
"Kak Kinan. . "Panggil Rayna.
"Hai Ray. . kau kuliah hari ini?"Tanya Kinan.
"Iya, aku sudah selesai sejak 2 jam yang lalu. Kakak keren sekali. . Aku bangga sama Kakak. Teman-temanku saja tak percaya ada yang berani padanya. "Ujar Rayna.
"Lalu kau juga tidak berani?"Tanya Kinan.
"Aku malas saja Kak meladeni dia. Kalau bertemu di Kantin dia selalu memanggilku adik ipar." Ujar Rayna.
"Aku juga tidak ingin meladeninya tadi. Tapi dia mempermalukanku di tempat umum."Ujar Kinan memonyongkan bibirnya dengan imut.
"Sudah sepantasnya dia mendapatkannya Kak. Tapi darimana Kakak tahu tentang rencana Erika dan juga Om Harun?"Tanya Rayna penasaran.
"Hmm. . besok deh aku ceritakan. Aku pergi dulu ya, ada janji dengan klien. Kau langsung pulang."Ujar Kinan mengusap kepala Rayna dengan lembut.
Lia segera melajukan mobilnya ke tempat pertemuan yang sudah di sepakati, Revan dan juga Haris sudah sampai lebih dulu. Untung saja klien belum datang jadi Kinan merasa sedikit lega karena tidak telat.
"Maaf aku baru datang."Ujar Kinan.
"Tidak apa. . Pak Bagas juga belum datang. Kalian pesan dulu saja minum."Ujar Haris.
"Kin, kenapa wajahmu? Kau habis adu tinju? Dengan siapa?"Tanya Revan.
"Tamparan dari anak kecil yang mengaku sebagai sainganku. Tapi aku tidak apa-apa."Ujar Kinan memegang pipinya yang masih sakit.
"Sebaiknya kau pesan es batu untuk kompres dulu Kin."Ujar Haris.
"Iya nanti Lia akan memesan es batu."Ujar Kinan melirik Lia.
". . . . . . . " Revan dan Haris mengangguk bersamaan.
"Kalian sudah pesan?"Tanya Kinan.
"Sudah." Jawab Revan.
"Baiklah, Li pesan minum ya. Untukmu juga. "Ujar Kinan dengan lembut.
"Ok."Lia segera memesan minum.
Di Kantor. .
**Rayna mengirimkan sebuah video? video apa? -Batin Randy.
Astaga. . . anak kecil itu berani sekali menampar Kinan. . .Apa yang di katakan Kinan? Darimana dia tahu rencana Om Harun? Aku saja tidah tahu masalah ini*. -Batin Randy lagi.
"Sof. . . "Panggil Randy yang masih melihat video kiriman dari Rayna.
"Iya Pak? Ada yang bisa saya bantu?"Tanya Sofi.
"Kau lihat video ini. . ."Randy memberikan ponselnya oada Sofi.
Erika menampar Kinan? Astaga. . . -Batin Sofi.
"Kau lihat sampai selesai Sof."Ujar Randy.
Hmm Kinan sudah mengatakannya. . . tidak apa, setidaknya dia tidak bersalah, dia melakukan ini karena ada alasan. Dan dia juga tidak membalas tamparan Erika. . . Bagus Kin. -Batin Sofi saat melihat video di ponsel Pak Randy.
"Darimana Kinan tahu tentang rencana itu?"Tanya Randy dengan tegas.
"Maaf, Pak . . Waktu itu saya tidak sengaja mendengar pembicaraan Pak Harun dan Erika tentang rencana mereka."Ujar Sofi.
__ADS_1
Sofi kemudian menjelaskan secara keseluruhan apa saja yang ia ketahui tentang Om Harun dan Erika. Sofi sengaja tidak memberitahu Randy dulu karena dia ingin mencari kebenarannya dulu.
Mendengar penjelasan dari Sofi, Randy semakin geram. Untung saja dia memiliki sekretaris yang cerdas, sehingga sebelum rencana mereka di jalankan Randy bisa mengantisipasi agar mereka tidak bisa berbuat curang pada usahanya.
"Kalau begitu, atur pertemuanku dengan Om Harun."Ujar Randy.
"Ba.. baik Pak."Ucap Sofi.
"Kau ada bukti rekaman pembicaraan mereka waktu itu?"Tanya Randy.
"Ada Pak. "Jawab Sofi.
"Bagus. . kau siapkan semuanya."Ujar Randy.
Tuut...tuut....tuuut...
"Hallo Ran. . .ada apa?"Tanya Papah dari seberang sana.
"Papah sedang sibuk?"Tanya Randy.
"Tidak, ada apa? Kau membuat Papah takut."Ujar Papah.
"Baiklah, aku sudah mengirim video ke Papah, sebaiknya Papah lihat dulu. setelah itu hubungi aku lagi."Ujar Randy.
"Baiklah nanti Papah akan menghubungimu lagi." Papah menutup teleponnya.
Randy segera mengirim pesan pada Lia untuk menanyakan kondisi Kinan saat ini setelah di tampar Erika dengan cukup keras.
•• *Bagaimana keadaan Kinan?Apakah dia baik-baik saja? ••
•• Kinan baik-baik saja. Pipinya sedikit lebam. Saat ini sedang meeting dengan klien.••
••Sudah di bawa ke dokter?••
•• Baiklah, sharelock…… Saya akan kesitu*.••
Tuut..... tuttt.... tuuut....
