
Amanah dari Bapak juga sudah saya sampaikan pada Ayah Aura, Pak Ruli. Beliau mengucapkan terimakasih, dan menyampaikan salam hormat pada Bapak. Sekaligus meminta maaf atas kesalahan yang sudah terjadi beberapa hari kemarin," ucapnya menjelaskan apa yang Dewi dapatkan kemarin.
"Makasih ya Wi ... kamu sudah menyampaikannya pada Pak Ruli. Meski dapat sambutan yang kurang mengenakan dari Aura. Salamnya saya terima, tapi sepertinya tidak perlu meminta maaf ya? Karena saya sudah memaafkan sejak hari itu juga," ucap Vin.
"Iya Pak, sama-sama. Tidak apa, itu hal yang lumrah Pak. Saya bisa mengerti dengan keadaan Aura yang sekarang. Mungkin kalau saya di posisi Aura juga akan melakukan hal yang sama," jawab Dewi.
"Oh ya, Pak. Maaf kalau saya lancang, bagaimana keadaan Vannya? Maaf sekali saya belum bisa menjenguknya. Karena kemarin pulang dari Rumah sakit sudah hampir malam," ucap Dewi.
____
"Sudah jauh lebih baik Wi, untung saja Kak Chandra datang tepat waktu. Mungkin kalau terlambat sedikit aku sudah kehilangan isteri dan calon anak kami," jawab Vin.
"Untunglah itu tidak terjadi Pak, saya juga merasa sedih saat mendengar Vannya masuk Rumah Sakit," ujarnya.
"Semoga Vannya lekas membaik ya Pak. Kalau bolehz nanti sore saya ingin menjenguk Vannya, Pak. Apakah boleh?" tanyanya.
"Tentu saja boleh Wi, kamu sahabat Vannya. Dia oasti akan merasa senang saat melihatmu," jawabnya.
"Terimakasih Pak, karena sudah mengizinkan saya untuk menjenguknya," ucap Dewi dengan wajah yang berseri.
"Sama-sama Wi. Mana mungkin aku melarang orang yang ingin menjenguk isteriku. Sama saja aku menolak rezeki dari Tuhan," ucapnya.
"Hmm, sekali lagi ... terimakasih Pak. Kalau begitu, saya izin kembali ke meja saya," ucap Dewi.
"Iya, Wi ...! Makasih ya ...!"
"Sama-sama Pak," sahutnya.
Dewi segera keluar dari ruang kerja Vin dan kembali ke meja kerjanya. Layar monitor masih menyala menampilkan beberapa laporan masuk belum lama ini. Sebelum melanjutkan pekerjaan, ia meneguk secangkir teh hangat yang baru saja di antarkan OB untuknya.
Tring ...!
• Guys, bagi siapa saja yang melihat/bertemu dengan Ilham segera kabari kami ya. Dia menghilang sejak kemarin, paginya bilang ada acara sama teman tapi sampai sekarang belum ada kabar. Nomornya tidak bisa di hubungi. Thank's.
Sebuah pesan masuk dari teman satu angkatan kuliah dulu. Meski Dewi tidak satu fakultas, tapi dia kenal dengan Ilham. Dulunya mereka pernah satu organisasi dalam waktu yang cukup lama mereka selalu bertemu setiap hari.
"Astaga ...! Kemana Ilham? Semoga saja tidak terjadi apa-apa padanya," batin Dewi.
Sementara itu,
Seorang pria dengan pakaian serba hitam turun dari motor tepat di bawah pohon besar yang rindang. Setelah memastikan tidak ada orang di sekitar, ia melanjutkan perjalanan memasuki hutan melalui jalan setapak.
Meski hari sudah pagi, suasana masih terlihat remang-remang. Apalagi pepohonan di sekelilingnya yang menjulang tinggi keatas dengan dedaunan yang sangat rimbun.
Terdengar suara ayam hutan beberapa kali dan binatang lainnya yang tinggal di hutan. Dengan langkah cepat dan waspada ia terus menapakkan kakinya diatas tanah yang basah.
__ADS_1
Sepertinya semalam baru saja turun hujan yang lumayan deras. Udara dingin menyelinap menembus pakaian tipisnya. Sebuah gubuk kecil sudah terlihat di depan mata, seperti tidak ada kehidupan disana.
Srett ...!
"Makanlah ...!" ucapnya seraya mendekatkan sepoting roti padanya.
"Bagaimana aku akan makan? tanganku di ikat," jawabnya.
"Astaga ...! Aku lupa, baiklah aku suapi saja," ujarnya dengan santai.
"Aku mau makan nasi," ucapnya dengan ketus.
"Baiklah, aku juga bawa nasi ...!" sahutnya.
"Aku mau minum susu," ucapnya lagi.
"Tenang, ada kok ...!"
"Mau apa lagi?" tanyanya seolah menantang.
"... ."
"Makanlah, buka mulutnya. Apa perlu aku pegang dagumu seperti sedang menyuapi bayi?" ujarnya.
