__ADS_1


"Dan satu lagi," ucapnya menghentikan langkah Vannya yang hampir sampai pintu.


"A-apa Pak?" tanyanya seraya membalikkan badannya.


"Jangan panggil saya Pak jika tidak ada staff yang lain. Aku takut kelak anak-anakmu akan memanggilku Opa karena Mamanya sudah memanggilku Bapak," ujarnya dengan senyum di akhir kalimatnya.


"Heheh! Siap Kak," ujarnya malu-malu.


"Kalau begitu, saya permisi dulu ... ." imbuhnya segera berbalik badan dan membuka pintu yang tadi sudah hampir di pegangnya.


Sementara itu di Tempat lain,


"Vin, kamu tidak makan siang?" tanya Papah Revan.


"Iya Pah, sebentar lagi ... ." sahut Vin yang masih menatap layar monitor di depannya.


"Tidak ada kata sebentar. Ayo ikut makan dengan kami," ajaknya menutup layar monitor dengan tiba-tiba.


Mereka beranjak pergi ke restorqn terdekat karena setelah ini Papah Revan dan Om Haris masih ada urusan lain. Bukan kali pertama Vin ikut serta dengan dua orang kepercayaan Perusahaan.


Meski berbeda usia lumayan jauh, tidak membuat ketiganya merasa canggung saat berbincang selagi menunggu makanan datang. Apalagi Om Haris yang humoris mampu merubah suasana yang sedikit dingin menjadi lebih hangat.


"Van, dulu kita makan ramai-ramai disini ya. Sekarang tinggal bertiga," ujar Haris mengenang masa-masa mudanya dulu.


"Ya. Dan sekarang waktu cepat sekali berlalu. Rasanya baru kemarin kita disini, tapi sekarang sudah ada Vin yang sudah menjadi seorang kepala keluarga," jawab Papah Reva dengan mata yang sedikt berkaca-kaca menahan haru saat mengingat kenangan dulu.


"Hmm, Papi sama Mami juga sering cerita pada Vin Pah, Om! Mereka selalu menceritakan jaman mereka masih muda, dan memang seindah itu kenangan yang kalian miliki sampai saat ini,"


"Semoga dalam waktu cepat, Vin bisa mengumpulkan kalian kembali ya. Supaya aku dan yang lainnya bisa menyaksikan secara langsung bagaimana persahabatan kalian dulu," ujar Vin ikut menimpali perbincangan keduanya.


"Ya, Nak! Oh iya, apa kamu mendapat kabar duka dari keluarga Aura?" tanya Papah Revan.

__ADS_1


"Kabar duka? Siapa yang meninggal Pah?" tanya Vin.


"Baru saja, ada salah satu staff yang mengabariku. Katanya Mamahnya meninggal di sebuah gudang tua di Kalimantan, hanya tersisa tulang yang bisa di temukan," ujarnya menjelaskan.


"Astaga! Kasihan sekali. Apakah itu murni kebakaran atau?" ujar Om Haris terhenti.


"Tidak ada barang bukti yang polisi dapatkan disana," ucapnya lagi.


"Padahal Aura kemarin minta izin beberapa hari ke Kalimantan untuk menemui Mamahnya. Katanya sudah kama mereka tidak bertemu," ujar Vin.


"Ya, mendiang Ibunya mantan napi. Dulu dia di penjara di Ibukota. Lalu setelah keluar, dia memutuskan untuk pergi ke kota lain untuk memulai hidupnya yang baru," ucapnya.


Obrolan terhenti saat makanan datang, mereka menyantap makanan yang tersaji dengan tenang tanpa suara sedikitpun yang terdengar.


Di sisi lain,


Vannya ikut dengan Pak Chandra makan siang di sebuah Caf**e yang letaknya tidak jauh dari Perusahaan. Katanya disana makananya enak-enak dan harganya terjangkau, di tambah suasana yang di sediakan juga nyaman.


Benar saja, Cafe bernuansa negara eropa membuat suasana sedikit berbeda dan mampu mengalihkan segala permasalahan yang saat ini di rasakan oleh para pengunjung.


Mungkin bagi mereka yang memiliki masalah atau sednag bertengkar dengan gebetan atau pacar bisa datang ke Cafe tersebut untuk mengurangi sedikit kesedihan yang membebaninya.


"Gimana? Enak kan disini?" celetuk Pak Chandra pada Vannya.


"Eh, iya Pak. Ma-maksud saya Kak," jawab Vannya dengan gugup.


"Ini salah satu tempat aku nge-date sama Alina dulu. Saat dia masih hilang ingatan, walaupun status kami sudah menikah. Tapi rasanya benar-benar seperti orang pacaran, karena harus berpura-pura seperti orang lain di depannya," ujar Pak Chandra dengan mata yang berkaca-kaca mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu.


"Ya, saya mendengar ceritanya saat Kak Nana kehilangan ingatan. Dan karena ikatan cinta Kakak juga Kak Nana akhirnya ingatannya kembali dan menjadikan pelajaran untuk Kakak, juga kami yang hanya mendengarnya agar kejadian di masa lalu tidak terulang lagi," ucap Vannya dengan dewasa.


"Makanya aku bilang padamu, boleh cemburu. Tapi jangan cemburu buta, sebelum kecemburuanmu membawa bencana untuk kalian," ujar Pak Chandra.

__ADS_1


"Hmm, akan selalu saya ingat apa yang Kakak ucapkan padaku. Terimakasih untuk nasihat yang berharga ini Kak," ucap Vannya dengan menyunggingkan senyum simpul di sudut bibir mungilnya yang membentuk bulan sabit kecil.


__ADS_2