Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Sedikit Relaksasi


__ADS_3

Sesampainya di rumah, kami segera masuk ke dalam rumah. Tangan kami saling bergandengan, seolah tidak mau di pisahkan lagi meski hanya berbeda jarah 1cm pun. Vin merasa isterinya semakin manja, mungkin karena dia sudah meninggalkannya selama satu pekan.


"Kak! Mau makan sama apa? Biar nanti aku masakin," ucapnya ketika mereka sampai di perbatasan dapur dengan ruang tengah.


"Apa saja Sayang! Kalau masakam isteriku pasti rasanya enak," pujinya dengan manis.


"Haih! Kakak membuatku Ge-eR saja," jawabnya dengan malu.


"Memang begitu kok,"


"Hmm, ya sudah Kakak mandi dulu gih. Aku mau siapin buat makan malam ya," ucapnya.


"Iya sayang, makasih!"


"Iya Kak,"


Vin segera berlalu menaiki anak tangga menuju kamarnya. Sementara itu, Vannya segera bergegas ke dapur menyiapkan bahan yang akan dia olah untuk di hidangkan di makan malam nanti.


Kebetulan di kulkas masih ada stok seafood dan jamur Enoki yang dia beli dua hari lalu setelah melihat konten mukbang di salah satu aplikasi berwarna merah.


"Hehe! Ada untungnya juga kemarin aku lihat konten mukbang, Okey Van sekarang waktunya kamu eksekusi," ujarnya meraih celemek di dinding dapur.


Kebetulan hari ini ART sedang izin pulang kampung selama 3 hari karena kerabatnya ada acara di kampung. Dengan berbekal resep yang dia dapatkan di konten tersebut, akhirnya acara masak memasak di mulai.


Tahap demi tahap ia lakukan dengan rapih, dalam waktu hampir 1 jama masakan sudah siap untuk di sajikan di meja makan. Setelah itu Vannya berlalu ke kamar untuk membersihkan badannya yang sudah lengket dengan keringat.


Setibanya di kamar, ia melihat suaminya tertidur dengan pulas di atas kasur. Vannya hanya memandanginya dari jauh, takut akan mengganggu tidurnya.


Ia segera berlalu menuju kamar mandi, dan membiarkan suaminya tidur sebelum makan malam tiba. Vannya segera melepas semua pakaian yang ia kenakan, dan segera menyalakan kran untuk mengisi bath up.


Ia mengisi bath up dengan air hangat, lalu di tambahkan beberapa tetes aromatherapy wangi vanilla.


"Sepertinya aku butuh relaksasi sebentar, entah kenapa hari ini aku merasa sangat mengantuk. Untung saja tidak sampai melakukan kesalahan," gumamnya sembari memejamkan matanya menikmati hangatnya air dan wanginya dari aromatherapy.


Hampir saja Vannya ketiduran di dalam bath up, mungkin kalau ponselnya tidak berdering ia akan tidur sampai pagi di dalam bath up dan bisa saja nyawanya melayang sore itu.

__ADS_1


Vannya bergegas turun dari bath up dan segera masuk ke ruang kaca untuk membilas tubuhnya di bawah guyuran shower. Dalam waktu 5 menit, ia menyudahi ritual mandinya dan keluar dengan mengenakan kimono berwarna putih sepanjang 5 cm di bawah lututnya.


Ternyata dari Kak Alina, tanpa berpikir panjang Vannya segera menggeser tombol berwarna hijau dan mendekatkan ponsel ke telinganya sembari berjalan menuju kursi di depan meja rias.


"Hallo Kak Nana," sapanya lebih dulu.


"Hallo Van, bagaimana kabarmu?" suara lembut di ujung telepon membuatnya merasa nyaman saat mendengarnya.


"Aku baik Kak, bagaimana kabar Kakak dan calon keponakanku?"


"Syukurlah, Aku dan baby baik juga Van! Kata Chandra tadi sore Vin menjemputmu, apakah itu benar?" tanyanya.


"Syukurlah Kak! Iya Kak, sepulang dari Bandara dia langsung menjemputku. Memang Pak Chandra melihatnya?" tanya Vannya yang tidak tau.


"Hmm, dia tak sengaja melihatnya. Aku senang mendengarnya Van, kamu tidak kesepian lagi jadinya kan. Maafin Vin ya, yang harus meninggalkanmu dalam wkatu yang cukup lama," ucapnya dengan tulus.