"Hallo Pah?Bagaimana?"Tanya Randy.
"Papah sudah melihatnya, Erika keterlaluan sekali menampar Kinan di depan umum, bahkan dia berkata kasar kepada Kinan. Lalu apa yang akan kamu lakukan?"Tanya Papah.
"Aku ingin bertemu dengan Om Harun dan menekannya Pah, supaya dia juga anaknya tidak lagi berbuat seenaknya."Ujar Randy.
"Lakukan saja apa yang yang ingin kau lakukan. Tapi ingat satu hal, jangan gunakan kekerasan kalau mereka tidak menyerangmu."Ujar Papah.
"Baik Pak. Ya sudah, aku akan menyusul Kinan untuk melihat kondisinya."Ujar Randy.
"Sampaikan salam Papah untuk Kinan."Ujar Papah.
"Baik Pah."Randy menutup teleponnya.
Setelah mendapat sharelock dari Lia, Randy segera bergegas menyusul Kinan. Tak lupa dia mengajak Sofi untuk ikut agar nanti Lia ada teman. Tanpa banyak bertanya, Sofi mengikutinya dari belakang.
Di sisi lain. . .
Selesai meeting mereka tidak langsung pulang, kebetulan klien yang bertemu hari ini adalah kakak kelas saat SMA dulu namanya Bagas. Kebetulan Kinan dan Bagas pernah satu organisasi saat SMA jadi mereka tidak canggung lagi bahkan bertukar nomor handphone.
"Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu."Ujar Bagas.
"Aku juga tidak menyangka ternyata klien yang akan bertemu denganku hari ini Kak Bagas. Sudah lama kita tidak bertemu ya Kak. "Ujar Kinan.
__ADS_1
"Iya. . aku terakhir melihatmu ya waktu aku perpisahan dulu, itu juga karena kamu adalah ketua panitianya meski umur paling muda di angkatanmu. Apa kau sudah menikah Kin?"Tanya Bagas.
"Belum Kak, tapi sebentar lagi."Jawab Kinan membuat Bagas sedikit terkejut.
"Oh.... begitu. Baguslah. Jangan lupa undangannya Kin"Ujar Bagas menyembunyikan rasa kekecewaannya karena wanita yang sukai sejak SMA akam segera menikah.
"Iya besok aku kirim undangan untuk Kak Bagas. Oh iya, Kak Bagas sudah menikah?"Tanya Kinan.
"Belum.. .. Susah sekali mendapatkan pasangan."Ujar Bagas.
"Kak Bagas orang baik, pasti banyak yang suak sama Kakak. Hanya saja Kakak yang terlalu pilih-pilih."Ujar Kinan.
Itu karena aku menunggumu Kin. . . Kira-kira siapa calon suamimu? -Batin Bagas.
"Kin Pak Randy sudah datang."Bisik Lia.
"Oh baiklah. . . Kak aku pergi dulu ya, calon suamiku sudah datang."Ujar Kinan.
"Iya Kin, jangan lupa undangannya."Ujar Bagas.
"Baiklah."Jawab Kinan.
Jadi calon suami Kinan Randy Ardhana. . Pengusaha muda sukses itu. . . Setidaknya aku masih bisa dekat dengan Kinan. . Siapa tahu pernikahan mereka gagal. -Batin Bagas dengan senyum liciknya.
"Mas. . . kamu sudah datang?"Tanya Kinan dengan senyum manisnya.
"Kamu tidak apa-apa? Coba aku lihat."Ujar Randy memegang pipi Kinan dengan perlahan.
"Awwh.. sakit Mas."Ujar Kinan berjalan memundurkan wajahnya agar tidak disentuh.
"Maaf aku tidak tahu. . CUPP. sebagai hadiah karena kau sudah berani mmbalas perkataan anak kecik itu"Ujar Randy membuat rasa sakit di pipi Kinan hilang berganti dengan jantung yang berdegup kencang.
"Mas ada Sofi dan Lia. . . "Ujar Kinan malu.
"Kalian berdua tidak lihat kan?"Tanya Randy.
"Ti... tidak... tidak kan Li?"Tanya Sofi salah tingkah.
"Tuhkan mereka tidak lihat sayang."Ujar Randy.
"Aku malu. . . Ayo kita pergi."Ajak Kinan.
"Dia siapa?"Tanya Randy menunjuk sosok laki-laki yang masih berdiri melihat mereka.
"Oh ita Kak Bagas, kakak kelas di SMA mas, orangnya baik."Ujar Kinan.
"Oh, kau jangan dekat-dekat dengannya. Aku ada firasat tidak baik tentang dia."Ujar Randy.
"Iya Mas, kami hanya ngobrol biasa setelah membahas proyek dengan Haris juga Revan."Ujar Kinan.
"Baiklah. . aku percaya. . Ayo kita pergi."Ujar Randy.
"Kemana?"Tanya Kinan.
"Kau mau kemana sayang?"Tanya Randy.
"Mau makan ice cream. . Kalian juga mau kan?"Tanya Kinan pada Sofi dan Lia yang spontan langsung menganggukan kepala secara bersamaan.
"Baiklah. Hari ini aku akan mengikuti kalian saja."Ujar Randy pasrah.
"Terimakasih sayang. . CUPP."Kinan mencium pipi Randy.
__ADS_1
"Hmm... apa kau sedang menggodaku?"Tanya Randy.
"Tidaaak. . . Ayo kita segera pergi."Kinan menarik tangan Randy karena malu.