Ilhampun membuka mulutnya, dan melahap makanannya. Sejak kemarin ia kelaparan, karena belum sempat makan saat hendak meninggalkan rumah.
"Jangan pernah berpikir untuk bisa lari dari tempat ini, atau kamu akan menyesal seumur hidup," uapnya seolah mendengar apa yang sedang Ilham pikirkan.
"Harusnya kamu berpikir dari awal. Sebelum kamu pergi meninggalkan rumah, sekarang kamu yangbharus menanggung akibatnya bukan?" ujarnya.
"Buka mulutmu ...!" imbuhnya lagi.
Nasi dalam kertas minyak sudah habis tanpa sisa. Botol air mineral berukuran 600 ml pun sudah habis tanpa sisa, tersisa beberapa bungkus roti dan tiga botol air mineral di dalam kantong plastik berwarna putih.
"Di dalam sini ada beberapa bungkus roti, makanlah kalau kamu lapar. Beberapa botol di dalamnya sudah aku bukakan, jadi kamu bisa membukanya dengan mudah," ujarnya.
"Ingat apa yang aku katakan tadi, jangan mencoba-coba untuk lari dari sini ...!" imbuhnya dengan tegas.
"Bunuh saja aku," ucap Ilham.
"Membunuh? Bukan tugasku untuk itu, aku hanya bertugas mengantarkan makanan supaya tenagaku pulih sebelum penderitaan yang lain datang," jawabnya.
Ia kembali pergi, mengunci gubuk dengan gembok dan rantai. Mengamati sekitar jika ada orang disana, ternyata tidak ada. Ia pun berjalan meninggalkan gubuk kecil di tengah hutan.
"Selamat pagi," sapa seorang warga yang hendak masuk ke dalam hutan.
__ADS_1
"Pagi, Pak ...! Mau kemana?" sapanya.
"Mau cari kayu Tuan ... Tuan darimana?" tanyanya.
"Saya habis menjenguk saudara saya. Oh iya Pak, tolong jangan mendekati gubuk di temgah hutan itu. Di dalamnya ada saudara saya yang terkena gangguan jiwa. Saya takut jika Bapak atau orang lain mendekat, saudara saya akan ngamuk. Karena belum lama ini, dia sudah membunuh beberapa orang tetangga saya,"
"Tolong beritahu warga yang lain untuk tidak mendekati gubuk itu ya Pak," ucapnya.
"Benarkah itu? Wah bahaya sekali, baik Tuan akan saya beritahu yang lain supaya tidak mendekati gubuk itu," ujarnya.
"Hmm, terimakasih Pak. Ini sedikit rezeki untuk Bapak," ujarnya seraya menyerahkan satu gepok uang.
"I-ini ...!" ujarnya dengan gugup.
"Ini halal Pak, bukan sogokan. Ini sebagai ucapan terimakasih saya karena Bapak sudah mau membantu saya untuk memberitahukan kepada warga supaya tidak mendekati gubuk itu," ucapnya.
"Ti-tidak usah Tuan. Saya ikhlas," sahutnya.
"Saya juga ikhlas memberikan ini untuk Bapak. Anggap saja ini uang sewa saya karena sudah memakai gubuk di dalam hutan saya untuk mengurung saudara saya," ujarnya.
"Baik Tuan, terimakasih banyak ...!" ucapnya.
"Sama-sama Pak, kalau begitu saya pergi dulu ya Pak. Sekali lagi, terimakasih ...!" ucapnya.
"Iya Tuan. Saya juga terimakasih,"
Pria tersebut melanjutkan perjalanan keluar dari hutan, tidak ada lagi warga yang berpapasan dengannya. Sesampainya di tempat ia meninggalkan motor, tak lupa ia memberikan laporan jika tugas sudah selesai dan aman.
"*Selamat pagi, Pak ...! Saya sudah menyelesaikan tugas hari ini ...! Situasi aman, warga sudah saya peringatkan untuk tidak mendekati lokasi tersebut ...!" ucapnya dengan sopan.
"Terimakasih ...! Tetap waspada, jangan sampai lengah ...!"
"Siap Pak ...!" jawabnya*.
_____________
"Hah ...! Sial ...! Dia mengancamku? Dia pikir dia siapa?" gumam Ilham dengan kesal.
"Apa disini tidak ada orang? Sepi sekali ...! Awas saja kalau aku bisa lepas dari sini, aku akan mengahabisi cecunguk itu. Dia pikir dia siapa?" umpatnya.
Ilham menyandarkan kepalanya pada dinding kayu yang tua tapi tetap kokoh. Otaknya sudah buntu, kedua tangannya terikat borgol dan juga rantai yang diikatkan pada tiang penangga gubuk di tengah-tengahnya.
Tak berapa lama, terdengar suara langkah kaki di dekat gubuk. Ilham terdiam untuk beberapa saat, memastikan pria yang tadi atau warga sekitar hutan ini.
"Apa dia datang lagi? Atau itu warga sini? Jika pria itu yang datang, pasti pintu sudah dibuka ...!" gumamnya berkata pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Apa ada orang disana? Tolong lepaskan aku ...! Aku di culik," teriaknya.