"Iya Kak, aku gak apa-apa kok. Toh Kak Vin kan pergi buat kerja,"


"Hmm, kamu dewasa sekali sekarang Van. Kakak titip Vin ya, kalau dia salah kamu tegur saja. Kalau kamu tidak berani bilang ke Kakak, biar nanti Kakak yang marahi dia," celetuknya membuat Vannya tertawa.


"Iya Kak Nana! Kak Vin gak pernah macam-macam kok sejauh ini, Kak Nana jaga kesehatan ya. Kalau mau apa-apa kabari aku saja selagi Pak Chandra sibuk dengan urusan kerjanya," ucaonya menawarkan diri.


"Iya Kak. Makasih ya udah perhatian sama aku,"


"Iya sayang, Bye Van!"


Setelah panggilan terputus, Vannya segera memilih dress ala rumahan yang nyaman untuk di pakainya. Setelah mendapatkannya ia segera memakainya dan menyisir mengeringkan rambut panjangnya dengan hair dryer.


"Sayang, kamu udah mandi?" tanya Vin yang tiba-tiba muncul dari balik pintu ruang ganti.


"Eh, Kak! Udah bangun?" ujarnya sambil merapikan meja rias.


"Udah Sayang, sudah 1 jam aku tidur. Tadi sepertinya aku mendengar kamu sedang ngobrol dengan seseorang. Siapa?" tanyanya.


"Wah, ternyata Kakak menguping ya," celetuknya seraya bangun dari duduknya dan mendorong masuk kursi kecil ke bawah meja rias.

__ADS_1


"Heh! Enggak, tapi gak sengaja dengar saja," ucapnya membela diri.


"Masa? Tadi Kaka Nana yang menelepon, dia tanya apa benar Kakak udah pulang. Itu aja sih," jawabnya seraya berjalan mendekati suaminya yang masih berdiri di ambang pintu.


"Perhatian sekali Kakak iparmu itu," celetuknya.


"Dih, Kakak ini. Kak Nana kan emang baik orangnya, turun yuk. Makanan udah siap," ajaknya menggandeng tangan Vin.


Tanpa menjawab, Vin segera berjalan mengikuti isterinya.


Di tempat lain,


"Siapa?" tanyanya seraya duduk di sampingnya.


"Vannya Sayang, aku cuma menanyakan kabarnya saja. Kamu udah selesai?" tanya Alina menyandarkan kepalanya di dada Chandra yang bidang.


"Kalau belum selesai mana mungkin aku bisa berada diaini sekarang, kamu mau apa? Mau aku masakan sesuatu?" tanyanya seraya membelai rambut Alina dengan lembut.


"Gak, aku cuma peluk kamu," jawabnya dengan manja.


"Hmm, peluk aja sepuasmu sebelum nanti kamu mengalah dengan si kecil," ujarnya.


"Masih lama sayang, jadi aku masih bisa kan bermanja-manja dengan Daddynya,"


"Hahah! Sampai kapanpun kamu bisa Sayang!"


Susah menjadi kebisaannya, setiap malam sebelum beranjak tidur. Mereka menghabiskan waktu berdua di balkon kamar yang remang-remang memandangi taman yang mengelilingi rumahnya.


Bahkan kadang sampai Alina tertidur dalam pelukan suaminya. Dan pada akhirnya Chandra harus mengangkat tubuh isterinya yang beratnya sudah bertambah mungkin sekitar 5kg.


Sepeeti kali ini, saat Chandra sedang berbicara tiba-tiba terdengar dengkuran lembut dari Alina. Dengan sigap Chandra segera merengkuh tubuh isterinya dan membiarkannya beberapa saat sampai isterinya tertidur pulas dalan dekapannya.


...CHANDRA POV...


"Lihat Nak, Mommy mu selalu ketiduran saat Daddy sedang berbicara. Apakah suara Daddy begitu merdu hingga Mommy tertidur?" ujarku sembari mengelus perut isteriku.

__ADS_1


Aku melihat semakin hari wajah isteriku semakin berseri, meski pipi semakin mengembang. Tapi aku tetap mencintainya, bahkan sangat mencintainya. Dia rela kehilangan bentuk tubuh idealnya demi mengandung buah hati kami, darah dagingku sendiri.


Aku banyak tau mengenai wanita yang sedang mengandung dari Mamah dan juga Mami. Kadang saatxada waktu senggang di kantor, aku mwncari tau tentang maslaah Ibu hamil dari mereka yang sudah berhasil membesarkan dan mendidik anaknya dnegan snagat baik.


__ADS_2